Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Kejutan Lagi


__ADS_3

Vincent tersenyum penuh arti setelah itu menatap ke depan. “Baiklah. Aku akan mendaratkan helikopter ini disana.”


Setelah mengatakan itu, perlahan helikopter pun bergerak turun ke bawah hingga bisa mendarat sempurna di pantai. Di sana sudah menunggu beberapa orang untuk menyambut Olivia dan Vincent. Setelah turun dari helikopter, Vincent berbicara sebentar dengan orang-orang tersebut, setelah itu berjalan menuju tenda putih dengan berjalan kaki.


“Kenapa sepi sekali?” tanya Olivia saat melihat ke sekiling mereka tidak ada satu orang pun selain orang yang mereka temui saat mendarat tadi.


“Aku sudah menyewa pulau ini.”


Jawaban Vincent kembali membuat Olivia tercengang. Hari ini Vincent sudah menguras banyak uang dengan menyewa helikopter dan kini dia menyewa pulau juga agar tidak ada yang mengganggu mereka berdua.


“Ini indah sekali, Cent.”


Olivia kembali berdecak kagum setelah tiba di depan tenda putih yang tadi dia lihat dari atas. Tenda berukuran bersar itu sudah di dekorasi seperti kamar pengantin. Di dalamnya terdapat matrass tebal yang cukup untuk dua orang dan di atasnya sudah di taburi dengan dengan kelopak bunga mawar.


“Apa kita akan menginap di sini malam ini?” tanya Olivia sambil menoleh pada suaminya.


“Tidak Sayang, kita akan menginap di tempat lain.”


Vincent mengajak istrinya masuk setelah duduk di dalam. “Aku ingin berisitirahat dulu. Aku lelah.”


“Baiklah, kau istirahat saja. Aku ingin menyusuri pantai ini.”


Vincent menangkap tangan Olivia saat dia akan melangkah keluar. “Kau tidak bisa pergi sekarang, Sayang.”


“Kenapa?”


“Karena aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu di tenda ini.” Vincent menarik tirai hingga tenda tertutup, setelah itu, dia menarik tangan Olivia hingga mereka berbaring di atas matras.


“Cent, kau mau apa?” tanya Olivia dengan wajah tegang saat suaminya sudah berada di atas tubuhnya.


“Kenapa masih bertanya, Sayang? Ini adalah bulan madu kita, kita harus memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membuatkan cicit untuk nenek.”


“Tapi Cent, ini masih sore dan juga tempat ini terlalu terbuka, bagaimana kalau….”


“Tidak ada siapun di sini. Mereka semua tidak akan berani mendekat.”


Itu karena beberapa pengawal Vincent sudah berjaga mereka mengawasi dari jarak jauh.


“Tapi Cent….”


“Kau sudah bilang sendiri, apapun yang aku inginkan akan kau kabulkan. Inilah yang aku inginkan.”


Ketika Vincent memajukan wajahnya, Olivia langsung menutup matanya dengan wajah mengerut. Vincent yang melihat itu langsung tersenyum tipis.


"Buka matamu."


Mata Olivia pun perlahan terbuka dan melihat Vincent sedang menatap dalam irisnya. "Kenapa tidak jadi?" tanya Olivia dengan wajah bingung.


"Jadi kau ingin aku melanjutkannya? Apa jangan-jangan dari awal kau memang sudah mengharapkannya?" goda Vincent, "bilang saja Sayang kalau kau memang menginginkannya, aku akan senang hati melakukannya."


"Jangan sembarangan bicara." Olivia mendorong tubuh suaminya hingga Vincent kehilangan keseimbangan dan berguling ke sampingnya.

__ADS_1


"Kau mau ke mana, Sayang?" Vincent tersenyum penuh arti pada istrinya saat melihat dia akan berjalan keluar dari tenda.


"Mencari angin."


Ketika melihat istrinya berjalan keluar dari tenda, Vincent tidak bisa lagi menahan kekehannya. Sambil menahan senyumnya, Vincent menyusul istrinya keluar.


"Tunggu aku, Sayang."


Olivia menoleh ke belakang sebentar lalu membuang wajahnya dengan kesal saat melihat suaminya melemparkan senyuman padanya.


"Jangan ikuti aku."


Olivia mempercepat langkahnya dengan wajah kesal, namun dia tidak tahu kalau Vincent menyusulnya dengan berlari kecil.


"Jangan tinggalkan aku, Sayang." Olivia sangat terkejut saat dirinya digendong ala bridal style oleh suaminya.


"Cent, turunkan aku!"


"Tidak akan," tolak Vincent dengan tegas, "sebelum kau berjanji tidak akan meninggalkan aku sendirian."


"Baiklah. Aku janji."


Vincent tersenyum setelah menurunkan istrinya dengan hati-hati. Mereka berdua berjalan menyusuri pantai sambil bergandengan tangan. Mereka berbicang dan sesekali bermain air.


"Malam ini kita akan menginap di mana?" tanya Olivia setelag mereka berdua baru saja duduk di hamparan pasir pink.


"Kita akan menginap di vila."


"Cent, di mana kita akan tinggal setelah menikah? Apa kita akan tinggal di kediaman orang tuamu?"


"Kita akan tinggal terpisah dengan orang tuaku. Aku sudah mempersiapkan rumah baru untuk kita tinggali."


"Apakah rumah yang kau maksud adalah rumah yang sengaja kau beli untuk kau tinggali dengan Jesica waktu itu?"


"Sudah kubilang semua yang aku lakukan dan yang aku katakan saat itu bohong, Sayang. Aku sengaja melakukan itu agar kau tidak curiga. Rumah itu sengaja aku beli untukmu. Semua itu hanya pura-pura, Sayang. Bahkan saat aku datang ke butik Sandra dan mengatakan ingin melihat pengantinku, orang yang aku maksud adalah kau, bukan Jesica."


Olivia bungkam sesaat lalu berkata, "Tapi actingmu terlalu nyata sampai membuatku sangat yakin kalau kau mencintai Jesica dan ingin menikahinya."


Vincent mengurai pelukannya lalu membelai lembut pipi Olivia. "Kau masih tidak percaya kalau pernikahan itu sengaja aku persiapkan untukmu?"


Melihat Olivia bungkam, Vincent berkata lagi, "Kalau kau tidak percaya padaku, silahkan saja tanya pada Alvin. Dia mengetahui semuanya rencanaku."


Olivia segera bangun dari tidur setelah mendengar itu. "Jadi Alvin mengetahui semuanya?"


"Hhhhmmm," jawab Vincent dibarengi anggukan.


"Tapi bagaimana bisa? Bukankah kalian bermusuhan?"


Vincent tersenyum, bangun dari tidurnya lalu duduk berhadapan dengan istrinya. "Kami sudah menyelesaikan kesalahpahaman kami."


Vincent kemudian menjelaskan pada Olivia ketika Alvin mendatanginya saat dia dan temannya sedang berada di club Reno. Malam itu, setelah Alvin pintu ruangan tertutup, Alvin kembali memukul Vincent dan dia tidak mengelak ataupun membalas pukulan Alvin.

__ADS_1


Vincent justru membiarkan Alvin terus memukulnya hingga dia puas. Setelah Alvin berhenti, Vincent akhirnya membuka suaranya. Pertama-tama dia meminta maaf pada Alvin karena selama ini sudah salah paham padanya. Vincent sengaja tidak membalas Alvin ketika dia memukulnya karena dia anggap itu sebagai balasan atas apa yang sudah dia lakukan di masa lalu. Dulu dia memukul Alvin bahkan saat itu dia hampir membunuh Alvin jika tidak dihentikan oleh Jesica.


Vincent menjelaskan pada Alvin kalau dia sudah tahu kebenarannya tentang kejadian beberapa tahun lalu dan dia sangat menyesal karena tidak mau mempercayai ucapannya dan juga Jesica. Setelah kesalahpahaman di masa lalu selesai, Vincent kemudian memberitahu pada Alvin mengenai rencananya ingin menikahi Olivia.


Vincent meminta bantuan Alvin untuk menjaga Olivia karena takut Olivia akan tiba-tiba pergi sebelum hari pernikahan mereka tiba. Dia takut Olivia pergi karena tidak sanggup melihat pernikahannya dengan Jesica. Itulah sebabnya Vincent meminta bantuan Alvin dan memastikan kalau Olivia akan datang pada hari pernikahan yang sudah ditentukan.


Awalnya Alvin setuju dengan ide Vincent, itu sama kalau Vincent akan menyakiti Jesica, tapi setelah Vincent mengatakan kalau justru Jesica tidak akan bahagia dan justru akan menderita jika menikah dengannya karena dirinya sama sekali tidak mencintai Jesica. Alvin sempat dilema namun akhirnya dia setuju untuk membantu Vincent agar bisa menikahi Olivia setelah Vincent berhasil meyakinkan dirinya kalau dia sangat mencintai Olivia.


"Pantas saja Alvin terus membujuk diriku saat aku bilang tidak mau menghadiri pernikahanmu dan Jesica sehari sebelum hari pernikahan itu terjadi."


"Apa ingat, saat kau bilang tidak mau membantuku lagi mempersiapkan pernilahanku dan kau bilang sangat membenciku?"


Olivia mengangguk ringan. "Iyaa, aku ingat."


"Aku sangat takut saat kau bilang membeciku. Aku hampir saja mendatangimu dan mengatakan yang sebenarnya karena takut kau pergi meninggalkan aku selamanya."


Beruntung saat itu Edric menghentikannya. Vincent akhirnya melampiaskan kecemasannya dengan cara meminum alkohol dan tanpa sadar dia menelpon Olivia dan meracau di telpon sampai akhirnya Olivia datang menjemputnya di club.


"Asal kau tahu, Cent. Saat aku mendengar berita tentang pernikahanmu, hatiku sangat hancur. Duniaku seakan runtuh seketika. Aku tidak pernah sehancur itu selain ketika kedua orang tuaku meninggal. Aku pikir itulah akhir dari kisah kita."


Vincent merengkuh tubuh istrinya lalu berkata, "Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa menikahimu."


Setelah puas berjalan-jalan di pantai itu, Vincent akhirnya mengajak Olivia untuk meninggalkan tempat itu dan pergi ke penginapan yang sudah dipesan oleh Edric. Saat tiba di penginapan, hari sudah mulai gelap. Mereka makan terlebih dahulu di restoran tempat mereka menginap sebelum mereka ke kamar.


Penginapan yang dipilih oleh Vincent adalah sebuah vila yang berada di pinggir pantai. Terdapat kolam renang pribadi yang langsung menghadap ke arah pantai. Ketika memasuki vila, Olivia dibuat takjub dengan pemandangan di depannya. Di sepanjang jalan menuju kamar tidur ditaburi oleh bunga mawar dan juga terdapat lilin kecil yang sudah menyala.


Olivia berjalan menuju kamar dan melihat kamar juga sudah ditaburi dengan bunga mawar, tidak hanya di lantai tetapi juga di atas tempat tidur. Terdapat lilin-lilin kecil juga di lantai, meja dan beberapa sudut ruangan. Tidak hanya kamar tidur, kamar mandi pun diberi lilin dan juga taburan bunga di lantai dan bathup. Bahkan air di bathup tertutup oleh kelopak bunga mawar.


Olivia tidak hentinya berdecak kagum dengan dekorasi kamar mereka. Olivia kemudian berjalan keluar kamar mandi lalu membuka pintu yang menghubungkan kamar dengan kolam renang di luar. Ternyata kolam yang berukuran sedang itu juga sudah ditaburi bunga mawar dan tengah kolam tersebut ada bentuk hati besar yang dibuat dari kelopak bunga mawar yang berwarna pink. Di beberapa sudut kolam pun diberi lilin untuk menambah kesan romantis.


"Cent, terima kasih untuk kejutannya." Olivia langsung memeluk erat suaminya dengan wajah bahagianya.


"Iyaa, Sayang. Aku senang kalau kau menyukainya."


"Apa aku boleh berenang sekarang?"


"Besok saja, Sayang. Ini sudah malam. Kau bisa sakit nanti."


Melihat wajah kecewa istrinya, Vincent akhirnya memberikan usulan lain. "Bagaimana kalau malam ini berendam saja di bathup? Berendam dengan air hangat akan merileks-kan tubuhmu."


Setelah berpikir sebentarnya Olivia akhirnya setuju. "Baiklah. Aku akan mandi terlebih dahulu."


Vincent hanya terseryum sambil mengangguk sebagai respon dari perkataan istrinya. Setelah Olivia memasuki kamar mandi, Vincent melepas bajunya lalu berjalan menuju sofa panjang yang ada di kamarnya. pukul 9 malam Olivia keluar dari kamar mandi setelah berendam selama 1 jam lamanya. Sekarang, giliran Vincent yang mandi, hanya butuh 15 menit dan Vincent pun selesai membersihkan dirinya.


"Sayang, tolong ambilkan handuk, aku lupa membawanya tadi," pinta Vincent setelah dia membuka sedikit pintu kamar mandi.


"Iyaa, sebentar." Olivia yang sedang mengeringkan rambutnya, akhirnya berdiri dan mengambil handuk untuk suaminya. "Cent, ini handuknya," ucap Olivia mengetuk pintu.


"Mana?" Vincent mengulurkan tangannya keluar setelah membuka sedikit pintu.


Saat Olivia meletakkan handuknya di tangan suaminya, tiba-tiba saja tangannya ditarik ke dalam dan pintu pun kembali tertutup. Satu jam kemudian pintu terbuka dan terlihat Vincent membopong istrinya ke tempat tidur lalu mengulang kembali apa yang mereka lakukan di dalam kamar mandi tadi.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2