
POV Author
Hanya ada satu cara menghentikan tom, biarkan dia mendapatkan tujuannya. Tom mencari pemilik kancing itu selama bertahun-tahun. Jadi Arsa berencana mengorbankan satu gadis untuk rencana jahatnya.
Gadis yang tak dikenalnya ataupun memiliki hubungan dengannya. Gadis asing yang tak sengaja ditemuinya. Kebetulan dia siswi SMP nya dulu. kebetulan mereka bertabrakan. Arsa mengambil salah satu kancing seragam milik gadis itu diam-diam.
Saat Tom melihat gadis itu, Tom akan berpikir gadis itu adalah pemilik kancing ditangannya. gadis itu adalah pembunuh Evania. Orang yang sudah dia cari selama bertahun-tahun. Setelah Tom membunuh gadis itu dia akan puas dan berhenti bergentayangan di kota ini seperti hantu.
Tidak ada yang tahu rencana itu kecuali Evania. Saat melihat gadis itu di dalam taksi dan melihat kakaknya yang cemas. Evania bermaksud menyembunyikan gadis itu di rumah sakit tempat dia tinggal. Meski terkadang dia suka bermain-main dengan manusia, Evania tak pernah melukai.
Dia hanya ingin menyelamatkan gadis malang itu dari Tom, dari rencana jahat Arsa.
\* \* \*
Di bawah derai air hujan yang mengguyur tubuh mereka berdua, di tepi sungai, tempat dimana semua berawal. Setelah sekian lama kedua gadis itu bertemu kembali.
"Kau kembali? Apa kau kembali untuk membunuhku? Kau ingin balas dendam padaku? Ayo lakukan saja! Bunuh aku!" teriak Arsa. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara gemericik air hujan yang jatuh ke sungai.
Arsa mulai lelah. Dia sadar bahwa dia tak pernah mendapatkan ketenangan sedikitpun sejak menjatuhkan kakaknya ke sungai. Meskipun mendapatkan semua yang di inginkannya, kasih sayang orangtuanya, dan semua yang pernah dimiliki kakaknya dulu.
Kebahagiaan itu terlihat semu, seperti lukisan yang perlahan luntur oleh tetesan air.
"Kau pikir aku tidak tahu, bahwa selama ini kau mengawasiku?!" teriak Arsa lagi. Kilat membelah kegelapan di antara mereka. Namun, evania merundukkan payungnya hingga menutupi sebagian wajahnya. Arsa tidak bisa melihat ekspresi yang di sembunyikan dibalik payung itu. Dan itu membuatnya lebih gusar.
"Balas dendam? Kau benar, jika mau aku bisa melakukannya kapan saja. Tapi untuk apa? Kami tak butuh itu. Balas dendam hanya untuk mereka yang hidup seperti kalian."
"Lalu, untuk apa kau datang menemuiku?"
"Untuk bicara denganmu. Kupikir dengan begitu aku bisa memahami tindakanmu. Ternyata lebih dari sekedar kata untuk membuat kita saling mengerti."
Evania berbalik hendak meninggalkan tempat itu. Meninggalkan adikya yang masih diam membisu.
"Mati kau!" mendengar seruan yang tak asing itu membuat evania berbalik. Melihat wajah adiknya memucat. Tergurat ekspresi kaget dan putus asa. Arsa tak menyangka bahwa dirinya akan ditikam dari belakang.
"Mati kau! Mati kau!" seru laki-laki itu sambil menusuk punggung Arsa berkali-kali. Tanpa seorang pun menghentikannya.
Tubuh Arsa pun goyah ke sisi sungai. Sebelum ia jatuh, entah sadar atau tidak dia mengulurkan tangannya kembali ke arah kakaknya. Apakah dia berpikir bahwa kakaknya akan menolongnya lagi seperti dulu?
Namun Evania hanya terdiam menatap tubuh adiknya tercebur dan terhanyut oleh aliran sungai.
Seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul di sampingnya. Dia hantu anak laki-laki yang pernah menolong Melya di sekolah waktu itu.
"Kenapa kau tidak menolong adikmu? Bukankah sampai sekarang kau tidak bisa membuang perasaanmu pada adikmu dan juga pemuda itu? Kau bisa saja menyelematkannya," tanya hantu anak laki-laki itu.
"Ini yang terbaik untuknya. Hidupnya tak pernah bahagia, setelah aku mati pun dia tetap tak bahagia. Jadi aku harap dia bisa menemukan kebahagiaan setelah kematiannya," ucapnya sambil menatap hampa pada aliran sungai yang telah menghanyutkan tubuh adiknya.
"Ck ck ck! Ironis sekali! Dia mati dengan cara yang sama seperti kakaknya. Dia pasti sangat menyukaimu!" ucap hantu itu lagi. Evania hanya diam tak membalas.
"Lalu, bagaimana dengan orang itu?" tanya hantu itu menunjuk ke arah laki-laki yang telah menusuk Arsa.
__ADS_1
"Aku telah membunuhnya! Aku telah membalaskan dendammu, Evania!" seru laki-laki itu sambil tertawa senang.
"Aaakhhh! Ada pembunuh! Tolong!" Seorang wanita yang tak sengaja melintas melihatnya. Dia berlari ketakutan dan memanggil orang-orang.
Tak butuh waktu lama orang-orang berkerumun. Polisi dan ambulance datang. Para dokter meringkus laki-laki yang di duga pasien rumah sakit jiwa yang kabur.
"Aku sudah membunuh pembunuhnya, Evania! Aku sudah membunuhnya!" seru laki-laki itu berulangkali menyebut namanya. Saat dia melewati Evania begitu saja, Evania sadar bahwa laki-laki itu tidak bisa melihatnya.
Pandangan Evania mengikuti laki-laki itu yang digiring masuk ke dalam mobil ambulan. Laki-laki yang pernah begitu mencintainya jatuh dalam kegilaan setelah kematian dirinya.
"Apa yang akan terjadi padanya?" tanya hantu itu pada Evania.
"Sudah jelas dia akan dihukum sangat berat atas pembunuhan beberapa gadis. Atau, selamanya dia akan dikurung di rumah sakit itu tanpa bisa keluar lagi," jawab Evania.
Miris, dua orang yang disayanginya berakhir tragis di depan matanya. Dia merundukkan payungnya, menutupi sebagian wajahnya. Air mata mengalir perlahan di pipinya.
Namun angin menerbangkan payung itu dan memperlihatkan pada dunia wajahnya yang sedang berduka. Payung itu terbang tinggi ke langit terombang-ambing oleh angin.
Dia teringat saat pertama kali mendapatkan payung itu. Hadiah ulang tahun yang diberikan oleh adiknya.
"Payung yang cantik! Ini untukku?" tanya Evania kepada arsa yang kala itu baru berusia 7 tahun.
"Terima kasih! Ku harap kau selalu bahagia!" ucapnya sambil menarik tubuh mungil adiknya ke dalam pelukannya.
"Aku akan bahagia kalau aku bisa secantik kakak, memiliki suara yang bagus seperti kakak," ucap polos adiknya. "Apa aku akan secantik dirimu saat aku besar nanti?"
Kembali ke masa kini, berdiri di tepi sungai yang pernah menenggelamkan dirinya hingga tewas, dan kini menghanyutkan adiknya entah kemana.
"Selamat tinggal adikku, Arsa! Semoga bahagia! Doaku selalu menyertaimu."
Di tempat yang terpisah, di rumah sakit dokter Herlina menemui Alden yang tengah berdiri di teras rumah sakit.
"Alden! Apa kau melihat Evania?" tanyanya.
"Dia pergi keluar menemui adiknya. Dan belum kembali sampai sekarang," jawab Alden.
"Bertemu adiknya? Untuk apa?"
"Aku tidak tahu. Dia tidak bilang."
Herlina menghela nafas panjang. "Kuharap dia tidak membuat masalah."
"Tenang saja, kak Herlin! Evania bukan gadis pembuat masalah. Jika dia memang ingin melukai adiknya dia pasti sudah melakukannya sejak dulu. Dia tidak melakukannya karena memang tidak ingin."
"Ya. Aku tahu, Alden. Tolong sampaikan padanya begitu dia kembali dokter Aslam ingin bertemu dengannya!"
"Ya, akan ku sampaikan," sahut Alden.
Tiba-tiba mereka berdua mendua mendengar nyanyian yang begitu syahdu namun juga pilu. Suara yang lebih indah dari kicauan burung namun nyanyian mampu menyayat kalbu.
__ADS_1
"Apa ini Evania?" tanya Herlina takjub dengan nyanyian yang di dengarnya.
"Ya, kak Herlin. Ini suara Evania. Dia sedang menangis," jawab Alden. Dia bisa merasakan kesedihan sahabatnya saat ini.
"Daripada sebuah tangisan, ini lebih mirip seperti doa yang mengiringi pemakaman," ucap dokter Aslam yang baru saja datang. Ikut membaur dengan mereka.
"Lagu pemakaman. Tapi siap yang meninggal?" Semua terdiam mendengar pertanyaan dokter Herlina. Bukan tak tahu jawabannya tapi takut untuk mengucapkannya.
Sementara suara hujan yang turun dari langit bagai musik yang mengiringi nyanyian itu. Nyanyian yang sampai menyentuh hati setiap pendengarnya. Nyanyian itu juga sampai ke telinga Melya.
"Nyanyiannya lebih sedih dari yang biasanya," ucap Melya yang mendengar nyanyian itu dari dalam kamarnya.
Hujan reda, Evania kembali ke rumah sakit. Alden menyambutnya di depan.
"Selamat datang kembali! Bagaimana pertemuannya?"
"Semua berakhir baik."
"Apa perasaanmu juga membaik?"
"Yah!" jawab Evania singkat. "Oh ya tadi aku bertemu dengan Aimon.
"Oh, si hantu dari gedung olahraga tua itu 'kan?"
"Ya, dia bilang dia mengirimimu hadiah. Apa kau menerimanya?"
"Hadiah?" dia sempat bingung, kemudian dia tertawa menyadari hadiah apa yang sudah dikirimkan kepadanya.
"Ya, aku menerimanya. Tapi aku tak bisa menyimpan hadiahnya."
"Kenapa? Kau tidak suka hadiahnya?"
"Bukan tidak suka. Hadiah itu bukan untuk disimpan ataupun dimiliki."
"Aku tak paham. Kurasa Aimon akan kecewa mendengar ini."
"Dia selalu kecewa sepanjang waktu."
"Evania! Alden! Cepat masuk!" panggil dokter Herlina.
"Baik kak!"
Rumah sakit itu pun lenyap di telan oleh kabut.
Kasus pembunuhan berantai itu di akhiri dengan tertangkapnya si pelaku dan kematian Arsa.
kota kembali damai sementara. Para siswa bisa sedikit bernafas setelah beberapa waktu merasa was-was.
🍒. 🍒. 🍒.
__ADS_1