
Belum sempat Olivia menjawab, Vincent kembali membuka suaranya dengan wajah mengejek. "Ooh ya, aku lupa... bagaimana bisa kau merasakan sakit kalau kau saja tidak punya hati."
Tubuh Olivia bergetar mendengar itu. "Aku memang tidak punya hati. Seharusnya kau senang karena aku meninggalkanmu waktu itu, jika tidak, mana mungkin kau bisa menikah dengan Jesica."
Vincent terdiam selama beberapa saat lalu berkata dengan dingin. "Ya. Aku beruntung sekali karena tidak jadi menikah denganmu. Jesica, yang aku kira sudah mengkhianatiku, nyatanya tidak. Kau yang dulu aku pikir akan setia padaku, nyatanya meninggalkan aku. Rasa sakit ini, aku akan membalasnya berkali-kali lipat. Tunggu dan lihat saja, apa yang akan terjadi selanjutnya. Bahkan Alvin pun tidak akan bisa melindungimu."
Setelah mengatakan itu, Vincent berjalan masuk ke dalam ballroom hotel, sementara Olivia terlihat berdiri mematung selama beberapa detik, menatap kepergian Vincent dengan air mata yang kembali mengalir deras di pipinya.
Maafkan aku Cent. Aku terpaksa melakukannya.
Olivia tidak langsung masuk ke dalam, melainkan dia menghirup udara malam selama beberapa menit sambil meredakan tangisnya.
"Liv, aku mencarimu dari tadi, kenapa kau di sini?"
Terlihat Alvin menghampiri Olivia yang berdiri tidak jauh dari pintu ballroom seraya menatap langit yang dipenuhi oleh cahaya-cahaya kecil.
"Aku merasa pengap di dalam jadi aku keluar sebetar untuk menghirup udara segar." Olivia tersenyum lalu mengajak Alvin krmbali masuk ke dalam.
"Kalau kau merasa tidak nyaman, kita bisa pulang sekarang."
"Tidak. Aku sudah merasa lebih baik."
Dia tidak bisa pulang sekarang karena dia belum selesai bicara dengan Vincent. Saat dia masuk ke dalam, Olivia tidak sengaja berpapasan dengan Frans, Axel dan Reno. Mereka bertegur sapa dengan canggung selama beberapa menit lalu berpisah setelahnya. Olivia tidak memiliki muka lagi untuk berbicara dengan teman-teman Vincent. Mereka semua pasti sudah tahu mengenai masalahnya dengan Vincent.
Alvin akhirnya mengajak Olivia untuk duduk. Ketika melihat kalau ada acara dansa di tengah-tengah ruangan, Alvin langsung menarik Olivia dengan cepat, bahkan Olivia belum sempat bertanya dan dia sudah berada di lantai dansa bersama dengan beberapa pasangan lainnya dan salah satunya adalah Vincent dan Jesica.
"Jangan menunduk seperti itu. Tegakkan kepalamu. Dia akan mengira kau akan sedih karena berita pernikahan mereka jika kau terus menatap ke bawah," bisik Alvin seraya menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik.
"Kenapa kau menarikku ke sini?" Olivia mengikuti gerakan Alvin dengan wajah heran.
"Aku akan memberikanmu kesempatan untuk berbicara dengan Vincent."
Mata Olivia membelalak mendengar itu. "Vin, jangan lakukan itu. Ada Jesica di sini. Dia bisa salah paham padaku nanti."
Alvin tersenyum tipis, nampaknya larangan Olivia tidak akan dia dengarkan. "Bersiaplah. Aku akan melemparmu padanya setelah putaran terakhir."
Olivia ingin menolak, tapi Alvin sudah mendorong tubuh Olivia saat putaran terakhir dan menarik tangan Jesica lalu berdansa dengannya. Sementara Vincent langsung menangkap tubuh Olivia ketika melihatnya hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan.
"Ternyata kekasihmu itu sangat kasar. Tidak bisa menghargai wanita. Bagaimana bisa dia mendorongmu seperti itu dan berdansa dengan wanita lain tanpa rasa bersalah."
__ADS_1
Ketika merasakan tangan Vincent memegang erat pinggangnya, Olivia merasakan rasa hangat menjalar keseluruh tubuhnya.
"Wanita itu adalah kekasihmu. Kenapa kau justru menangkapku dan membiarkan kekasihmu berdansa dengan pria lain?"
Olivia berusaha untuk menetralkan debaran jantung saat tubuhnya menempel dengan Vincent. Bahkan dia bisa mencium aroma parfum pria itu dari jarak yang sangat dekat.
"Jesica berbeda denganmu. Dia tidak akan berpaling dariku, meskipun Alvin menggodanya."
Maksud hati ingin menyindir Olivia, namun nyatanya Olivia tidak merasa tersindir sama sekali. Karena dia memang tidak berpaling darinya hanya karena tergoda dengan Alvin.
"Cent, bisakah kau merubah keputusanmu mengenai kerja sama itu?"
Gerakan Vincent sempat terhenti selama beberapa detik setelah mendengar nada bicara Olivia yang begitu lembut. "Bukankah sudah kubilang, syaratnya cuma satu, kau harus keluar dari perusahaan itu."
"Apakah tidak ada cara lain lagi? Aku akan melakukan apapun, selain keluar dari kantorku."
Perkataan Olivia, menarik perhatian Vincent. "Apa kau yakin akan melakukan apapun?"
"Ya. Selama itu tidak melanggar prinsip hidupku dan norma yang ada, aku akan melakukannya."
Vincent menyeringai lalu berkata, "Bahkan jika aku menyiksamu sekalipun, kau bersedia menerimanya?"
"Baiklah. Besok kau bisa datang ke kantorku dengan membawa surat perjanjian kerja sama dan aku akan membuat surat perjanjian juga."
"Surat perjanjian apa yang akan kau buat?"
"Surat perjajian yang menyatakan kalau kau bersedian melalukan apapun yang aku perintahkan padamu."
Olivia sangat terkejut mendengar itu.
"Kau sudah pernah mengingkari janjimu padaku, jadi aku tidak bisa lagi percaya dengan kata-katamu tanpa adanya perjanjian hitam di atas putih."
Tanpa Olivia dan Vincent sadari bahwa sejak tadi Jesica terus menatap ke arah mereka berdua dengan ekspresi yang sulit ditebak.
********
Keesokan harinya, sesuai janjinya, Olivia datang ke kantor Vincent dengan membawa surat perjanjian kerja sama. Kali ini, dia tidak lagi harus menunggu lama di loby karena saat dia memasuki loby, Edric sudah berada di depan lift untuk menjemputnya. Saat Olivia memasuki ruangan Vincent bersama dengan Edric, Vincent sedang berbicara di telpon dengan seseorang. Ketika mendengar nada bicara yang lembut, Olivia bisa tahu kalau orang yang sedang berbicara dengan Vincent tidak lain adalah Jesica.
"Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti. aku bekerja dulu." Mendengar Vincent berbicara lembut pada wanita lain, Olivia seketika merasakan nyeri di dadanya.
__ADS_1
"Edric, kau boleh pergi," ucap Vincent setelah dia selesai berbicara di telpon.
"Baik, Tuan Muda."
Tanpa basa-basi, setelah Olivia duduk di sofa yang ada di hadapannya, Vincent langsung meletakkan surat perjanjian di atas meja dan meminta Olivia untuk membacanya.
"Jika kau setuju, kau bisa langsung menandantanginya."
Setelah membaca keseluruhan perjanjian itu dan merasa tidak ada yang aneh, Olivia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Vincent. "Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kau menandatangani kerja sama ini?"
Bagaimana pun Olivia harus memperjelas dahulu semuanya. Vincent yang saat ini bukanlah Vincent yang dia kenal dulu. Dia sangat berbeda. Vincent yang dulu, tidak akan pernah menyakitinya, tapi Vincent yang sekarang justru kebalikannya.
"Kau tahu bukan kalau sebentar lagi aku akan menikah," ucap Vincent dengan santai.
"Lalu?" Perasaan tidak enak langsung mendera Olivia.
"Aku ingin kau membantu mempersiapkan pernikahanku."
Pandangan Olivia menjadi buram seketika dan mendadak saja dia merasakan ada petir yang menyambar dirinya, tapi nyatanya itu hanya ilusinya saja.
"Jika kau bersedia, aku akan langsung menandatangani surat perjanjian kerja sama itu."
Olivia masih mematung dan tidak mampu menjawab pertanyaan Vincent selama beberapa saat. "Cent, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?"
"Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak bersedia melalukannya," jawab Vincent dengan acuh tak acuh.
"Apa kau sungguh harus melakukan ini?"
"Semua keputusan ada di tanganmu."
Tatapan Olivia berkabut dan matanya nampak memerah. "Bagaimana bisa kau memintaku untuk mempersiapkan pernikahanmu dengan wanita lain, padahal kau tahu kalau kita pernah memiliki hubungan? Kenapa kau begitu kejam padaku, Cent?"
"Kejam?" Vincent tidak tahan untuk mencibir, "Bukankah kata itu lebih cocok untukmu? Kau yang meninggalkan aku setelah aku mengalami kecelakaan. Saat itu, aku tidak berdaya dan sudah kehilangan semuanya, tapi kau justru meninggalkan aku dan berlari ke pelukan pria lain."
"Jika aku tidak bersedia melakukannya, bagaimana?"
"Maka, lupakan perjanjian kerja sama itu. Jangan pernah datang menemuiku dan memohon demi perjanjian itu karena aku tidak sudi bertemu denganmu lagi."
Bersambung...
__ADS_1