
POV Lili
Seonggok tubuh manusia terhanyut aliran sungai dan tersangkut di bebatuan. Aku segera melapor ke warga dan kepala desa. Beberapa pria dewasa memindahkan jasadnya ke tepi sungai.
Tubuh itu milik seorang wanita berusia 20 tahun. Salah seorang penduduk desa kami juga, yang hilang beberapa hari lalu. Dia hilang di sungai saat sedang mencuci pakaian dengan tetangganya.
Para warga juga sudah melakukan pencarian sepanjang aliran, tapi wanita ini tidak di temukan di manapun. Bahkan jejaknya pun tidak ada.
Siapa sangka dia akan di temukan dalam keadaan seperti ini. Pakaian robek di sana-sini, memperlihat luka-luka di kulitnya. Luka bekas gigitan yang besar. Aku memalingkan wajahku tidak sanggup melihat lebih dari itu.
"Pak, ini jelas-jelas perbuatan buaya itu. Kita harus mengerahkan orang untuk memburunya. Ini sudah korban ke tiga dalam sebulan ini. Dan kebanyakan korban nya adalah wanita dan anak-anak. Kita tidak bisa tinggal diam." Ujar salah seorang pemuda memprovokasi. Diikuti warga lainnya yang setuju pendapatnya.
"Tenang semuanya! Kita rapatkan itu nanti. Sekarang kita harus membawa jasad ini ke keluarganya untuk dikuburkan. Sementara ini hindari kegiatan di sungai dan awasi anak-anak agar tidak main ke sini. Jika memang terpaksa harus melakukan kegiatan di sungai biarkan pria dewasa yang melakukannya. Lakukan secara berkelompok untuk jaga-jaga dari penyerangan." Kepala desa memberikan himbauannya kepada warga agar tidak melakukan tindakan sembrono.
Pria yang sudah uzur namun masih dipercaya warganya untuk memimpin desa, meminta para tokoh pemuda dan warga untuk menghadiri rapat besok siang.
Mereka harus memikirkan tindakan dengan hati-hati. Karena hal ini berhubungan dengan penunggu sungai yang sudah mendiami wilayah itu selama ratusan tahun. Makhluk ghaib berkekuatan besar yang hidup berdampingan dengan kami. Siluman buaya putih.
Perselisihan kami, para penduduk, dengan para buaya yang menjaga sungai kerap kali terjadi. Ini seperti manusia yang mencoba memperebutkan tempat yang menjadi sumber makanan mereka, dan buaya yang mencoba mempertahankan tempat tinggal mereka.
Ketidaksamaan bahasa membuat kami sulit komunikasi untuk saling mengerti. Pada akhirnya rusaknya hubungan manusia dan buaya tak dapat dihindari. Korban manusia yang diserang buaya banyak berjatuhan. Tapi buaya yang jadi korban perburuan pun tidak sedikit.
Membunuh satu buaya bukan solusinya. Karena pasti akan muncul buaya lainnya. Dan lagi, kalau terlalu banyak buaya yang mati akan memancing kemarahan sang ratu, yang diyakini penduduk desa sebagai pemimpin kaum buaya.
Menghindari sungai adalah solusi terbaik saat ini. Tapi itu tak akan bertahan lama. Warga membutuhkan air dan ikan dari sungai untuk hidup.
"Huh! Kadal air itu membuat ulah lagi! Dasar!" Celetuk Tania di tengah ketegangan. Walaupun ekspresinya terlihat jengkel, tapi kata-katanya membuatku ternganga.
"Jika buaya yang besar itu kau sebut kadal. Lalu kadalnya kau sebut apa?" Tanyaku menahan tawa.
"Anak kecebong." Jawabnya asal. Aku jadi tertawa padahal tadi aku sangat takut karena kejadian ini.
__ADS_1
Tania memang sedikit berbeda dengan kami, baik dari segi bahasa ataupun budaya. Dia bilang sukunya tinggal di atas gunung yang tinggi jauh dari pemukiman suku lain. Jadi dia tidak banyak berinteraksi dengan dunia luar.
Dulu aku sulit berbicara dengannya karena perbedaan bahasa. Tapi sekarang aku terbiasa dengan kata-kata anehnya. Tania juga banyak belajar tentang bahasa kami. Sejak mengenalnya dia sudah banyak membantu keluargaku.
Aku merasa beruntung memilikinya sebagai teman. Aku harap hubungan kami tetap berlanjut. Sebelum senja Tania pamit pulang. Aku tidak pernah naik ke atas gunung. Tapi pasti jauh sekali dan melelahkan. Bagaimana dia bisa bersabar menempuh perjalanan sejauh itu?
Setelah kejadian di sungai itu hari-hari berlalu tenang. Ayah mengambil air di sungai untuk keperluan sehari-hari kami bersama warga lainnya. Ibu berkebun di ladang. Sedangkan aku membantu berdagang di pasar. Menjual hasil kebun kami.
"Lili, kau sudah pulang?" Tanya ibuku yang melihatku rebahan di teras rumah.
"Ya Bu." Sahutku. Hari itu agak terik. Angin enggan bertiup.
"Lili, tolong bantu ibu mencari adikmu. Sudah hampir waktunya makan siang. Tapi dia belum terlihat disekitar rumah." Perintah ibu tak bisa ku tolak. Meski lelah terasa sangat.
Aku mencari di tempat biasa dia bermain tapi dua tidak ada.
"Kalian tidak bermain bersama Nino?" Tanyaku pada anak-anak yang biasa bermain dengannya.
"Tadi kami main. Terus Nino di panggil kakak itu dan pergi." Jawab salah seorang anak.
"Tidak tahu. Kakaknya laki-laki." Kata anak itu lagi.
"Laki-laki? Mereka ke mana?" Tanyaku lagi dengan panik.
"Ke sana." Anak itu menunjuk ke arah sungai. Aku bergegas ke sana.
"Nino! Nino!" Aku memanggilnya, berharap dia menyahut. Namun hanya keheningan yang kudapat. Para lelaki yang biasa mengambil air di sungai sepertinya sudah pulang. Aku gelisah. Sepanjang pencarianku, aku belum menemukan sosok kecil adikku.
"Kakak! Di sini, kak!" Tiba-tiba aku mendengar suara Nino memanggilku. Aku berlari mengikuti arah suaranya.
"Nino?!" Aku mendapati adikku sedang duduk di atas batang pohon yang besar yang terapung di tengah sungai. Nino terlihat kegirangan seolah sedang menaiki sebuah perahu.
__ADS_1
"Nino! Itu bahaya! Kamu bisa jatuh dan tenggelam!" Aku memperingatinya.
Aku menceburkan diriku ke sungai mendekati Nino. Namun hal aneh terjadi. Aku merasa kejanggalan. Daripada terapung batang pohon itu terlihat seperti berenang.
Tiba-tiba bagian depannya terbelah dan memperlihat deretan gigi tajam seperti gerigi. Matanya terbuka dan melihatku.
"Nino!" Pekikku ketakutan. Itu bukan batang pohon! Itu buaya!
Nino kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke sungai sebelum aku sempat meraihnya. Aliran sungai cukup deras. Menghanyutkan tubuh bocah laki-laki yang baru berusia 6 tahun itu.
Aku berenang mengejarnya namun kalah cepat dengan kegesitan buaya di air. Buaya itu mengincar adikku. Aku menyadarinya. Aku memutuskan untuk naik ke darat.
Buaya adalah perenang terbaik. Berlomba dengannya di air akan sia-sia. Dia akan mendapatkan adikku sebelum aku berhasil menyelamatkannya. Cara satu-satunya ada melawannya di darat. Aku harus mencari jalan pintas untuk mencegat mereka di depan.
Untungnya aku tepat waktu. Dari jauh melihat adikku terhanyut dengan seekor buaya besar mengejar tak jauh di belakangnya.
Aku mengulurkan tangan dan berhasil meraih adikku. Naas tanah yang ku pijak terlalu lunak, membuat kami berdua terperosok dan terjebur ke sungai lagi.
Sambil memeluk adikku, aku menyambar batang tanaman di pinggir sungai untuk bertahan sebelum terhanyut lebih jauh lagi. Semakin ke hilir alirannya akan semakin deras dan semakin dalam.
Dengan susah payah aku berhasil menaikkan adikku ke darat. Sementara diriku masih terjebak di dalam sungai. Tanah di pinggir sungai sangat licin, membuatku sulit mendaki ke darat. Sedangkan airnya setinggi dadaku.
Aku harus cepat naik sebelum buaya itu mengejar. Nino juga masih terus menangis karena ketakutan. Aku harus menenangkannya. Yang membuatku gelisah aku tak melihat buaya besar itu dipermukaan air sungai.
'Kemana buaya itu pergi?' tanyaku dalam hati sambil mengamati dengan hati-hati. Sementara aku mengatur kembali nafasku terengah-engah.
Tiba-tiba sesuatu menarik kakiku dan menyeret tubuhku ke dalam air.
"Kakak!" Aku mendengar suara adikku yang menangis memanggilku menjauh.
Kakiku sakit. Aku melirik ke bawah. Buaya itu menggigit kakiku. Aku takut dan melawan semampuku. Kakiku sakit sekali seperti akan putus. Aku mulai kehabisan nafas. Aku menelan banyak air sampai kepala pusing. Pandanganku juga mulai buram.
__ADS_1
Aku tidak tahu buaya itu akan membawaku ke mana. Sedangkan aku tak punya tenaga untuk melawan.
'Siapapun! Kumohon! Tolong aku! Tolong selamatkan aku!' Jerit hatiku sebelum kegelapan menelanku.