Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Boneka Penukar Keberuntungan 2


__ADS_3

POV Dina


Lima tahun kemudian.


Udara malam ini terasa panas. Karena itu, aku membuka jendela kamar untuk mencari angin. Pendingin ruangan di kamarku sepertinya rusak. Besok aku harus bilang pada ayah agar diperbaiki.


Angin dingin menerpaku begitu jendela dibuka. Di luar tidak nyaris tidak terlihat apa-apa karena gelap, kecuali rumah angker itu yang tepat berada di sebelah rumahku.


Rumah di sebelah selalu terlihat menakutkan bagiku. Bangunan dua lantai yang selalu gelap dan suram ditambah lagi sebuah pohon besar berdiri di dekat jendela rumah itu.


Namun, malam ini terlihat berbeda. Jendela itu terlihat terang. Lampu kamarnya menyala. Padahal setahuku kamar itu selalu kosong. Mungkin pemilik rumah sedang memeriksanya.

__ADS_1


Aku melihat siluet orang di kamar itu sedang berjalan mondar-mandir. Semakin lama gerakannya semakin cepat seperti sedang berlarian di kamar.


"Apa yang dilakukan orang itu?" gumamku bertanya-tanya penasaran.


samar-samar aku seperti mendengar suara gaduh dari dalam kamar itu.


Sosok di dalam kamar itu berdiri cukup lama di depan jendela dibalik tirai putih yang menutupi kaca. Aku yakin orang di kamar itu sedang memukul-mukul kaca jendela dilihat dari pergerakan tangannya. Hingga akhirnya kaca itu pecah, dia diam.


Angin bertiup kencang melambaikan tirai putih itu. Sosok itu masih tidak bergeming dari tempatnya. Seolah sedang menatap ke arahku dan entah bagaimana dia akan melompat ke sini. Sudah jelas itu tidak mungkin, meskipun kedua kamar dari dua rumah yang bersebelahan itu saling berhadapan, jaraknya cukup lebar untuk diompati manusia biasa.


Tak lama kemudian aku mendengar suara Kacar bergetar, seperti ada yang mencoba membuka kaca jendela kamarku.

__ADS_1


Brak! suaranya terdengar sangat jelas sampai-sampai aku berpikir itu nyata. Kamarku di lantai dua, orang gila mana yang memanjat kamar orang di malam hari? Aku penasaran, tapi terlalu takut untuk memastikan kebenarannya.


Akhirnya aku tetap diam di bawah selimut dan berpikir bahwa itu hanya prasangka saja. Jelas-jelas aku sudah mengunci jendelanya, tidak mungkin ada seseorang yang bisa membukanya dari luar.


Namun, malam ini terlalu senyap hingga suara sekecil apapun bisa terdengar, termasuk suara langkah seseorang yang berjalan di sisi tempat tidurku.


Aku diam membatu menahan nafas dan tak bersuara. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara berderit dari ranjangku saat sesuatu itu merangkak naik. Aku merasakan aura yang kuat menekan tubuhku, meski kenyataannya tidak. Sesuatu itu terus merayap di atas tubuhku. Hingga aku bisa mendengar suara napasnya yang berat seperti sedang merintih, berjuang antara hidup dan mati.


"Tolong. . Aku!" Suaranya terdengar jelas tepat di telingaku. Aku menggenggam erat selimutku. Namun makhluk itu menyingkapnya dan memaksaku melihat wujud makhluk yang menindih ku.


Sepasang mata yang hampir lepas dari tempatnya itu menatapku, penuh harap. sementara kepalanya seperti telur yang hangus nyaris tanpa rambut di kepalanya.

__ADS_1


Wajahnya hitam terbakar bahkan aroma gosongnya menyengat menusuk hidung. Beberapa permukaan hitam itu terbuka menonjolkan daging berwarna merah. Dan saat potongan daging kecil itu jatuh tepat di wajahku, aku tidak bisa menahannya lagi untuk tidak berteriak.


"Aaaakh!"


__ADS_2