
Aku menatap Alvin dengan tanda tanya.
"Aku yakin tadi terkunci. Kau juga melihatnya tadi." Ujar Alvin menanggapi ekspresiku.
Aku menyoroti senterku ke dalam kamar.
'penjahat itu ada disini?!'
Aku tak percaya aku menemukan penjahat itu terkurung di bawah sini. Tubuhnya duduk bersandar ke tembok dengan kepala tertunduk. Namun aku masih bisa mengenali ciri-cirinya sama persis dengan yang diperlihatkan Ello di mimpi. Kecuali pakaiannya yang lusuh dan kotor.
Berapa lama dia terkurung di sini? Apa dia hidup? Atau mati? Tanpa sadar aku berjalan ke arah tubuh yang tidak bergerak itu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alvin menahanku. Dia meraih tanganku dan mencoba menarikku mundur.
"Pria itu kelihatannya berbahaya. Kita segera keluar dari sini untuk minta bantuan." Ujarnya memberi saran.
"Kau bisa melihat pria itu?" Tanyaku memastikan.
"Tentu saja aku melihatnya." Jawabnya.
Ini aneh. Alvin bisa melihatnya berarti dia manusia normal seperti kami. Namun dari penampilannya nampak dia sudah terkurung lama di sini. Mustahil dia bisa bertahan hidup di ruangan terkunci ini tanpa makan dan minum. Sementara tubuhnya masih utuh. Dan tidak menimbulkan bau busuk seperti mayat.
Ini tidak masuk akal. dan lagi siapa yang mengurungnya? Gudang bawah tanah ini juga tampaknya sudah tidak dikunjungi siapapun dalam waktu lama.
"Aku harus memastikan orang ini hidup atau mati." Ujarku lagi mencoba mendekati tubuh itu lagi. Tapi Alvin masih menahanku. Dia menggelengkan kepalanya padaku. Dia tampak pucat. Ekspresi ketakutan dan kecemasan tampak jelas di wajahnya.
Padahal baru beberapa saat lalu dia terlihat sangat marah dan terpukul dengan kenyataan yang menimpa kakaknya. Sekarang sudah berubah. Dia sudah tenang dan berpikir dengan jelas. Sama sepertiku dia merasakan bahaya yang mengancam dari sosok pria di depan kami.
"Baiklah, kita segera keluar dari sini dan meminta bantuan untuk menangkap orang ini." Ujarku memutuskan. Aku berbalik keluar ruangan. Alvin mengikutiku di belakang setelah menutup pintu ruangan itu.
Tiba-tiba tubuh Alvin terlempar ke depanku dan membentur dinding ruangan dengan keras lalu jatuh tak berdaya ke lantai.
"Alvin!" Seruku terkejut. Belum sempat aku berbalik, seseorang menangkapku dari belakang, dan mencengkeram leherku. Aku merasa kakiku terangkat dari lantai. Leherku tercekik.
"Akhirnya kau kembali ke sini lagi anak nakal. Tak kan kubiarkan kau kabur lagi!" ujar laki-laki itu sambil tertawa.
__ADS_1
Apa maksudnya? Apa aku pernah datang ke sini? Aku tidak ingat sama sekali? Apa dia salah mengenaliku dengan orang lain?
Aku bisa memikirkan itu nanti. Yang terpenting sekarang aku harus lepas dari makhluk satu ini.
Aku memukul-mukul lengannya dengan senter yang ada di tangan kananku, tapi penjahat itu tidak bergeming. Cengkramannya malah semakin kuat.
Aku harus melakukan sesuatu sebelum kehabisan nafas. Aku mencoba menendang ke belakang. Tapi tubuhnya kuat sekali. Tendanganku tidak berpengaruh. Aku juga menyikutnya beberapa kali, tetapi sia-sia.
Laki-laki ini memiliki tubuh sekuat gorila dan lengan berbulu.
Mendadak aku teringat sesuatu di saku celanaku. Aku meraih pisau lipat yang tadi kugunakan untuk membuat tanda di batang pohon.
Aku menancapkan pisau itu ke lengan laki-laki itu. Menusuknya sedalam-dalamnya. Kulitnya benar-benar keras. Tapi aku tidak menyerah. Aku mengayunkan pisau itu lagi dan menancapkannya berkali-kali. Darah mulai merembas keluar dari pisau yang tertancap di lengannya.
Akhirnya penjahat itu meringis merasakan luka di lengannya. Dia melepas cengkramannya dariku. Aku berbalik mundur menjaga jarak dari laki-laki itu.
"uhuk! huk!" Aku terbatuk nyaris kehabisan nafas.
Penjahat itu menatapku marah. Dia membuang pisau yang tertancap di lengannya ke lantai.
Aku melayangkan tendangan ke kepalanya dengan kekuatan penuh. Aku tak berhasil menjatuhkannya. Tendanganku hanya membuat memar di pipi kirinya.
Dia terlalu kuat. aku melangkah mundur dan mengenai tumpukan balok kayu yang berserakan di lantai.
Makhluk besar itu menerjang ke depan ingin menangkapku. Aku berhasil menghindar dan dengan cepat berdiri di belakangnya.
Aku mengayunkan balok kayu besar yang tadi ku ambil, lalu menghantamkannya ke bagian belakang lututnya. Penjahat itu jatuh bersimpuh. Tidak membuang waktu lama aku mengayunkan balok itu kembali ke bagian belakang kepalanya sampai balok itu terbelah menjadi dua. Makhluk besar itu jatuh tersungkur tak bergerak.
"Sekeras apa kepalanya?" Gumamku tak percaya melihat balok di tanganku patah.
Sementara laki-laki tak sadarkan diri, aku bergegas ke tempat Alvin terlempar tadi. Aku menyingkirkan puing puing yang menutupi tubuhnya. Untungnya dia masih sadar.
"Alvin, kau masih bisa berjalan?" Dia mengangguk. Aku membantunya berdiri dan berjalan ke tangga. Karena dia terluka aku menyuruhnya naik lebih dulu sambil mengawasi laki-laki itu.
Tubuh besar itu mulai bergerak lagi. Laki-laki itu mulai bangun.
__ADS_1
"Cepat Alvin! Dia mulai bangun!"
Setelah Alvin sampai di atas dia membantuku naik. Laki-laki itu sudah berdiri dan berjalan menuju tangga. Aku segera menutup pintu rumah masuk itu dan mengganjalnya dengan sembarang benda yang kutemukan di ruangan itu.
Kami berdua berlari keluar rumah sampai ke tanjakan yang tadi. Dengan memanfaatkan tanaman rambat dan akar-akar pohon yang mencuat keluar dari tanah, aku berhasil merangkak naik ke atas.
Saat aku melihat lagi ke rumah itu, laki-laki itu sudah keluar dari rumah dan berlari ke arah kami.
"Dia benar-benar monster!" Gumamku.
"Alvin, raih tanganku! Aku akan menarikmu naik." Aku mengulurkan tangan ke bawah.
Tapi belum sempat aku menariknya naik. Laki-laki itu sudah mencengkeram kakinya. Aku bertahan dengan satu tangan berpegangan pada tanaman rambat yang ada di sekitarku. kuharap ini cukup kuat menahan kami.
Alvin berusaha menendang wajah laki-laki itu agar dia bisa lepas, namun sia-sia.
"Lepaskan tanganku!" Pinta Alvin.
"Apa?" Permintaan Alvin membuatku tercengang.
"Tinggalkan aku di sini. Segera keluar dari hutan ini dan minta bantuan penduduk sini."
"Aku tidak akan meninggalkanmu di sini." Aku menolak untuk pergi.
"Jika kita berdua bertahan di sini. Kita akan mati." ujar Alvin lagi.
"Kalau aku meninggalkanmu di sini kau akan mati saat aku kembali lagi ke sini." bantahku.
Tapi yang dikatakan Alvin benar. Aku tidak bisa menahan ini selamanya. Semakin lama aku semakin terseret ke bawah. Aku harus memikirkan sesuatu agar bisa lepas dari makhluk ini.
"Mel, cepat lepaskan tanganku. Kalau terus begini kau akan ikut jatuh!"
"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskanmu. Jadi berhentilah meminta itu padaku. Dan berusahalah lebih keras lagi untuk melepaskan cengkramannya."
"Aku sudah melakukannya sebisaku. Tapi gorila ini tak mau melepaskanku. Kalau terus seperti ini kita berdua akan mati bersama di sini." Aku lihat luka di kaki Alvin akibat cengkraman makhluk itu. Sementara aku mulai merasakan sakit di telapak tanganku dan lenganku serasa mau putus.
__ADS_1
Ini salahku. Rasa penasaranku telah membuatku bertindak ceroboh. Angga sudah memperingatiku sebelumnya. Aku tidak menyangka penjahat itu masih bersembunyi di sana. Sekarang kami berdua dalam bahaya. Aku tidak menemukan cara keluar dari situasi ini.