
"Celena! Buka pintunya!" Aku terus memanggil dari dalam kamar. Tapi tidak ada sahutan dari luar. Aku sangsi dia masih disana karena aku tidak mendengar suara apapun dari luar. Dia pasti sudah pergi.
Hah! Apa aku harus menunggu di dalam sini sampai ibu pulang.
Duarrr! Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari bawah. Bahkan getarannya sampai terasa di kakiku.
"Suara apa itu?" Aku mulai cemas, memikirkan kemungkinan yang terjadi. Suhu ruangan naik menjadi sangat panas. Dan saat asap menyusup ke dalam kamar, aku mulai panik.
"Celena! Buka pintunya! Uhuk! Huk!" Aku terbatuk karena asap yang tidak sengaja terhirup saat aku berteriak.
Celena pasti ceroboh lagi! pikirku saat itu. Sekarang aku harus bagaimana? Berteriak pun sia-sia jika Celena tidak ada di rumah. Ibu baru kembali sore hari. Berteriak sekeras apapun tetap saja tak mungkin suaraku bisa terdengar sampai keluar rumah. Aku hanya bisa berharap seseorang/penjaga di depan komplek melihat kebakaran ini dan segera datang menyelamatkanku.
Sayangnya komplek kami terlalu sepi, karena hampir semua orang-orang di sini meninggalkan rumahnya siang hari dan pulang saat malam hari. Begitu juga dengan anak-anak yang lebih sering bermain di luar ketimbang di dalam rumah.
Sedangkan penjaga sering tertidur atau meninggalkan pos penjagaan, aku tidak bisa mengharapkannya.
__ADS_1
Rumah kami harusnya dilengkapi alarm kebakaran, tapi kebetulannya alarm nya rusak sejak dua hari lalu, dan belum ada petugas yang memperbaikinya meski kami sudah membuat laporan.
Bisa dibilang, aku benar-benar sial!
Tubuhku mulai lemas karena kekurangan oksigen, tak sanggup lagi berdiri, aku merosot dan tersungkur di lantai. Saat itulah aku mendengar suara tawa yang tak asing lagi.
Sial! Rupanya ini ulahnya. Harusnya aku sudah menduga itu. Rabbit tidak mungkin membiarkanku begitu saja.
Jadi sebagai bayaran akhirnya, dia akan mengambil nyawaku? Dasar iblis! umpatku sebelum aku jatuh tak sadarkan diri beberapa saat.
Aku mengumpulkan sisa tenaga untuk bangun. Ku gunakan kursi untuk menghancurkan jendela itu. Pecahannya terbang menggores pipiku.
Tanpa peduli lagi dengan rasa sakit dan panas yang mengenai wajahku, aku berusaha keluar lewat jendela yang sekelilingnya sudah terbalut api. Lalu melompat tanpa peduli jika kakiku akan patah. Untungnya aku jatuh di rerumputan.
Rupanya orang-orang sudah ramai dan berusaha memadamkan apinya. Seorang pria yang melihatku jatuh, mencoba membantuku. Aku menutupi wajahku yang terasa perih seperti melepuh, dengan tanganku yang terluka dan berlumuran darah karena pecahan kaca.
__ADS_1
Saat aku sedang di obati, akan mendengar suara ibuku berteriak memanggil namaku dan Celena.
"Celin! Celena!" Kulihat ibu handak menerobos masuk ke dalam tapi para tetangga menghalanginya dengan memegang tangannya.
"Lepaskan! Aku harus masuk ke dalam. Anak-anaku ada di dalam sana."
"Tenanglah! Petugas sedang berusaha menolong mereka."
"Bagaimana aku bisa tenang..."
"Ibu!" Melihatnya panik seperti itu, Aku segera memanggilnya untuk membuatnya tenang. Setidaknya dia tahu bahwa aku sudah keluar dengan selamat.
Ibu berbalik dan segera berlari menghampiriku.
"Celin, kau tidak apa-apa, nak? Kau baik-baik saja 'kan?" Tanya ibu memeriksa setiap inci tubuhku. Dan saat dia melihat luka di wajahku, bulir air mata yang sejak tadi menggantung, langsung bergulir jatuh.
__ADS_1