
***
hari berganti hari, bulan berganti bulan. jam, menit, detik pun dilewati.. kehidupan setelah menikah membuat pier menjadi pria yang dingin, perubahan yang baik sebagai seorang suami bagi azisa tidak pernah ia lakukan. hatinya sudah membeku dan keras bagaikan batu, ia tidak pernah menjilat ludahnya sendiri. apa yang ia katakan ia lakukan, azisa tetap dengan keadaan yang sama menerima perubahan dan hanya menyandang status nyonya pier wijaya tapi tidak dengan hatinya dan cintanya pier. bahkan semenjak menikah pun ia tidak pernah disentuh pier, jangankan sentuh duduk berduaan pun tidak pernah.
pada tanggal 23 juni ulang tahun pak ali, pak ali meminta pier tidur di rumah tapi bukan berarti pier tidur sekamar dengan azisa. pier memilih tidur di ruang tamu, pak ali yang melihat itu langsung menegur pier dan berbicara pada pier atas sikapnya untuk azisa.
" pier , papa tau kamu marah atas pernikahan ini. tapi jangan sama azisa. ia juga sama kaya kamu, marahlah untuk papa jangan ke azisa.." ucap pak ali
" jika papa sekali saja pikirkan perasaan aku, semua gak bakalan begini. " ucap pier
" papa lakukan untuk kebaikan kamu , bukan untuk kebaikan orang lain. kamu harus paham akan hal itu pier..pulang ke rumah dan tinggal bersama istrimu, kamu juga tidak perlu tidur terpisah seperti ini. nanti apa kata orang, suaminya di timur sedangkan istrinya di barat." ucap pak ali
__ADS_1
" dan aku tidak peduli apa yang di katakan orang. aku gak peduli sama sekali pa.. yang aku peduli perasaan aku, dari dulu juga aku uda nolak tapi apa papa dengar aku? gak kan? jadi untuk apa aku harus dengar papa juga. kebaikan? papa bilang kebaikan? kebaikan apa yang papa maksud? itu kebaikan buat papa dan mama tapi bukan buat aku... yang papa lakukan buat aku hanya menderita dan luka yang di dapat dari pernikahan ini, tiap hari aku mengutuk diriku sendiri dengan pernikahan ini. jadi jangan memaksakan aku pa itu akan lebih membuat azisa menderita dengan sikapku..." ucap pier dengan marah
pa ali yang mendengarnya tak bisa berkata apa-apa ia merasa perubahan pier adalah kesalahannya, anaknya keluar dari rumah dan tinggal sendiri itu juga kesalahannya.
keesokan paginya pier pun bangun dan menuju ke dapur untuk sarapan. disana azisa yang sedang di bantu mbak belajar untuk buatin coffee buat pier. pier yang melihatnya tidak peduli, " sekuat apapun yang kamu lakukan tidak akan merubah apapun " gumam pier
" mbak tolong buatin saya coffee " ucap pier
" mas ini aku udah buat, " ucap azisa
" tapi mas, aku udah buat sayang kalau gak diminum. " ucap azisa
__ADS_1
pier mendekati azisa " aku gak peduli " ucap pier dengan nada sinis
" mbak saya minta mbak yang buat bukan orang lain, jadi tolong buatin saya mau sarapan. " ucap pier
" baik den " jawab mbak
" mas, terus siapa yang minum coffee ini? " tanya azisa
" jika kamu mau minum silakan., " ucap pier
ibu soffie melihat pier dan azisa bertengkar, ibu soffie pun mendekat dan berbicara " pier istri kamu mau ngurus kamu gak mau, ayo sayang kasih itu ke pier. mbak gak usah buatin. ibu azisa udah buat jadi gak usah buat lagi mbak.." ucap ibu soffie
__ADS_1
saat azisa menyedorkan coffee untuk pier, pier pun melemparkan gelas itu ke lantai. belingnya berceceran begitu juga minumannya
ibu soffie pun menampar pier dengan serentak pier langsung pergi meninggalkan ibu soffie dan azisa dengan kemarahan,