
"Tuan Wijaya baru saja mengumumkan pada media kalau Vincent akan menggantikan dirinya sebagai penerus Wijaya Group dan Vincent juga mengumumkan kalau dia akan menikah dengan kekasihnya dua minggu lagi. Kau pasti sudah tahu siapa yang dimaksusd oleh Vincent."
Tiba-tiba saja Olivia merasakan aliran darahnya terhenti dan matanya membulat sempurna. Wajahnya pun terlihat sangat pucat setelah mendengar ucapan Alvin.
"Kapan berita itu diumumkan?" tanya Olivia dengan tatapan kosong.
"Pukul 3 sore tadi."
Olivia langsung terduduk lemas di tempat duduk yang ada di sampingnya. Dia belum sempat melihat berita di televisi dan di media internet karena dia disibukkan dengan pekerjaannya
"Apa kau tidak apa-apa?" Alvin bertanya dengan wajah khawatir ketika melihat air mata Olivia keluar dari kelopak matanya.
"Aku tidak apa-apa." Olivia buru-buru menyeka air matanya lalu tersenyum pada Alvin, "aku mau ke toilet dulu."
Olivia bergegas pergi dari sana sebelum air matanya kembali jatuh. Olivia keluar dari toilet setelah berada di sana selama 10 menit. Ketika dia keluar, dia melihat sudah ada Alvin yang menunggunya di sana. Dengan langkah pelan Olivia mendekati Alvin.
"Kenapa lama sekali?" Alvin menatap mata Olivia yang terlihat sembab.
"Perutku sakit karena aku sedang datang bulan jadi aku berisirahat di dalam sebentar."
Nyatanya Alvin tidak percaya dengan ucapan Olivia. Dia tahu apa yang Olivia lalukan di dalam toilet. "Aku tahu kalau kau habis menangis Liv. Kau tidak bisa membohongiku."
Tatapan tegas Alvin membuat mata Olivia meredup dan seketika itu juga dia menunduk. "Aku menangis bukan karena kecewa. Aku menangis bahagia karena akhirnya dia menemukan orang yang bisa mencintainya dengan tulus."
"Jika kau ingin menangis lagi, menangislah. Tidak baik kalau menahannya."
Detik selanjutnya air mata Olivia kembali jatuh dan Alvin segera meraih tubuh Olivia lalu mendekapnya.
"Aku hanya akan menangis sebentar saja, setelah itu, aku tidak akan menangis lagi."
Biarlah saat ini dia menumpahkan semua air matanya agar kedepannya tidak ada lagi air mata yang akan keluar dari matanya.
"Kalau kau memang masih mencintainya, masih waktu untuk mengehentikan pernikahan mereka."
Olivia menggeleng pelan dalam dekapan hangat Alvin. "Tidak. Mana mungkin aku menghancurkan kebahagiannya untuk kedua kali. Biarlah dia bahagia dengan kehidupannya."
Alvin membelai rambut Olivia lalu berkata, "Kau tahu bukan, kalau aku akan selalu ada untukmu. Karena dia sudah melepasmu, sudah saatnya kau juga melepasnya."
__ADS_1
Alvin merasa sangat prihatin dengan Olivia. Belakangan ini, dia perhatikan semakin hari tubuh Olivia semakin kurus dan juga wajah terlihat murung.
"Iyaaa."
Dari kejauhan sepasang mata menangkap adegan di mana mereka berdua saling berpelukan.
*******
Sebelum memasuki area pesta, Olivia membenahi make-upnya agar tidak ada yang tahu kalau dia habis menangis. Sepanjang perjalanan menuju ballroom, Olivia selalu tersenyum. Alvin bisa melihat kalau itu adalah senyuman yang dipaksakan agar dia terlihat baik-baik saja. Setibanya di dalam, Alvin mengajak Olivia untuk menikmati hidangan yang ada. Meskipun tidak berselera makan, Olivia tetap memaksakan dirinya untuk makan beberapa suap.
Setelah menikmati makanan, Alvin mengajak Olivia untuk menemui temannya dan berbincang selama beberapa saat lalu melanjutkan untuk menyapa teman serta rekan bisnisnya lainnya. Sebagian tamu yang datang Alvin mengenalnya karena Frans dan dirinya besar di lingkaran yang sama jadi sudah otomatis mereka saling mengenal satu sama lain.
Karena merasa lelah, Olivia memisahkan diri dari Alvin dan duduk di salah satu meja yang berada di pojok. Tidak lama setelah duduk, dia melihat Vincent berjalan ke arah luar ballroom sendirian. Olivia pun diam-diam mengikutinya dari belakang. Dia harus berbicara dengan Vincent sebentar. Sejak tadi dia terus mengawasi Vincent dari kejauhan, itu karena dia sedang mencari waktu yang pas untuk berbicara dengannya.
Sebenarnya Olivia bisa saja langsung mendatangi Vincent, tapi karena dia selalu bersama Jesica jadi Olivia tidak berani mendekat. Bukannya takut pada Jesica, hanya saja, dia tidak mau Jesica salah paham padanya, apalagi Jesica tahu mengenai hubungannya dengan Vincent di masa lalu.
"Cent, tunggu dulu. Aku ingin bicara denganmu." Olivia berlari mengejar Vincent setelah mereka keluar dari ballrom.
"Ada apa?" Wajah Vincent terlihat dingin dan nampak sekali kalau dia enggan bicara dengan Olivia.
"Kenapa kau menghindariku? Aku sudah berhari-hari datang ke kantormu, tapi kau tidak pernah mau menemuiku."
Rasanya ada ribuan jarum yang menusuk jantung Olivia ketika mendengar ucapan Vincent.
"Aku tahu aku tidak pantas bicara dengan orang besar sepertimu." Olivia meremas kuat gaunnya lalu kembali berkata, "aku juga sebenarnya tidak ingin menemuimu lagi, hanya saja, aku terpaksa melakukannya. Jika bisa memilih, aku juga tidak ingin berhubungan dalam hal apapun lagi denganmu."
Mata hitam Vincent memancarkan aura dingin yang tidak tertahan setelah mendengar itu. "Olivia, bahkan disaat seperti ini pun, kau masih bisa bersikap angkuh di depanku, sama seperti saat kau meninggalkan aku dulu. Sepertinya kau menganggapku remeh karena aku pernah begitu mencintaimu."
Bulu mata Olivia bergetar hebat saat melihat tatapan penuh benci dari sorot mata Vincent. "Aku hanya ingin berbicara urusan pekerjaan denganmu."
"Aku tidak memiliki waktu untuk bicara denganmu."
Setelah mengatakan itu Vincent berjalan menuju parkiran untuk menemui Edric dan kembali setelah beberpaa menit. Ketika dia akan masuk kembali ke dalam ballroom, Olivia kembali menghentikannya.
"Aku hanya minta waktumu sebentar."
Wajah Vincent terlihat datar, tapi sorot matanya terlihat tajam.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu alasan sesungguhnya kenapa kau tidak menyetujui kerja sama dengan perusahaan kami? Bukankah sebelumnya kau sudah menyetujuinya? Kenapa tiba-tiba kau membatalkan kerja samanya saat kau tahu kalau aku adalah penanggung jawab kerja sama itu?"
Vincent tidak langsung menjawab, melainkan menatap Olivia sebentar. "Aku hanya tidak mau memberikan kesempatan pada orang yang tidak bertanggung jawab sepertimu. Kau saja mampu menghancurkan hidupku dalam sekejap, apalagi perusahaanku? Kau bisa saja membuat kerugian besar pada perusahaanku nanti dan aku tidak mau itu terjadi."
Olivia berusaha keras untuk menahan air matanya disaat mendengar kata-kata menyakitkan dari Vincent. "Aku tidak mungkin melakukan itu, Cent."
"Siapa yang tahu bagaimana ke depannya. Dulu kau pernah berjanji untuk tidak meninggalkanku apapun yang terjadi, tapi nyatanya kau meninggalkan aku setelah aku mengalami kecelakaaan dan jatuh miskin."
Olivia menarik napaa panjang karena merasakan sesak di dalam dadanya. Seandainya bisa memilih, dia juga tidak mau meninggalkannya saat itu karena itu juga berat baginya.
"Cent, itu dua hal berbeda. Kau tidak bisa mengaitkan masalah kita dengan urusan pekerjaan. Aku akan mundur dan tidak akan terlibat apapun dalam kerja sama itu jadi kau bisa terima kerja sama itu."
Vincent tersenyum sinis mendengar itu. "Olivia memohonlah padaku, mungkin saja aku akan berubah pikiran nantinya."
"Dengan cara apa aku memohon padamu? Haruskan aku berlutut di depanmu?"
"Jangan membuatku jijik Olivia." Vincent segera memegang lengan Olivia saat dia akan berlutut di depannya, "aku tidak akan pernah menerima kerja sama itu, kecuali kau meninggalkan perusahaan itu. Itu adalah hukuman kecil bagimu karena kau sudah meninggalkan aku dulu."
"Aku tidak bisa meninggalkan perusahan itu, Cent. Aku sangat membutuhkan pekerjaan itu."
Sekuat apapun Olivia menahan air matanya, pada akhirnya buliran bening pun mengalir di pipinya dan saat melihat itu, ada perasaan sakit yang Vincent rasakan dalam hatinya.
"Kenapa tidak bisa? Bukankah kau sudah memiliki kekasih yang kaya?" tanya Vincent dengan senyuman mengejek, "apa Alvin tidak memberikanmu uang yang banyak untuk menghidupimu?"
"Jangan menyeret Alvin ke dalam masalah ini, Cent. Dia tidak ada hubungannya dengan permasalahan kita."
Vincent maju selangkah lalu berkata dengan dingin. "Apa kau lupa? Kau yang lebih dulu menyeretnya dalam hubungan kita. Kau meninggalkan aku demi bisa hidup mewah bersamanya."
Ternggorokan Olivia serasa tercekat. Dia tidak bisa memberitahu Vincent yang sebenarnya jadi dia hanya bisa menerima kebenciannya.
"Kenapa kau masih marah padaku? Bukankah kehidupannmu sudah kembali seperti dulu? Kau juga bisa menikah dengan wanita pujaan hatimu. Bukankah seharusnya kau bahagia sekarang?" tanya Olivia dengan berani. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan Vincent, jadi dia ingin melawannya.
"Jadi kau sudah mengetahui mengenai berita pernikahanku?"
Olivia mendongakkan kepalanya lalu menatap Vincent dengan mata berkaca-kaca. "Kau sengaja melakukan itu untuk membalasku?"
"Tentu saja." Vincent menyeringai lalu berkata, "Bagaimana rasanya mendengar berita pernikahanku, Olivia? Apa rasanya sakit?"
__ADS_1
Belum sempat Olivia menjawab, Vincent kembali membuka suaranya dengan wajah mengejek. "Ooh ya, aku lupa... bagaimana bisa kau merasakan sakit kalau kau saja tidak punya hati."
Bersambung....