
Vincent segera berlari memasuki rumah sakit menuju lift yang berada di ujung kanan dari pintu utama. Setelah mendapatkan kabar kalau istrinya masuk rumah sakit, Vincent langsung terbang ke Indonesia menggunakan jet pribadinya saat itu juga karena sangat khawatir dengan kondisi istrinya.
Dia bahkan meninggalkan meeting penting bersama dengan kliennya setelah Edric memberitahunya berita itu. Beruntung Janice ikut bersamanya ke Singapura jadi dia meminta Jenice untuk mewakili untuk meneruskan meeting tersebut.
“Ma…” Vincent bergegas menghampiri ibunya ketika melihatnya baru saja menutup pintu ruangan junior suite room yang berada di lantai 20, “bagaimana keadaan Olivia? Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?”
“Ssstttt.” Lucy Lu mendesis sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, “di baru saja tertidur di dalam.” Kemudian dia mengajak anaknya untuk duduk di tempat duduk yang tidak jauh dari ruangan Olivia di rawat.
“Ma, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba saja Olivia masuk rumah sakit?” tanya Vincent lagi dengan wajah cemas setelah dia dan ibunya duduk di kursi panjang.
Semalam dia masih sempat melakukan panggilan video dengan istrinya dan keadaan istrinya baik-baik saja. Hanya wajahnya terlihat lesu dan kurang bersemangat saja. Pagi tadi dia menguhubungi ponsel istrinya, tetapi tidak diangkat, Vincent pun menelpon ibunya, memintanya untuk mengecek istrinya dan ternyata ibunya bilang istrinya masih tidur.
Tiba-tiba saja siang hari dia mendapatkan kabar mengejutkan dari ibunya hingga membuatnya langsung meninggalkan negeri Singa itu segera, padahal seharusnya dia masih harus berada di sana 3 hari lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia sudah tidak lagi memikirkan pekerjaan penting yang harus dia selesaikan. Kondisi istrinya lebih penting dari apapun menurutnya.
“Mama akan memberitahumu, tapi kau harus tenang terlebih dahulu.”
Vincent menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan untuk mengatur napasnya yang tidak beraturan. “Sekarang katakan apa yang terjadi pada Olivia?”
“Diaa… dia….”
Melihat ibunya tidak kunjung meneruskan ucapannya, Vincent menjadi semakin tidak sabar. “Maa, tolong cepat katakan padaku, apa yang terjadi dengan istriku?”
“Olivia… dia….”
“Dia kenapa Ma?? Jangan membuatku takut.” Kesabaran Vincent mulai menipis karena ibunya tidak kunjung memberitahunya.
“Kau akan menjadi ayah.” Lucy Lu tersenyum lebar setelah itu, “Olivia sedang hamil dan mama akan segera memiliki cucu,” lanjut Lucy Lu dengan antusias. Senyuman lebar langsung tersemat pada wajah Lucy setelah memberitahu anaknya. Terlihat sekali kalau dia sangat senang dengan kehamilan menantunya.
“Hamil??” ulang Vincent dengan wajah bingung, “maksud Mama, Olivia sedang mengandung anakku?”
Lucy Lu menepuk paha anaknya dengan keras untuk menyadarkan kebodohannya. “Tentu saja dia hamil anakmu, kau adalah suaminya, kenapa masih bertanya? Dasar bodoh.”
Detik selanjutnya Vincent langsung memeluk ibunya dengan senyuman paling lebar. Binar-binar kebahagian terlihat jelas dari sorot matanya. “Olivia benar-benar sedang hamil, kan, Ma?”
“Iyaa. Mana mungkin mama berbohong padamu.”
Vincent semakin mengeratkan pelukannya pada ibunya. Ini pertama kali Vincent memeluk ibunya sejak dia dewasa dan itu membuat Lucy Lu terkejut.
“Ma, aku sangat senang mendengarnya. Ini adalah berita yang sangat menggembirakan bagiku.”
Lucy Lu merasakan sesak karena dipeluk sangat erat oleh anaknya. Dia tahu kalau anaknya itu sangat bahagia saat ini, maka dari itu, dia bertingkah seperti ini. Bukan hanya Vincent, dirinya juga sangat senang demgan berita kehamilan Olivia.
“Lepaskan Mama. Mama tidak bisa bernapas.” Lucy Mendorong tubuh anaknya agar menjauh darinya, dia merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat ulah anaknya tadi.
“Maaf, Ma. Aku terlalu gembira karena aku akan segera menjadi ayah.”
“Dan mama juga akan segera menjadi nenek." Lucy Lu kembali tersenyum lebar setelah mengatakan itu, "mama sudah tidak sabar menunggu hari kelahiran cucu mama,” ucap Lucy Lu antusias.
“Ma, aku akan menemui istriku dulu.” Saat Vincent bangkit dari duduknya, Lucy Lu menahan tangan anaknya.
__ADS_1
“Jangan mengganggunya. Dia baru saja tertidur. Tubuhnya lemas karena dua hari ini dia hanya makan sedikit sekali dan sejak pagi dia tidak mau makan karena merasa mual-mual hingga akhir muntah setelah mencium aroma bawang goreng.”
Vincent kembali duduk di samping ibunya setelah mendengar itu. “Kenapa Mama tidak memberitahuku sejak pagi?”
“Mama lupa karena mama langsung mengantar Olivia untuk ke rumah sakit setelah melihat memuntahkan sesuatu.”
Begitu Olivia mencium aroma bawang goreng di meja makan, dia segera berlari menuju dapur dan memuntahkan isi perutnya, Lucy Lu pun langsung mengajak Olivia untuk ke rumah sakit. Belakang ini dia perhatikan kalau menantunya itu tidak napsu makan, juga Olivia selalu terlihat lelah, beberapa kali dia mendapati menantunya itu mual-mual.
Sebagai seorang ibu, tentu saja dia memiliki feeling kuat kalau menantunya itu sedang hamil. Itulah sebabnya dia langsung mengantarkan menantunya ke rumah sakit untuk diperiksa agar mendapatkan hasil yang akurat. Setelah diperiksa oleh Dokter, seperti dugaannya, Olivia dinyatakan sedang hamil 3 minggu.
Lucy Lu pun langsung meminta Dokter untuk merawat menantu di rumah sakit karena tidak mau terjadi apa-apa dengan kandungannya, apalagi Olivia sudah beberapa hari hanya makan sedikit. Setelah menantunya di pindahkan ke ruangan rawat inap, Lucy baru ingat untuk mengabarkan pada anaknya melalui Edric.
“Pergilah temani istrimu di dalam. Semenjak kepergianmu, dia sering melamun, sepertinya dia sangat merindukanmu.”
Ketika melihat ibunya berdiri, Vincent segera mengajukan pertanyaan. “Mama mau ke mana?”
“Mama ingin menemui Dokter dulu. Temani istrimu dulu, tapi jangan membangunkannya.”
Vincent mengangguk. Keduanya melangkah ke arah yang berbeda, Vincent menuju ruangan istrinya, sementara ibunya berjalan menuju lift. Setelah membuka pintu ruangan istrinya, Vincent melangkah sangat pelan saat melihat istrinya sedang terlelap di atas ranjang pasien. Dia menarik kursi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara dan meletakkan kursi tersebut di samping ranjang istrinya.
“Sayang, cepatlah bangun. Aku sudah tidak sabar memelukmu. Aku sangat senang mendengar berita kehamilanmu, Sayang.”
Tangan Vincent terulur ingin mengusap perut istrinya, namun dia urungkan karena takut istrinya akan terbangun. Akhirnya dia hanya bisa memadang wajah istrinya sambil tersenyum lebar. Dia masih tidak menyangka kalau istrinya bisa hamil secepat itu.
“Pantas saja belakang ini kau sangat manja dan tidak mau jauh dariku. Ternyata ada anak kita di dalam perutmu.”
Tiba-tiba saja dia terpikir dengan sikap aneh istrinya belakangan ini. Banyak sekali perubahan sikap dari istrinya yang membuatnya heran. Salah satunya adalah dia lebih sensitif dan lebih manja dari biasanya.
“Sayang, apa yang kau rasakan sekarang? Apa ada yang tidak nyaman?”
Bukannya menjawab, Olivia justru langsung memeluk suaminya tanpa memperdulikan selang infusnya yang tertarik. “Aku sangat merindukanmu.”
Perkataan istrinya semakin membuat Vincent bahagia. Sebelumnya, istrinya itu jarang sekali mengungkapkan perasaannya, dan terkesan malu-malu, tapi kini tanpa ragu memeluk untuk meluapkan kerinduannya.
“Aku juga sangat merindukanmu, Sayang. Maafkan aku karena sudah meninggalkanmu selama beberapa hari,” ucap Vincent sambil membalas pelukan istrinya.
“Iyaa. Tidak apa-apa,” ucap Olivia pelan, “kenapa kau sudah pulang? Bukankah seharusnya kau pulang sabtu?”
"Mama bilang kau masuk rumah sakit jadi aku langsung pulang.” Vincent mempererat pelukannya. Olivia pun memejamkan matanya sejenak, menikmati pelukan hangat suaminya. Sudah beberapa hari ini dia memang sangat merindukan dekapan suaminya.
“Terima kasih karena sudah mengandung kita, Sayang. Aku sangat bahagia.”
Olivia mendongakkan kepalanya, tapi masih berada di pelukan suaminya. “Kau sudah tahu kalau aku sedang hamil?”
Vincent mengangguk sambil tersenyum. “Iya, mama yang memberitahuku. Maafkan aku karena sudah meninggalkanmu selama beberapa hari ini, jika aku tahu kau sedang hamil, aku pasti tidak akan meninggalkanmu.”
Olivia tersenyum hangat lalu berkata, “Yang terpenting kau sudah berada di sini, aku sudah merasa senang karena kau bisa pulang cepat.”
Vincent mengurai pelukannya lalu menaikkan sandaran kepala tempat tidurnya agar istrinya bisa berbaring dengan kepala lebih tinggi. “Apa kau sudah makan?”
__ADS_1
“Sudah tadi, tapi aku memuntahkannya kembali.”
Vincent menatap iba pada istrinya setelah mendengar itu. “Kau ingin makan apa? Aku akan meminta Edric untuk membelikanmu.”
Bukannya menjawab, Olivia justru mengedarkan pandangannya sejenak ke seluruh kamar. “Mama ke mana?”
“Mama sedang menemui Dokter kandungan yang menanganimu tadi.”
“Sekarang katakan padaku, kau ingin makan apa, Sayang?”
“Aku tidak mau makan. Aku ingin tidur sambil memelukmu.”
Vincent tersenyum saat melihat sikap manja istrinya. Dia beranjak dari duduknya kemudian merebahkan diri di samping istrinya dengan hati-hati karena takut menyentuh selang insufnya. Beruntung ranjang pasien tersebut bisa menapung untuk dua orang.
“Kau harus makan setelah ini, aku minta Edric untuk membelikanmu bubur, ya?”
Olivia menggeleng dalam dekapan Vincent. “Aku tidak mau makan bubur.”
Vincent membelai rambut istrinya dengan lembut lalu berkata, “Bagaimana dengan buah anggur, apel, buah naga atau pisang?” Mungkin mulut istrinya terasa pahit jadi dia butuh makanan yang manis-manis, tapi pikiran Vincent justru salah karena setelahnya, Olivia justru meminta buah yang memiliki rasa asam.
“Aku ingin mangga muda dan cranberry.”
“Kau harus makan nasi dulu, baru setelah itu makan buah itu.”
“Tapi aku ingin sekali makan buah itu sekarang.”
“Sayang, buah itu asam dan kau tidak boleh memakannya jika perutmu belum terisi dengan yang lain.”
Sebenarnya Olivia juga tahu itu, tapi memang itulah yang sangat dia inginkan saat ini.
“Baiklah. Aku akan makan sandwich dan salad saja.”
“Maaf, Sayang. Aku bukannya tidak mau menurutimu, aku hanya tidak mau perutmu sakit."
"Iyaaa. Aku tahu."
Vincent mengusap lembut pipi istrinya lalu berkata, "Aku akan menyuruh Edric untuk segera membelinya.” Vincent meraih ponsel di sakunya lalu menghubungi asistennya.
Dari arah pintu, Lucy Lu terlihat memasuki ruangan setelah Vincent selesai menelpon. Olivia pun ingin bangkit, namun dihentikan oleh Lucy Lu. “Tidur saja. Tidak perlu bangun. Mama hanya ingin berbicara dengan Vincent sebentar.”
“Tunggu sebentar, Sayang. Aku bicara dengan mama dulu.” Vincent turun dari tempat tidur lalu menghampiri ibunya. Mereka berdua berbicara di sofa yang berada di dekat pintu.
Lucy berbicara dengan nada rendah agar Olivia tidak mendengarnya. “Dokter mengatakan kalau Olivia sudah bisa pulang sore ini, tapi mama meminta pada Dokter untuk merawat Olivia hingga besok sore. Tubuh Olivia masih lemah, mama tidak ingin dia pulang ke rumah dulu.”
Vincent mengangguk karena setuju dengan keputusan mamanya. Dia juga mengkhawatirkan kondisi istrinya yang masih terlihat lemah, apalagi dia sedang hamil muda. “Iyaa, Ma. Biar aku yang menjaga Olivia malam ini.”
“Jangan, kau pulang saja ke rumah. Kau pasti lelah, apalagi kau baru saja tiba di sini. Biarkan Mama yang menjaga Olivia malam ini.”
Ada rasa senang dalam hatinya saat melihat perhatian ibunya pada Olivia. “Ma, aku tidak akan bisa tidur di rumah jika istriku berada di rumah sakit. Lebih baik mama saja yang pulang biar aku yang di sini menjaga Olivia.”
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Mama akan ke sini lagi besok pagi.”
Bersambung…..