
Keesokan paginya aku diam-diam keluar dari kamar tanpa membangunkannya. Sebelum menutup pintu kamar sekali lagi aku melihat wajah Celena yang tertidur. Dia terlihat pulas. Mungkin tidak apa jika aku meninggalkannya sebentar. Lagipula ada ibu yang akan mengurusnya.
Aku bersiap pergi ke sekolah, aku juga harus menanyakan kondisi kakakku yang aneh pada Rabbit. Sayangnya, sejak semalam aku tidak melihatnya. Aku juga belum bisa menghubungi ayah, tapi aku sudah meninggalkan pesan untuknya.
Sudah berbulan-bulan, ayah tidak pulang ke rumah dan hanya mengirimkan uang saja pada kami. Mungkin dia enggan melihat kondisi keluarganya seperti ini.
Sambil berdiri di depan cermin, aku merapikan seragamku. Tanpa sadar aku menyentuh bekas luka bakar di sisi wajahku. Rasa sakitnya sudah hilang, tapi bekas lukanya tergurat jelas. Apa sekarang lebih baik aku operasi saja?
Aku bisa pikirkan itu nanti. Sudah hampir terlambat. Aku bergegas lari menuruni tangga, sarapan cepat lalu pergi.
Selama kelas, aku terus kepikiran Celena. Bagaimana reaksinya saat tahu aku tidak ada di sebelahnya? Apa dia akan mengamuk? Atau dia akan menangis seperti semalam? Aku harap ibu bisa menenangkannya.
Begitu kelas berakhir, aku langsung cepat-cepat keluar sekolah. Tetapi saat aku sampai di rumah, Celena tidak ada di kamarnya.
__ADS_1
Kemana dia?
Kulihat ibu sudah sibuk membuat sesuatu di dapur dengan wajah gembira. Sebaiknya aku tidak membuat ibu cemas. Jadi aku berkeliling sekitar rumah untuk mencari Celena, tapi dia tidak ada dimana-mana. Apa Celena menghilang lagi? Pikirku pahit.
Ah, aku lupa memberitahu Dina dan yang lain kalau aku pulang lebih dulu. Aku harus memberitahu mereka bahwa hari ini aku tidak bisa ikut belajar kelompok. Sambil terus mencari Celena aku menelepon Dina.
"Halo, Din! Maaf hari ini aku tidak bisa ikut belajar kelompok bersama kalian, karena ada hal yang harus kau urus." Sesaat suasana hening tanpa ada suara balasan dari seberang sana.
"Dina?"
"Jangan mendekat! Pergi! Tolong! Maafkan aku! Maafkan aku! Tolong lepaskan aku!"
Aku merasakan ada yang tidak beres terjadi pada Dina. Begitu panggilan terputus aku memutuskan untuk mendatangi gedung sekolah lagi. Dari suara yang agak ramai tadi , aku tahu kalau Dina masih ada di sekolah.
__ADS_1
Dina di temukan tergelak tak sadarkan diri di dekak tangga. Sementara itu aku melihat kakakku Celena ada di dekatnya.
"Celena!" Aku berlari menghampirinya. "Kau dari mana saja? Kenapa bisa ada di sini? Apa kau mengikutiku?
Lagi-lagi dia menjawab "ayo main!"
Eli sudah menelpon ibu Dina. Karena sepertinya tidak ada cedera serius.
Tapi tadi itu apa? Aku jelas-jelas mendengar Dina meminta maaf. Tampaknya dia sangat ketakutan. Apa dia minta maaf pada Celena? Tapi untuk apa?
"Apa yang kakak lakukan pada Dina? Apa kakak mendorongnya?" Dia memiringkan kepala seolah bingung dengan apa yang kutanyakan.
Seingatku, Celena dulu sering menjahili Dina. Aku pernah melihat Dina menangis setelah Celena melempar kepalanya dengan batu. Jadi wajar saja kalau Dina ketakutan kepada Celena. Apalagi celena yang sudah dianggap mati tiba-tiba muncul di depannya, pasti Dina ketakutan sekali.
__ADS_1
Tapi kenapa dia justru minta maaf pada Celena? Atau dia minta maaf agar Celena tidak merundungnya lagi? Bisa jadi begitu.
Kalau dipikir-pikir, Dina selalu ketakutan dan tidak nyaman Setiap kali aku mendekatinya. Hari itu juga, saat aku dan ibu mendatangi rumahnya dan bertanya tentang Celena. Ibunya bilang dina sakit dan tidak keluar rumah seharian. Tapi teman-temannya bilang melihat Dina bermain di luar hari itu. Jadi apa yang coba dia tutupi sampai berpura-pura sakit?