Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Konsep Pernikahan


__ADS_3

Setelah sampai di depan gedung kantornya, Olivia tidak langsung turun dari mobil Alvin. Dia meminta Nesya untuk turun lebih dulu karena ingin berbicara dengan Alvin terlebih dahulu. Sepanjang malam Olivia berpikir siapa yang sudah melukai Vincent hingga wajahnya babak belur. Sekeras apapun dia berpikir hanya ada satu nama yang ada di kepalanya yaitu Alvin. Itu sebabnya dia ingin bertanya langsung untuk memastikan dugaannya.


"Aku tahu Vin, pasti kau yang sudah melukai Vincent, bukan?" tebak Olivia.


Dia sangat yakin kalau orang yang sudah membuat wajah Vincent. Selama ini memang hanya Alvin satu-satunya yang berani menghajar Vincent dan hanya dia yang bisa lolos dari hukuman keluarga Wijaya. Jika itu orang lain, bisa dipastikan hidupnya akan dibuat sengsara oleh keluarga Wijaya, sama seperti pria yang sudah merencakan kecelakaan Vincent. Terakhir kali yang Olivia dengar, pria itu hampir saja mati di penjara karena dihajar oleh tahanan yang ada di dalam.


"Dia memang pantas dipukul karena sudah berani menyakitimu."


Jika saja Olivia tidak menemui Vincent semalam, dia tidak mungkin tahu kalau pria itu terluka. Sebenarnya Olivia sempat ragu kalau Alvin adalah pelakunya karena secara fisik, dia tidak terluka sama sekali, berbeda dengan Vincent. Jika seandainya Alvin memang pelakunya, tidak mungkin Vincent membiarkan Alvin memukulnya begitu saja. Dia pasti akan membalasnya.


"Aku tidak suka caramu, Vin. Kau tahu sendiri, aku tidak bisa melihatnya terluka."


"Tapi dia sudah melukaimu," kata Alvin dengan wajah acuh tak acuh.


"Itu adalah konsekuensi yang harus aku terima karena aku sudah menyakitinya. Aku memang pantas menerimanya. Dia begitu karena aku yang sudah menyakitinya lebih dulu."


Alvin terdiam sambil menatap ke depan. Tidak nampak sama sekali penyesalan dari raut wajahnya karena sudah memukul Vincent.


"Vin, aku tidak mau lagi melihatmu melukai Vincent, jika tidak, aku tidak mau mengenalmu lagi."


Alvin menoleh seketika pada Olivia dengan wajah terkejut. "Aku hanya memukulnya beberapa kali saja, Liv. Itu salahnya sendiri karena diam saja dan tidak membalasku."


"Vin, aku sudah memutuskan untuk membantu pesta pernikahan mereka jadi aku mohon jangan buat keributan lagi."


"Apa kau bodoh? Kenapa kau masih mau membantunya setelah dia melukai hatimu berkali-kali?" Alvin terlihat tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh Olivia.


"Vin, kalau kau jadi Vincent dan aku meninggalkanmu disaat kau sedang tidak berdaya dan tidak memiliki apapun lagi, apa kau tidak akan bersikap seperti Vincent juga?"


"Aku tidak sebodoh dia, Liv."


"Aku tidak ingin berdebat denganmu, aku hanya minta tolong dukung keputusanku dan jangan pernah mencari Vincent lagi. Aku tahu kau sedih karena Jesica akan menikah dengan Vincent, tapi aku harap kau bisa menerimanya."


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu Vin kalau kau masih mencintai Jesica."


Alvin mendesis mendengar ucapan Olivia. "Dasar bodoh."


********


Siang ini Olivia mendapatkan pesan dari nomor yang tidak di kenalnya. Ketika membaca isi pesannya, dia sudah tahu siapa pengirim pesan tersebut tanpa harus bertanya lebih dulu.


[Datanglah ke kantorku sekarang dan bawa surat perjanjian kerja samanya.]


Terakhir kali Olivia datang ke kantor Vincent beberapa hari yang lalu, dia memang belum mendapatkan tanda tangan Vincent karena dia juga belum menandatangani surat perjanjian yang dibuat oleh Vincent. Karena semalam Olivia sudah menyetujui persyaratannya jadi hari ini Vincent memintanya untuk datang ke kantornya

__ADS_1


Ketika mereka bertemu lagi di dalam ruangan Vincent, Olivia terlihat tidak berani menatap ke arahnya. Sejak masuk ke ruangan Vincent, Olivia memang selalu menatap ke bawah karena merasa bersalah sudah menampar Vincent dan menggigit bibir bawahnya hingga terluka.


"Setelah kau tanda tangani, aku juga akan tanda tangani surat pernjanjin kerja samanya," ucap Vincent dengan datar.


Tanpa pikir panjang Olivia langsung menandatangani surat perjanjian itu tanpa melihat isinya terlebih dahulu. Karena sebelumnya dia sudah membacanya saat pertama kali dia datang ke kantor Vincent beberapa hari yang lalu jadi untuk menghemat waktu, Olivia langsung menandatanganinya. Selesai Olivia menandatangani surat perjajiannya, Vincent pun menandatangani surat perjanjian yang dibawa oleh Olivia setelah mengecek kembali semua isinya.


"Karena pernikahanku akan dilaksanakan sepuluh hari lagi jadi hari ini kau harus mulai membantu Jesica untuk mempersiapkan semuanya. Aku sudah menelpon Direktur Jerome jadi kau tidak perlu kembali ke kantor lagi."


Mata Olivia berkaca-kaca setelah mendengar itu. Dia masih tidak menyangka kalau Vincent akan menikah dalam waktu dekat.


"Tapi pekerjaanku masih banyak, aku harus menyelesaikannya lebih dulu. Aku akan membantu Jesica setelah pulang bekerja."


"Liv, kau tidak memiliki hak untuk bernegoisasi denganku."


Olivia menghela napas pelan melihat wajah tegas Vincent. Dia memang tidak memiliki hak, Vincent mau menjalin kerja sama dengab perusahaannya saja, itu sudah keberuntungan baginya. "Baiklah. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Tunggu saja di ruanganku. Sebentar lagi Jesica akan datang." Vincent berdiri lalu berjalan menuju pintu.


"Kau mau ke mana?"


"Rapat," jawab Vincent dengan datar, setelah itu, menutup pintunya tanpa menoleh sedikitpun pada Olivia.


Setelah menunggu selama satu jam, Jesica akhirnya datang dan dia sedikit terkejut melihat keberadaan Olivia di dalam kantor Vincent. Karena Olivia takut Jesica salah paham padanya, dia segera menjelaskan pada Jesica kenapa dia bisa berada di sana.


"Kau tidak perlu memikirkan aku. Hubungan kami sudah berakhir. Aku sudah tidak mencintainya. Aku rasa Vincent pasti menceritakan padamu kenapa aku meninggalkannya."


Jesica terdiam selama beberapa detik sambil menatap Olivia dengan ekspresi tidak terbaca lalu berkata, "Aku tahu kau bukan wanita seperti itu. Pasti ada alasan lain dibalik keputusanmu meninggalkannya. Vincent tidak mungkin salah mencintai wanita."


Ucapan tiba-tiba Jesica membuat Olivia sedikit terkejut. "Kau salah. Aku memang wanita yang seperti itu. Jika tidak, mana mungkin aku berpaling pada Alvin yang saat itu memiliki segalanya dibandingan Vincent."


Jesica tersenyum lalu berkata dengan wajah kagum. "Pantas saja Vincent sangat mencintaimu. Ternyata kau memang berbeda."


"Dia tidak mungkin menikahimu jika masih mencintaiku."


Jesica tersenyum manis hingga matanya hampir tertutup. "Aku suka sekali denganmu Olivia. Apa kau mau berteman denganku?"


Olivia tertegun dengan ekspresi heran melihat sikap ramah Jesica. Dia pikir Jesica akan mengeluarkan kata-kata hinaan atau cemoohan padanya saat bertemu, setidaknya jika dia tidak melakukan itu, dia akan bertingkah sombong karena dia akan segera menikah dengan Vincent, ternyata tidak. Pantas saja Vincent sangat mencintainya dulu. Mungkin kalau dulu mereka tidak salah paham, saat ini mereka pasti sudah menikah.


"Kau akan menyesal jika berteman denganku. Aku memiliki banyak sifat buruk. Lagi pula, Vincent akan marah jika kau berteman denganku."


"Dia tidak akan marah, percaya padaku."


Lima menit setelah itu, Vincent masuk ke dalam ruangannya dan Jesica nampak terkejut saat melihat wajah Vincent. Dia langsung meraba wajahnya dengan lembut.


"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa jadi seperti ini?"

__ADS_1


Dua hari yang lalu saat mereka bertemu, tidak terjadi apa-apa dengan Vincent, tapi kini, wajahnya tampannya sudah dihiasi oleh memar biru-kehitaman dan itu membuat Jesica terkejut.


"Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil saja."


Olivia memandang Jesica dan Vincent dengan mata sendu keduanya yang sedang duduk bersebelahan. Dulu, dirinyalah yang akan mengobati serta mengomeli Vincent jika dia terluka, tapi kini perannya sudah digantikan oleh orang lain dan itu membuatnya sedih.


"Aku sudah meminta Edric untuk memanggil perwakilan WO yang sudah dipilih oleh mama. Sebentar lagi akan datang. Kau bisa memilih konsep pernikahan apapun yang kau mau."


"Iyaaa," jawab Jesica sambil tersenyum manis.


Setengah jam kemudian orang dari WO datang ke kantor Vincent. Jesica nampak berbicara serius dengan Olivia dan wanita yang berasal dari pihak WO, sementara Vincent sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa kali terlihat Jesisa meminta saran dari Olivia, konsep pernikahan apa yang bagus menurutnya.


Meskipun dengan berat hati, Olivia memberikan beberapa masukan pada Jesica. Tanpa dia sadari kalau konsep pernikahan yang dia beritahu pada Jesica adalah konsep pernikahan yang diimpikannya.


"Cent, apa kau tidak mau memberikan saran untuk konsep pernikahan kita?" tanya Jesica seraya menoleh pada Vincent yang sedang membaca dokumen di atas meja kerjanya.


"Tidak. Kau saja yang pilih. Aku akan menerima apapun yang kau pilih, Sayang. Aku percaya pilihanmu pasti sesuai dengan keinginanku." Vincent melirik pada Olivia sejenak lalu berkata, "kalau kau bingung, ada Olivia yang bisa membantumu."


"Aku sudah meminta sarannya dan kupikir ide Olivia bagus dan aku menyukainya. Apa kau tidak keberatan kalau kita menggunakan konsep yang dipilih Olivia?" tanya Jesica penuh semangat.


"Kalau kau suka, aku pasti menerimanya. Apapun yang kau inginkan, aku pasti akan memenuhinya, Sayang."


Untuk kedua kalinya, jantung Olivia serasa di tusuk ribuan jarum ketika mendengar Vincent memanggil Jesica dengan sebutan sayang, apalagi nada bicara Vincent sangat lembut ketika berbicara dengan Jesica.


"Terima kasih, Cent."


Selesai memilih konsep pernikahan, giliran mereka memilih undangan pernikahan.


"Berapa orang yang akan kita undang ke pernikahan kita?" tanya Jesica lagi.


"Aku belum tahu. Itu urusan mama. Dia yang akan memilih tamu siapa saja yang diundang. Kau hanya tinggal memberitahu mama berapa orang akan kau undang dari pihak keluargamu."


Jesica terseyum manis lalu menjawab, "Baiklah. Aku akan memilih undangannya lebih dulu." Jesica nampak bersemangant, dia kembali meminta saran Olivia untuk memilih desain undangan pernikahannya.


Selesai bekerja, Vincent bergabung dengan mereka semua yang sedang duduk di sofa.


"Liv, besok kau tidak perlu masuk kerja. Temani Jesica untuk melihat gaun pengantin dan meninjau langsung lokasi yang akan digunakan untuk pernikahan kami. Aku akan meminta ijin pada Direktur Jerome agar kau bisa cuti."


Rasa nyeri kembali menyebar ke seluruh dada Olivia mendengar permintaan Vincent.


"Cent, jangan merepotkan Olivia. Aku bisa meminta Sandra untuk menemaniku besok," sela Jesica dengan wajah tidak enak.


"Olivia tidak keberatan sama sekali. Dia justru senang membatumu, benar, kan, Olivia?" tanya Vincent seraya menatap Olivia dengan santai.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2