
"Lalu apa ini?" Olivia menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya hingga membuat Vincent segera menegakkan punggungnya dan duduk menyerong ke arah Olivia.
"Apa makan malam dan menginap di hotel bersama Jesica juga ada hubungannya dengan pekerjaan?"
Melihat foto itu, Vincent segera meraih ponsel Olivia lalu melihat satu persatu foto dengan gerakan tangan yang cepat. "Dari mana kau dapatkan semua foto ini?"
"Apa ini alasan kenapa kau selalu pulang malam dan jarang menghubungiku, karena kau sibuk bertemu dengan mantan kekasihmu?" tanya Olivia tanpa menjawab pertanyaan Vincent lebih dulu.
"Jawab dulu dari mana kau dapatkan foto-foto ini?"
"Seseorang mengirimkan padaku."
Vincent bergegas memeriksa isi pesan Olivia dan menemukan nomor baru yang mengirimkan foto tersebut. Setelah mengirimkan pesan pada nomornya sendiri, Vincent kembali mengirimkan nomor itu pada Edric.
[Periksa pemilik dari nomor tersebut dan segera beritahukan padaku.]
[Baik, Tuan Muda.]
Selesai mendapatkan balasan yang diinginkan, Vincent segera menghapus semua foto tersebut setelah mengirimkan pada nomornya sendiri.
"Percuma kau hapus, aku sudah melihat semuanya." Dengan mata berkaca-kaca Olivia kembali berkata, “kau mengecewakanku, Cent. Kau sudah mengkhianatiku.”
Melihat Olivia menitikkan air matanya, Vincent bergegas merengkuhnya. “Liv, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Ada seseorang yang berusaha untuk menjebakku untuk merusak hubungan kita.”
Buliran bening terus keluar dari kelopak mata Olivia ketika mengingat foto Vincent bersama dengan Jesica yang keluar dari kamar hotel bersama. “Kalau kau ingin kembali bersamanya, kau hanya perlu bilang padaku, jangan diam-diam bertemu dengannya di belakangku. Aku siap mundur kalau kal….”
“Ssssttttt. Jangan katakan apapun lagi. Kau salah paham, Sayang. Aku tidak pernah ingin kembali padanya.” Wajah Vincent nampak panik, ”aku bisa jelaskan semuanya padamu. Apa kau mau mendengarkan penjelasanku?” tanya Vincent sambil menunduk, tapi masih merengkuh tubuh Olivia.
Olivia terdiam selama beberapa saat lalu mengangguk. Dia harus mendengar penjelasan Vincent dulu. Bagaimana pun dia tidak boleh percaya begitu saja dengan foto yang dia lihat, apalagi itu dikirim oleh orang yang tidak dikenal.
Bisa saja foto tersebut diedit. Seperti yang dikatakan oleh Vincent sebelumnya foto itu digunakan untuk menghancurkan hubungan mereka berdua. Bagaimana pun banyak sekali yang tidak suka dengan hubungan mereka, terutama wanita yang menyukai Vincent.
“Aku mohon dengarkan penjelasanku lebih dulu sampai aku selesai dan jangan menyelanya,” pinta Vincent sebelum melepasan pelukannya dan Olivia kembali mengangguk.
__ADS_1
Vincent melepaskan pelukannya lalu mengusap pipi Olivia dengan lembut yang sudah dibasahi oleh air mata, setelah itu menatap Olivia dengan lekat. “Apa kau ingat waktu itu kau tiba-tiba menghilang dan ternyata kau pergi ke rumah Alvin?”
Saat itu Olivia berbohong pada Vincent kalau dia ke rumah bibinya, padahal dia ke rumah Alvin untuk menemui Cloe yang sedang demam.
“Iyaa.”
“Saat itulah aku menginap bersama Jesica di hotel.”
Mata Olivia membulat selama beberapa detik kemudian kelopak matanya berkedip bersamaan dengan air matanya yang mengalir ke pipinya.
“Setelah mengetahui kalau kau pergi ke rumah Alvin tanpa sepengetahuanku, aku sangat marah dan kecewa padamu jadi aku melampiasakannya dengan minum di bar Reno hingga mabuk. Edric membawaku ke hotel milik sepupu Jesica karena aku tidak mau pulang ke apartement. Di hotel itulah aku bertemu dengan Jesica. Dia memaksa untuk merawatku yang saat itu sedang mabuk berat,” papar Vincent.
Olivia menundukkan kepalanya saat mendengar dari mulut Vincent sendiri kalau dia memang menginap di hotel yang sama dengan Jesica.
"Di dalam hotel itu bukan cuma ada aku dan Jesica, tetapi Edric juga menginap di sana."
Saat melihat Olivia masih diam, Vincent berkata lagi, "Apa kau tidak percaya denganku?”
“Kalau aku ada di posisi itu bersama dengan Alvin, apa kau akan percaya padaku?”
Vincent menghela napas halus lalu berkata, “Aku tahu kau pasti tidak percaya padaku, meskipun aku memanggil ke Edric ke sini untuk menjelaskan padamu."
"Aku bukannya tidak percaya padamu. Aku hanya berpikir mungkin kau masih memiliki perasaan padanya."
"Liv, kalau aku memang aku masih memiliki perasaan padanya, aku tidak mungkin memperjuangkanmu hingga aku kehilangan segalanya. Aku bahkan menolak dengan tegas saat ibuku memintaku untuk segera bertunangan dengan Jesica."
"Jadi ibumu sudah pernah memintamu untuk bertunangan dengan Jesica?"
"Ya, tapi aku menolak dan memilihmu. Kalau aku memang menginginkannya, aku pasti sudah memutuskanmu dan kembali bersamanya karena ibuku sudah bisa menerima Jesica."
Setelah mendengar itu, Olivia segera memeluk Vincent dan berkata, "Maafkan aku Cent. Seharusnya aku percaya padamu."
Vincent akhirnya merasa lega karena Olivia akhirnya percaya dengannya. "Aku sangat mencintaimu, Liv. Mana mungkin aku mengkhianatimu.”
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan makan malam itu?”
“Foto itu ketika aku bilang aku sedang makan malam bersama Jesica saat kami lembur. Selama seminggu ini, aku tidak pernah makan malam ataupun pergi bersama Jesica."
Setelah Olivia mengurai pelukannya, Vincent kembali mengusap sisa-sisa air mata di pipi Olivia. “Maaf karena sudah membuatmu menangis. Seharusnya aku menceritakan dari awal agar kau tidak salah paham.”
“Aku tidak memintamu untuk menjauhinya, tapi setidaknya apapun yang kau lakukan dengannya beritahu aku agar aku tidak salah paham.”
“Iyaa, Sayang.”
Olivia tidak mungkin meminta Vincent untuk menjaga jarak dengann Jesica karena bagaimana pun mereka bekerja di kantor sama. Suka tidak suka mereka pasti saling berinteraksi satu sama lain.
******
“Apa kau sudah tahu siapa pemilik dari nomor tersebut?” tanya Vincent pada Edric setelah melihatnya duduk di depannya.
Pagi-pagi sekali Edric sudah berada di dalam apartemen Vincent. Semalam Vincent memintanya untuk datang lebih pagi dari biasanya karena ada yang ingin dibicarakan dengannya.
“Belum Tuan Muda. Nomor ponsel tersebut sudah tidak aktif dan sulit untuk melacak kepemilikan nomor tersebut."
Vincent terdiam selama beberapa saat lalu berkata, “Selidiki lagi. Aku harus tahu siapa yang berani merusak hubunganku dengan Olivia.”
“Baik, Tuan Muda.”
Siang ini akan diadakan rapat umum pemegang saham luar biasa dengan agenda pencopotan serta pemberhentian Vincent dari Wijaya Group. Setelah berbicara rahasia dengan Edric, Vincent langsung ke kantor bersamanya. Dia datang lebih pagi dari biasanya bukan untuk mempersiapkan serangan balik untuk melawan ibunya, tapi dia justru pergi menemui Jesica.
Di tempat lain, Olivia yang baru saja tiba di kantornya dengan menaiki bis harus menghentikan langkahnya ketika akan memasuki loby ketika melihat ibu Vincent berdiri di dekat pintu. Olivia terdiam selama beberapa detik kemudia melangkah mendekati ibu Vincent dan menyapanya dengan sopan.
“Bisakah kita bicara sebentar?”
Olivia berpikir sebentar lalu berkata, “Bisa, Nyonya. Mari kita bicara di dalam.”
“Tidak perlu. Ikutlah denganku, kita bicara di mobil saja.”
__ADS_1
Bersambung….