Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Awal Kemalangan


__ADS_3

Tiga hari selama Melya di rawat. Inilah yang terjadi di kelasnya.


POV Riri


"Duh, malas mau berangkat sekolah. Semalam aku mimpi seram sekali." ujarku pada teman di sebelahku. Kami dalam perjalanan menuju kelas.


"Jangan dipikirkan! Itu kan cuma bunga tidur. Makanya jangan kebanyakan nonton film horor!" ujar Eli, sahabat baikku sekaligus teman sepermainan ku sejak dulu di SD.


"Aku udah lama gak nonton film horor tau! Hah, kayaknya karena gosip kita bakal sekelas sama anak aneh itu jadi mimpi buruk."


"Anak aneh? Memang dia kenapa?"


"Itu lho! Anak yang katanya bisa melihat hantu, kemarin kan dia juga sempat hilang pas kemah. Ih seram deh! Untung kita gak satu grup sama dia."


"Jangan seperti itu. Lagian itu kan cuma kata mereka. Belum tentu benar. Siapa tau anaknya baik. Kita juga harus berteman dengannya."


Eli memang anak yang baik sejak dulu. Dia berteman dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan mereka. Gadis kecil yang berhati lembut dan manis, begitulah yang kulihat darinya.


Saat masuk ke kelas anak-anak sedang berkerumun ramai meributkan sesuatu.


"Ada apa?" tanyaku yang baru saja tiba.


"Kamu gak lihat di depan?"


"Kamu yakin itu lokernya?"


"Aku gak sengaja dengar dari obrolan guru kalau loker yang harusnya ada di kelas 3-3 itu dipindahkan ke depan kelas kita."


"Jadi kita gak jadi dapat loker baru?"


"Boro-boro loker baru, kita malah dapet loker hantu itu."

__ADS_1


"Laila, kamu gak coba bicara sama wali kelas kita kalau kita gak mau pakai loker itu."


"Aku sudah bilang. Tapi kita gak cukup dana untuk ganti loker baru. Itu juga cerita yang belum tentu benar. Kalian jangan langsung percaya begitu saja." Laila mencoba memberi pengertian. Tapi anak-anak tetap memprotes.


"Mereka bohong! Kakakku alumni SMP ini juga dia bilang teman seangkatannya pernah mengalami kecelakaan karena dia pegang kunci no 13 itu."


"Berisik!" Seketika semua diam. Maya bendahara kelas kami akhirnya angkat bicara.


"Kalian ini meributkan hal yang sepele! Itu kan cuma loker. Mau kalian pakai atau enggak terserah kalian. Kita juga gak maksa. Disini kita cuma menjalankan instruksi dari wali kelas untuk membagikan kunci loker ke kalian semua." Suara Maya yang lantang dan tegas ditambah dengan postur tubuhnya yang lebih besar dibandingkan anak sebayanya membuat anak-anak tidak berani membantah.


"Maaf teman-teman! Aku mengerti kalian risau. Tapi kita tak punya pilihan selain menerimanya," ujar Laila lagi.


"Agar kalian semua tidak saling tunjuk untuk siapa yang akan pegang kunci loker no 13. Kita akan menggunakan sistem undian. Untuk teman kita yang tidak dapat hadir hari ini akan diwakilkan oleh teman kita yang lain. Jadi setelah kita semua pegang undiannya kita buka sama-sama. Jadi siapapun yang dapat no 13 jangan ada yang protes. Setuju?" Ujar Andi wakil ketua kelas memberi instruksi.


Aku merasakan firasat buruk. Jujur aku sangat takut. Bagaimana kalau aku yang dapat. Aku sudah mendengar cerita seram tentang loker itu.


Tidak! Tidak! Aku tidak boleh memikirkannya. Aku harus percaya keberuntunganku.


"Oke? Semua sudah dapat ya?"


Kelas dipenuhi sorak sorai, mereka melompat kegirangan. Hanya aku yang membatu.


"Riri? Kamu kenapa?" tanya Eli. Aku menunjukkan pada Eli nomor undianku. Semua anak-anak melihatnya.


"Aku- aku tidak mau! Kenapa harus aku?!" Aku merengek saking takutnya.


"Maya, tukar denganku ya? Kamu kan berani!"


"Tidak ah! Aku gak bilang aku berani. Lagian kamu yang dapat. Jangan tukar kesialanmu dengan keberuntungan orang lain dong!"


"Laila! Kalau aku tukar dengan punya anak yang tidak masuk hari ini, bagaimana?" Aku memohon lagi pada Laila. Namun, Laila menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Maaf, Riri! tidak bisa begitu. Kita semua sudah setuju dengan hasil undian ini. Tidak adil jika kau menukarnya dengan punya Melya saat dia tidak ada. Kau bisa tanyakan langsung padanya saat dia masuk nanti."


Aku pasrah. Tentu saja tidak ada yang mau menukarnya dengan kunci terkutuk ini. Kalau saja boleh ku buang...


Hingga pulang kecemasanku tak hilang. Aku berjalan lunglai ke luar kelas. Menatap kosong pada deretan kotak besi di depanku. Sementara murid-murid lain melewatiku satu persatu hingga kelas hampir kosong.


"Riri!" seru Eli memanggilku. Aku menoleh. Ternyata teman baikku Eli sudah berdiri menungguku. Dia menghampiriku.


"Kau masih memikirkannya?" tanyanya cemas, melihatku murung.


"Mana kuncinya?" pintanya. Aku menunjukkan padanya lagi. Dia langsung mengambilnya.


"Ini. Tukar denganku saja!" ujarnya sambil menyerahkan kuncinya padaku.


"Tidak Eli! Bagaimana kalau kau sampai celaka. Aku tidak mau!"


"Tidak akan. Semua cerita yang kau dengar tidak benar. Percaya padaku! Akan ku buktikan dengan membuka kunci loker itu." ujar Eli sambil memasukkan kunci itu ke loker. Eli mencoba membukanya, tapi gagal.


"Kok gak bisa kebuka? Apa kuncinya macet?" Loker itu tak mau terbuka.


"Hentikan Eli! Sudah! Cukup! Aku percaya padamu. Tolong jangan usik loker itu lagi! Ayo kita pulang saja!" Aku panik, langsung menarik Eli menjauhi loker itu.


"Sementara kita pakai loker itu berdua saja." ucapku lagi. Aku meminta kunci itu lagi, tapi Eli tidak mau memberikannya. Alasannya dia tidak ingin membuat kepikiran soal kunci terus. Jadi sementara dia akan menyimpannya.


Kemudian kulihat Eli memasukkan kunci itu ke dalam tasnya. Selama perjalanan pulang aku mengalihkan kecemasanku dengan membicarakan hal-hal yang lucu agar Eli juga ikut tertawa dan tidak membicarakan soal loker itu lagi.


Kebetulan rumah kami bersebrangan. Rumah Eli tepat berada di depan rumahku. Setelah berpisah denganku dia menyebrang jalan sementara aku membuka pagar rumahku. Belum selesai kaki ini melangkah masuk, sebuah sepeda motor melintas cepat.


Spontan aku menoleh ke arah jalan. Eli yang saat itu belum sampai di tepi jalan terhempas oleh kendaraan itu. Dengan kedua mata ini, aku menyaksikan bagaimana tubuhnya yang mungil melayang sesaat di udara sebelum akhirnya jatuh ke aspal layaknya boneka yang dibuang.


Darah mulai merembas dari tubuh teman baikku yang tergeletak di jalan. Tubuhnya tak bergerak lagi. Tas dan isinya berserakan di sisinya. Termasuk kunci loker no 13 yang mulai tenggelam dalam genangan darahnya.

__ADS_1


"Eli!" jeritku putus asa memanggil namanya. Mengoyak udara yang membisu sesaat. Sementara air mataku jatuh bergulir dengan cepat.


Harusnya tidak kuberikan kunci itu. Harus tidak ku ambil! Harusnya ku buang saja kunci terkutuk itu! Semua salahku! Gara-gara aku Eli jadi begini. Aku terus mengutuk diriku sendiri penuh sesal.


__ADS_2