Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Tania


__ADS_3

Tania, begitulah mereka memanggilku. Kami hidup dekat dan berdampingan dengan alam. Udara yang bersih dan segar. Kami tidak memiliki benda bulat bercahaya yang manusia sebut matahari. Dunia kami dipenuhi kemilau cahaya yang indah dan kekuatan alam yang melimpah. Bangsa manusia biasa menyebutnya dengan sihir.


Umumnya kekuatan kami memanfaatkan tanah dan tumbuhan. Dulu sekali leluhur kami mempergunakannya untuk berperang dan melindungi diri. Sekarang tidak lagi. Penguasa kami yang baru membenci peperangan dan memilih bersembunyi dari bangsa lain.


Jadi kekuatan kami dipergunakan untuk membangun rumah dan membuat perisai agar wilayah kami tetap tersembunyi. Wilayah kami tidak besar, tapi juga tidak bisa dibilang kecil untuk ukuran manusia.


Untuk menjaga keteraturan, penguasa kami menetapkan aturan yang sangat ketat yang wajib ditaati semua warganya. Semua patuh, karena kami tahu betul apa akibatnya jika kami melanggar peraturan. Kami sudah diajarkan mengenai peraturan itu sedari masih sangat kecil agar kami terbiasa saat dewasa.


Namun, aku sedikit berbeda dari yang lain. Ada satu peraturan yang tidak bisa kupahami.


"Jangan berinteraksi dengan manusia. Kecuali dalam keadaan tertentu dan mendesak yang sudah di izinkan penguasa. Bukankah itu aturan yang sudah jelas. Kenapa kau tanyakan itu?" Itulah jawaban kakek saat aku tanya kenapa bangsa kita tidak boleh berdekatan dengan manusia.


"Aku cuma berpikir mereka tidak seburuk itu sampai harus dijauhi. Dan tidak ada alasan juga kita takut pada mereka. Dari segi kekuatan kita jauh lebih unggul."


"Kau masih muda. Kau masih belum tahu sepenuhnya tentang manusia. Adakalanya mereka bisa menjadi sangat menakutkan. Mereka bisa membunuh sesamanya hanya karena berebut sebidang tanah. Beberapa diantara mereka bahkan memiliki kemampuan yang lebih unggul dari kita." Kakek pun mulai cerita padaku.


"Sebenarnya dulu sekali kita memiliki sejarah yang panjang dengan manusia. Hidup berdampingan dan saling membantu dalam menjaga wilayah. Bangsa kita juga membantu dalam peperangan manusia. Dan di situlah letak kesalahan kita. Keterlibatan kita dalam urusan manusia menjadi bumerang untuk bangsa kita."


"Kenapa? Apa yang terjadi kek?" Tanyaku penasaran.


"Awalnya peperangan sekali kami menangkan. Tapi lambat laun musuh kami belajar. Mereka meniru cara kami. Siapa sangka mereka bekerjasama dengan makhluk ghaib juga bahkan mereka lebih kuat dari bangsa kita."


"Mereka adalah bangsa yang mendiami lautan. Dua per tiga dari dunia ini adalah air. Kekuatan kita tidak sepadan dengan mereka. Kekalahan dari pihak kita menyebabkan banyak kematian bangsa kita. Perang yang panjang membuat populasi kita menurun."


"Berbeda dengan manusia. Butuh waktu sedikitnya seratus tahun untuk kelahiran baru. Karena itu meski bangsa kita berumur panjang, jumlah kita lebih sedikit dibandingkan manusia."


"Hubungan kita dengan para manusia lebih banyak kerugian ketimbang keuntungan yang di dapat. Karena itu penguasa wilayah yang baru memutuskan untuk mengisolasi dunia ini dari dunia luar. Dengan itu bangsa kita bisa hidup dengan tenang dan damai."

__ADS_1


Aku sedikit kecewa karena aku menyukai dunia manusia. Banyak hal menarik yang bisa kupelajari di dunia manusia. Aku bahkan memiliki teman di dunia manusia. Diam-diam aku sering menyusup ke sana.


Kemampuan bangsa kami yang lain, adalah penyamaran. Dari kecil kami sudah belajar tentang itu. Dan aku melakukan penyamaran untuk masuk ke dunia manusia.


Aku suka menyamar menjadi burung karena aku jadi bisa melihat semuanya dari atas. Tapi aku tidak suka terbang di siang hari. Cahaya matahari sangat panas sampai-sampai bisa membakar ku. Aku bingung bagaimana manusia bisa bertahan dibawah cahaya yang panas itu. Karena itulah aku memilih terbang di malam hari.


Kucing adalah penyamaran ku yang lain. Dan ini yang paling kusukai. Semua manusia menyukai kucing. Mereka tidak mewaspadai hewan ini. Saat aku menjadi kucing aku bisa dekat dengan mereka dan mendapat banyak makanan.


Dari apa yang kulihat, bangsa kami dan manusia tidak memiliki banyak perbedaan. Mereka butuh makan sama seperti kami. Hanya saja makanan yang mereka makan berbeda dengan yang biasa kami makan.


Manusia juga butuh tidur, bekerja, dan belajar. Mereka juga merawat tubuh mereka. Tumpukan daging dan kulit itu membutuhkan perawatan yang lebih rumit. Kulit itu mudah sekali terluka. Bahkan makhluk kecil yang disebut bakteri itu bisa membunuh mereka. Makhluk yang menyedihkan.


Berbeda dengan kami, yang memiliki wujud lebih halus. Kami tak perlu khawatir sakit atau luka, karena kami memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Selama lukanya tidak fatal kami bisa memulihkannya sendiri.


Karena itu juga kemampuanku yang dapat menyembuhkan makhluk lain tidak berguna untuk bangsa kami. Kakek bilang aku lahir istimewa, sedangkan orang lain menyebut aku cacat atau menyimpang, karena aku berbeda dengan yang lainnya. Aku tidak menyembuhkan diriku sendiri tapi aku bisa menyembuhkan makhluk lain.


Aku adalah salah satu yang beruntung bisa hidup ratusan tahun. Aku tidak kecewa karena aku memakai kekuatanku untuk menyembuhkan hewan-hewan yang terluka.


Satu hal lagi kesamaan kami, dunia manusia juga memiliki beberapa wilayah yang dibatasi dan dipimpin oleh penguasa masing-masing. Dan setiap wilayah memiliki budaya, cara hidup, keyakinan, serta bahasa yang berbeda-beda, sama seperti bangsa kami. Hanya saja kami lebih banyak menggunakan bahasa pikiran untuk komunikasi dengan yang lain, semacam telepati. Itu bahkan lebih efektif untuk berbicara dari jauh.


Lambat laun aku pun jadi ahli menyamar jadi manusia dan meniru tingkah laku mereka. Aku juga mempelajari bahasa mereka agar penyamaranku sempurna.


Lili adalah salah seorang teman manusiaku. Aku bertemu dia saat dia jatuh dari pohon dan terluka. Aku membantu menyembuhkannya. Dan aku memintanya berjanji untuk merahasiakan hal ini dari siapapun. Dia pun menjadi teman rahasiaku.


Lili sering mengajakku ke rumahnya. Ibunya sangat baik dan ramah. Dia memberiku biskuit yang manis dan roti yang hangat. Makanan manusia memang berbeda, memiliki rasa yang beragam. Tapi bukan itu yang membuatku takjub. Makanan itu dipenuhi oleh banyak emosi yang menyenangkan. Aku merasakan hatiku terisi oleh sesuatu yang manis dan hangat.


"Tania, kau tidak rindu dengan orang tuamu?" Tanya lili. Saat itu aku sedang menemaninya di sungai menangkap ikan. Di musim seperti ini banyak ikan yang bermigrasi. Sehingga ini menguntungkan penduduk desa untuk mendapatkan makanan dan penghasilan lebih.

__ADS_1


Lili membantu orang tuanya menangkap ikan di sungai. Di keluarganya tidak ada anak laki-laki jadi dia harus melakukannya. Dia melakukannya tanpa mengeluh, dia malah menikmatinya sambil bermain air di sungai.


"Rindu? Apa itu?" Aku bertanya pada Lili, mendengar kata asing yang tidak kupahami.


"Itu semacam perasaan ingin bertemu atau melihat mereka. Apa kau tidak pernah merasa itu?" Lili menjelaskan.


"Aku tidak tahu. Soalnya aku tidak pernah melihat orang tuaku. Kakekku bilang mereka meninggal sesaat setelah aku lahir." Jawabku santai.


"Kau tidak ingin pergi ke makam orang tuamu?" Tanya nya lagi.


"Makam?"


"Itu tempat dimana orang yang sudah meninggal dikuburkan. Kau tidak punya yang seperti itu?"


"Kami tidak punya yang seperti itu." Aku bingung menjawabnya. Sedangkan lili tampak sedang berpikir. Dia berjalan ke tepi sungai membawa keranjang ikannya. Terlihat keranjangnya sudah penuh.


"Ayah bilang memang ada beberapa suku yang membakar jasad yang sudah meninggal untuk menghemat tempat pemakaman. Apa sukumu seperti itu juga?"


"Emm, iya. Begitulah." Aku sendiri bingung harus menjawab apa? Karena kami tidak memiliki tubuh seperti manusia. Jadi kami tidak perlu repot mengubur atau membakar tubuh yang meninggal.


Lili duduk di tepi sungai dan membersihkan kakinya sebelum kami pulang.


"Apa ini?" Seru Lili melihat sesuatu yang besar terhanyut terbawa aliran sungai, dan tersangkut di batu besar di depan kami.


"Lili!" Aku menarik Lili dari sungai, begitu menyadari apa yang kami lihat. Seonggok tubuh manusia dengan banyak luka di tubuhnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi di atas sana?" Tanya Lili terheran.

__ADS_1


__ADS_2