Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Undangan Dari Siluman Rubah


__ADS_3

Namaku Mina. Aku sudah dibuang keluargaku di jalan sejak masih sangat kecil. Tuan yang menemukanku dan membawaku pulang ke rumahnya. Memberiku tempat yang hangat untuk tidur, dan makanan yang enak untuk mengisi perut.


Ada banyak pelayan di rumah itu. Aku bekerja keras agar tidak menjadi beban. Tuanku anak pertama dari tuan besar. Sebentar lagi dia akan mewarisi semua kekayaan keluarganya.


Tuan bukan orang yang serakah. Dia ingin menggunakan hartanya untuk mereka yang kesusahan. Semakin banyak harta yang dimilikinya semakin banyak yang bisa dibagikannya. Dia orang yang baik yang peduli pada sesama.


Sampai hari dimana dia kehilangan ibunya, tuan akhirnya jatuh sakit. Dia sering berhalusinasi dan bertingkah aneh. Kadang emosinya tidak terkendali. Dia bisa tiba-tiba mengamuk dan menyerang orang-orang di sekitarnya. Kadang dia diam mengurung diri di kamarnya.


Saat aku menjenguk di kamarnya, "Aku tidak ingin mati. Mereka ingin aku mati. Mereka ingin membunuhku." Dia meringkuk ketakutan di atas ranjangnya.


Aku mengerti, di rumah yang dulu dia anggap aman, berubah menjadi tempat yang mengerikan. Saudara-saudaranya yang serakah dan licik berulangkali mencoba membunuhnya. Meski gagal, namun berhasil membuatnya cemas dan ketakutan setiap saat.


Selama ini mendiang nyonya adalah satu-satunya orang yang melindungi tuan di rumah besar ini. Tuan tumbuh di rumah ini dengan sangat terlindungi. Sehingga dia tidak mengenal apa itu bahaya, ancaman, dan keserakahan. Di mana hubungan darah jadi tak berarti. Tanpa mendiang nyonya tuan menjadi rapuh. Tuuan tidak sanggup menghadapinya seorang diri.


Berbeda denganku dan anak-anak jalanan lainnya. Sejak kami dibuang orang tua kami ke jalan yang kotor tanpa perlindungan, kami sudah siap untuk mati kapan saja. Mati karena kelaparan dan sakit atau mati dihajar masa karena mencuri.


Aku menggenggam tangan tuan yang sakit. Aku tahu masih anak-anak, aku tidak bisa melindungi tuan sepenuhnya, tapi paling tidak aku ingin tuan tahu masih ada satu orang yang peduli padanya. Aku bersumpah dalam hatiku aku tidak akan meninggalkannya apapun yang terjadi.


Semakin hari sakit tuan semakin parah. Tuan akhirnya lumpuh. Orang-orang bilang dia menjadi gila karena kehilangan ibunya. Orang-orang sekitarnya menjauhinya. Keluarganya memutuskan untuk membuangnya ke hutan.


Ada kepercayaan tentang hutan ini yang diyakini sejak dulu. Jika orang yang sakit di buang ke hutan ini, dia akan sembuh Jika penjaga hutan ini bersedia menyembuhkannya. Atau dia akan mati menjadi persembahan hutan ini.


Apapun itu aku memutuskan untuk ikut bersamanya dan merawatnya. Aku beruntung menemukan rumah tua yang bisa kami tempati berdua. Aku tidak tahu siapa pemiliknya. Rumah itu tidak terkunci. Tapi barang-barangnya tetap utuh dan tertata rapi. Dari debu yang menumpuk aku tahu bahwa rumah ini sudah lama ditelantarkan. Anehnya barang-barang di dalamnya tetap terjaga dengan baik tanpa ada yang rusak.


Ada lima kamar tidur dengan masing-masing ada kamar mandi sendiri di dalamnya. Selain itu ada dapur, ruang makan, ruang tamu, dan perpustakaan pribadi, juga ruang musik.

__ADS_1


Kadang ada penduduk yang baik yang mau memberi kami makanan.


Sambil merawatnya aku mencari obat-obatan yang mungkin bisa menyembuhkannya. Aku bahkan menemui salah satu penjaga hutan ini. Aku memohon padanya agar menyembuhkan tuanku.


"Mina, tuanmu sudah tidak bisa di sembuhkan lagi. Sakitnya bukan berasal dari kakinya tapi hati dan pikirannya. Karena itu aku tidak bisa menyembuhkannya. Akan lebih baik untukmu meninggalkannya secepatnya. Dia bisa mencelakaimu cepat atau lambat." Setelah berkata begitu penjaga hutan berwujud wanita itu pergi dan tidak pernah muncul lagi.


Tuan biasanya mengurung diri di kamar. Dia mungkin menganggap semua orang sudah membuangnya. Tapi semenjak dia menemukan sebuah buku tua yang besar di ruang perpustakaan, sekarang dia banyak menghabiskan waktu di perpustakaan kecil itu.


Awalnya aku senang melihat tuan mau keluar kamar. Lama kelamaan aku merasa risau. Raut wajah tuan berubah menakutkan. Aku ingin kabur tapi aku tidak bisa meninggalkan tuan.


Andai aku tahu buku apa yang tuan baca, aku akan langsung menjauhkan buku itu dari tuan. Tapi semua terlambat.


Hingga suatu malam aku terjaga dari tidurku. Aku tahu seseorang masuk ke kamarku dan berdiri di sisi tempat tidurku. Saat aku membuka mata, aku melihat bilah tajam yang berkilau melayang di atas tubuhku. Dan jatuh tepat di leherku tanpa bisa kuhindari. Tubuhku mengejang sesaat merasakan sakit. Sementara cairan merah segar membasahi seprai putih tempatku berbaring.


Kepalaku menggelinding ke kakinya. Tuan berdiri tanpa kursi roda. Aku senang kematianku tidak sia-sia. Dia mengangkat kepalaku seolah berbicara padaku.


"Jika aku bisa mendapatkan persembahan lagi, aku akan hidup dengan tubuh yang sehat dan tidak bisa mati."


Setelah itu banyak anak-anak tak berdosa lainnya yang mati di tangannya. Aku terus mengawasinya. Aku tidak menyesal mati untuknya. Karena tanpa tuan aku sudah mati sejak lama. Satu-satunya yang aku sesali aku tidak bisa menghentikan tindakannya.


Cepat atau lambat hukuman akan datang padanya tanpa aku bisa menolongnya lagi.


 


\*

__ADS_1


 


"Aku hanya ingin tuan bahagia. Aku ingin tuan sehat lagi seperti dulu." Ucapnya menangis terisak-isak mengakhiri ceritanya.


"Mina, kau bisa lega sekarang. Tuanmu sudah berada di tempat yang seharusnya. Dia tidak akan lagi merasa sakit. Jadi tidak ada lagi yang harus kau sesalkan." Ucapku membujuknya.


Dia mengusap air matanya, berjalan pergi meninggalkan senyum yang pilu.


"Dia pelayan yang baik tapi mendapatkan tuan yang malang." Gumamku


Setelah kepergian gadis itu, seekor rubah muncul. Makhluk itu mengelus kaki dan menatapku. Mengisyaratkan padaku untuk mengikutinya.


Dari matanya aku tahu dia bukan rubah biasa. Aku menengok ke arah Alvin.


"Apa aku bisa pamit sebentar? Mereka mungkin khawatir jika aku menghilang tiba-tiba."


Rubah itu melihatku sebentar lalu pergi.


"Tidak boleh ya?" Aku menarik kesimpulan. Melihat rubah itu pergi begitu saja berarti dia tidak ingin aku memberi tahu yang lain.


Aku bergegas mengejarnya sebelum kehilangan rubah itu. Setelah hampir mati tadi malam di hutan ini, sekarang aku malah mengikuti rubah jadi-jadian ini. Jika Alvin dan Haris tahu, mereka akan menggelengkan kepala dan menganggap aku gila.


Tapi aku tidak merasakan ancaman pada rubah itu. Karena itu aku putuskan mengikutinya. Rubah itu membimbingku ke area hutan lebih dalam. Semakin dalam semakin gelap. Rimbunnya pepohonan membuat sinar matahari sulit masuk. Tanah yang ku injak lebih lembab dibandingkan yang lain.


Suasananya juga sunyi. Selain aku dan rubah di depanku, ada satu makhluk lagi yang mengawasi kami dari dahan pohon.

__ADS_1


Aku tidak tahu makhluk apa yang mengikuti kami. Suara gemerisik dahan pohon di atasku memancing rasa penasaranku. Saat aku menengedah ke atas, sesuatu tiba-tiba jatuh menimpaku.


"Aaahh!" Jerit ketakutanku menggema ke seluruh hutan.


__ADS_2