
Nesya menatap Olivia dengan wajah iba melalui pantulan cermin saat melihatnya sedang duduk termenung setelah dia memoles lipstik di bibir pucatnya. Semalaman dia tidak bisa tidur sama sekali mengingat hari ini adalah hari pernikahan Vincent dan Jesica. Dia bahkan tidak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun hingga pagi hari dan membuat wajahnya menjadi pucat.
Meskipun sekarang perasaannya sedang kacau, tapi Olivia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Nesya. Sebentar lagi Olivia akan menuju hotel di mana pesta pernikahan Vincent akan digelar karena dua jam lagi acaranya akan dimulai.
Jesica meminta Olivia untuk menemaninya sampai acara pernikahannya dimulai. Sebenarnya Jesica sudah meminta untuk datang sejak pagi untuk menemaninya, tapi Olivia tidak sanggup berada di sana dalam waktu lama, apalagi jika harus melihat begitu mewahnya pesta pernikahan Vincent dan Jesica.
Dia takut akan menitikkan air matanya jika terlalu lama berada di sana. Dari semalam, Nesya sudah melarangnya untuk datang, tapi Olivia tetap bersikukuh akan menghadiri pesta pernikahan Vincent karena dia sudah berjanji untuk datang. Baru saja mengingat janjinya pada Vincent, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Olivia.
[Ingat Olivia, jika kau tidak datang di pernikahanku, aku akan membatalkan pernikahan ini dan datang menemuimu. Semua orang akan menyalahkanmu jika sampai pernikahanku dan Jesica batal.]
Setelah membaca pesan dari Vincent, air matanya kembali jatuh. Sejak pagi, air matanya terus saja mengalir di pipinya tanpa bisa dicegah karena terus mengingat kalau ini akan menjadi akhir dari kisah cinta mereka berdua.
[Aku akan datang, tapi setelah ini jangan pernah menggangguku lagi.]
Tidak ada balasan apapun lagi dari Vincent setelah Olivia mengirimkan pesan balasan padanya.
“Apa itu pesan darinya?” tanya Nesya saat melihat Olivia menatap layar ponselnya sejak tadi.
“Ya.” Olivia mengusap sisa air matanya lalu membenahi riasan wajahnya kemudian berdiri, “aku pergi dulu.”
Sebelum Olivia melangkah, Nesya memegang tangannya lalu berkata, “Apa kau yakin sanggup melihat jalannya pernikahan mereka berdua?”
“Aku harus bisa.” Setelah menarik napas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan, Olivia tersenyum pada Nesya, “Alvin sudah menungguku di bawah. Aku pergi dulu.”
Nesya memberikan pelukan singkat lalu mengantar Olivia hingga ke depan pintu. Di bawah, Alvin nampak sudah berdiri di samping mobilnya dengan setelam jas berwarna navy dengan kemeja putih di dalamnya.
“Apa kau sudah siap?” tanya Alvin setelah Olivia duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Ya.”
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Olivia terlihat terus menatap keluar dengan tatapan kosong. Beberapa kali Alvin mengajaknya berbicara, namun hanya ditanggapi singkat oleh Olivia. Tiba di tempat acara, Alvin mengantarkan Olivia menuju kamar Jesica kemudian dia pergi menemui seseorang.
Satu jam lagi pernikahan Vincent dan Jesica akan dimulai. Semua keluarga Jesica dan Vincent sudah berada di dalam gedung. Beberapa tamu dan teman Vincent maupun Jesica sudah terlihat berdatangan. Pesta pernikahan Vincent dilakukan dengan sangat mewah, meskipun begitu pernikahan tersebut dilakukan secara tertutup. Media pun dilarang untuk masuk dan tamu yang tidak membawa undangan resmi juga tidak bisa masuk ke dalam.
********
Di dalam kamar Presidential Suite, Jesica terlihat sedang duduk di depan cermin besar. Seorang penata rias sedang merias wajah Jesica bagian kiri. Ketika melihat Olivia datang, Jesica langsung meminta Olivia untuk duduk di sampingnya.
“Liv, apa kau sakit, kenapa wajahmu terlihat pucat?” tanya Jesica sambil memeganh tangannya.
“Aku tidak apa-apa. Hanya kurang tidur saja.”
Setengah jam berada di dalam kamar Jesica, seseorang menelpon Olivia dan memintanya untuk keluar sebentar dari kamar itu.
Edric memberikan dua kotak cincin pada Olivia dengan perasaan canggung. “Baiklah. Terima kasih.”
Dengan perasaan hancur, Olivia menatap sejenak cincin yang ada di tangannya. Ketika dia kembali masuk ke dalam kamar, ternyata Jesica sudah selesai di rias dan dia sudah memakai gaun pengantin untuk acara mengikat janji suci nanti.
“Apa itu?” tanya Jesica sambil menatap dua buah kotak yang ada du tangan Olivia.
“Cincin kalian berdua. Vincent memintaku yang menyerahkan langsung pada kalian nanti pada saat acara pemasangan cincin setelah kalian resmi menikah.”
Ada perasaan bersalah yang dirasakan Jesica setelah mendengar jawaban dari Olivia. Bagaimana pun Olibia pernah menjalin hubungan dengan Vinvcent, tidak mungkin, dia tidak merasakan sakit saat dimintai hal seperti itu oleh Vincent.
“Liv, maafkan aku. Jika kau tidak bisa melakukannya, aku akan meminta orang lain untuk menggantikanmu.”
__ADS_1
Olivia menggelengkan kepalanya dengan pelan seraya tersenyum paksa pada Jesica. “Tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya.”
Melihat Olivia berusaha terlihat baik-baik saja, Jesica merasa perasaan tidak nyaman di hatinya. “Bolehkah aku melihat cincin milikku?” tanya Jesica lembut, “Vincent belum sempat memperlihatkan padaku sebelumnya. Aku penasaran cincin seperti apa yang dia persiapakn untuk hari speial kami.”
“Tentu saja.” Olivia berdiri lalu memberikam satu kotak cincin pada Jesica dan kembali duduk ke tempatnya yang semula.
Dengan perasaan berdebar, Jesica membuka kotak cincin dan melihat betapa indahnnya cincin yang dibeli oleh Vincent. Dengan senyuman lebar, dia meraih cincin itu lalu mencoba mengenakannnya, tapi sayangnya cincin itu tidak bisa masuk di jari manisnya. Dia lalu mencoba memasukkannya ke jari manis sebelah kiri, tapi tidak muat juga. Jesica tertegun selalma beberapa detik lalu menatap Olivia dengan seksama.
“Olivia, coba berikan tanganmu padaku.” Jesica mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Olivia.
“Untuk apa?” tanya Olivia sambil menoleh pada Jesica dengan wajah heran.
“Aku pinjam sebentar,” jawab Jesica sambil tersenyum.
Tanpa berpikir panjang, Olivia mengulurkan tangan kanannya ke arah Jesica. Ketika Jesica akan memasukkan cincin ke jari manisnya, Olivia langsung bertanya padanya dengan wjaah terkejut. “Jes, apa yang kau lakukan?”
“Aku hanya ingin kau mencobanya sebentar di jarimu.”
"Aku tidak mau." Saat Olivia akan menarik jarinya, Jesica langsung memasukkan cincin tersebut dengan cepat. Senyuman di wajah Jesica langsung luntur saat melihat cincin itu terpasang sempurna di jari manis Olivia.
“Lihat, cincinnya sangat cocok di jarimu. Jangan-jangan cincin ini memang sengaja dipersiapkan Vincent untukmu.”
Jesica tersenyum paksa pada Olivia ketika mengatakan itu. Ada semacan perasaan yang sulit dilukiskan yang tiba-tiba muncul dihatinya.
“Jes, ini tidak lucu.” Olivia melepas cincin itu dengan marah, “lebih baik aku tunggu di bawah saja.”
Saat Olivia akan melangkah pergi, Jesica tiba-tiba berkata, “Olivia, jangan pergi. Jika kau pergi sekarang, pernikahanku mungkin saja akan batal.”
__ADS_1
Bersambung....