
Aku tahu tidak akan mudah menyelidiki misteri loker ini. Selain waktu kejadiannya yang sulit dipastikan, cerita yang tersebar dari mulut ke mulut biasanya dibumbui dengan cerita karangan.
Tapi tidak ada asap kalau tidak ada api, semua cerita ini pasti ada sumbernya. Satu fakta yang terselip diantara banyak isu yang tersebar, itu adalah siswi yang ada dalam cerita hantu loker ini. Hantu itu adalah siswi sekolah ini dia meninggal saat duduk dikelas 3. Dia siswi kelas 3-3. Berarti yang tahu betul cerita ini hanya siswa kelas 3-3.
Aku berhasil menemui salah seorang siswi kelas 3-3. Sambil makan siang aku mengajak ngobrol banyak hal. Tentang sekolah ini. Tentang tujuh Keanehan disekolah ini. Dan akhirnya sampai ke pembicaraan masalah loker yang terkutuk itu.
Awalnya dia ragu untuk bercerita, karena hal ini tabu untuk dibicarakan di kelas 3-3. Bahkan meski loker itu sudah dipindahkan mereka tetap ketakutan dengan keberadaan hantu itu.
Nama siswi yang meninggal itu Reina. Dia pernah menjadi korban bully di sekolah ini karena ketahuan mencuri. Tak ada yang tahu pasti bagaimana dia mengakhiri hidupnya. Yang pasti setelah kematiannya hal buruk terjadi menimpa para murid di sekolah ini.
Seorang siswi yang memimpin pembullyan itu bahkan ditemukan meninggal dikelas dengan banyak luka cakaran diwajahnya. Semua meyakini bahwa itu perbuatan hantu Reina. Dia kembali untuk membalas dendam. Dia membenci semua murid di sekolah ini.
Aku mendengarkannya baik-baik. Namun cerita itu masih terasa ganjil. Aku tidak menemukan hubungannya dengan loker no 13. Loker itu memang milik Reina tapi apa alasannya dia mengganggu pemilik loker no.13 setelahnya?
Dengan bantuan dari Angga aku berhasil mendapatkan catatan mengenai siapa saja pemilik loker no. 13 dari tahun ke tahun. Aku mencocokannya dengan data siswa yang tercatat di buku alumni.
Nama Reina mungkin banyak, tapi aku mempersempit pencarian dengan data kunci loker itu. Dan satu hal lagi yang ku tahu dia murid kelas 3-3.
Dengan bantuan Angga aku mencari tahu data asli hantu Reina. Pencarianku hampir tiga jam di perpustakaan itu tidak sia-sia.
Ada tiga nama Reina yang kami temukan. Sama-sama kelas 3-3 dan pemilik loker no. 13. Ini kebetulan yang mungkin terjadi. Tapi hanya ada satu nama yang tidak tercatat lulus. Foto kelulusannya juga tidak ada. Keterangan yang tercatat dia pindah sekolah.
Apa mungkin pindah sekolah disaat dia akan menghadapi ujian akhir sekolah? Ini jelas aneh. Dari tahun angkatannya sudah cukup tua sekitar 13 tahun yang lalu. Kalau dia masih hidup dia mungkin sudah lulus kuliah.
Aku mencari alamatnya di data siswa. Namun saat itu aku menyadari sesuatu. Sosok di dalam album foto itu. Sosok itu aku kenali. Dan dia berada di sekolah ini.
__ADS_1
Aku segera berlari ke ruang guru. Angga mengikuti di belakang. Ruang guru sudah sepi. Namun aku tahu dia masih ada di dalam. Dia selalu pulang terakhir.
"Pak Arya!" Aku memanggilnya. Guru muda yang menjadi wali kelasku.
Dia sedikit terkejut melihatku berdiri di depannya.
"Melya? Ada apa mencari bapak?"
"Ada yang ingin kami tanyakan ke bapak."
"Soal apa? Apa ini soal pelajaran?" Matanya menangkap buku album alumni yang kubawa. Ekspresinya berubah menjadi serius.
"Bukan soal pelajaran, tapi ini!" Aku menunjuk ke arah foto yang ada di album alumni itu. "Ini foto pak bapak 'kan?"
"Apa ini berhubungan dengan Riri yang sedang di rawat di rumah sakit?" tanya pak Arya.
"Aku tidak tahu apakah ini ada hubungannya atau tidak? Apakah ini akan membantunya atau tidak. Tapi sebagai teman aku ingin melakukan apa yang ku bisa," jawabku.
"Bapak mengerti, karena bapak pernah berada di posisimu. Sayangnya, bapak gagal melindunginya."
Kami berdua terkejut mendengar kata-kata pak Arya. "Sampai sekarang bapak menyesal karena tidak bisa menyelamatkannya."
"Apa yang bapak maksud siswi bernama Reina ini?" tanyaku. Pak Arya menggeleng. Aku jadi tidak mengerti.
"Bapak tidak tahu apa ini akan membantu atau tidak, bapak akan ceritakan apa yang bapak tahu."
__ADS_1
"Reina memang teman sekelas bapak sejak kelas satu, sampai kami di kelas tiga juga sama. Meski begitu bapak tidak terlalu akrab dengannya. Yang bapak tahu dia anak yang pintar, dan berprestasi. Dia selalu mendapat peringkat pertama disekolah. Dia bahkan mendapat tawaran beasiswa untuk masuk SMA terkenal di ibukota."
"Walaupun dia tidak aktif dalam banyak kegiatan kesiswaan dia terkenal baik dan ramah dilingkungan sekolah. Sampai kejadian naas itu terjadi."
"Dia ditangkap karena ketahuan mencuri di sebuah swalayan. Berita ini langsung tersebar di sekolah. Mereka yang selama ini diam-diam menyimpan iri dan cemburu pada Reina, akhirnya memanfaatkan kejadian ini untuk menjatuhkannya."
"Dia bully habis-habisan. Aku menyaksikan bagaimana perbuatan mereka semakin hari semakin parah. Bahkan pembullyan ini juga berdampak dilingkungan rumahnya sampai kepada keluarganya. Beasiswa yang harusnya didapatkan pun akhirnya dicabut."
"Padahal saat itu kasusnya masih diusut, belum dipastikan kebenarannya. Tapi masyarakat sudah mengadilinya lebih dulu."
"Apa tidak ada yang membelanya?" tanyaku tak tahan mendengar apa yang dialami Reina.
"Tidak ada. Kasusnya belum jelas, jadi semua merasa ragu apakah harus membelanya atau tidak. Terlebih lagi semua pasti takut menjadi sasaran pembullyan itu. Pada akhirnya meski kami tidak turut campur dalam pembullyan itu, kami juga tidak bisa membantu. Diam dan melihat."
"Kalian boleh mencela bapak, tapi begitulah keadaannya waktu itu. Akhirnya pertahanan Reina runtuh. Dia mencoba melompat dari atap gedung sekolah tapi kami berhasil mencegahnya. Reina mencoba bunuh diri lagi di kelas dengan mengiris pergelangan tangannya. Dia juga tak segan melukai wajahnya sendiri dengan pisau cutter."
"Dokter bilang dia mengalami depresi karena masalah yang belakangan terjadi. Orangtuanya mengurungnya di rumah dan tidak membiarkannya ke sekolah. Saat bapak hendak menjenguknya, ambulan tepat di depan rumahnya, membawa seseorang dengan tandu keluar dari dalam rumah itu."
"Bapak tidak tahu itu siapa? Apakah hidup atau mati? Karena wajahnya ditutupi dengan kain. Tapi darah merembas banyak dari kain putih yang menutupinya."
"Bapak datang lagi besoknya, Tapi pihak keluarganya tidak mau ditemui. Mereka menutup diri. Tetangganya tak ada yang tahu apa yang terjadi.
"Masalahnya muncul setelah itu. Entah dari mana asalnya, tersiar kabar bahwa Reina tewas bunuh diri di kamarnya dengan mengiris lehernya sendiri dan melukai wajahnya. Anak-anak yang dulu menindasnya mulai resah karena kabarnya dia bergentayangan di sekolah menuntut balas atas apa yang dialaminya saat hidup."
"Secara kebetulan terjadi banyak peristiwa kecelakaan di sekolah, bahkan ada yang mengaku kerasukan hantu Reina."
__ADS_1