Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
bab 112


__ADS_3

Kabar buruk itu datang pada kami melalui telepon. Ibu menerima telepon itu larut malam. Dengan wajah gusar dan cemas, ibu membawa kami berdua pergi ke pelabuhan yang ada di luar kota malam itu juga. Rupanya kapal yang ditumpangi ayah dilaporkan tenggelam terhempas badai besar.


Mendengar kabar itu jantungku berdetak kencang. Aku bertanya-tanya bagaimana nasib ayah kami? Ibu tak kalah kalut. Dia pergi ke rumah sakit memeriksa satu persatu jasad korban yang ditemukan, tapi ayah kami tidak ada diantara mereka. Kamipun bolak-balik dari rumah sakit ke pelabuhan, menunggu kabar dengan cemas ayah kami tidak ditemukan. Kadang kami sampai bermalam di sana hanya untuk menunggu kabar. Ibu terpaksa membawa kami karena tidak ada kerabat yang bisa dititipi.


Hari demi hari berlalu. Ayah kami tak kunjung ditemukan. Harapan pun kian pergi. Ibu tampak lelah dan putus asa.


Aku merasa ada yang janggal dengan musibah yang menimpa ayahku, badai yang tiba-tiba datang dan ayahku yang menghilang, mau di pikir bagaimanapun...


"Rabbit!" Aku lihat dia masih duduk di dekat jendela kamarku, sedang melihat ke luar. Dia langsung menoleh begitu aku memanggilnya.


"Oh Celin, Kau sudah kembali? Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan kabar tentang ayahmu." Dia bertanya seperti teman yang khawatir. Jika aku tidak tahu makhluk apa sebenarnya yang ada dihadapanku, akan mungkin akan tertipu.

__ADS_1


"Tidak. Belum," jawabku lelah. Aku benar-benar berada di titik frustasiku. Semua tim pencari telah dikerahkan, tapi hanya ayahku yang belum ditemukan. Ini sudah hari ke tiga. Apakah masih mungkin menemukanya dalam keadaan hidup.


Aku ingin menangis memikirkan bahwa aku mungkin tidak akan melihatnya lagi.


"Oh jangan menangis, sayang! Aku tahu ini berat untukmu. Aku harap ayahmu segera di temukan." Mendengar kata-kata palsunya aku sama sekali tidak terhibur. Malah justru membuatku semakin ingin marah.


"Kau bilang kau mengharapkan ayahku kembali? Kalau begitu kembalikan dia padaku!"


"Jangan pura-pura tidak mengerti, aku tahu ini semua perbuatanmu 'kan? Kau datang padaku seperti benda ajaib yang bisa mengabulkan semua permintaanku!" Aku mencengkeramnya dan mengguncang tubuh rabbit yang seringan bulu itu. Rasanya aku benar-benar akan merobeknya.


"Tunggu! Tunggu, sayang! Aku bukannya tidak pernah bilang itu tidak ada bayarannya 'kan? Tapi kau tetap memintanya meski tahu itu."

__ADS_1


Dia benar. Akulah yang bodoh karena sudah tertipu. Aku harusnya sudah curiga sejak kejadian Feby dulu. Dari banyaknya peserta lomba yang ikut serta kenapa harus Feby yang mengalami kecelakaan? Padahal bisa saja orang lain yang tidak ku kenal wajahnya, dengan begitu aku tidak perlu merasa bersalah menggantikannya.


Tapi, Rabit memilih Feby bukan tanpa alasan. Itu karena dia adalah 'temanku', 'milikku'. Rabit bilang aku akan kehilangan 'milikku' sebagai bayarannya, dan dia tidak pernah bilang itu hanya 'benda'. Itu bisa jadi sesuatu yang dekat denganku, orang-orang di sekelilingku. Aku terkecoh.


Dan saat ini aku harus menelan kenyataan pahit bahwa aku akan kehilangan ayahku juga?


Tidak! Aku tidak bisa menerima itu!


Ku ambil gunting dari dalam laci mejaku.


"Tunggu! Tunggu! Apa yang mau kau lakukan?" Sepertinya dia sudah menebak apa yang akan aku lakukan, karena itu dia mulai panik, saat aku mengangkat gunting itu ke hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2