Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Bulan Madu


__ADS_3

"Ting... tong." Vincent mengabaikan bunyi bel kamarnya dan meneruskan kegiatannya menjelajahi tubuh istrinya.


"Ting... Tong."


"Cent, belnya berbunyi." Olivia akhirnya mengangkat suara ketika melihat Vincent mengabaikan bunyi bel yang sejak tadi berbunyi, tapi Vincent terlihat masih sibuk dengan kegiatannya.


"Cent, buka dulu. Mungkin saja itu penting."


Vincent akhirnya berhenti. Dia menatap ke istrinya sebentar lalu berkata, "Baiklah, aku buka pintu dulu."


Vincent bangkit, memakai bajunya lalu berjalan keluar dari kamarnya, sementara Olivia menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang polos. Tinggal selangkah lagi Olivia akan menjadi miliknya seutuhnya, tapi sayangnya harus gagal karena bunyi bel sialan itu. Vincent terus menggerutu dalam hatinya sambil berjalan ke arah pintu.


"Nenek." Vincent sedikit terkejut saat melihat nenek yanh berada di depannya.


"Apa nenek mengganggu kalian?"


"Tidak, Nek. Masuklah." Vincent mengajak neneknya untuk duduk di sofa ruang tamu dan bertanya dengan lembut apa yang membuatnya datang ke kamarnya malam-malam.


"Nenek sudah menunggumu sejak tadi, tapi kau tidak kunjung datang ke kamar nenek jadi nenek ke sini."


Vincent menepuk dahinya dengan pelan setelah mendengar penjelasan neneknya. Dia baru teringat dengan janjinya untuk menemui neneknya setelah makan malam. Tadinya dia akan menemui neneknya setelah menjemput Olivia dari restoran hotel, tapi karena kecemburuannya pada Eugen membuatnya melupakan janji pada neneknya.


"Maafkan aku, Nenek. Aku lupa."


"Tidak apa-apa." Nyonya Gracia mengedarkan pandangannya lalu berkata dengan pelan, "di mana istrimu? Apa dia sudah tidur? Nenek ingin melihatnya."


"Sedang ada di kamar." Vincent memajukan tubuhnya lalu berkata, "sebenarnya tadi kami baru saja ingin membuatkan nenek cicit, tapi...."


"Benarkah?" tanya Nyonya Gracia antusias.


"Iyaaa."


"Seharusnya nenek tidak datang ke sini." Nyonya Gracia seketika berdiri, "kalau begitu nenek pergi sekarang. Maaf sudah mengganggu kalian."


Vincent meraih tangan neneknya saat dia akan pergi. "Tidak apa-apa, Nenek. Duduklah. Aku akan memanggil Olivia. Nenek tunggu di sini."


Vincent segera berjalan ke kamarnya tanpa memberikan kesempatan pada neneknya untuk menolak. Setelah berada di dalam kamarnya, dia menjelaskan pada Olivia kalau ada neneknya di luar.


"Aku pakai bajuku dulu."


Dengan wajah malu, Olivia menarik selimut untuk membungkus tubuhnya. Ketika dia berjalan ke arah kamar mandi, Vincent menginjak selimutnya hingga langkah Olivia terhenti dan seketika itu juga Olivia menoleh ke belakang.


"Ada apa?"


"Pakai saja di sini, Sayang. Aku sudah melihat semuanya jadi kau tidak perlu menyembunyikan apapun lagi dariku."


"Tidak mau. Aku akan memakai baju di kamar mandi."

__ADS_1


"Pakai di sini atau aku akan menggendongmu keluar hanya dengan menggunakan selimut ini," ancam Vincent dengan wajah serius.


"Baiklah. Aku pakai di sini."


Lebih baik memakai baju di depan Vincent dari pada dia harus digendong keluar oleh Vincent dengan tubuh terbungkus selimut. Dia akan semakin malu jika nenek Vincent melihat itu. Apalagi, tubuhnya hampir polos dan hanya menyisakan kau penutup terakhir di bagian intinya. Dia tidak akan memiliki muka lagi jika sampai nenek Vincent mengetahu itu.


"Pilihan yang bagus."


Vincent tersenyum lalu duduk di tepi ranjang dengan pandangan lurus ke depan di mana istrinya sedang berdiri. Saat melihat tubuh istrinya yang hampir polos, secara tidak sadar Vincent menelan salivanya hingga jakunnya naik-turun. Tiba-tiba saja tubuh bereaksi dengan cepat, dia merasakan tubuhnya memanas.


"Aku tunggu di luar saja. Kasihan nenek sendirian."


Vincent segera keluar dari kamar pengantin mereka. Dia tidak melihat tubuh istrinya lebih lama lagi tanpa menyentuhnya. Itu saja menyiksanya.


Ada apa dengannya? Tadi bersemangat sekali memintaku memakai baju di depannya, sekarang tiba-tiba pergi.


Selesai memakai pakaiannya, Olivia berjalan keluar dan menghampiri Vincent dan neneknya. Olivia menyapa nenek Vincent dengan sopan sebelum duduk di samping suaminya.


"Maaf karena nenek mengganggu malam pengantin kalian."


Nyonya Gracia terlihat merasa bersalah karena sudah menggagalkan malam pertama cucunya.


"Tidak Nenek. Kami sedang mengobrol sebelum nenek datang."


Olivia terpaksa berbohong agar nenek Vincent tidak merasa bersalah, namun ucapan Olivia justru membuat Vincent menahan tawanya.


"Nenek sudah tahu apa yang sedang kita lakukan, Sayang. Aku sudah memberitahu, Nenek tadi," ucap Vincent seraya tersenyum penuh arti.


Olivia langsung memberikan lirikan tajam pada suaminya dengan wajah kesal.


"Olivia, nenek minta maaf."


"Nenek, sudahlah. Kenapa kau terus meminta maaf. Kami masih memiliki banyak waktu untuk itu, jadi berhentilah merasa bersalah," sela Vincent.


"Baiklah. Nenek akan langsung ke intinya." Nyonya Gracia menatap ke arah Olivia dan cucunya secara bergantian, "nenek hanya ingin meminta maaf atas nama Lucy Lu. Nenek sungguh-sungguh minta maaf atas apa yang sudah dia perbuat selama ini pada kalian berdua, terutama padamu Olivia."


Dia tahu betul bagaimana sifat anaknya, Lucy Lu tidak mungkin langsung meminta maaf pada Olivia setelah dia meminta anaknya tadi untuk segera menemui Vincent dan Olivia dan nyatanya memang benar Lucy Lu justru menemui anaknya untuk memberitahukan kekecewaannya karena menikahi Olivia, bukan untuk meminta maaf.


"Nenek, kenapa meminta maaf pada kami? Nenek tidak perlu melakukan itu karena bukan Nenek yang bersalah," ucap Vincent.


Olivia mengangguk, beranjak dari duduk kemudian berpindah tempat duduk di samping nyonya Gracia.


"Nenek, aku sudah memaafkan, Nyonya Lucy. Tidak perlu membahas yang sudah berlalu," kata Olivia dengan lembut, "justru aku ingin berterima kasih pada Nenek karena sudah mau menerimaku sebagai cucu menantu di keluarga kalian."


"Kau memang gadis yang baik. Nenek tidak mengerti, kenapa Lucy tidak bisa melihat kebaikan hatimu."


"Aku akan berusaha membuat nyonya Lucy Lu menerimaku. Nenek tidak perlu pikirkan itu lagi."

__ADS_1


Nyonya Gracia meraih tangan Olivia lalu menggenggamnya dengan penuh kasih. "Mulai sekarang, panggil Juan dan Lucy seperti Vincent memanggil mereka. Kau sudah menjadi menantu di keluarga Wijaya jadi kau harus ubah panggilanmu pada mereka."


"Iyaaa, Sayang. Panggil mereka mama dan papa. Anggap mereka seperti orang tuamu sendiri."


"Meskipun Lucy Lu tidak mau menerimamu, jangan berkecil hati. Abaikan saja dia, yang terpenting Juan, nenek dan keluarga besar Morland berada di pihakmu. Lucy Lu tidak akan berani mengganggumu lagi. Akan nenek pastikan itu."


"Terima kasih, Nenek."


Mereka berbincang selama satu jam lamanya hingga Nyonya Gracia berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Karena sudah lama tidak bertemu dengan cucunya jadi banyak sekali yang mereka obrolkan. Nyonya Gracia diantar ke kamar oleh Vincent. Tadinya Olivia ingin ikut mengantar neneknya, tapi dilarang oleh Vincent. Dia meminta istrinya untuk menunggu dirinya di kamar saja.


Setelah mengantar neneknya, Vincent kembali ke kamarnya. Di sana dia melihat Olivia sudah berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Sebelum naik ke ranjang, Vincent berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya lalu menghampiri istrinya dan berbaring di sampingnya setelah melepas bajunya. Satu kebiasaan Vincent saat akan tidur adalah melepas bajunya.


"Sayang, kemari." Vincent meminta Olivia mendekat ke arahnya dan setelah Olivia mendekat, Vincent meraih tubuh istrinya lalu memeluknya dari depan.


"Tidurlah. Kau pasti lelah."


"Tidur?" ulang Olivia sambil mendongakkan kepalanya menatap heran pada suaminya.


"Kenapa? Apa kau ingin melanjutkan kegiatan kita yang sempat tertunda tadi?" tanya Vincent dengan senyum menggoda.


Olivia menggeleng dengan cepat sembari berkata, "Tidak." Dia membalik tubuhnya memunggungi Vincent karena malu dengan pikiran yang sempat melintas di kepalanya.


"Kita harus bangun pagi-pagi sekali besok, Sayang."


"Memangnya kita mau ke mana?"


Vincent tersenyum misterius, mendektakan bibirnya di telinga Olivia lalu berbisik, "Berbulan madu."


Bisikan Vincent membuat tubuh Olivia meremang. "Memangnya kita mau berbulan madu ke mana?"


"Rahasia." Vincent meraih tubuh Olivia ke belakang agar semakin menempel dengan tubuhnya, "tidurlah, Sayang. Kau harus istirahat yang cukup agar tidak lelah besok."


"Katakan padaku dulu, kita mau berbulan madu ke mana?" desak Olivia.


"Ke Maldives, Sayang."


Maladewa memang terkenal memiliki banyak pantai indah dan pemadangan bawah laut yang menarik. Di sana terdapat penginapan yang berada di tengah-tengah laut. Memiliki layanan private nan mewah sehingga privasi sangat terjaga. Vincent tidak terlalu suka tempat keramaian itu sebabnya dia memilih Maldives sebagai tempat berbulan madunya.


"Apa kau memiliki tempat impian yang ingin kau kunjungi untuk bulan madu kita?"


Mendengar itu, Olivia kembali membalik tubuhnya ke depan Vincent agar bisa bertatapan dengannya. "Bolehkah aku mengusulkan satu tempat yang ada di Indonesia sebelum kita bulan madu ke Maldives?" tanya Olivia penuh harap.


Wajah yang ditunjukkan istrinya saat ini membuat Vincent menjadi gemas. "Kau ingin ke mana?"


"Bali," jawab Olivia penuh sangat.


Vincent berpikir beberapa setelah itu mengangguk setuju. Sebenarnya dia tidak terlalu suka berlibur ke sana karena beberapa pantai bagus di sana sangat ramai dikujungi wisatawan lokal maupun asing, namun karena itu permintaan istrinya, mau tidak mau tidak harus menurutinya agar istrinya tidak kecewa.

__ADS_1


"Kalau begitu tidurlah, kita berangkat besok pagi setelah sarapan."


Bersambung.....


__ADS_2