
"Kakek? Kenapa kakek ada di sini?" Tanyaku terkejut.
"Ikut kakek!"
"Tidak, kek. Temanku dalam bahaya. Aku harus menolongnya. Aku harus berbicara dengan sang ratu." Tolakku.
"Kau sudah banyak melanggar peraturan. Keluar dari wilayah kita tanpa izin. Masuk ke dunia manusia dan berhubungan dengan mereka. Bukan cuma itu, kau bahkan membunuh salah satu dari kaum buaya. Kau harusnya sudah tahu seberat apa hukuman yang menunggumu."
"Maafkan aku, kakek. Aku tidak bermaksud jahat."
Kakek menggelengkan kepala seolah sudah lelah dengan kenakalanku.
"Meskipun kau tidak membunuh siluman buaya itu secara langsung, tapi kau membantu para manusia untuk menyerangnya. Salah seorang dari suku mereka menyaksikan kejadian itu dan melaporkan kejadian itu pada sang ratu. Karena itu ratu meminta pada penguasa kita untuk menyerahkanmu." Kata-kata kakek seketika membuatku membeku.
Aku bukan hanya ketahuan, tapi aku sudah membuat masalah besar. "Apa kalian akan menyerahkanku pada mereka?" Tanyaku ketakutan.
"Tentu saja tidak. Saat ini penguasa kita tengah berunding dengan sang ratu. Karena itu sang penguasa memerintahkan untuk membawamu kembali dan mengurungmu sampai ada hasil dari perundingan itu."
Aku tak bisa lagi membantah. Kakek pasti juga mendapatkan kesulitan dari tindakanku.
Dalam ruang berdinding batu tanpa jendela aku dikurung dalam waktu yang tidak ditentukan sampai hukumanku yang sebenarnya dijatuhkan. Aku telah melakukan pelanggaran berat. Aku tidak berharap dimaafkan.
Setelah menunggu lama, pintu kayu tebal itu akhirnya terbuka.
"Tuan penguasa meminta kami membawa anda untuk menemuinya." Ucap salah seorang penjaga.
Tempat tuan penguasa berada di tempat yang lebih tinggi. Pohon-pohon raksasa bagai pilar sebuah bangunan megah di dalam hutan yang terbentuk secara alami. Ada air terjun kecil di sisi kiri dan kanan. Suara gemericik airnya mengalun seirama dengan aliran sungai di bawah kami. Di atas sungai kecil yang jernih itu ada jalan setapak yang terbentuk dari cabang pohon besar.
Sudah lama aku tidak datang ke tempat ini. Seorang pria rupawan dengan karismanya yang menawan berdiri di depanku. Dia lalu menyuruh penjaga yang mengantarku pergi meninggalkan kami berdua.
Setelah memberi salam layaknya rakyat biasa, aku diam membisu.
"Sudah lama kita tidak bertemu dan berbicara seperti ini, keponakanku." Sapanya hangat mencairkan ketegangan di antara kami. Rasanya sulit dipercaya seseorang yang memimpin bangsa kami dan penguasa wilayah ini, adalah pamanku. Lebih tepatnya adik dari ayahku.
"Ya, paman." Sahutku.
__ADS_1
"Aku harap kau tidak terlalu membenciku karena sudah mengurungmu. Ini demi kebaikanmu dan juga keselamatanmu."
"Ya Paman."
"Saat ini aku berbicara sebagai pamanmu bukan sebagai rajamu. Jadi tidak perlu tegang begitu." Ucapnya. Dia menyadari sikap canggung ku. Mau bagaimana lagi. Meski kami keluarga, kami hampir tidak pernah bertemu dan berbicara.
"Mengenai masalahmu, sang ratu bersedia melepaskanmu dan tidak memperpanjang masalah ini lagi."
"Benarkah?" Seruku tak percaya.
"Karena bagaimanapun anggotanya yang terbunuh juga melakukan kesalahan dan melanggar aturan. Namun, ratu tetap memintaku untuk menghukummu agar kejadian ini tidak terulang lagi"
'ternyata tetap dihukum.' keluhku dalam hati.
"Aku harap kau menyadari kesalahanmu kali ini. Tindakanmu yang menyerang suku lain nyaris membuat dua suku berperang. Jika itu terjadi maka semua jadi tanggung jawab mu."
"Nak, bertindak bukan hanya melihat baik dan buruknya, tapi juga lihat dampak yang bisa ditimbulkan. Apalagi jika kau seorang pemimpin. Tindakanmu akan berdampak pada rakyatmu. Maka itu berhati-hatilah dalam bertindak. Kelak kau juga akan menggantikanku memimpin wilayah ini."
"Aku harap paman sehat selalu dan diberikan umur panjang ribuan tahun lagi. Jadi aku tidak perlu menggantikan paman." Tolakku halus. Paman tersenyum lembut mendengar ucapanku.
"Lalu, paman. Bagaimana dengan temanku. Para buaya itu sudah.." belum selesai ucapanku, paman langsung memotong.
"Temanmu baik-baik saja. Apa yang terjadi pada temanmu bukan ulah para penghuni sungai."
"Kalau bukan mereka lalu siapa? Siapa yang membuat Lili jadi seperti itu." Gumamku dalam hati.
"Kau lah yang membuatnya seperti itu."
"Aku?"
"Nak, sejauh mana kau mengenali kekuatanmu?" Tanya paman.
"Maksud paman?" Tanyaku balik tak mengerti.
Paman menyuruhku duduk dan memperhatikan. Dia memegang dua cawan.
__ADS_1
"Anggaplah cawan yang kosong ini adalah tubuh manusia. Dan cawan yang terisi air penuh adalah milikmu." Lalu paman memindahkan airnya ke cawan kosong. "Inilah kekuatanmu. Inilah yang kau lakukan selama ini."
Mataku bergetar menyadari sesuatu yang baru saja kusadari.
"Dalam skala yang sedikit kekuatanmu membantu tubuh manusia untuk pulih dari sakit dan luka. Namun dalam skala berlebihan efek sampingnya akan muncul. Manusia yang menerima kekuatanmu akan semakin peka terhadap dunia lain. Mereka akan melihat apa yang biasanya tidak terlihat."
"Tidak semua manusia sanggup menerima ini. Kebanyakan dari manusia takut terhadap makhluk ghaib seperti kita. Mereka akan sulit menjalani hidupnya. Itulah yang terjadi pada teman manusiamu."
"Efek samping nya bukan hanya muncul pada manusia. Tapi juga padamu. Kekuatanmu akan terkikis sedikit demi sedikit, dan akan mengancam hidupmu."
"Karena itu makhluk sejenisku sedikit karena mereka lebih cepat mati."
Paman mengangguk. "Aku membuat peraturan juga untuk melindungi keseimbangan dua alam yang berbeda. Dan melindungi orang-orang sepertimu. Karena orang-orang sejenismu mudah terpikat oleh dunia manusia. Dengan menjauh dari dunia manusia maka orang-orang seperti kalian bisa hidup lebih lama."
Paman mendekat padaku, memegang bahuku dan menatapku dalam. "Aku ingin kau hidup lebih lama. Bukan hanya ratusan tahun tapi ribuan tahun. Aku tidak ingin kau bernasib sama seperti orang tuamu."
Kami mengakhiri pembicaraan. Paman menyuruhku kembali ke kamarku. Sebelum berpisah aku menanyakan sekali mengenai kondisi Lili. Selama aku dikurung, waktu di dunia manusia pasti sudah berlalu lama.
Paman bilang dia sudah menyuruh seseorang yang dipercayainya untuk memulihkan keadaan Lili dan menghapus keberadaanku dari ingatannya. Setelah itu hidup dengan baik. Dia menikah dan punya anak yang sehat. Paman tidak menceritakan padaku secara rinci. Dia memintaku untuk tidak menemui Lili. Ini untuk kebaikan Lili juga.
Keesokkan harinya seseorang menjemputku, membawaku ke tempat hukumanku. Aku memasuki hutan belantara dan tiba-tiba di depan sebuah pohon raksasa.
"Tuan penguasa meminta anda menjaga gerbang ini sampai batas waktu yang tidak ditentukan."
"A-apa maksudnya ini, paman? Kau memerintahkan aku tinggal disini. Tempat dimana tidak ada satupun makhluk hidup selain pohon! Lebih baik kau menyuruhku ke tempat ratu buaya putih ketimbang hidup di tempat seperti ini!"
Pamanku tahu betul bagaimana membuat anak berulah sepertiku diam tak berkutik.
"Diam! Siapa yang menggangguku pagi-pagi begini?" suara pria yang lantang terdengar dari dalam pohon besar di depanku. Pohon itu bergerak dan menggetarkan tanah di sekitarnya. Aku mundur.
"Makhluk apa kau ini?" Aku bergidik ngeri merasakan tekanan kekuatan yang bisa membuatku jatuh dalam sekejap.
"Aku penjaga gerbang barat sekaligus penguasa hutan ini."
Begitulah pertemuan pertamaku dengan penguasa hutan ini.
__ADS_1