
"Jes, bawa Olivia ke mobilku," ucap Vincent seraya menatap Jesica.
"Baiklah." Jesica menarik Olivia untuk turun ke bawah. Saat melihat ekspresi wajah Vincent yang dingin, ada perasaan tidak nyaman di hatinya.
"Sandra, mulai sekarang jaga sikapmu. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi."
Saat melihat kemarahan Vincent, Sandra semakin kesal pada Olivia. "Cent, kenapa kau membelanya? Apa kau lupa apa yang sudah dia lakukan padamu?"
"Aku ingin semuanya dengan jelas jadi tidak perlu kau ingatkan lagi," jawab Vincent dengan dingin, "jangan pernah menyentuhnya lagi, Sandra."
"Tapi Cent...."
"Aku sedang tidak bernegoisasi denganmu."
Saat mendengar nada tegas dari Vincent, Sandra tahu kalau itu bukan permintaan, tapi semacam perintah.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Maka hubungan baik kita berakhir sampai di sini."
Ketika Vincent akan melangkah, Sandra buru-buru menghentikannya. "Baiklah, tapi ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
Vincent menoleh sebentar lalu berkata, "Baiklah, ada hal yang ingin aku bicarakan juga denganmu."
*******
"Apa kau yakin tidak apa-apa?" Jesica bertanya pada Olivia setelah mereka duduk di kursi belakang mobil Vincent. Pipi kiri Olivia memerah akibat tamparan Sandra dan pasti itu terasa sakit.
"Aku tidak apa-apa."
"Maafkan, Sandra, ya? Dia mungkin kecewa padamu, maka dari itu, dia menamparmu, tapi sebenarnya dia baik."
"Aku tahu."
Selain Jesica dan Rose, Sandra adalah wanita yang sudah sejak lama mencintai Vincent jadi wajar saja kalau dia kecewa pada Olivia karena sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama dengan Vincent, padahal dirinya sudah bertahun-tahun mengejar Vincent, tapi tidak pernah diberi kesempatan oleh Vincent untuk bisa dekat dengannya.
Sepuluh menit berlalu, Vincent terlihat keluar dari butik bersama dengan Sandra, setelah berbicara sebentar dengan Sandra, Vincent menghampiri mobilnya lalu duduk di depan setelah dibukakan pintu oleh Edric. Tidak lama kemudia mobil Vincent meninggalkan butik Sandra, tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suaranya hingga mereka tiba di rumah sakit.
"Jes, kau tunggu di sini."
"Iya," jawab Jesica sambil mengangguk.
Vincent turun dari mobil lalu membuka pintu belakang dimana Olivia berada. "Turun."
__ADS_1
Olivia mendongakkan kepala sambil menatap heran pada Vincent. "Untuk apa?"
"Aku bilang turun."
Melihat aura tidak ingin dibantah dari wajah Vincent, Olivia akhirnya turun.
"Ikut aku."
Dari dalam mobil, Jesica terus menatap ke arah Vincent dan Olivia, tidak pernah sekalipun dia melepaskan pandangannya dari mereka berdua. Matanya nampak bergejolak saat melihat Vincent menarik tangan Olivia masuk ke ruangan IGD. Lima belas menit berlalu, Vincent dan Olivia keluar dari ruangan IGD dan berjalan menuju mobilnya.
"Edric, jalan."
Jesica melirik Olivia sebentar kemudian beralih menatap Vincent melalui spion depan tanpa berkata apa-apa. Mobil Vincent akhirnya berhenti di sebuah gedung besar. Jesica dan Olivia turun dari mobil lalu berpamitan pada Vincent.
"Aku akan menjemputmu lagi nanti," ucap Vincent pada Sandra sebelum mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Iyaaaa."
Hari ini Jesica memang sudah membuat janji dengan beberapa orang untuk melihat beberapa gedung yang akan dia pakai untuk pernikahannya. Karena Vincent harus bekerja jadi dia tidak bisa menemani Jesica. Ada total 3 gedung dan juga 4 ballroom hotel yang Jesica datangi dan akhirnya Jesica memilih ballrooms hotel terbesar di Jakarta untuk tempat pernikahannya. Sebenarnya Jesica bisa saja orang lain untuk mempersiapkan pernikahannya, tapi Jesica tidak mau. Dia ingin terlibat langsung dan memilih sendiri sesuai keinginannya.
Selesai melihat gedung, Jesica mengajak Olivia ke toko furniture terlengkap yang ada di Jakarta. Dia meminta Olivia untuk membantunya memilih perabotan rumah yang akan dia gunakan setelah menikah nanti. Apapun yang direkomendasikan oleh Olivia langsung dibeli oleh Jesica, bahkan semuanya yang dibeli oleh Jesica adalah pilihan Olivia. Tidak ada satupun yang dibeli oleh Jesica sesuai seleranya.
"Seleramu memang bagus Olivia. Aku menyukai semua pilihanmu."
Melihat wajah senang Jesica, Olivia merasa sedikit terbebani. "Tapi jika Vincent mengetahui kalau itu semua pilihanku, dia akan marah."
Selesai membeli perabotan rumah, Jesica mengajak Olivia pergi ke mal untuk membeli beberapa pakaian dan keperluan lainnya. Pukul 7 malam, Jesica mengajak Olivia untuk makan di sebuah restoran western yang ada di lantai 5 mal tersebut. Tidak lama setelah mereka memesan makanan, Vincent dan Edric datang menghampiri mereka berdua.
"Cent, kau dan Edric pesanlah makanan, kami baru saja memesan makanan."
"Yaa."
Tanpa menunggu perintah dari Vincent, Edric memanggil seorang pramusaji dan segera memesan makanan.
"Cent, setelah kita menikah, kita akan tinggal di mana?" tanya Jesica antusias.
"Aku sudah mempersiapkan rumah baru untuk kita tempati setelah menikah."
"Kenapa tidak tinggal di apartemenmu saja?"
Jesica pikir Vincent akan mengajaknya tinggal di apartemennya yang berada di disctric 8 karena sebelumnya dia bilang ingin mengganti dekorasi apartemennya itu.
"Terlalu banyak kenangan buruk di sana. Aku tidak ingin mengingatnya lagi, maka dari itu, aku tidak mau tinggal di sana."
__ADS_1
Olivia sangat tahu maksud dari perkataan Vincent. Dialah kenangan buruk yang dimaksud oleh Vincent yang ingin dia lupakan.
"Baiklah, terserah padamu saja, tapi di mana letak rumah yang akan kita tempati nanti?"
"Rahasia. Aku akan membawamu ke sana setelah kita resmi menikah."
Jesica tersenyum senang mendengar itu. "Baiklah. Aku akan menunggu."
Selesai makan malam, mereka semua keluar dari restoran bersama-sama.
"Cent, bisakah kita mengantar Olivia sekalian?" tanya Jesica saat melihat Vincent akan melangkah menuju mobilnya.
Sebelum Vincent menjawab, Olivia sudah lebih dulu menolak. "Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."
Vincent melirik Olivia sebentar lalu menatap Jesica kembali. "Kau dengar sendiri, bukan? Dia bisa pulang sendiri," ucap Vincent dengan acuh tak acuh.
"Tapi Cent, ini sudah malam, kasihan kalau Olivia pulang sendiri."
"Ada kekasihnya yang bisa menjemputnya."
"Jes, aku bisa naik taksi," sela Olivia.
Jesica bersikeras untuk mengantarkan Jesica pulang dan terus membujuk Vincent sampai akhirnya dia setuju.
"Silahkan, Nona." Edric membukakan pintu depan untuk Olivia setelah melihat Jesica masuk dan duduk di kursi belakang.
Saat Olivia akan masuk, Vincent membuka pintu belakang lalu meminta Olivia untuk duduk di belakang bersama Jesica.
"Lain kali, orang yang harus kau bukakan pintu itu Jesica, bukan Olivia."
"Maaf, Tuan Muda."
*******
Lucy Lu melangkah dengan wajah marah menuju ruangan anaknya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia langsung membuka pintu dengan kasar. Melihat itu, Vincent merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati, kali ini, hal apa lagi yang membuat ibunya itu merasa tidak senang.
"Cent, apa kau sengaja melakukannya untuk membuat mama marah? Apa kau ingin membuat mama mati cepat?" tanya Lucy Lu dengan wajah yang dipenuhi amarah.
"Apa maksud Mama? Aku tidak mengerti."
"Kau lihat sendiri nama siapa yang ada di situ?" Lucy melemparkan beberapa undangan tebal ke atas meja kerja Vincent lalu berkata dengan marah, "apa kau ingin mempermalukan keluarga kita?"
Vincent meraih salah satu undangan lalu melihat nama yang tertera di undangan tersebut.
__ADS_1
"Kenapa nama mempelai wanitanya bukan Jesica, melainkan Olivia Atmaja?" tanya Lucy Lu dengan ekspresi tidak suka.
Bersambung....