Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Kediaman Wijaya


__ADS_3

"Selamat datang kembali di Indonesia, Tuan Muda."


Nando langsung menyambut kedatangan Vincent setelah keluar dari pintu kedatangan di terminal 3 internasional Bandara Soekarna Hatta.


"Hhhmmm." Vincent mengangguk ringan seraya bergumam.


"Silahkan, Tuan Muda."


Nando dengan sigap membuka pintu mobil belakang, sementara Edric duduk di depan, di samping Nando yang akan mengemudikan mobilnya. Pengawal yang mengikuti Vincent berbulan madu pun berjalan menuju mobil yang ada di belakang setelah melihat Vincent dan Olivia masuk ke dalam mobil.


"Sayang, ibuku meminta kita untuk pulang ke kediaman Wijaya. Selama beberapa hari ini, kita akan tinggal sementara di kediaman orang tuaku."


Itu sudah menjadi tradisi di keluarga Wijaya jika setelah hari pernikahan, menantu perempuan akan tinggal di rumah mertuanya selama beberapa hari sebelum mereka tinggal di rumah mereka sendiri.


"Jangan khawatir, aku akan melindungimu dari ibuku. Tidak akan kubiarkan ibuku menekanmu, apalagi menyakitimu," ucap Vincent sambil menggenggam tangan istrinya saat melihatnya terdiam.


"Iyaa."


Tiba di kediaman Wijaya, pengantin baru itu disambut dengan meriah oleh semua pengawal, pelayan, kedua orang tua Vincent, Nyonya Gracia dan juga seorang wanita cantik yang Olivia tidak pernah melihatnya.


"Kak Vincent, akhirnya kau pulang juga."


Seorang Wanita menghambur ke arah Vincent lalu memeluknya. Melihat itu, Olivia menampilkan wajah herannya. Ingin bertanya, tapi situasinya tidak memungkinkan untuk bertanya saat ini.


"Lena, jaga sikapmu. Ada istriku di sini," ucap Vincent sambil melepaskan diri dari wanita yang bernama Lena.


Lena menampilkan wajah cemberutnya lalu menatap Olivia sejenak, saat dia akan membuka suaranya, Lucy Lu sudah lebih dulu menyela. "Lebih baik kita segera masuk." Setelah mengatakan itu, Lucy Lu berjalan ke dalam diikuti yang lainnya.


Vincent dan Olivia berada di barisan paling belakang. Olivia memberikan kode pada suaminya untuk menjelaskan siapa wanita yang memeluknya tadi.


"Dia sepupu jauhku," bisik Vincent sambil merangkuh tubuh istrinya.


Olivia menatap Lena yang sedang berjalan bersama dengan Juan Wijaya. Jika dia tidak salah menilai, usianya lebih tua dari Lena. Saat dipernikahannya, Olivia memang tidak bertemu dengan Lena. Karena hubungan keluarganya dengan keluarga lainnya tidak baik, jadi Vincent tidak ingin memperkenalkan Olivia kepada mereka.


"Olivia, perkenalkan ini Lena. Dia sepupu Vincent."


Juan Wijaya memperkenalkan Lena pada menantunya setelah mereka semua duduk di ruangan keluarga, begitu pun sebaliknya, Juan Wijaya memperkenalkan Olivia pada Lena. Usai perkenalan, mereka mengobrol selama setengah jam.


"Olivia, temani nenek kembali ke kamar sebentar.”


Dengan sikap Olivia berdiri setelah mengangguk. Dengan langlah pelan, Olivia mengantarkan Nyonya Gracia kembali ke kamar yang berada di lantai bawah yang biasa dia tempati jika sedang berkunjung ke tempat anaknya. Nyonya Gracia pun meminta Olivia untuk duduk di tepi tempat tidur bersebelahan dengannya setelah berada di dalam kamarnya.


“Olivia, kau sudah berhasil memasuki keluarga Wijaya. Nenek rasa kau tahu kalau perjalananmu untuk meluluhkan hati ibu Vincent masih jauh.”


Nyonya Gracia menjeda ucapannya sejenak lalu menggenggam tangan Olivia dan mengusapnya dengan lembut kemudian melanjutkan ucapannya kembali, “Nenek harap kau bisa bertahan. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan cucuku lagi. Dia benar-benar akan hancur jika sampai kau melakukan itu. Dia sangat menderita ketika kau meninggalkannya waktu itu.”

__ADS_1


Olivia menundukkan wajahnya karena merasa tersentil dengan ucapan Nyonya Gracia. Meskipun dulu dia meninggalkan Vincent karena suatu alasan, tapi tetap saja dia merasa tidak enak hati pada Nyonya Gracia.


“Maafkan aku, Nenek.”


Melihat Olivia menunduk dengan wajah menyesal, Nyonya Gracia menepuk lembut tangan Olivia yang berada di dalam genggamannya. “Nenek tahu itu bukan salahmu, melainkan salah Lucy. Nenek hanya ingin memberitahumu jika keputusanmu meninggalkan cucuku waktu itu adalah keputusan yang salah. Dia tidak akan bahagia jika tidak bersamamu.”


Olivia merenung, dia akui kalau keputusannya saat itu memang salah. Seharusnya dia tetap bertahan meskipun ibu Vincent menekannya. Beruntung Vincent mau kembali dengannya lagi, jika tidak, nasibnya hanya akan sama dengan Jesica.


“Aku tidak akan meninggalkan Vincent lagi, Nenek.”


Nyonya Gracia tersenyum lalu mengusap kepala Olivia dengan lembut. “Itu bagus. Nenek harap kau bisa bertahan menghadapi Lucy. Jangan pernah membuat kesepakatan apapun dengannya, meskipun kau terdesak. Kau bisa mengatakan pada Nenek jika dia menekanmu ataupun membuatmu tidak nyaman. Nenek akan membantumu mengatasinya.”


Di ruangan keluarga, Vincent nampak terus memandang ke dalam, menunggu istrinya yang sedari tadi mengantarkan neneknya ke kamar, namun belum kembali juga setelah 15 menit berlalu. Senyuman Vincent seketika mengembang saat melihat istrinya berjalan ke arahnya.


Selesai berbicang dengan kedua orang tuanya, Vincent langsung berpamitan untuk naik ke kamarnya. Sejak tadi Lucy Lu belum juga menyapa menantunya dan Vincent juga tidak mau memaksakan ibunya untuk bersikap manis pada istrinya karena dia tahu ibunya masih belum bisa menerima keberadaan Olivia di dalam keluarga Wijaya.


“Masuk, Sayang.”


Olivia melangkahkan kaki ke kamar yang berukuran dua kali lipat dari besar dari kamar miliknya. Pertama kali masuk di melewati lorong kecil, di sebelah kiri terdapat kamar mandi, di sebelah kanan tedapat sofa dengan televisi berukuran sangat besar. Olivia berjalan lurus ke depan menuju ranjang yang berukuran besar. Di sebelah kiri ranjang tersebut terdapat ruangan walk in closet.


“Jadi seperti ini kamarmu?” Olivia meneliti dengan seksama setiap sudut kamar yang di tempati suaminya sejak dulu.


“Kenapa? Apa kau tidak suka desain kamar ini?”


Vincent yang saat ini sedang duduk di tepi ranjangnya, menatap minat pada istrinya yang sedang berdiri di dekat jendela kamarnya, memperhatikan foto dirinya ketika remaja.


Mendengar pujian istrinya, wajah Vincent sedikit memerah. “Kau menggemaskan sekali waktu bayi.” Olivia kembali menatap foto Vincent sambil tersenyum lebar.


Melihat itu, Vincent bangkit dari duduknya lalu menghampiri istrinya. “Aku bisa memberimu bayi yang lebih menggemaskan dari itu.” Vincent membalik tubuh istrinya lalu berkata, “bagaimana kalau kita membuatnya sekarang?"


“Cent, berhenti menggodaku!” Olivia langsung memukul pelan dada suaminya sambil mendelikkan matanya ke arah Vincent dengan wajah memerah, “Ini masih sore. Kita juga baru saja tiba setelah perjalanan jauh. Aku ingin berisitirahat dulu.”


Vincent terkekeh pelan melihat rona merah di wajah istrinya. Sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh saat mengatakan itu. Dia hanya ingin menggoda istrinya saja. Dia tidak mungkin membuat istrinya kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang dari Maldives.


“Kalau begitu, ayo kita berbaring.”


“Tapi aku masih ingin melihat isi kamarmu.”


“Kau bisa melihatnya nanti, Sayang.”


Karena tidak sabar, Vincent mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya ke tempat tidur. “Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Liv. Ibuku mungkin belum bisa menerimamu, tapi aku harap kau bisa bertahan hingga dia bisa menerimamu,” ucap Vincent sambil memeluk istrinya dari belakang setelah mereka berdua berbaring.


“Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu aku lakukan. Aku akan berusaha keras membuat ibumu bisa menerimaku.”


Setelah tidur selama 1 jam, Olivia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Vincent nampak masih tertidur di ranjang. Selesai mandi, Olivia membangunkan suaminya sambil mengusap wajahnya dengan lembut.

__ADS_1


“Cent, sudah hampir gelap, bangunlah.”


Vincent membuka matanya dan langsung tersenyum. “Cium aku dulu.”


Olivia tersenyum tipis lalu membungkuk kemudian mengecup bibir suaminya, ketika dia akan menjauhkan wajahnya, Vinncet justru menarik tengkuk istrinya dan melu-matnya dengan lembut. Mereka berdua pun saling berbalas hingga akhirnya Vincent menyudahinya dengan napas terangah-engah.


“Kita harus berhenti, Sayang, jika tidak, mungkin kita tidak akan bisa ikut makan malam bersama nanti.”


Olivia segera bangkit dengan wajah memereah. “Kalau begitu mandilah. Aku akan menyiapkan baju.” Olivia segera melangkah menuju walk ini closet saat melihat Vincent turun dari tempat tidur.


Selesai menyiapkan baju suaminya, Olivia duduk di sofa memainkan ponselnya. Lima menit berlalu, pintu kamarnya diketuk, Olivia pun melangkah menuju pintu lalu membukanya.


“Bibi Lucy memanggilmu,” ucap Lena setelah puntu terbuka.


“Aku akan turun sebentar lagi.”


“Di mana Kak Vincent?” Lena nampak menatap ke arah dalam sambil bertanya pada Olivia.


“Dia sedang mandi.” Olivia merapatkan pintu kamarnya agar Lena tidak lagi mengintip ke dalam kamarnya, “Nona Lena, bukankah tidak sopan jika kau mencuri pandang ke dalam kamar seseorang? Terlebih lagi itu kamar orang yang sudah menikah.”


Lena yang mendengar itu langsung melayangkan tatapan tidak senang pada Olivia. “Jangan karena kau berhasil menikahi kak Vincek, kau jadi besar kepala. Kau itu bukan siapa-siapa di sini. Bibi Lucy bahkan tidak menganggapmu sebagai menantunya jadi kau itu harus tahu diri. Kau tidak pantas menjadi istri kak Vincent.“


Olivia menghela naps pelan kemudian menatap malas pada Lena. Sejak pertama kali melihatnya, dia sudah tahu kalau Lena tidak menyukainya. “Jika bukan aku yang pantas, lalu apakah kau yang pantas menjadi istrinya?”


“Tentu saja. Aku lebih baik darimu,” jawab Lena dengan angkuh, “aku tidak mengerti, apa yng dilihat kak Vincent darimu. Jika dibandingkan dengan Jesica, kau sangat jauh di bawahnya.”


“Aku tidak peduli dengan penilaianmu terhadapku. Setidaknya, akulah yang saat ini menjadi istrinya.”


Lena langsung mencibir Olivia. “Ciih, dasar wanita tidak tahu diri. Bisa-bisa kak Vincent menyukai wanita sepertimu. Aku rasa dia sudah buta.”


Olivia menatap ke bawah sejenak sambil tersenyim miring lalu mengangkat kepalanya menatap Lena. “Kau menyukai suamiku?”


“Iyaa. Memangnya kenapa?” tanya Lena angkuh.


Olivia sudah menduga kalau Lena menyukai suaminya saat melihat bagaimana caranya memeluk Vincent saat mereka baru saja tiba.


“Kau menyukai sepupumu sendiri?”


Lena bersidekap lalu berkata dengan wajah angkuh. “Memangnya kenapa kalau dia sepupuku? Lagi pula, kami itu sepupu jauh jadi tidak ada yang salah jika aku menyukainya.”


“Sadarlah. Dia sudah menikah. Dia sangat mencintaiku jadi lebih baik cari saja pria lajang di luar sana.”


Karena dia harus segera menemui Lucy Lu, Olivia tidak mau lagi meladeni Lena, dia memutuskan untuk segera turun, tapi baru saja berjalan tiga langkah, Olivia berhenti lalu menoleh pada Lena. “Oyaa, jangan pernah menyentuh suamiku lagi ke depannya. Aku tidak suka priaku di sentuh oleh wanita lain, terlebih lagi oleh wanita yang menyukainya. Jika kau masih memiliki harga diri, sebaiknya kau jaga jarak dengan suamiku mulai sekarang.”


Lena mengepalkan tangannya dengan wajah marah saat melihat kepergian Olivia.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2