
Olivia menghembuskan napas panjang sebelum melangkah masuk ke gedung mewah yang ada di depannya. Hari ini dia berencana untuk menemui Vincent di kantornya. Dia tidak mau berhenti dari pekerjaannya dan juga tidak mau membuat perusahaan Direktur Jerome merugi karena dirinya.
"Apa Nona sudah membuat janji dengan Presdir Vincent?" Wanita yang berjaga di meja receptionist lantai bawah bertanya pada Olivia setelah dia mengatakan ingin bertemu dengan Vincent.
"Belum."
"Maaf, Nona, kau harus membuat janji terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan Presdir Vincent."
Dulu jika dia ingin bertemu dengan Vincent di kantor, bukanlah hal sulit baginya, cukup menghubunginya langsung atau Edric, maka, Edric akan menjemputnya di bawah, tapi kini, dia harus membuat janji temu terlebih dahulu, itu pun kalau Vincent mau bertemu dengannya, jika tidak, Olivia pun hanya bisa pulang.
"Tapi aku harus bertemu dengannya. Bisakah kau menelponnya dan mengatakan kalau aku ingin bertemu dengannya?"
Wanita itu tersenyum lalu berkata dengan ramah. "Maafkan aku, Nona. Tidak bisa. Buatlah janji terlebih dahulu. Lagi pula, Presdir sedang tidak ada di tempat."
Olivia berpikir sejenak lalu mengucapkan terima kasih pada wanita itu. Dia tidak memaksa lagi karena dia tahu itu memang sudah menjadi aturan sebuah perusahaan jika ingin bertemu dengan pimpin sebuah perusahaan.
Selama tiga hari Olivia terus pergi ke perusahaan Vincent untuk bertemu dengannya, tapi sayangnya selalu ditolak. Vincent tidak ingin bertemu dengannya, tapi Olivia tidak mau menyerah begitu saja. Hari ini Olivia mencoba untuk datang lagi ke perusahaan Wijaya Group.
"Maaf, Nona, Presdir Vincent sedang tidak bisa diganggu. Presdir sedang rapat."
Wanita yang sama memberitahu Olivia dengan wajah bersalah. Sebenarnya dia kasihan pada Olivia karena setiap hari dia selalu datang, tapi selalu ditolak oleh Vincent.
"Jam berapa kira-kira rapatnya akan selesai?"
"Saya tidak tahu. Jika Nona tidak keberatan, Nona bisa menunggu. Mungkin saja Nona bisa bertemu dengan Presdir Vincent setelah selesai rapat."
Setelah berpikir selama beberapa saat, Olivia akhirnya setuju. Wanita itu meminta Olivia menuggu di sofa yang ada di loby utama. Lima jam Olivia menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Vincent. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, seharusnya Vincent sudah selesai bekerja. Olivia akhirnya bertanya pada bagian receptionist lagi.
"Rapat memang sudah selesai, tapi Presdir masih di ruangannya bersama dengan sekretarisnya untuk membahas pekerjaan."
Guratan kelelahan tergambar jelas di raut wajah Olivia dan itu membuat wanita di depannya merasa iba, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya.
"Bisakah aku menunggunya sampai Presdir Vincent selesai bekerja?"
Bagian receptionist untuk mengangguk sambil menjawab dengan ramah. Olivia akhirnya kembali duduk dan menunggu Vincent. Karena Olivia sudah menunggu sejak siang tanpa melakukan apapun, rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Tanpa sadar tertidur di sofa dengan posisi duduk.
__ADS_1
Pukul 8 malam, Vincent, Edric dan Jane keluar dari lift yang berada di lantai bawah. Saat mereka akan berjalan keluar, Vincent tiba-tiba menangkap sosok wanita yang sedang tertidur di sofa. Suasana Loby sangat tenang dan sepi karena hampir semua karyawan sudah pulang. Vincent melangkah mendekati sofa dan menatap Olivia dengan tatapan tidak terbaca.
"Apa perlu aku membangunkannya?" Jane bertanya pada Vincent saat melihatnya hanya berdiri sambil memandangi wajah lelap Olivia.
"Tidak perlu. Biarkan saja." Vincent memalingkan wajahnya ke depan lalu melangkah menuju pintu keluar bersama dengan Edric.
Melihat Vincent dan Edric sudah memasuki mobil, Jane akhirnya menghampiri security dan memintanya untuk membangunkan Olivia 15 menit kemudian.
"Ingat, hati-hati dalam membangunkannya. Bangunkan dia tanpa menyentuhnya, jika tidak, kau akan kehilangan pekerjaanmu besok," ucap Jane sebelum berlalu.
"Baik Nona Jane."
Lima belas menit kemudian security itu membangunkan Olivia dengan suara yang dibuat sepelan mungkin agar tidak mengangetkannya.
"Nona, bangunlah. Ini sudah malam."
Ketika mendengar suara asing di telinganya, perlahan Olivia membuka matanya dan melihat di sekelilingnya sudah sepi.
"Ke mana semua orang pergi?" tanya Olivia sambil membenahi penampilannya.
"Semuanya sudah pulang dari tadi, Nona."
"Sudah, Nona."
Olivia seketika merasa kecewa, Vincent benar-benar membencinya. Bahkan, tidak mau berbicara dengannya walaupun hanya sebentar. Tidak mungkin Vincent tidak melihatnya tertidur di sofa karena siapun yang akan keluar akan melewati tempat di mana dia duduk. Dengan perasaan kecewa dan sedih, akhirnya Olivia pulang ke ke apartemen Nesya. Setelah membersihkan diri, Olivia menghubungi Alvin.
"Vin, bisakah aku ikut ke pesta pernikahan sepupu Frans besok malam?"
"Tentu saja," jawab Alvin, "tapi kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?"
"Aku ingin bertemu dengan Vincent, ada yang ingin aku bicarakan dengannya."
"Baiklah, aku akan menjemputmu besok."
Hanya itu satu-satunya cara untuk bertemu dengan Vincent, selain pergi ke perusahaannya. Dia sangat berharap kalau dia memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Vincent. Dia akan melakukan segala cara untuk berbicara dengannya besok malam.
__ADS_1
******
"Kau cantik sekali malam ini, Liv," puji Alvin ketika melihat penampilan Olivia saat dia menjemputnya di apartemen Nesya.
"Ini berkat gaun yang kau berikan padaku."
"Tidak, tanpa gain itupun, kau memang sudah terlihat cantik."
"Sudahlah. Berhenti memujiku. Aku bisa besar kepala nanti. Lebih baik kita pergi sekarang."
Butuh waktu satu jam untuk tiba di tempat di mana pesta pernikahan itu digelar. Pestanya diadakan di sebuah ballroom hotel mewah yang sangat terkenal di daerah Jakarta Selatan. Olivia mengaitkan tangannya ketika memasuki gedung tersebut. Pesta tersebut diadakan secara mewah dan megah. Banyak sekali tamu-tamu penting yang datang ke sana. Bahkan beberapa reporter terlihat berdiri di depan pintu masuk ballroom.
Alvin menghentikan langkahnya di sebuah meja yang tidak jauh dari pintu masuk ballroom lalu berkata, "Liv, tunggu di sini sebentar, aku akan menemui seseorang dulu."
Olivia mengangguk. "Baiklah."
Dari arah luar terdengar suara keributan, karena penasaran Olivia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu. Di sana sudah banyak orang dan reporter yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu berbaris dengan rapih seraya mengarahkan kamera mereka pada mobil sedan hitam yang berharga miliaran yang baru saja terparkir di depan pintu ballroom tersebut.
Olivia sangat mengenal siapa pemilik dari mobil tersebut. Dulunya dia sering menaiki mobil itu bersama dengan pemiliknya, tapi kini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang wanita cantik keluar dari pintu belakang, tempat di mana, biasa dia duduki. Wanita itu adalah Jesica, dia terlihat mengapit lengan Vincent dengan mesra seraya tersenyum manis ke arah Vincent yang berdiri di sampingnya.
Saat mereka berdua akan melangkah masuk ke dalam ballroom, semua pengawal Vincent memukul mundur reporter yang bermaksud mendekati bos mereka untuk mengabadikan momen tersebut dengan kamera yang mereka bawa dari jarak yang dekat. Olivia pun juga terpukul mundur karena dia tepat berada di belakang reporter.
Karena takut gaunnya terinjak oleh orang lain, Olivia akhirnya mundur beberapa langkah guna menjaga jarak aman. Dengan tatapan sendu, dia menatap Vincent dan Jesica yang berlalu dari hadapannya. Baik Jesica maupun Vincent, tidak menyadari kalau di antara kerumunan tadi ada Olivia yang sedang memandang sedih ke arah keduanya.
"Liv, kenapa di sini?" tanya Alvin seraya mendekati Olivia yang nampak berdiri di dekat pintu.
Olivia seketika menoleh pada Alvin setelah mendengar suaranya. "Aku sedang menunggumu."
Alvin mengajak Olivia untuk masuk ke dalam. "Apa kau sudah melihat Vincent ketika dia datang tadi?"
Olivia memgangguk ringan. "Tapi kenapa semua reporter mengejar mereka berdua?"
Alvin menghentikan langkahnya lalu menatap Olivia dengan heran. "Apa kau sungguh tidak tahu apa alasannya?"
"Tidak. Memangnya kenapa?" tanya Olivia dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Tuan Wijaya baru saja mengumumkan pada media kalau Vincent akan menggantikan dirinya sebagai penerus Wijaya Group dan Vincent juga mengumumkan kalau dia akan menikah dengan kekasihnya dua minggu lagi. Kau pasti sudah tahu siapa yang dimaksusd oleh Vincent."
Bersambung....