Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Kesetiaan Edric


__ADS_3

“Kau datang dengan siapa?” tanya Frans saat melihat Vincent memasuki ruangan VVIP yang dia pesan di club Reno.


“Sendiri.” Vincent berjalan menuju sofa lalu duduk bersebelahan dengan Frans.


“Di mana Edric?” Kali ini Axel yang bertanya pada Vincent.


“Sedang mengerjakan sesuatu.”


Melihat wajah lelah Vincent, Frans memegang bahunya lalu bertanya padanya, “Apa kau baik-baik saja?”


“Ya.”


“Bagaimana rapatnya?”


“Ibuku mengajukan rapat kedua.”


Karena saat pemungutan suara kurang dari 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang hadir dalam rapat jadi Vincent tetap menjabat sebagai Presdir di perusahaan Wijaya Group. Karena tidak terima dengan hasilnya, Lucy Lu kembali mengajukan rapat kedua.


Rapat siang tadi, tidak dihadiri oleh semua pemegang sahah, jadi kemungkinan untuk melengserkan Vincent di rapat kedua masih bisa terjadi, terutama jika hak suara suaminya di pakai dalam rapat nanti. Bisa dipastikan Vincent akan berhenti dari jabatannya jika Juan Wijaya menyetujui pemberhentian Vincent.


“Sepertinya ibumu benar-benar ingin bertarung denganmu hingga akhir,” ucap Frans setelah menghela napas.


“Ternyata ibu sangat mengerikan, Cent,” timpal Axel, “aku beruntung memiliki ibu yang tidak pernah ikut campur masalah pendampingku.”


Vincent memijat pelipisnya sambil menatap ke bawah. “Yaa. ibuku tidak akan berhenti sebelum aku mengaku kalah.”


“Cent, ada yang hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu.”


Vincent menatap Frans dengan dahi berkerut. “Apa?”


“Semua investor yang kita temui beberapa hari lalu mendadak menolak untuk bekerja sama denganmu. Mereka menghubungiku tadi sore.”


“Ini pasti ulah ibumu, Cent. Dia tidak akan membiarkanmu bangkit,” sela Axel ketika melihatnya terdiam setelah mendengar ucapan Frans.


Selama sebulan ini, Vincent disibukkan dengan perusahaan yang baru saja dia rintis di bidang game, itu sebabnya dia selalu pulang larut malam dan jarang sekali ada waktu untuk menghubungi Olivia.


Banyak yang harus dia kerjakan. Mulai dari mencari investor, mencari karyawan yang kompeten di bidang game, menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh karyawannya. Selain Edric, Vincent hanya memiliki beberapa karyawan saja karena terkendala dengan dana.


“Mulai sekarang, kalian tidak perlu membantuku lagi.” Vincent menatap kedua temannya secara bergantian.


“Cent, mana mungkin kami tidak membantumu di saat seperti ini. Kita ini….”


“Ibuku akan menargetkan kalian juga kalau kalian membantuku. Dia sudah memberikan ultimatum padaku tadi siang. Kali ini, hanya investor yang mundur, besok bisa saja mereka membahayakan perusahaan kalian.”


Frans dan Axel saling lirik. Semua pebisnis besar memang mengenal ayah dan ibu Vincent. “Biarkan aku melakukannya sendiri.”


Vincent masih memiliki koneksi di luar negeri. Beberapa temannya ketika kuliah di luar adalah anak konglomerat di negara mereka. Mungkin mereka bisa membantunya. Ibunya tidak memiliki kekuasaan besar di luar negeri selain di Singapura jadi masih ada peluang untuknya bangkit, selama ayahnya tidak ikut campur masalahnya dengan ibunya.


********


Pukul 11 malam, Vincent tiba di apartemen Axel dan ternyata Olivia belum tidur. Dia sedang menunggu Vincent di ruangan tamu sambil memainkan ponselnya. Olivia bergegas mengajak Vincent untuk ke ruangan keluarga lalu menyiapkan teh hangat untuk Vincent, setelah itu duduk di sampingnya.


“Kau dari mana saja?” Aroma rokok dan alkohol tercium dari tubuh Vincent ketika Olivia baru saja duduk di sebelahnya.

__ADS_1


“Bertemu dengan Axel dan Frans di club Reno.”


“Apa kau habis minum?”


Vincent menoleh pada Olivia lalu menjawabnya dengan lembut. “Sedikit.” Vincent menyerongkan tubuhnya ke arah Olivia lalu berkata dengan wajah serius, “Liv, lusa kita akan pindah dari sini.”


Kedua alis Olivia terangkat dengan mata yang membulat. “Kenapa tiba-tiba pindah?”


“Kita tidak bisa tinggal di sini lagi. Aku tidak bisa merepotkan Axel terus.”


Sebelum pulang dari club, Vincent sudah memberitahu pada Axel kalau dirinya akan segera pindah. Awalnya Axel tidak setuju dan terus membujuk Vincent, tapi dia tetap menolak. Vincent tidak mau melibatkan siapapun sekarang, termasuk Edric jadi mulai sekarang dia akan melakukan semuanya sendiri.


“Apa ini ada hubungannya dengan ibumu?”


“Ibuku tidak akan tinggal diam saja melihat mereka membantuku.”


Mata Olivia seketika berkaca-kaca dan selanjutnya buliran bening langsung mengalih di pipinya. Ini semua salahnya, jika dia tidak bersikeras mempertahankan Vincent, pasti semuanya tidak akan terjadi.


“Jangan menangis.” Vincent mengusap lembut pipi Olivia dengan lembut lalu berkata, “semuanya akan baik-baik saja. Kita pasti bisa melewati ini.”


Bulu mata Olivia bergerak cepat dan matanya pun kembali berkaca-kaca. “Lalu kita akan pindah ke mana?”


Vincent berpikir sebentar lalu berkata, “besok aku akan melihat rumah sewa di pinggir kota.” Vincent menatap Olivia dengan seksama, “kau tidak masalah bukan kalau kita tinggal di rumah kecil?”


Air mata Olivia kembali mengalir seiring dengan anggukan kepalanya. Dia bukan sedih karena harus tinggal di rumah kecil, tapi dia merasa bersalah karena sudah membuat Vincent hidup susah bersamanya.


“Maafkan aku Liv,” ucap Vincent seraya memeluk Olivia, “aku mohon bertahanlah untuk sementara waktu. Aku akan melakukan apapun agar kau dia tidak hidup menderita bersamaku.”


“Aku tidak menderita sama sekali.” Air mata Olivia semakin deras setelah mengatakan itu. Vincent begitu mengkhawatirkannya, padahal kalau bukan karena dirinya, Vincent pasti masih memiliki semuanya, "aku bahagia bisa bersamamu."


****


“Maaf, Tuan Muda, aku tidak bisa,” tolak Edric dengan sopan, “tuan Wijaya sudah memerintahkan aku untuk selalu mengikutimu apapun yang terjadi.”


“Aku sudah tidak memiliki apapun lagi Edric. Bahkan untuk membayar gajimu bulan depan saja aku tidak bisa.”


Vincent sedang membutuhkan banyak uang, untuk perusahaan barunya, biaya hidup sehari-hari serta untuk membayar sewa rumah. Uangnya sudah terkuras habis untuk membayar orang yang dia minta untuk mencari keberadaan orang yang sudah menipu ayah Olivia.


Dua hari yang lalu, orang tersebut sudah ditemukan dan rencana akan dibawa hari ini ke Indonesia. Vincent bahkan masih membutuhkan banyak uang setelah nanti berhasil membuka kembali kasus ayah Olivia. Semua yang dia miliki sudah dia jual dan tidak tersisa sedikitpun.


“Tuan Muda tidak perlu membayarku. Tuan Wijaya yang akan membayarnya nanti. Kalaupun tidak dibayar, aku akan tetap mendampingimu.”


“Kau berani membantahku?”


“Aku sudah berjanji pada Tuan Wijaya untuk menjagamu, Tuan Muda. Jika kau ingin mengusirku silahkan bilang pada Tuan Wijaya karena ini adalah perintah langsung darinya.”


“Kau memang keras kepala.” Vincent mengalihkan pandangannya ke bawah saat melihat asistennya itu tetap berdiri di depannya.


“Maaf, Tuan Muda. Tidak peduli kau suka atau tidak. Aku tetap akan terus mengikutimu.”


Vincent kembali mengangkat kepalanya mendengar itu. Dia menatap Edric selama beberapa saat lalu berkata, “Baiklah kalau begitu. Aku memiliki tugas penting untukmu.”


Edric mendekati Vincent ketika melihat bosnya itu memberikan kode padanya untuk mendekat. Vincent mendekatkan mulut ke telinga Edric lalu berbisik padanya.

__ADS_1


“Jangan sampai ibuku tahu.”


“Baik, Tuan Muda.”


******


Ketika Vincent menjemput Olivia di sore hari, dia melihat Olivia sedang berbincang dengan Alvin di depan pintu loby. Vincent sengaja tidak memberitahu Olivia kalau dirinya akan menjemput karena ingin memberikan kejutan padanya. Dia tidak menyangkau kalau akan melihat pemandangan yang membuat mata sakit.


“Kau tunggu di sini.”


Vincent turun dari mobil lalu berjalan ke arah Olivia. Keduanya nampak sedang berbicara dengan asyik hingga tidak menyadari kalau Vincent sedang berjalan ke arah merekan berdua.


“Bukankah sudah aku bilang untuk menjauhi calon istriku?” Vincent menarik tangan Olivia hingga Olivia berdiri di sisinya.


“Tuan Vincent, senang bisa melihatmu lagi.” Alvin tersenyum miring ke arah Vincent sambil memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana.


“Kau tidak punya malu atau tidak laku hingga kau terus mendekati Olivia?”


Melihat keduanya saling menatap dengan tajam, Olivia segera meraih lengan Vincent. “Cent, kami hanya….”


“Kami hanya mengobrol,” potong Alvin dengan cepat, “aku dengar kau hampir saja lengser dari jabatanmu? Apa itu benar?” Senyuman mengejek di bibir Alvin membuat kemarahan Vincent bertambah.


“Lebih baik kau urus saja dirimu sendiri.”


Ketika Vincent akan menarik Olivia pergi, Alvin kembali berbicara, “Lebih baik kau lepaskan dia, Cent. Kau tidak akan bisa melindungi Olivia dari ibumu, terlebih lagi kau tidak memiliki kekuatan apapun saat ini. Aku janji akan membahagiankanya jika kau melepasnya.”


Mendegar itu, Vincent langsung membalik tubuhnya dengan wajah mengeras. “Apa kau bilang?”


“Kau mendengar jelas ucapanku tadi,” jawan Alvin santai.


Melihat Vincent mulai terprovokasi oleh Alvin, Olivia segera menarik tangannya, tapi ditahan oleh Vincent. “Cent, aku mohon, kita pulang sekarang.”


Alvin menyunggingkan salah satu sudut bibir kirinya saat melihat tatapan Vincent yang berkilat.


“Alvin, jangan berani memprovokasiku lagi. Percaya atau tidak, aku bisa menghabisimu sekarang kalau kau berani memancing amarahku lagi.”


“Benarkah?” tanya Alvin sambil melemparkan senyuman mengejek pada Vincent.


Tiba-tiba Edric datang dari arah belakang dan berdiri di tengah-tengah Alvin dan Vincent. “Tuan Alvin, jangan mencari masalah di sini.”


“Edric.” Alvin tersenyum miring lalu berkata, “bagaimana kalau kau bekerja denganku saja? Aku akan memberikan gaji yang lebih besar dari yang kau dapat selama ini."


“Maaf, Tuan Alvin. Selamanya aku hanya akan mengikuti satu orang yaitu Tuan Muda Vincent.”


Amarah Vincent semakin terpancing mendengar Alvin ingin merekrut orang kepercayaannya. “Minggir Edric.”


“Cent, ayo kita pulang.” Melihat Vincent bergeming, Olivia kembali berkata, “Kalau kau tidak mau pulang, aku akan pulang sendiri.”


Vincent akhirnya menoleh pada Olivia lalu menyusul langkahnya ketika melihat Olivia sudah mulai berjalan meninggalkannya.


“Edric, ayo pergi.”


Edric menjawab Vincent lalu menoleh pada Alvin. “Tuan Alvin, aku harap kau tidak mencari masalah lagi dengan tuan muda.”

__ADS_1


“Edric, seharusnya kau tahu, aku melakukan ini demi kebaikan mereka berdua. Mereka berdua tidak akan bisa bersama selama ibu Vincent tidak merestui mereka. Hubungan mereka tidak akan bertahan lama,” ucap Alvin dengan santai, “kalau tidak percaya, lihat saja nanti. Tidak lama lagi mereka pasti akan berpisah. Orang yang harus Vincent waspadai adalah ibunya, bukan aku, Edric."


Bersambung....


__ADS_2