
Vincent mengajari Olivia teori selama 3 menit setelah itu dia menukar tempat duduknya, Olivia duduk di depan, sementara Vincent berada di belakang. Awalnya Vincent mengajari Olivia dengan cara Vincent memegang kemudi dari belakang lalu menjalan jetski itu dengan pelan. Setelah diajari dan berlatih selama 10 menit lamanya, Olivia pun akhirnya mengerti.
"Sekarang, cobalah untuk mengemudikannya sendiri."
Olivia mengangguk lalu Olivia menyalakan motor jetskinya, namun dia nampak terkejut saat mendapati tangan suaminya melingkar di perutnya. "Cent, kenapa kau memelukku?"
"Tentu saja aku harus memelukmu, Sayang. Bagaimana kalau aku terjatuh nanti?" Padahal itu hanya alasan Vincent agar bisa memeluk istrinya.
"Tapi kau tidak perlu memelukku dengan erat, Cent. Aku akan mengemudikannya dengan pelan jadi kau tidak mungkin terjatuh."
"Ini demi keamanan, Sayang," bisik Vincent dengan serigainya.
Karena tidak ingin berdebat dengan suaminya, Olivia akhirnya membiarkan Vincent memeluknya dengan erat. Seperti yang dikatakan oleh Olivia tadi, dia mengemudikannya dengan pelan dan secara perlahan menambahkan kecepatannya.
Olivia nampak senang setelah berhasil mengemudikan jetski tersebut. Setelah berkeliling selama 15 menit, Olivia meminta untuk mengemudikannya sendiri, tapi dilarang oleh Vincent karena takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Meskipun dia sudah memakai baju pelampung, tapi tetap saja Vincent merasa khawatir.
"Satu kali saja, biarkan aku mengemudikannya sendiri." Olivia sengaja menampilkan wajah memelas agar Vincent mau mengijinkanya.
"Tidak."
Olivia kembali membujuk Vincent sampai akhirnya dia menyerah dan memperbolehkan istrinya untuk naik jetski sendiri tanpa ditemani olehnya.
"Aku akan mengikutimu dari belakang."
Dia masih merasa tidak tenang membiarkan istrinya menaiki jetski sendiri jadi dia menyewa satu jetski lagi. Padahal sejak tadi ada beberapa wanita yang mengemudikan jetski sendiri dan tidak terjadi apapun pada mereka.
Vincent pun mengikuti Olivia dari belakang. Olivia beberapa kali berteriak pada Vincent sambil tersenyum lebar. Mereka mengitari pantai selama 15 menit dan menyudahi permainan itu setelah merasa puas berkeliling selama 10 menit.
"Menyenangkan sekali. Aku ingin bermain itu lagi besok," ucap Olivia setelah turun dari jetski dan berjalan menyusuri pantai bersama Vincent diikuti Edric dari belakang.
Sejak bermain jetski, Edric terus mengikuti mereka dari belakang. Dia pun ikut bermain jetski untuk mengawasi Olivia dan Vincent, tentu saja dengan jarak yang aman.
"Kita lihat saja besok."
Vincent melepas bajunya yang basah akibat bermain jetski tadi hingga membuat wanita di sana berdecak kagum saat melihat otot perutnya.
"Kenapa kau melepas bajumu?"
Olivia merasa kesal saat melihat para wanita menatap tanpa berkedip ke arah suaminya ketika mereka melintas.
"Bajuku basah, Sayang."
Vincent memakai kaca mata hitamnya, berjalan acuh tak acuh lalu mengajak Olivia untuk duduk di salah satu kursi pantai untuk menunggu sunset.
"Apa kau tidak melihat semua wanita menatap ke arahmu?"
Olivia menatap ke sekelilingnya dan terlihat beberapa wanita mencuri pandangan ke arah Vincent dan ada juga yang secara terang-terangan menatap suaminya dengan tatapan memuja.
"Biarkan saja."
Vincent menarik satu kursi pantai, menggabungkannya dengan kursi pantai yang berada di dekatnya, setelah itu, merebahkan tubuhnya di kursi kemudian menarik tangan istrinya yang masih terlihat kesal agar duduk di sampingnya .
"Abaikan mereka. Berbaringlah di sebelahku, katanya kau ingin melihat sunset?"
Olivia akhirnya duduk di samping suaminya yang sedang menampilkan wajah acuh tak acuhnya.
"Setelah melihat sunset, kau ingin makan malam di mana?" tanya Vincent saat melihat istrinya hanya diam sambil memadang ke arah pantai.
"Terserah kau saja."
Selesai melihat sunset, mereka berdua membilas diri dan berganti pakaian. Vincent kemudian mengajak Olivia ke salah satu beach club yang sangat terkenal di Bali. Beach club itu disebut-sebut paling besar di Asia. Vincent sengaja mengajak istrinya ke sana karena dia yakin kalau Olivia pasti belum pernah ke sana, berbeda dengannya yang sudah sering ke sana bersama dengan Axel, Reno, Frans dan juga Alvin sebelum mereka berselisih.
__ADS_1
Daya tarik beach club itu adalah acara hiburan hingga festival pantai yang terus digelar setiap hari, sepanjang malam. Beragam event tersebut diisi oleh artis ternama tanah air hingga internasional dan siapapun akan dibuat takjub dengan kemeriahan party all night long sambil ditemani view alam tepi pantai pada malam hari yang begitu indah.
Sebelum ke sana, Edric sudah lebih dulu mereservasi tempat untuk mereka. Dia memilih tempat duduk VVIP sofa yang memiliki kapasitas 8 orang uanh berada di main stage section. Itu adalah tempat duduk paling mahal di beach club tersebut. Saat tiba di tempat itu, Olivia dibuat takjub dengan suasana serta pemandangan di sana. Dia terus memandangan ke sekeliling dengan perasaan senang.
"Apa kau sering ke sini?" tanya Olivia setelah duduk di sofa bersebelahan dengan suaminya. Tidak jauh dari mereka, Edric juga memesan tempat duduk VVIP, tapi yang island daybed.
"Dulu sering, tapi sekarang tidak lagi."
Olivia memutar tubuhnya ke belakang dan matanya terlihat menyapu ke segala penjuru, setelah itu dia kembali menatap suaminya. "Dengan siapa kau ke sini?" tanya Olivia, "apa dengan Jesica?"
Vincent melirik sebentar istrinya, setelah itu, menyesap minuman yang sudah dia pesan tadi kemudian menjawab pertanyaan Olivia. "Dengan Axel dan lainnya."
"Apa kau pernah mengajak Jesica ke sini?"
Melihat wajah penasaran istrinya, dia merasa sangat gemas karenanya. "Iyaa."
Setelah mendengar jawaban Vincent, Olivia merasa sedikit tidak nyaman di hatinya, semacam kecewa, cemburu dan iri bercampur jadi satu.
Menyadari ada yang berbeda dari istrinya, Vincent akhirnya bertanya. "Kenapa diam?"
"Tidak apa-apa." Olivia menyambar gelas Vincent yang berisi minuman alkohol.
"Sayang, jangan minum itu, kau bisa mabuk nanti."
Selesai Vincent bicara, habis juga minuman yang ada di gelasnya tadi diminum istrinya. Olivia menghabiskannya dengan sekali teguk. Vincent hanya diam setelah melihat itu, matanya menatap seksama wajah istrinya yang mulai memerah. Firasat buruk mulai Vincent rasakan saat melihat Olivia tersenyum lebar setelah meletakkan gelas di atas meja.
"Jangan minum lagi. Kau belum makan, Sayang. Kau bisa sakit nanti."
Tiba-tiba saja Olivia menjadi cekukan. Vincent pun membuka tutup botol air mineral kemudian meminta istrinya untuk meminumannya hingga cekukannya hilang.
"Makan dulu ini." Vincent berusaha menyuapi istrinya, tapi ditepis olehnya, "aku tidak lapar."
Apalagi angin di sana sangat kencang. Beruntung tadi dia membawa jaket tebal untuk istrinya karena takut istrinya akan kedinginan.
"Aku makan smoothie bowl saja."
"Baiklah, terserah kau saja."
Vincent merasa kalau suasana hati istrinya menjadi buruk setelah mendengar nama Jesica tadi jadi dia hanya bisa menuruti keinginan istrinya. Saat melihat istrinya sedang makan, Vincent meminta ijin untuk berbicara dengan Edric sebentar. Olivia pun hanya mengangguk dan menatap kepergian suaminya tanpa bertanya apapun.
Setelah menghabiskan setengah dari makanannya, Olivia akhirnya berhenti. Dia merasa perutnya tidak enak dan kepalanya sedikit pusing. Mungkin akibat meminum alkohol tadi jadi dia merasa seperti itu. Ketika Olivia ingin memanggil suaminya, ternyata Vincent sudah berjalan ke arahnya.
"Ada apa, Sayang?"
"Aku merasa sedikit pusing."
Vincent menempelkan telapak tangannya di dahi istrinya dan setelah tahu tidak panas, dia berkata, "Apa kau ingin kembali sekarang?"
"Tidak. Aku masih ingin di sini."
Olivia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil menatap ke arah pemandangan pantai di depannya.
"Aku datang ke sini tidak hanya berdua dengan Jesica, tapi bersama dengan keluarganya."
Penjelasan dari Vincent semakin membuat suasana hati Olivia semakin buruk. Itu artinya Vincent dulu sangat dekat dengan keluarga Jesica hingga dia berlibur bersama dengan keluarganya.
"Kalau dulu kalian tidak salah paham, mungkin saat ini dia yang menjadi istrimu."
"Berhenti membahas itu, Sayang. Aku tidak mau membahasnya lagi."
Mereka pun akhirnya tidak bicara lagi dan hanya menikmati alunan musik serta pemandangan yang ada. Pukul 11 malam, Olivia terlihat sudah mulai meracau karena mulai mabuk. Olivia memang dua kali meneguk minuman alkohol milik suaminya tanpa bisa dicegah oleh Vincent karena Olivia mengambilnya secara tiba-tiba. Melihat istrinya mulai mabuk, Vincent memberikan kode pada Edric untuk mendekat.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang. Istriku sudah mulai mabuk."
Vincent menggendong istrinya tanpa memperdulikan tatapan dari banyak orang. Olivia sangat mudah mabuk, itulah sebabnya Vincent selalu melarang Olivia minum-minuman beralkohol. Vincent tidak membawa Olivia pulang ke penginapannya, melainkan ke vila yang letaknya tidak jauh dari beach club yang baru saja mereka kunjungi.
Setelah melihat Olivia meminum alkohol miliknya, Vincent langsung menyuruh Edric untuk mencari penginapan yang tidak jauh dari sana. Dia tidak mau istrinya melakukan perjalanan jauh dengan kondisi mabuk menuju vila mereka jadi Vincent menyuruh Edric untuk memesan kamar hotel atau vila yang private. Tiba di vila yang sudan disewa, Vincent meminta Edric untuk beristirahat di kamar yang sudah dipesan juga untuknya.
"Apa kau masih mencintai Jesica?"
Olivia bertanya dengan kesadaran minim. Di sepanjang perjalanan menuju vila itu, Olivia terus meracau dan semua berkaitan dengan Jesica. Vincent pun tidak pernah menanggapi racauan Olivia karena masih ada Edric di dekat mereka.
"Diamlah, Sayang." Vincent menurunkan Olivia di ranjang dengan hati-hati.
"Jika kau tidak mau menjawabnya berarti kau masih mencintainya," ucap Olivia setengah sadar.
"Aku tidak mencintainya, Sayang. Jangan membahasnya terus."
Ketika Vincent akan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil washlap, tangannya diraih oleh Olivia. "Kau hampir menikahinya, bagaimana bisa kau bilang tidak mencintainya?"
Sepertinya alam bawah sadar Olivia masih merasakan trauma akibat tindakan Vincent waktu itu.
"Itu kulakukan untuk menyembunyikan rencana pernikahan kita, Sayang. Kau juga tahu itu. Orang yang aku cintai adalah kau."
"Aku tidak percaya denganmu."
Vincent melepas tangan istrinya lalu duduk di tepi ranjang. "Akan kubuktikan nanti setelah kau sadar. Sekarang tidurlah."
Olivia tersenyum lalu berkata, "aku sudah sadar sekarang jadi buktikanlah."
Vincent akhirnya merebahkan tubuhnya di samping istrinya, memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Aku sangat mencintaimu, Liv. Jangan pernah ragukan itu."
Setelah mendapatkan kecupan singkat di dahinya, perlahan Olivia menutup matanya. Sepertinya pelukan Vincent membuatnya nyaman hinga dia akhirnya dia memejamkan matanya.
Pukul 1 dini hari, Olivia tiba-tiba saja terbangun. Dia merasakan kepalanya pusing dan masih merasa sedikit mabuk. Dia menoleh ke sebelah dan melihat suaminya sudah tertidur, tangannya pun terulur memegang pipi suaminya lalu memeluknya dengan erat.
"Aku harap ini bukan mimpi kalau kau sudah menjadi milikku," ucap Olivia lirih.
"Ini memang bukan mimpi, Sayang."
Suara berat dan serak Vincent mengangetkan Olivia. Dia mendongakkan kepalanya dan melihat Vincent sudah membuka matanya.
"Aku memang sudah menjadi milikmu, maka dari itu, jadilah milikku seutuhnya malam ini."
Kelopak mata Olivia melebar saat melihat kalau Vincent sudah berubah posisi menjadi di atasnya.
"Aku menginginkanmu malam ini, Sayang."
Olivia terdiam selama beberapa detik, setelah itu, mengangguk. Melihat lampu hijau dari istrinya, Vincent pun langsung menyerang bibir istrinya dengan rakus. Dia sudah cukup lama menahannya, maka dari itu, Vincent terlihat seperti terburu-buru.
Olivia pun tidak tinggal diam, dia membalas pagutan suaminya, berusaha mengimbangi permainan bibirnya, tapi tidak bisa. Dia akhirnya menyerah dan membiarkan suaminya mendominasi dirinya dengan tangan yang mulai bergerak membuka kain yang melekat di tubuhnya.
Setelah tubuh Olivia polos, Vincent mulai menjelajahi setiap inci tubuh istrinya dengan bibirnya. Setelah melakukan pemanasan cukup lama, Vincent pun masuk ke permainan inti dengan hati-hati. Ketika dia merasakan sudah menembus sesuatu, saat itu juga Vincent mendengar jeritan Olivia hingga dia merasakan kalau tubuh istrinya bergetar setelah dia berhasil melakukan penyatuan.
"Maafkan aku, Sayang."
Vincent berkali-kali meminta maaf pada istrinya yang terlihat meringis, menahan sakit di bawah sana.
"Aku baik-baik saja."
Setelah merasa istrinya tidak merasakan sakit lagi, Vincent pun mulai bergerak teratur dan baru berhenti setelah mereka mencapai puncak bersama.
Bersambung...
__ADS_1