Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Boneka penukar keberuntungan 4


__ADS_3

DINA


"Ha-hantu!" pekik Lisa sambil menunjuk ke arah siswi yang baru keluar itu.


"Diam, Lisa! Dia bukan hantu! Dia juga siswi sekolah ini!" bentakku pada Lisa. Aku merasa tidak enak.


Wajahnya memang tampak pucat seperti hantu, dengan garis hitam dibawah matanya, dan luka bakar di pelipisnya, untuk orang asing dia terlihat menakutkan, tapi tidak bagiku yang sudah mengenalnya sejak kecil. Matanya terlihat lelah seperti tidak tidur berhari-hari. Ya mana mungkin dia bisa tidur setelah dia kehilangan satu-satunya saudara.


Aku tidak tahu apakah aku mengucapkan namanya dengan benar. Celin dan Celena, mereka kembar identik. Mereka sangat mirip satu sama lain. Kecuali satu hal, sifat mereka.


Celin lebih terbuka dan mudah bergaul dengan orang lain. Dia ramah dan baik pada siapa saja. Sebaliknya Celena terkesan kasar dan suka bersikap seenaknya tanpa memikirkan orang lain. Celena sering bertengkar dengan yang lain karena sikapnya itu. Tidak heran kalau dia jadi di jauhi dan tidak memiliki teman.


Aku tahu kebakaran yang terjadi di rumah mereka lima tahun yang lalu telah menewaskan salah satu dari mereka. Dan hanya satu yang selamat, Celin.


Tapi Celin banyak berubah sejak hari itu. Dia tidak lagi sama seperti yang ku kenal dulu. Dia jadi pendiam dan tertutup.


"Ma-maaf, Lisa tidak bermaksud buruk," ucapku menggantikan Lisa meminta maaf.


"Tidak apa," Celin lalu pergi meninggalkan kami. Eli membantu Lisa berdiri.


Kupikir dia akan marah dan kesal atas sikap Lisa. Atau dia akan sedih. Tapi suara tetap terdengar dingin dan acuh.


Dia tidak terlihat rendah diri karena luka di wajahnya, dia hanya tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. Dia menjalani hidupnya sehari-hari seperti biasa. Bagiku dia semakin mirip dengan Celena ketimbang dengan dirinya yang dulu.


"Apa kau mengenal siswi yang tadi, Din?" tanya Riri.


"Ya, dia tetanggaku," jawabku. Aku lupa kalau kami satu sekolah karena sejak kebakaran itu aku tidak pernah lagi bicara dengannya.


Dan aku tidak mengira bahwa kami akan satu ruangan dengannya hari ini. Aku merasa kikuk karena kejadian tadi. Akhirnya aku jadi tidak fokus selama di kelas. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang di jelaskan guru di kelas tadi.


Sial! Apa gunanya aku mengikuti kelas hari ini! keluhku dalam hati.

__ADS_1


Kelas tambahan dimulai jam 9 pagi sampai jam 1 siang. Kami mengobrol sebentar di kantin sebelum pulang. Hampir jam 2 siang ketika aku sampai di gerbang komplekku. Tapi sinar matahari masih terasa terik.


Kulihat Satpam yang berjaga di pos sedang berbaring telentang di kursi dengan topi menutupi wajahnya. Dia juga pasti sedang kepanasan.


Kulitku terasa terbakar karena panas ini. Besok aku harus bawa payung, pikirku. Aku ingin cepat-cepat sampai di rumah dan minum air dingin.


Hampir sampai di rumah, namun langkahku terasa berat saat melewati rumah bertingkat dua dengan pagar hitam yang berkarat. Pintu besi itu berderit tiap kali ada yang melewati. Pemilik rumah tak pernah mengunci pintu pagarnya.


Siapa juga yang mau maling di rumah hantu itu.


Sejak kebakaran, rumah itu terkenal seramnya. Bau hangus menyengat setiap kali lewat bercampur dengan bau daging yang terpanggang. Ingatan bahwa di rumah itu pernah ada yang mati terbakar membuatku merinding.


Aku berjalan cepat-cepat melewati rumah itu.


"Nak!" Sebuah suara wanita yang parau menghentikan langkahku. Aku menengok ke belakang.


Wanita tua dengan sanggul yang berantakan dan kulit pucat berdiri di pintu pagar rumah itu. Wajahnya dipenuhi banyak keriput, bibirnya tampak kering, dan matanya... garis merah terlihat jelas dibawah matanya. Berapa lama dia menangis? Apa setiap malam?


"Apa kau bertemu dengan Celena di sekolah? Dia juga ikut kelas tambahan." tanyanya.


"Tadi sempat ketemu. Tapi tidak pulang bareng, Tante," jawabku.


"Belakangan ini dia sering pulang terlambat. Bikin cemas saja," ucapnya lagi.


"Mungkin sebentar lagi, Tante," ujar ku sambil membuka pintu pagar. Tanpa sengaja aku melihat ke arah jendela kamar di lantai 2 rumah itu. Tirainya tampak bergoyang sebentar, seperti ada yang baru saja mengintip tadi.


Aku tidak sadar wanita itu masih memperhatikanku. Dia mengikuti ke arah pandanganku tertuju. Lalu dia melambai, seolah sedang menyapa seseorang yang ada di sana.


"Tante bilang anak Tante belum pulang, lalu siapa yang di kamar itu?" tanyaku sambil menunjuk ke arah jendela di mana sosok itu berdiri. Wanita tua itu menengok ke arah yang kutunjuk.


"Oh, itu adiknya. Dia pasti kesepian karena kakaknya belum pulang," jawabnya sambil tersenyum aneh. Merasa ada yang tidak beres dengannya aku langsung bergegas masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Wanita itu gila! Persis seperti yang dibicarakan orang-orang. Dia menganggap kedua anaknya masih hidup. Orang-orang bilang dia sering terlihat berbicara sendiri.


Tapi kalau memang anaknya sudah mati lalu siapa yang kulihat di jendela tadi?


Dari jendela kamarku aku mengintip ke arah rumah sebelah.


Wanita tua itu masih berdiri di luar. Dia melambai ke arah jendela kamar anaknya dengan gembira dan tertawa seperti orang tidak waras.


Seseorang memang masih berdiri di sana. Dikamar itu. Aku yakin. Dan saat ini dia sedang melihat kearah ku. Mau apa dia?


Suara dering telepon rumah membuatku tersentak kaget. Aku turun untuk mengangkatnya.


Sesaat aku ragu untuk menjawab. Bagaimana kalau orang rumah sebelah yang menelpon?


Aku diam sampai terdengar suara dari seberang sana.


"Halo, Dina?" Aku lega begitu mengenali suara itu.


"Ya, El. Ini aku. Ada apa?" sahutku.


"Kau tahu kan kita satu-satunya yang belum punya kelompok belajar."


"Ya, karena kita kekurangan satu orang."


"Kita akan ada tugas kelompok akhir Minggu ini, itu akan jadi masalah."


"Aku tahu."


"Aku ada ide, bagaimana kalau kau ajak tetanggamu itu ke kelompok kita."


"Kau bilang apa? Kau ingin aku mengajak Celin?"

__ADS_1


"Benar, cobalah berbicara dengannya besok. Kupikir dia juga belum punya kelompok."


Bagaimana bisa aku mengajak dia? Aku nyaris tidak pernah berbicara dengannya lagi.


__ADS_2