
Olivia memutuskan untuk berjalan lebih ke dalam seraya terus mengedarkan pandangannya ke segala ke sekelilingnya. Tiba-tiba matanya menangkap sosok bayangan yang mirip dengan Vincent sedang berjalan menuju lorong yang sedikit gelap. Olivia segera menyusul Vincent dengan langkah cepat. Saat melihatnya akan berbelok di sebuah lorong, Olivia berbegas memanggil nama Vincent.
“Sedang apa kau di sini?” Vincent segera menghampiri Olivia setelah melihat keberadaannya di sana.
Saat Vincent sudah berdiri di depannya, Olivia memegang lengan Vincent dengan wajah penuh tanya. “Kau sendiri kenapa ada di sini?”
Mata Vincent menyapu ke sekelilingnya sebentar lalu berkata, “Ikut aku.” Setelah itu, Vincent menarik Olivia ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari mereka berdiri.
“Cent, ada apa sebenarnya?” Olivia segera bertanya setelah Vincent mengunci ruangan itu.
“Aku bekerja di sini.”
Mata Olivia membulat mendengar itu. “Kau bekerja di sini?” ulang Olivia.
“Ya.”
“Sebagai apa?”
"Manager di bar ini.”
Lagi-lagi jawaban Vincent membuat Olivia terkejut. “Kenapa kau bekerja di sini? Bagaimana kalau ibumu tahu? Dia pasti akan marah.”
Bagaimana pun ibu Vincent tidak menyukai tempat seperti bar dan club malam. Olivia takut ibu Vincent akan berpikir kalau dirinyalah yang sudah memperngaruhi Vincent hingga akhirnya dia bekerja di bar, padahal, nyatanya Olivia tidak mengetahui apa-apa.
“Aku tidak peduli ibuku mau marah atau tidak.”
Ibunyalah yang membuatnya jadi seperti itu. Dia sudah mencoba segala usaha, tapi selalu digagalkan oleh ibunya. Perusahaan yang baru saja dia rintis harus tutup dikarena semua orang tidak mau bekerja dengannya dan tidak ada satupun investor yang mau menanamkan modal perusahaannya.
Bukannya cuma itu, Vincent sudah mencoba melamar pekerjaan di semua tempat, tapi tidak ada satupun yang mau menerima. Itu tidak lepas dari campur tangan ibunya. Bar ini satu-satunya yang mau mempekerjakannya karena pemiliknya dulunya memiliki hutang budi pada Vincent hingga membuatnya mengambil resiko dengan memperkerjakan Vincent di barnya.
Vincent sengaja mencari pekerjaan lain karena belum tentu kedepannya dia masih bisa bertahan di perusahaan Wijaya karena minggu depan akan diadakan kembali rapat pemegang saham untuk yang kedua kalinya, maka dari itu, Vincent berusaha untuk mencari pekerjaan lain sebagai cadangan.
“Tapi Cent….”
“Liv, sudah aku bilang, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang selama aku tidak merugikan orang lain.” Vincent meraih tangan Olivia lalu berkata, “pulanglah bersama Edric. Kita bicara lagi besok pagi.”
“Baiklah.”
********
Pukul 1 dini hari Vincent belum juga pulang, Olivia terlihat menunggunya di depan ruangan tamu seraya merebahkan tubuhnya di sofa. Dia sengaja menunggu disitu karena ingin menyambut Vincent pulang . Pada pukul 2 pagi, Vincent baru saja pulang dan Olivia terbangun ketika mendengar suara pintu di buka.
“Kenapa kau tidur di sini?” Vincent melepas sepatunya lalu menghampiri Olivia.
“Tadi aku sedang menunggumu pulang, tapi ternyata aku tetidur.”
“Lain kali, tidak perlu menungguku.” Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruangan tengah bersama-sama, “kembalilah ke kamarmu dan langsung tidur.”
__ADS_1
“Iyaa. Sebentar lagi. Aku buatkan teh dulu untukmu.”
Saat Olivia akan melangkah, Vincent menangkap pergelangan tangannya lalu berkata, “Tidak perlu, sudah malam. Lebih baik kau tidur. Besok kau harus bangun pagi, bukan?”
Saat melihat wajah lelah Vincent, Olivia akhirnya mengangguk. Vincent pasti juga ingin segera bersitirahat. “Baiklah. Kau juga langsung tidur.”
*****
Pagi harinya Olivia dan Vincent sarapan bersama sambil mengobrol. Mereka sedang membicarakan tentang pekerjaan Vincent di bar dan apa saja yang dia lakukan setiap malam selama bekerja di sana.
“Liv, sore nanti aku akan menjemputmu di kantor. Kita cari cincin untuk pernikahan kita sekaligus mencoba gaun pengantinmu.”
“Tapi Cent, gaun itu sangat mahal. Lebih baik kita sewa saja gaun pengantin yang murah."
“Aku sudah bilang pada Sandra soal itu dan dia bilang akan memberikan gaun itu sebagai kado pernikahan kita jadi kita tidak perlu membayar.”
Ini satu-satunya hadiah yang pernah Vincent terima dari orang lain, selain dari keluarganya. Dari dulu dia tidak pernah mau menerima barang apapun dari orang lain, terlebih lagi dari seorang wanita.
“Tapi harganya sangat mahal, aku tidak bisa menerimanya.”
“Aku sudah menolak berkali-kali dan Sandra memaksa. Dia bilang baju tidak bisa menjualnya lagi karena ukurannya sudah di sesuaiakan dengan bentuk tubuhmu.”
Nyatanya Sandra sengaja mengatakan itu agar Vincent menerima hadiah darinya. Sandra tentu saja tahu bagaimana sifat Vincent. Dia tidak mungkin mau menerima hadian darinya kalau tidak ada alasan kuat.
Olivia berpikir sejenak. Bukannya dia tidak mau menerimanya, hanya saja dia merasa sungkan dan tidak enak hati, apalagi Sandra mencintai Vincent. Secara tidak langsung meteka sebenarnya saingan, meskipun Olivia tidak pernah menganggapnya seperti itu.
“Tidak perlu. Aku akan menerimanya.”
Vincent tersenyum lalu melanjutkan sarapannya bersama dengan Olivia. Selesai sarapan mereka berdua berangkat bekerja bersama-sama.
*****
Sore harinya setelah mencoba gaun pengantin serta mengucapkan rasa terima kasihnya pada Sandra, Olivia dan Vincent pergi ke salah satu toko perhiasan yang berada di salah satu mall besar yang ada di Jakarta Selatan.
“Pilih saja Sayang yang kau mau,” ucap Vincent setelah mereka berdua berdiri di depan etalase yang menampilkan banyak sekali macam perhiasan yang berkilau.
“Aku mau yang itu.” Olivia menunjuk sepasang cincin berwarna putih yang berkilau dengan berlian kecil di tengahnya.
“Kau yakin mau yang itu.”
Menurut Vincent yang di pilih Olivia sangat sederhana bentuknya dan juga berliannya sangat kecil. Vincent tahu kalau Olivia sengaja memilih itu agar dirinya tidak banyak mengeluarkan uang.
“Iyaa, aku yakin,” jawab Olivia dengan mantap.
Vincent berpikir sebentar lalu meminta pegawai toko untuk mengambilkan cincin tersebut dan memberikan pada Olivia agar dia bisa mencobanya.
“Aku minta ukuran cincin wanita yang ukuran 6,” ucap Olivia setelah selesai mencoba cincin pilihannya.
__ADS_1
“Maaf untuk ukuran wanitanya tinggal ukuran 5 dan 7,” ucap pegawai wanita yang berdiri di hadapan Olivia.
“Cari saja yang lain, Sayang,” bujuk Vincent saat melihat raut wajah Olivia yang nampak kecewa.
Sebenarnya mereka bisa saja memesan ukuran cincin itu jika mau, hanya saja waktu tunggunya relatif lama, sementara pernikahan mereka akan digelar seminggu lagi.
“Nanti saja.”
Setelah mengucapkan terima kasih pada pengawai toko tersebut, Olivia bergegas menarik tangan Vincent untuk segera keluar dari sana. Olivia hanya takut Vincent akan memilihkan cincin yang lebih mahal dari yamg dia pilih tadi
“Kalau begitu besok kita cari lagi. Sekarang aku akan mengantarmu pulang karena aku harus bekerja setelah ini.”
Mereka akhirnya pulang dengan tangan kosong. Vincent mengantar Olivia sampai ke rumah sewa, setelah itu, dia diantar Edric ke bar tempatnya bekerja.
“Bagaimana dengan orang itu?”
“Sudah ada di tempat yang aman, Tuan Muda. Malam ini aku akan mengantarnya langsung ke kantor polisi serta memberikan beberapa bukti yang aku dapat dari orang kepercayaannya.”
“Baiklah. Sekarang kau urus saja dia dulu, nanti baru menjemputku lagi. Jangan sampai dia kabur. Aku menghabiskan banyak uang hanya untuk mencarinya jadi akan kupastikan dia membusuk di penjara setelah ini.”
“Baik, Tuan Muda.”
Pukul 1 dini hari, Vincent mengirimkan pesan pada Olivia dan ternyata langsung di balas olehnya. Vincent pikir Olivia sudah tidur, tapi ternyata belum.
[Aku memiliki dua kejutan untukmu.] Vincent mengirimkan pesan tersebut pada Olivia.
[Kejutan apa?]
[Aku sudah mendapatkan cincin untuk pernikahan kita.] Tidak lama kemudian Vincent mengirimkan sebuah kotak cincin berwarna hitam pada Olivia.
[Aku ingin melihat foto cincinnya] balas Olivia.
[Kau bisa melihatnya langsung setelah aku tiba di rumah.]
[Baiklah. Lalu apa kejutan yang kedua?] Olivia segera mengirimkan pesan tersebut karena merasa penasaran dengan kejutan selanjutnya.
[Nanti akan aku beritahukan secara langsung. Tunggu aku. Sebentar lagi aku akan pulang.]
[Iya. Aku menunggumu.]
Olivia akhirnya menunggu di ruang tamu seperti yang dia lakukan kemarin, bedanya kali ini, dia tidak mengantuk sama sekali. Satu jam berlalu Vincent belum juga pulang, Olivia akhirnya mengirimkan pesan padanya.
Setengah jam kemudian ponsel Olivia berdering dan ternyata Vincent yang menghubunginya. Setelah Olivia mengangkat telponnya, Olivia nampak terkejut karena bukan suara Vincent yang dia dengar, melainkan suara orang lain yang tidak dikenalnya.
“Di mana pemilik ponsel ini?”
Tubuh Olivia bergetar hebat setelah mendengar perkataan orang tersebut, detik selanjutnya ponsel Olivia terjatuh ke lantai.
__ADS_1
Bersambung….