Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Pernikahan Sesungguhnya


__ADS_3

Saat Olivia akan melangkah pergi, Jesica tiba-tiba berkata, “Olivia, jangan pergi. Jika kau pergi sekarang, pernikahanku mungkin saja akan batal.”


Olivia langsung membalik tubuhnya dan menatap Jesica dengan heran setelah mendengar itu. “Jesica, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau berbicara hal-hal aneh dan tidak masuk akal?”


Sejak tadi Jesica terus bersikap aneh dan Olivia merasa tidak nyaman dengan hal itu.


“Menurutku ini tidak aneh. Aku sudah menduganya dari awal.” Jesica mengangkat kepalanya lalu tersenyum aneh pada Olivia, "dia sudah memberi sinyal padaku."


Karena tidak mengerti dengan perkataan Jesica, Olivia kembali duduk di depannya dan bertanya pada Jesica. “Apa maksudmu?”


“Olivia, apa kau tahu? Aku mempertaruhkan segalanya demi pernikahan ini. Impianku adalah menikah dengannya.” Jesica tersenyum, tapi tatapan terlihat sedih, “aku sangat mencintainya, aku takut akan kehilangannya.”


Melihat mata Jesica berkaca-kaca, Olivia mencoba untuk menenangkannya. “Untuk apa kau takut? Sebentar lagi kau akan menikah dengannya.”


Jesica yang semula menatap ke bawah, seketika mengangkat kepalanya menatap Olivia dengan sendu. “Benarkah aku bisa menikah dengannya?”


Melihat sikap aneh Jesica sejak tadi, Olivia menjadi merasa ada yang tidak beres, tapi tidak mengatakannya. “Tentu saja. Tinggal menghitung menit, maka, dia akan menjadi milikmu.”


Meskipun sudah ditenangkan oleh Olivia, Jesica merasa masih merasa cemas. “Tapi aku merasa kalau aku akan kehilangan dia selamanya.”


Melihat kekhawatiran Jesica yang berlebihan, Olivia kembali menenangkannya. “Jes, jangan berpikiran yang tidak-tidak.”


Olivia merasa kalau Jesica mulai bertingkah aneh setelah memasangkan cincin pernikahannya padanya tadi.


“Jangan hanya karena cincin itu cocok di tanganku. Kau jadi berpikiran buruk. Mungkin saja ukuran cincin kita sama.”


Setelah mendengar itu, Jesica tersenyum lebar. Nyatanya ukuran jari Jesica lebih besar dari Olivia. “Liv, kau tahu, bukan? Kalau aku tidak pernah membencimu meskipun kita menyukai pria yang sama. Aku sudah menganggapmu seperti sahabatku.”


“Aku tahu. Kenapa kau tiba-tiba mengatakan itu?”


Saat mendengar suara ketukan pintu dari luar, pembicaraan mereka seketika terhenti. Seorang wanita terlihat memasuki kamar Jesica. Dia adalah sepupu dari pihak ibunya.


“Jes, acara sebentar lagi akan di mulai, tapi Vincent belum juga datang. Keluarganya sedang mengerahkan orang untuk mencarinya karena nomor ponselnya tidak bisa dihubungi,” ucap Sepupu Jesica dengan wajah panik.


Mata Olivia membelalak, sementara tubuh Jesica langsung lemas setelah mendengar itu.


“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Olivia saat melihat wajah pucat Jesica.


“Aku baik-baik saja.” Kemudian dia menatap sepupunya, “kenapa dia tiba-tiba menghilang? Bukankah dia sudah berada di sini setengah jam lalu?”


“Aku juga tidak tahu.”


Baru saja keluarga Vincent mengabarkan kalau Vincent tiba-tiba menghilang. Lucy Lu dan Juan Wijaya langsung panik setelah mengetahui itu. Mereka mencoba menghubungi Vincent, tapi tidak bisa. Tuan Juan Wijaya lalu mengerahkan orang-orangnya untuk mencari putranya. Tidak hanya Vincent yang menghilang, tetapi Edric juga menghilang.


Setelah mencari Vincent selama setengh jam, tapi belum juga menemukannya, keluarga Vincent akhirnya memberitahu pada keluarga Jesica kalau Vincent, tiba-tiba menghilang. Lucy Lu terpaksa memberitahukannya karena hanya sisa waktu 15 menit lagi sebelum acara pernikahan dimulai. Setelah keluarga Jesica tahu kabar tersebut, sepupu Jesica langsung menemui Jesica untuk mengabarkan hal itu.


“Bagaimana ini? Lima menit lagi acaranya akan di mulai. Semua tamu sudah datang.”

__ADS_1


Jesica menatap ke bawah sejenak kemudian berkata, “Bilang saja pada orang tua Vincent untuk tidak panik. Dia pasti akan datang. Mereka suruh tunggu saja sebentar lagi.”


“Apa kau yakin dia akan datang? Apa kau tahu di mana Vincent berada saat ini?” tanya Sepupu Jesica dengan wajah ragu.


“Aku tahu. Dia sudah bilang padaku akan datang terlambat. Kau tenang saja, dia pasti dia akan datang. Aku jamin itu."


“Kalau begitu pergi dulu untuk memberitahu semuanya.”


“Hhhmmm,” jawab Jesica sambil mengangguk.


Setelah kepergian sepupunya, Olivia langsung melemparkan pertanyaan pada Jesica. “Jes, ada apa ini sebenarnya? Kenapa kau berbohong pada sepupumu?”


Sudah jelas tadi Jesica terkejut ketika mendengar Vincent menghilang, itu artinya kalau Jesica juga tidak tahu mengenai keberadaan Vincent.


“Dia memang akan datang Olivia. Jauh sebelum ini, dia sudah mengatakan padaku.”


“Apa maksudmu?”


“Tunggu dan lihat saja. Dia pasti akan datang sebentar lagi.”


Meskipun merasa ragu dengan ucapan Jesica, tapi Olvia tidak mengatakannya. Dia memilih untuk duduk diam dan menunggu.


“Liv, karena ini hari pernikahanku jadi aku ingin kau berpenampilan cantik hari ini. Maukah kau memakai gaun yang sudah aku persiapkan khusus untukmu sambil menunggu Vincent tiba?”


“Tidak perlu, Jes. Aku tidak mau menarik perhatian banyak orang di pesta pernikahanmu.”


Tepatnya dia tidak mau menarik perhatian keluarga Vincent, terutama ibunya.


Melihat wajah memohon Jesica, mau tidak mau Olivia mengalah. “Baiklah.”


Jesica tersenyum lebar lalu meminta Olivia untuk memanggil penata rias yang tadi meriasnya. Setelah penata rias masuk, Jesica meminta pada wanita muda itu untuk merias wajah Olivia dengan natural. Selesai dirias, Jesica meminta Olivia untuk mengambil gaun yang sudah dipersiapkan untuknya di lemari pakaian yang ada di kamar tersebut.


“Jes, apa ini tidak terlalu berlebihan untukku?” Olivia menatap ragu pada gaun yang ada di tangannya saat ini.


“Tidak. Aku ingin kau juga terlihat cantik di hari bahagiaku. Aku mohon Olivia, pakaialah gaun itu.”


Setelah berpikir selama beberapa saat, Olivia akhirnya setuju, meskipun itu dengan terpaksa. “Kalau begitu, aku ganti dulu.” Olivia berjalan ke sudut ruangan dan dibantu oleh penata rias tadi untuk berganti pakaian.


“Kau terlihat cantik sekali, Liv,” puji Jesica setelah Olivia selesai mengenakan gaun berwarna putih yang dia siapkan untuk Olivia.


“Aku takut mereka akan berpikir aku ingin menyaingimu di hari pernikahanmu,” ucap Olivia lrih. Nampak sekali kau merasa tidak nyaman mengenakan gaun itu.


“Tidak perlu memperdulikan apa yang orang lain pikirankan tentangmu.”


Saat Olivia akan duduk, pintu kamar Jesica dibuka dan terlihat sepupu Jesica yang kembali masuk ke kamar itu.


“Vincet sudah datang. Dia sudah berdiri di altar. Sudah waktunya kita turun.”

__ADS_1


Mendengar itu, Jesica langsung tersenyum. “Baiklah. Kau pergi duluan, kami akan menyusul sebentar lagi.”


“Yaa.”


Setelah sepupunya pergi, Jesica bangkit dari duduknya dibantu oleh Olivia. “Ayo kita pergi," ajak Jesica.


Olivia mengangguk lalu membantu Jesica untuk memegangi gaunnya agar tidak terinjak, sementara penata riasnya membantu memegangi lengan Jesica. Saat mereka akan melangkah menuju lift khusus yang terhubung langsung ke ballroom di mana acara pernikahan akan digelar, Jesica tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.


“Liv, ada barang yang tertinggal di kamarku. Kau pergi saja duluan. Tunggu aku di altar dan bilang pada Vincent kalau sebentar lagi aku akan turun.”


Olivia menoleh lalu berkata, “biar aku saja yang ambilkan. Kau tunggu di sini.”


“Jangan.” Jesica menahan tangan Olivia ketika dia akan melangkah pergi, “biar aku saja yang mencarinya. Kau tidak akan bisa menemukannya. Aku akan segera menyusul setelah menemukannya.”


“Memangnya apa yang kau cari? Kenapa tidak nanti saja mengambilnya setelah acaranya selesai?” tanya Olivia lagi.


“Tidak bisa. Itu adalah benda peninggalan ibuku, aku sudah berjanji ingin memakainya di hari pernikahanku. Aku akan menyusul dengan Sinta nanti.”


Sinta adalah nama perias pengantinnya.


Setelah berpikir selama dua detik, Olivia lalu berkata, “Baiklah.”


Olivia melangkah masuk ke dalam lift lalu tersenyum pada Jesica. “Cincinnya sudah kau bawa, kan?” tanya Jesica sebelum pintu lift tertutup.


“Sudah.” Olivia mengeryit saat melihat mata Jesica nampak berkaca-kaca saat pintu lift akan tertutup.


Tiba di ballroom hotel, Olivia langsung berjalan ke altar tanpa memperdulikan tatapan orang-orang padanya, terutama tatapan dari Lucy Lu. Dia melangkah mendekati Vincent lalu menjelaskan pada Vincent kalau Jesica masih berada di kamarnya dan akan segera turun setelah menemukan benda yang tertinggal di kamarnya.


“Apa kau bawa cincinnya?” tanya Vincent.


“Iyaa,” jawab Olivia seraya mengangguk.


“Kalau begitu kita mulai saja acara sekarang.”


“Tapi Jesica masih di atas. Dia akan turun beberapa menit lagi."


“Tidak perlu menunggu Jesica.” Vincent menatap pria yang berdiri di samping lalu berkata, “Silahkan mulai acaranya. Kami berdua sudah siap mengikat janji suci.”


Mata Olivia membelalak mendengar itu. Tidak hanya Olivia, tetapi para tamu yang mendengarnya dibuat sangat terkejut, termasuk Lucy Lu dan keluarga lainnya.


“Cent, apa maksudmu? Kenapa kau mengatakan itu? Ini pernikahanmu dengan Jesica bukan denganku?”


Suasana seketika menjadi ramai, semua tamu terlihat saling berbisik.


“Olivia, dengarkan aku baik-baik.” Vincent maju dua langkah lalu menatap lekat matanya, “Dari awal aku memang tidak pernah berniat untuk menikahi Jesica. Aku sengaja merencanakan pernikahan ini untuk menikahimu, bukan Jesica. Itulah sebabnya aku memintamu untuk mempersiapkan pernikahan ini agar sesuai dengan keinginanmu.”


Mata Olivia membulat sempurna setelah mendengar pengakuan mengejutkan dari Vincent. Karena terlampau terkejut, Olivia bahkan sampai tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


“Tidak akan kubiarkan siapapun menggagalkan pernikahan kita. Kau tidak akan bisa lari lagi dariku Olivia. Saat ini juga aku akan menjadikanmu milikku selamanya.”


Bersambung....


__ADS_2