
"Liv, apa kau yakin masih bisa melakukannya?"
Mendengar nada khawatir sahabatnya, Olivia menatap Neysa dengan wajah lesu. "Aku harus bisa. Aku sudah berjanji untuk membantunya," jawab Olivia lirih.
"Aku yakin dia sengaja melakukan itu untuk membalasmu. Dia sengaja menikahi Jesica agar kau merasa sakit hati. Dia ingin melihatmu menderita, Liv. Kenapa kau tidak mengerti juga?"
Nesya merasa geram sekaligus gemas pada Olivia karena membiarkan dirinya disakiti berkali-kali, padahal dari awal dia hanyalah korban.
“Jika itu memang maunya, maka aku siap menerima pembalasan sakit hatinya. Aku sudah melukainya, jadi sudah seharusnya aku menerima semua perlakuannya.”
Nesya tidak tahan lagi. Dia berdiri dengan wajah geramnya. “Aku tidak bisa diam saja. Aku akan pergi menemui Vincent dan mengatakan yang sebenarnya padanya agar dia tahu kalau kau tidak bersalah.”
Olivia bergegas menghentikan Neysa ketika melihat sudah mencapai pintu apartemennya. “Tolong jangan lakukan itu, Nes. Pengorbananku akan sia-sia saja jika kau melakukan itu. Ibunya dan keluarganya akan membenciku jika sampai pernikahan Vincent batal.”
Nesya menekan kemarahnnya saat melihat mata Olivia mulai berkaca-kaca. “Kau memang bodoh! Kenapa jatuh cinta padanya, kenapa tidak dengan orang lain? Tidak pernah jatuh cinta pada pria, sekali jatuh cinta, kau dibuat bodoh olehnya," ucap Nesya dengan kesal, "ini semua salahku. Dari awal salahku.” Nesya segera memeluk Olivia lalu menitikkan air matanya melihat kesedihan sahabatnya, “maafkan aku, Liv.”
Jika saja waktu itu dia tidak mengenalkan Olivia pada Nara, Olivia tidak mungkin bertemu kembali dengan Vincent dan jatuh cinta padanya. Seharusnya dia membantu Olivia mencari pekerjaan lain, dibandingkan mengenalkan pada Nara.
******
Alvin menatap Olivia dengan wajah tidak senang setelah memarikirkan mobilnya di depan sebuah butik. Tadi pagi Olivia tiba-tiba menelponnya dan bilang tidak perlu menjemputnya karena hari ini dia tidak bekerja. Karena merasa heran jadi Alvin bertanya padanya kenapa dia tidak bekerja, Olivia hanya menjawab kalau dia memiliki urusan penting. Karena tidak puas dengan jawaban Olivia, Alvin memaksa untuk mengantarkannyan dan saat ini mereka sedang berada di depan bridal boutique milik Sandra.
“Hal bodoh apa lagi yang ingin kau lakukan hari ini?” tanya Alvin dengan wajah datarnya.
Sejak dalam perjalan menuju butik Sandra, Alvin lebih banyak diam dan tidak bertanya apapun pada Olivia. Wajahnya terlihat datar dan kesal.
“Vin, maafkan aku. Aku tahu, saat ini pasti terlihat sangat bodoh di matamu, tapi aku melakukan ini demi kebaikan kami. Jika kami tidak ditakdirkan bersama, maka anggap saja ini caraku terakhirku memberikan kebahagian untuknya.”
Alvin tersenyum sinis mendengar itu. “Membuatnya bahagia dengan cara menyakiti diri sendiri,” monolog Alvin, “Olivia, kau memang luar biasa. Kau begitu murah hati. Kau sungguh mendalami peranmu untuk menyakinkan Vincent kalau kau memang tidak mencintainya.”
Olivia hanya bisa diam dan menerima sindiran Alvin padanya.
“Kalau kau sangat ingin meyakinkan Vincent, kenapa tidak bersandiwara lebih bagus lagi? Aku bisa membantumu kalau kau mau. Kau bisa membuatnya menjauh darimu sekaligus membalasnya.”
“Apa maksudmu?”
“Bagaimana kalau kita menikah dihari yang sama dengannya?”
Iris hitam Olivia melebar dan mulutnya terbuka sedikit karena terkejut setelah mendengar ucapan Alvin.
“Jangan bercanda, Vin.”
Alvin menyerongkan duduknya ke arah Olivia lalu menatapnya dengan wajah serius. “Aku tidak bercanda. Aku serius dengan perkataanku.”
Olivia langsung menggelengkan kepalanya karena tidak setuju. “Tidak. Aku tidak bisa melakukannya.”
“Kenapa? Takut dia membunuhku karena aku menikahimu?”
__ADS_1
“Tidak. Dia tidak mungkin melakukan itu. Dia membenciku, Vin.”
“Lalu kenapa kau tidak mau menikah denganku? Kau tidak mungkin berniat kembali dengannya lagi, bukan?”
Olivia mengalihkan pandangannya ke samping saat mendapatkan tatapan menyelidik dari Alvin. “Aku hanya tidak mau bersandiwara tentang pernikahan. Bagiku pernikahan adalah suatu yang sakral dan tidak boleh bermain-main dengan hal itu.”
“Tapi Vincent bermain-main dengan pernikahan. Dia ingin menikahi Jesica bukan karena dia mencintainya, tetapi dia melakukan itu untuk membuatmu sakit hati.”
“Maaf, Vin, aku harus pergi.” Olivia bergegas membuka pintu lalu turun dari mobil.
******
Jesica tersenyum lebar saat melihat kedatangan Olivia. Dia sudah lebih dulu tiba di butik Sandra dibandingakan Olivia. Dia sengaja menunggu di ruangan tunggu bawah agar bisa memilih gaun bersama dengan Olivia.
"Kau sudah datang?"
"Iyaaa."
Olivia tersenyum paksa pada Jesica saat menghampirinya dan mengajaknya untuk ke lantai atas. Setelah berada di atas, Jesica disambut 3 orang wanita, ketiganya itu adalah pegawai Sandra.
"Liv, menurutmu, gaun yang mana yang cocok untukku?" tanya Jesica dengan antusias.
Sebelum memberikan Jesica jawaban, Olivia menyapu sekitar dengan pandangan matanya dan melihat ada satu gaun yang menarik perhatiannya. "Sepertinya itu bagus." Olivia menunjuk gaun putih gading yang nampak berkilau.
"Kalau begitu, aku coba dulu." Dengan wajah senang, Jesica meminta pegawai wanita untuk membantunya berganti.
Sembari menunggu Jesica, Olivia berkeliling untuk melihat gaun-gaun yang lain. Tiba-tiba saja ingatannya melayang ketika dia dan Vincent memilih gaun pernikahan yang akan digunakan pada pernikahan mereka.
Olivia menoleh ke belakang ketika mendengar suara yang sangat akrab di dekat telinganya. Dia nampak terkejut saat melihat Vincent sudah berada di belakangnya dan sedang menatapnya dengan wajah datar.
"Kenapa kau di sini?"
"Apa ada larangan yang mengatakan kalau aku tidak boleh berada di sini?" tanya Vincent tanpa menjawab pertanyaan Olivia.
Tadi Jesica bilang kalau Vincent sedang sibuk jadi tidak bisa menemaninya untuk memilih gaun, itulah sebabnya Olivia terkejut saat melihat keberadaan Vincent di sana.
"Aku hanya bertanya." Olivia menunduk, memundurkan langkah ke belakang agar tidak terlalu dekat dengan Vincent lalu berkata, "aku kira kau tidak datang ke sini."
Vincent memasukkan kedua tangannya di saku, menatap lurus pada Olivia lalu berkata, "Aku datang untuk melihat seberapa cantiknya calon pengantinku saat mengenakan gaun pengantinnya."
Ada rasa perih di dadanya ketika mendengar ucapan Vincent. "Jesica sedang mencoba gaunnya di ruangan ganti."
"Aku tahu." Vincent berbalik dengan wajah acuh tak acuh, melangkah menuju sofa lalu duduk dengan tenang seraya menatap Olivia dengan santai. "Kapan kau akan menikah?"
"Aku belum memikirkan hal itu," jawab Olivia lirih seraya menatap ke bawah.
"Kenapa? Masih ingin mencari yang lebih kaya?" tanya Vincent dengan nada mengejek.
__ADS_1
Olivia tahu kalau Vincent sengaja bertanya hal itu untuk mengejeknya, tapi dia tidak bisa membalas karena dia sendiri yang membuat Vincent berpikir seperti itu.
"Iyaaa. Kau benar. Aku ingin mencari yang lebih kaya lagi dari Alvin," jawab Olivia dengan wajah angkuh, "kalau kau memiliki teman yang sangat kaya, kau bisa mengenalkannya padaku. Mungkin saja kita bisa menikah di hari yang sama jika aku menemukan pria yang kekayaannya melebihi Alvin atau bahkan melebihimu."
Mata gelap Vincent tiba-tiba memancarkan aura dingin yang membuat siapa saja yang menatapnya akan membeku. "Olivia, beraninya kau...."
"Nona, gaun ini sangat cocok untukmu. Kau terlihat sangat cantik."
Tiba-tiba saja terdengar suara pegawai butik dari dalam tirai besar yang tertutup yang membuat ucapan Vincent terhenti.
"Kalau begitu buka tirainya sekarang, aku ingin memperlihatkan pada temanku."
Sebelum tirai dibuka, Vincent sudah lebih dulu menarik Olivia masuk ke dalam ruangan ganti satu lagi yang ada di lantai itu. Dengan cepat dia menutup tirai lalu membekap mulut Olivia agar tidak bersuara.
"Di mana Olivia?" Suara Jesica kembali terdengar dari luar tirai di mana Vincent dan Olivia berada.
"Aku akan mencarinya, mungkin saja dia berada di bawah. Nona tunggu di sini saja."
"Baiklah."
Terdengar langkah sepatu mulai menjauh dan menuruni tangga. Olivia merasakan ketega-ngan saat pegawai itu tadi melewati ruangan ganti tadi. Dia takut kalau pegawai itu tiba-tiba membuka tirainya. Dia tidak bisa membayangkan kalau sampai itu terjadi dan Jesica melihat itu.
Setelah suasana sunyi, Vincent menjauhkan tangannya dari mulut Olivia dan menatapnya dengan tajam. "Apa kau sungguh akan menikah dengan orang lain kalau kau menemukan yang lebih kaya dari Alvin?" tanya Vincent dengan suara tertahan.
"Tentu saja," jawab Olivia dengan pelan namun tegas.
Tatapan Vincent begitu tajam, bahkan rahangnya terlihat mengeras. "Olivia, aku tidak menyangka kalau kau wanita yang sangat kejam. Begitu mudahnya kau bilang akan menikah dengan orang lain jika ada yang lebih kaya dari Alvin."
"Aku saja mampu meninggalkanmu di saat kau miskin dan tidak berdaya, apalagi Alvin," ucap Olivia dengan wajah angkuh.
"Olivia, apa kau ada di dalam?"
Tiba-tiba saja terdengar suara Jesica dari luar tirai. Olivia menoleh dengan mata yang membesar. Jantungnya berdetak sangat kencang ketika mendengar suara langkah mendekat ke tirai yang di mana dia dan Vincent berada. Keringat dingin mulai mengucur ketika dia melihat kalau tirainya disentuh seseorang yang Olivia yakini adalah Jesica.
"Liv, ini aku Jesica, apa kau yang ada di dalam?"
Hening... Tidak ada jawaban apapun.
"Cent, bagaimana ini? Bagaimana kalau Jesica melihat kita berdua di sini?" tanya Olivia dengan suara sangat pelan.
Wajah Olivia terlihat sangat panik dan takut, berbeda dengan Vincent yang terlihat sangat santai dan tidak nampak kecemasan sama sekali dari wajahnya.
"Jika dia melihat kita, aku tinggal bilang kalau kau menarikku ke sini dan mencoba menggodaku."
"Kaauuuu...." Ucapan Olivia terhenti ketika mendengar suara Jesica lagi.
"Aku buka yaaa?"
__ADS_1
Ketika melihat tirai akan dibuka, mata Olivia langsung terpejam dengan tubuh yang mene-gang.
Bersambung...