
POV Melya
Namun, Seseorang berhasil mencengkeram lengan penjahat itu dan menahannya sebelum dia sempat mengenaiku. Nafasku tertahan saat melihat ujung pisau itu hanya tinggal beberapa centimeter lagi dari mataku. Telat beberapa detik saja aku pasti sudah mati.
"kak.." seruku. Kulihat Angga sudah berdiri disamping penjahat itu. Dia memilin lengannya dan menyelengkat kaki si penjahat menjatuhkan tubuh ke belakang hingga mengenai aspal. Dengan lengan dan kakinya Angga menahan penjahat itu. Namun dia tenaganya yang kuat dia berhasil lepas dari kuncian Angga.
Penjahat itu tak lagi menyerang, dia berlari menjauh dari kami. Angga dan dua orang temannya mencoba mengejar penjahat itu. Samar-samar aku melihat Angga bergulat dengan si penyerang. Mereka berdua membantu Angga untuk menangkap orang itu, namun pergulatan panjang itu berakhir gagal karena penjahatnya berhasil kabur.
"Melya!" seru Eli menghampiriku. Laila dan Sandy ketua osis kami juga datang.
Mereka membantuku bangun. Tapi aku jatuh kembali karena lututku terlalu lemas untuk berdiri. Tubuhku bahkan belum berhenti gemetar. Aku tidak mengerti kenapa orang tadi ingin membunuh kami. Angga memekukku mencoba menenangkanku.
Aku dan Angga sepakat untuk tidak membertahukan hal ini pada ibu. Aku terus merenungkan hal ini di kamar. tiba-tiba aku teringat ada sesuatu yang ingin kusampaikan ke Angga.
Aku segera turun ke bawah. Kulihat ibuku sedang asyik menonton tv di ruang keluarga. Sebisa mungkin aku tidak menimbulkan suara dan pelan-pelan menutup pintu.
Saat tiba di rumah Angga aku melihat Angga keluar tergesa-gesa. aku mencoba memanggilnya tapi dia malah tidak dengar. tanpa sadar aku jadi mengikutinya.
Namun kabut yang semakin tebal membuatku sulit melihat. Disaat aku sedang berputar-putar mencari keberadaannya aku malah menabrak seseorang yang diam-diam mengikutiku.
"Eli? Sedang apa kau di sini?" tanyaku kaget.
"Aku tidak sengaja melihatmu lalu mengikutimu di belakang. Aku khawatir. Kak Angga juga memintaku mengawasimu."
"Aku kesini mengikuti kak Angga! Huh! Ya sudah ayo pulang!"
Saat kami hendak berbalik pulang kami melihat seseorang yang kami kenali.
"Kak Jun!" panggilku. Dia menoleh. Aku menghampirinya.
"Sedang apa kalian disini?" tanyanya.
"Kakak sendiri sedang apa?" tanyaku balik.
"Aku tadi melihat gadis yang ku temui malam itu. Jadi aku mengikutinya sampai kesini. Ku kira aku bisa menemukan rumah sakit itu jika mengikutinya."
Aku tidak begitu mendengarkan kak Jun. Saat itu fokusku teralih ke sesuatu dibalik kabut. Perlahan semakin jelas ada sebuah bangunan yang besar di depan kami.
__ADS_1
"Apa itu rumah sakitnya?" tanyaku.
"Benar! Itu rumah sakitnya!" ujar kak Jun membenarkan. Tanpa menunggu kami, dia langsung masuk ke dalam rumah sakit itu. Kami mengikutinya di belakang.
Tampilan dalamnya memang mirip rumah sakit. Ada dua resepsionis yang berjaga di depan. Kak Jun langsung menanyakan perihal adiknya kepada dua orang itu. Mereka memeriksa daftar pasien. Aku sedikit mengintipnya.
Di kolom terakhir tertulis jenis golongan mereka. Dan kebanyakan di isi hantu dan siluman. Ya, tuhan! Rumah sakit benar-benar khusus hantu.
"Pasien bernama jenny sudah keluar sejak dua hari yang lalu. Dia sudah tidak ada di rumah sakit ini lagi."
"Apa? Jangan berbohong! Adikku belum pulang! Bagaimana bisa kalian dia tidak ada disini?"
"Kami tidak bohong! Tertulis seperti itu di daftar. Coba cek lagi di rumah! Barangkali sekarang dia sudah pulang."
"kalau begitu aku ingin bicara dengan dokter yang merawat adikku!"
"Beliau sedang keluar menghadiri pertemuan."
"kalau tidak bisa pertemukan aku dengan perawat bernama Evania."
Suara lift berbunyi, pandanganku teralihkan ke arah lift. Perlahan pintu lift terbuka. Dua orang wanita muncul. salah satunya seusia dengan kami, dan yang satu lagi aku tahu, dia hantu gadis hujan!
"Kakak!" Kak Jun langsung menengok begitu mendengar suara adiknya. Dia bergegas ke arah lift namun pintu lift keburu tertutup.
"Jenny! Jenny!" Kak Jun terus memanggil-manggil nama adiknya sambil menggedor-gedor pintu lift. Lift nya sudah naik dan berhenti di lantai 3.
Begitu pintu lift terbuka lagi aku langsung menarik Eli dan kak Jun masuk sebelum resepsionis itu menghalangi kami lagi. Aku ingat di lantai berapa lift itu berhenti. Aku menekan tombol lantai 3.
"Mel!" Eli memanggilku hampir seperti berbisik.
"Hemm?" Aku menyahut, menengok ke arahnya.
"Apakah lift di rumah sakit hantu punya mata?" ucapnya sambil menunjuk ke langit-langit. Aku dan Jun ikut mendengak menatap langit-langit lift. Sepasang mata yang besar tergambar di langit-langit. Saat mata itu berkedip saat itulah kami sadar itu bukan gambar melainkan sepasang mata besar yang menempel di langit-langit.
"Aaaakh!!" Sontak kami berteriak karena terkejut campur takut. Begitu pintu lift terbuka kami bertiga langsung kabur. Kami berlari sejauh mungkin dari lift. Kami berhenti sejenak untuk mengatur nafas.
Kak Jun berpegang pada tembok sambil menengok kebelakang.
__ADS_1
"Apa dia masih mengejar?" tanyanya.
"Dia tidak ada," jawabku menengok ke arah yang sama dengan kak Jun.
"K-kak Jun.." Eli tergagap melihat ke arah kak Jun. Aku berpaling melihat ia kak jun. Dia masih berdiri di dekat tembok.
Sebuah garis melengkung di belakangnya perlahan melebar membentuk lubang hitam seukuran kak Jun. Seperti mulut raksasa yang menganga tepat di hadapannya tanpa dia sadari. Tubuh kak Jun hilang keseimbangan dan jatuh ke dalam lubang itu sebelum kami sempat bereaksi. Lubang itu menutup dan lenyap menelan kak Jun.
"Kak Jun!" seruku panik sambil memukul tembok.
Garis lengkungnya masih terlihat di mataku. Dia bergerak sepanjang dinding. Aku berlari mengejarnya dan Eli mengikuti di belakang.
Makhluk yang menempel di dinding itu menghilang di tangga.
"Sepertinya dia turun ke bawah. Ayo!"
Aku berlari menuruni tangga tapi...
"Aaakhhh!"
Debuk!
Kaki kiriku malah tersangkut sesuatu seperti tali, membuatku jatuh terjerembab dengan kaki tergantung. Untungnya kepalaku tidak terbentur. Tapi punggungku sakit sekali.
Aku melihat tali bewarna putih malang melintang tak beraturan diantara pegangan tangga bahkan sampai menjuntai ke bawah.
"Melya!" seru Eli sambil menuruni tangga dengan hati-hati.
"Orang bodoh mana yang memasang tali di tangga!" ujarku mengomel sambil menarik tali yang mengikat kaki. "Kalau ini jebakan, ini terlalu kekanak-kanakan."
"Jangan ditarik paksa seperti itu! Nanti malah semakin susah di lepas. Biar aku bantu mengurainya," ujar Eli sambil menggulung tali-tali itu kembali.
"Dari mana asal tali-tali ini?"
"Kita akan tahu begitu sampai di pangkalnya. Dan ini bukan tali. Sepertinya ini per..ban.." tali-tali itu membawa kami pada makhluk besar dan tinggi yang dibalut banyak perban sekeliling wajah dan kepalanya. Sedikit rambut menyembul dari celah perban.
Sepertinya bukan hanya kepala, tangan dan kakinya juga. Dia berdiri di tangga bawah. Eli yang terkejut melihat makhluk itu langsung melempar gulungan perban seukuran bola itu ke arah makhluk besar itu, lalu bersembunyi di belakangku. Tingginya mungkin lebih dari dua meter.
__ADS_1