
Setelah Olivia memasuki mobil, supir yang mengantar nyonya Lucy Lu keluar dan meninggalkan mereka berdua dia dalam mobil. Tidak jauh dari mereka ada sebuah mobil hitam dengan 3 pengawal di dalamnya yang mengawasi mereka bedua.
“Jadi sekarang kau tinggal di apartemen tuan muda dari keluarga Geoffredo bersama dengan putraku?” Lucy Lu bertanya dengan datar tanpa menoleh pada Olivia yang duduk di sebelahnya.
“Iyaa,” jawab Olivia dengan suara rendah.
Mendengar jawaban jujur dari Olivia, Lucy Lu langsung menoleh ke padanya dengan tatapan tidak senang. Sebenarnya tanpa bertanya pada Olivia pun dia sudah mengetahui jawabannya karena dia sudah menyelidiki anaknya semenjak keluar dari rumahnya.
“Apa kau ingin mengikat anakku dengan memberikan tubuhmu padanya? Kau pikir anakku akan bertahan padamu karena itu?”
“Nyonya, kau salah paham, kami hanya tinggal….”
“Tinggal bersama?” potong Lucy Lu dengan cepat, “kau pikir aku percaya? Aku tahu kalau selama ini kau tinggal di apartemen anakku.” Lucy Lu berkata dengan raut wajah mencemooh.
“Aku sudah sering menemukan wanita sepertimu yang melakukan trik kotor untuk menggoda anakku agar bisa menjadi nyonya Vincent,” lanjut Lucy Lu lagi.
Olivia diam-diam menghela napas pelan setelah mendengar tuduhan Lucy Lu padanya. Ingin menjelaskan, tapi sepertinya akan percuma saja karena Lucy Lu hanya akan percaya dengan yang dia lihat, bukan kejadian yang sesungguhnya.
“Nyonya, katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kau bisa menerimaku? Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, selain meninggalkan Vincent.”
Ibu Lucy Lu mendengus dengan wajah mengejek mendengar perkataan Olivia. “Kau pikir kau pantas untuk anakku?”
“Sekarang, aku memang belum pantas untuk anakmu, tapi jika kau memberikan kesempatan padaku, aku akan membuktikan kalau aku pantas untuk mendampingi putramu.”
Mendengar itu, Lucy Lu tidak tahan untuk mencibir. “Jangan membuatku tertawa Olivia, sampai kapanpun kau tidak mungkin bisa setara dengan anakku. Dia memiliki semuanya ketampanan, kecerdasan, kekayaan, keluarga lengkap. Tidak ada yang tidak dia miliki di dunia ini. Lantas dengan cara apa kau membuktikan kalau kau pantas untuk anakku? Kau bahkan tidak memiliki keluarga, apalagi yang lainnya.”
“Nyonya, jika aku bisa memilih takdirku sendiri, aku juga ingin kedua orang tuaku masih hidup dan tetap memiliki keluarga utuh seperti yang lainnya, tapi itu di luar kendaliku. Jika hanya mengenai paras dan kekayaan itu masih bisa diperbaiki bukan? Meskipun aku tidak bisa melampaui putramu, tapi aku bisa membuktikan kalau aku bisa berdiri sendiri tanpa putramu.”
“Olivia, aku ke sini bukan untuk berbicara yang tidak berguna padamu.” Lucy Lu mengambil sesuatu dari dalam tas lalu memberikan pada Olivia, “bacalah, jika kau setuju. Aku akan memenuhi semua keinginanmu, asalkan kau mau meninggalkan anakku. Aku akan mengurusnya dan aku bisa pastikan kalau anakku tidak akan bisa menemukanmu.”
Olivia membaca kertas yang berada di tangannya dengan teliti.
__ADS_1
“Hari ini adalah penentuan apakah Vincent masih bisa bekerja di perusahaan Wijaya Group. Jika kau setuju dengan ini, dia akan tetap bekerja di sana dan kembali memiliki semuanya, tapi jika tidak, aku akan memberhentikannya langsung dari Wijaya Group. Akan kupastikan dia tidak akan bisa diterima bekerja di mana pun setelahnya.”
Olivia mengangkat kepalanya setelah mendengar itu. “Nyonya, kenapa kau tega sekali dengan putramu sendiri?”
Dengan wajah angkuh Lucy Lu menjawab. “Ini adalah salahmu. Jika kau tidak bersikeras untuk mempertahankan anakku, dia pasti tidak akan melalui semua ini.”
Olivia merenung selama beberapa saat lalu berkata, “Kalau begitu, aku tidak akan melepaskannya sampai kapanpun. Karena Nyonya begitu tega dengannya, maka aku akan tetap mempertahankannya,” ucap Olivia dengan tegas.
Lucy menampilkan wajah tidak senangnya mendengar itu. “Jadi kau tetap tidak mau melepas anakku?”
Mana mungkin Olivia menyia-nyiakan pengorbanan Vincent yang begitu besar demi dirinya. Dia tidak masalah jika Lucy Lu menilai buruk dirinya, asalkan dia tidak melalukan hal yang buruk, dia akan mengabaikan hinaan apapun yang keluar dari mulut ibu pria yang sangat dia cintai.
“Tidak,” jawab Olivia dengan tegas.
Sorot mata Lucy menjadi tajam setelah mendengar jawab dari Olivia. “Sudah kuduga, orang sepertimu sulit dibujuk. Maka, jangan salahkan aku setelah ini jika aku membuatnya semakin menderita.”
“Apa maksudmu?”
Tangan Olivia gemetar mendengar itu. Bagaimana bisa ada seorang ibu yang bisa begitu tega terhadap anaknya sendiri. “Nyonya, jika kau tidak puas denganku, jangan melampiaskan pada anakmu, cari saja aku. Aku siap menerima segala kemarahanmu. Cukup lampiaskan padaku, jangan pada anakmu.”
“Turunlah. Aku sudah selesai denganmu,” ucap Lucy Lu dengan acuh tak acuh.
Oliva tidak langsung turun, dia mengepalkan tangannya dan terlihat sedang menahan amarahnya.
“Ingat, tidak hanya Vincent yang akan kubuat menderita, tapi orang sekitarmu dan juga orang sekitar anakku juga akan terkena imbasnya jika ada yang berani membantu kalian lagi.”
Orang seperti Olivia, lebih sayang dengan orang lain dari pada dirinya sendiri, maka dari itu, Lucy ingin mengganggu orang disekitar Olivia serta membuat anaknya sendiri menderita. Olivia tidak mungkin bisa melihat orang yang dia sayangi menderita. Pada akhirnya dia akan memilih menyerah dari pada harusnya melihat Vincent menderita karenanya.
******
Siang harinya, setelah makan siang bersama dengan Edric di kantin kantornya, Vincent bergegas menuju ruangan rapat bersama asistennya dan juga Jane. Dalam perjalanan menuju ruang rapat, dia bertemu dengan ibunya. Dia berhenti sejenak untuk menyapa ibunya.
__ADS_1
“Cent, mama akan berikanmu satu kesempatan lagi untuk memilih. Tinggalkan Olivia dan kau bisa tetap bekerja di sini dan kembali memiliki segalanya.”
“Ma, keputusanku tidak akan berubah. Aku akan tetap memilih Olivia.”
“Kau tahu bukan, setelah berhenti dari sini, kau tidak akan bisa diterima di mana pun dan juga tidak akan ada yang berani membantumu ke depannya jika mama sudah mengumumkan kalau kau bukan lagi bagian dari keluarga Wijaya dan Morland.”
“Jika memang itu mama yang inginkan, aku akan menerimanya,” jawab Vincent dengan tenang.
“Kau memang sudah benar-benar gila. Melepaskan semuanya hanya demi wanita rendah seperti dia. Sia-sia saja mama melahirkan dan juga membesarkanmu selama ini kalau kau tidak bisa berbakti padaku.”
Wajah Vincent nampak kecewa mendengar itu. “Ma, jika aku bisa memilih, aku lebih suka terlahir dari keluarga biasa, dari pada memiliki semuanya, tapi tapi aku tidak bisa memilih kebahagiaanku sendiri.”
“Kau memang tidak berguna.” Lucy Lu tidak bisa lagi menahan amarahnya lagi, “mulai sekarang jangan biarkan temanmu membantumu, jika tidak, mereka juga akan terkan imbasnya.” Selesai mengatakan itu, Lucy Lu masuk ke dalam rapat dengan langkah cepat.
"Kita langsung saja melakukan pemungutan suara. Tidak perlu berlama-lama lagi," ucap Lucy Lu setelah agenda rapat selesai dibacakan.
"Tunggu dulu." Vincent berdiri lalu menatap ibunya, “atas dasar apa Nyonya Lucy Lu ingin memberhentikanku dari jabatanku saat ini?” tanya Vincent dengan datar.
"Kau tidak layak menempati posisi ini lagi," jawab Lucy Lu dengan tegas.
"Tidak layak?" Vincent menarik tipis sudut bibir kirinya ke atas lalu berkata, “katakan padaku, satu saja kesalahan yang pernah aku perbuat selama menjabat sebagai Presiden Direktur di perusahaan ini sehingga Nyonya Lucy bisa mengatakan kalau aku tidak layak menempati posisi ini?”
Semua pemegang saham saling melirik satu sama lain saat melihat perdebatan antara ibu dan anak itu. Tentu saja semua pemegang saham tahu kalau Vincent adalah anak dari Juan Wijaya dan juga Lucy Lu, pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut.
“Bukankah selama ini selama perusahaan di bawah kepemimpinanku, perusahaan ini semakin maju?” lanjut Vincent saat melihat ibunya terdiam.
Tidak bisa dipungkiri kalau yang dikatakan Vincent memang benar adanya dan itu diakui oleh semua pemegang saham.
“Nyonya Lucy Lu, kau tidak bisa melibatkan masalah pribadi ke dalam urusan perusahaan. Perusahaan ini bukan milikmu sepenuhnya, masih ada tuan Juan sebagai pemilik saham terbesar di sini."
Vincent membungkukkan tubuhnya kedepan seraya meletakkan kedua tangannya di tepi meja lalu menatap ibunya dengan tegas. "Jadi jika Nyonya Lucy Lu ingin memberhentikanku dari sini, silahkan tunjukkan bukti kalau aku memang tidak kompeten dan lalai dalam pekerjaanku selama aku menjabat Presdir di sini, jika tidak ada bukti, maka, kau tidak bisa memberhentikanku dari sini hanya karena kau tidak suka denganku.”
__ADS_1
Bersambung….