
Dug! Dug! Dug! Suara itu terdengar dari dalam kotak besi yang terkunci. Aku sudah memasukkan kuncinya. Namun, aku diam sesaat. Bukan karena takut tapi ingin memastikan suara apa itu.
Suaranya tidak terdengar lagi. Jadi aku memutuskan untuk membukanya dan memeriksa dalamnya.
Kosong? Tidak ada apa-apa di dalam. Lalu suara apa tadi?
Dug! Dug! Dug! Suaranya terdengar lagi.
Ternyata bukan dari lokerku tapi dari loker sebelahku. Loker no 13.
Aku menempelkan telingaku ke pintu loker itu agar bisa mendengar suara itu lebih jelas. Hening. Aku terus menunggu beberapa saat dengan sabar. Menunggu suara itu terdengar lagi.
"Dug! Dug! Dug! Dug!
Aku melompat kaget ke belakang mendengar suara gaduh itu. Suaranya lebih keras dari yang tadi dan tidak berhenti selama beberapa detik. Nafasku tertahan. Aku diam tak bergerak sampai suara itu berhenti. Aku menelan ludahku. Lalu memberanikan diri melangkah maju lagi.
Aku mengetuk pintu loker itu beberapa kali seolah menunggu respon, aku diam. Tetapi suara itu tidak terdengar lagi.
Loker siapa ini? Apa seseorang memasukkan kodok di dalamnya untuk mengerjai orang? Atau bola bekel yang melompat-lompat sendiri? Ah, sudahlah!
Aku sudah akan pergi dari tempat itu sebelumnya akhirnya memutuskan kembali lagi karena penasaran.
"Mungkin aku bisa mengintipnya sedikit dan mencari tahu suara apa itu," ucapku pada diri sendiri, sambil mengintip dari celah pintu loker.
Gelap sekali. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku mengeluarkan ponselku lalu menghidupkan senter untuk membantuku melihat ke dalam. Sayang, celahnya terlalu kecil. Aku kesulitan untuk memeriksa dalamnya.
"Sedang apa?" Sebuah suara mengejutkanku hingga membuat ponselku terjatuh. Aku lekas berpaling ke arah suara itu.
Salah seorang murid perempuan di kelasku sepertinya. Aku sedikit ingat penampilannya yang agak gemuk, berkulit pucat dan bermata sipit dengan rambut lurus tergerai di bahunya. Dia memakai kaca mata tebal di atas hidungnya yang bulat. Pandangannya menyelidik padaku.
"Jangan mengintip loker itu!"
"Aku minta maaf!" ucapku sambil memungut ponselku yang terjatuh. "Aku tidak bermaksud mengintip privasi orang. Hanya saja tadi ada suara gaduh dari dalam loker. Jadi kupikir pemiliknya meninggalkan sesuatu yang penting di dalamnya. Apa kau tahu siapa pemilik loker ini?"
"Loker itu tidak ada pemiliknya."
"Maksudnya belum ada yang pegang kuncinya?"
"Bukan. Karena loker itu memang tidak bisa dibuka meski punya kuncinya."
__ADS_1
"Kok bisa? Apa loker ini rusak?"
"Kau tidak pernah dengar tentang 7 keanehan di sekolah ini?"
"Ah, maaf! Aku tidak tahu." Aku memang pernah mendengarnya tapi tidak terlalu menanggapi semacam itu. Karena kupikir itu cuma cerita yang dibuat-buat.
"Apa kau pindahan?"
"Bukan! aku asli penduduk sini. Hanya saja aku terlalu serius belajar jadi kurang memperhatikan cerita-cerita seperti itu."
"Jadi kau masuk sekolah ini tanpa tahu hal itu?"
"Ya, begitulah. Jadi apa yang tadi kau maksud 7 keanehan sekolah."
"Loker itu termasuk 7 keanehan di sekolah ini. Loker itu sudah bertahun-tahun terkunci sejak pemilik terakhirnya meninggal. Kuncinya sempat hilang tapi akhirnya ditemukan kembali oleh salah seorang murid. Katanya siapapun yang membuka loker itu akan terkena kutukan."
"Kutukan apa?"
"Macam-macam. Ada yang tiba-tiba jatuh sakit atau mengalami kecelakaan tiba-tiba. Bahkan ada yang kesurupan juga."
"Kenapa tidak dibuang saja lokernya? Bisa diganti yang baru 'kan?"
"Jadi begitu. Oh ya pemiliknya meninggal karena apa?" tanyaku.
"Aku tidak tahu. Aku juga mendengar cerita itu dari orang-orang juga. Pokoknya jangan usik loker itu kalau kau mau selamat!" ucapnya sambil melewatiku. Dia memperingatkanku lalu pergi begitu saja.
Aku masih mengamati loker itu mematung di depannya. Aku masih meragukan benda ini bisa mencelakakan manusia. Apa benar ada roh yang terperangkap dalam kotak besi ini dan mengutuk orang-orang?
Aku memang mendengar ada suara dari dalam, tapi tak ada aura jahat yang terpancar dari dalam kotak itu.
"Halo tuan hantu? Apa kau benar ada di dalam? Jika ya, apa kau butuh bantuanku untuk keluar? Jadi kau tidak perlu mengganggu orang-orang lagi," ujarku seolah bicara pada loker di depanku.
Sunyi. Tidak ada sahutan dari dalam.
"Mungkin bukan tuan, tapi nona? Ah aku lupa menanyakan murid yang meninggal itu laki-laki atau perempuan!"
"Apa berbicara dengan loker salah satu hobi barumu?" Aku tersentak mendengar suara Angga bertanya. Ternyata dia mengamatiku dari tadi. Aku jadi malu sendiri.
Sepertinya aku memang dikutuk, dua kali ketahuan melakukan hal aneh!
__ADS_1
"Sepertinya kekuatanmu sudah berkembang. Bukan hanya bisa berbicara dengan roh kau bahkan sekarang bisa bicara dengan benda mati," sindirnya sambil menertawakanku. Aku menghampirinya dan memukul lengannya.
"Sudah! Cukup! Ayo pulang!" seruku.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan tadi?" tanyanya lagi. Padahal aku tidak ingin membahasnya lagi.
"Sepertinya yang kau lihat. Aku sedang melatih kemampuanku. Siapa tahu aku benar-benar bisa berbicara dengan benda mati," jawabku ketus. Dia malah tertawa lebih keras.
"Kalau begitu selamat berlatih. Semoga aku tidak perlu menunggu lama untuk melihat hasilnya,"
"Kau benar-benar menyebalkan, kak!" seruku kesal.
Padahal tadinya baku ingin membicarakan soal loker itu atau masalah 7 keanehan sekolah, tapi aku urungkan. Sepertinya itu bukan masalah serius selain hanya cerita yang dibuat-buat. Kalau itu penting Angga pasti sudah memberitahuku lebih dulu.
Keesokan harinya di kelas tempat duduk kami di acak kembali oleh guru. Hal ini dilakukan untuk membuat kami saling mengenal satu sama lain. Siapa sangka teman sebangku ku yang baru adalah anak perempuan yang menegurku kemarin.
"Hai!" sapaku ala kadarnya. Rasanya tidak enak kalau aku tidak menegurnya karena kami sudah mengobrol kemaren walaupun aku belum ingat namanya. Dia mengangguk pelan.
"Melya." Aku memberanikan diri memperkenalkan diri, entah dia akan menyambutku atau tidak. "Namaku Melya. Panggil saja Mel."
"Riri. Panggil aku Riri."
"Riri. Kedengarannya manis."
"Terima kasih."
"Terima kasih juga sudah memberitahuku kemarin."
"Tidak. Itu bukan apa-apa. Aku pikir kau belum tahu karena kau bertingkah aneh di depan loker. Jadi aku memberitahumu. Apa kau baik-baik saja kemarin?"
"Ya. Aku baik-baik saja." Pembicaraan kami pun berlanjut. Walaupun dia terlihat pemalu dia anak yang menyenangkan. Saat berdiskusi soal pelajaran dia lumayan pintar.
Hujan turun saat jam pulang sekolah. Beberapa anak tertahan karena lupa membawa payung.
"Mau kupinjami payung?" ujar Riri menawarkan. "Kebetulan aku ada satu payung lagi di loker."
Riri merogoh tasnya mencari kunci loker. Namun seorang murid lain yang sedang melintas tak sengaja menyenggolnya dan membuat tasnya terjatuh dan beberapa barang keluar dari tasnya. Salah satunya kunci loker dengan nomor 13.
"Jadi kau pemilik loker no 13?" Teguran ku membuatnya terkejut. Dia segera meraih kunci itu. Wajahnya memucat, dia terlihat ketakutan.
__ADS_1
Aku memang merasa ada yang aneh padanya. Kenapa dia membawa payung di tasnya kalau memang dia menyimpan payung di loker nya? Dan juga kenapa kunci loker no 13 yang dia bilang dikutuk bisa ada padanya?