
Setelah duduk di sofa yang ada di dalam kamar anaknya, Lucy Lu langsung berbicara ke inti cerita. Dia mengungkapkan kecewaannya pada Vincent karena sudah mengelabuinya untuk menikahi Olivia, padahal diq sangat berharap kalau Vincent akan menikah dengan wanita yang setidaknya berasal dari keluarga yang terpandang, meskipun tidak bisa sejajar dengan keluarganya, tapi setidaknya berasal dari lingkaran yang sama. Dia merasa ditipu dan dibodohi oleh anaknya sendiri dan itulah yang membuatnya sangat kecewa.
“Ma, kau yang sudah menipu lebih dulu. Kau menyembunyikan banyak kebenaran dariku. Kau bilang sebelum aku sadar dari koma, Olivia tidak pernah menjengukku di rumah sakit, tapi ternyata justru dia yang sudah menyelamatakan nyawaku. Kenapa kau menyembunyikan fakta bahwa dia yang sudah mendonorkan darahnya untukku?”
“Dari mana kau tahu kalau dia yang sudah mendonorkan darah untukmu? Apa dia yang memberitahumu?” tanya Lucy Lu dengan wajah terkejut.
Setahunya, dia sudah meminta pihak rumah sakit untuk merasahasiakan hal ini dari putranya. Lucy Lu memang sengaja tidak memberitahu putranya mengenai hal itu karena takut putranya akan semakin terikat dengan Olivia dan akan sulit untuk memisahkan mereka berdua. Dia bahkan meminta para Dokter untuk merahasiakan nama pendonor kepada Vincent.
Sebelum Vincent menjawab, Lucy Lu kembali berbicara. “Tidak bisa dipercaya, padahal dia sudah berjanji untuk merahasiakannya, tapi ternyata dia memberitahumu. Dia memang licik, mengggunakanmu untuk melawanku.”
“Ma, bukan Olivia yang memberitahuku, tapi papalah yang memberitahuku.”
Ayahnya jugalah yang sudah membantu Vincent untuk menikahi Olivia. Segala sesuatunya diatur olehnya agar istrinya tidak tahu. Juan Wijaya merasa bersalah karena sudah membiarkan istrinya bersikap semaunya hingga membuat putra menderita, bahkan hampir kehilangan nyawanya.
“Apa?” Lucy nampak terkejut mendengar itu. Dia tidak menyangka kalau suaminya bersekongkol dengan anaknya untuk menipu dirinya.
“Tidak bisakah mama menerima Olivia sebagai menantu Mama? Tolong berikan dia kesempatan untuk membuktikan dirinya kalau dia memang layak bersanding dengan aku. Jika Mama bisa melakukan itu, aku akan memaafkan semua kesalahan mama dan melupakannya.”
Mendengar itu, Lucy Lu bukannya senang, tapi justru semakin marah. “Memangnya kesalahan apa yang sudah mama buat?” tanya Lucy dengan arogan, “mama hanya berusaha melakukan hal terbaik untuk putra mama sendiri."
Vincent menggelengkan kepala saat melihat ibunya belum juga menyadari apa kesalahannya. “Jika bukan karena Oliva, mungkin aku sudah mati, Ma. Tidak bisakah mama melihat begitu besarnya pengorbanan Olivia untukku?”
“Kau hanya memandang kebaikan Olivia saja, lalu bagaimana dengan mama? Mama mengandungmu, melahirkan serta membesarkanmu hingga kau bisa berdiri di kakimu sendiri. Pengorbanan Olivia tidak sebesar pengorbanan mama, Cent.”
Vincent mengepalkan tangannya, berusaha untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan kata-kata menyakitikan hati ibunya. “Ma, itu memang sudah menjadi tugasmu sebagai ibuku. Mama tidak bisa membandingkan pengorbanan seorang ibu dengan apa yang dilakukan Olivia untukku, itu berbeda, Ma.”
“Lagi pula, mama tidak pernah meminta Olivia untuk mendonorkan darahnya untukmu, jika mama tahu dia akan mendonorkan darahnya untukmu, mama pasti tidak akan menyetujuinya. Mama tidak sudi darahnya mengalir di dalam tubuhmu dan bercampur dengan darahmu, darah keluarga kita.”
Vincent memejamkan matanya selama dua detik sambil mengertakan giginya untuk meredakan kemarahannya yang sudah mencapai ubun-ubun. Bagaimana bisa ibunya berkata seperti itu setelah apa yang sudah dilakukan Olivia untuknya.
“Jika mama tidak sudi darah Olivia bercampur dengan darahku, harus aku menguras habis darahku agar mama puas? Apa itu yang mama mau? Mama ingin melihatku mati?” Vincent menatap ibunya dengan tatapan kecewa. Dia tidak bisa lagi menggambar betapa kecewanya dia pada ibu yang sudah melahirkannya.
“Bukan itu maksud mama, Cent.”
“Lalu apa maksud Mama?”
“Mama hanya tidak bisa menerima Olivia masuk ke dalam keluarga kita.”
Vincent mulai kehabisan kesabaran, dia akhirnya berkata dengan wajah dinginnya. “Ma, jika kau tidak bisa menerima Olivia menjadi menantumu, tidak masalah bagiku. Aku tidak akan membujukmu agar kau mau menerimanya, tapi aku minta jangan pernah berani memisahkan kami lagi, apalagi membuat Olivia menderita. Jika sampai itu terjadi, akan kupastikan akan melupakan hubungan darah di antara kita berdua.”
Melihat Vincent berdiri, Lucy ikut berdiri. “Cent, aku ini ibumu, bagaimana bisa kau mengatakan itu pada ibumu sendiri?”
__ADS_1
“Jika bukan karena kau ibuku, aku pasti sudah membalas semua yang sudah kau lakukan pada Olivia. Sayangnya, aku harus terikat hubungan darah dengan wanita kejam sepertimu. Akan lebih baik jika aku tidak dilahirkan dari rahimmu. Karena aku tidak bisa merubah itu, maka dari itu, aku anggap ini sebagai kesialanku karena menjadi anakmu. Jika lain kali Mama masih menggangguku Olivia, jangan salahkan aku kalau aku membalas perbuatan Mama."
Lucy Lu langsung terduduk lemas di sofa dengan tatapan kosong setelah melihat kepergian anaknya. Ucapan anaknya membuat hatinya sangat hancur. Dari dulu Vincent tidak pernah sekalipun menentang kemauannya dan tidak pernah menyakiti hatinya, tapi semenjak mengenal Olivia, dia berubah menjadi anak yang pembangkang dan itulah salah alasan Lucy Lu tidak menyukai Olivia.
“Apa yang sudah dilakukan Olivia pada putra kesayanganku hingga membuatnya jadi seperti itu?”
******
Pukul 9 malam Vincent berpamitan kepada semua temannya. Sebelum pergi, Axel melemparkan godaan pada Vincent yang membuat Reno dan Frans mengulum senyumnya.
“Cent, kau tahu kan bagaimana cara mencetak gol dengan benar? Jika tidak tahu, aku bisa mengajarimu sampai kau mengerti.”
“Pikirkan saja dirimu. Lebih baik kau segera menikah, Axel. Jangan terlalu banyak bermain wanita. Jangan sampai ada yang datang untuk meminta pertanggung jawabanmu, tetapi itu bukan benihmu. Jika sampai itu terjadi, kau sendiri yang akan rugi.”
Vincent menanggapi santai godaan Axel dan justru memberikan pukulan telak baginya. Sebenarnya bukan hanya Axel, tapi Reno sudah lebih dulu melemparkan godaan pada Vincent ketika dia baru saja datang.
“Diamlah,” ujar Axel dengan kesal, “lebih baik kau segera pergi. Aku kesal sekali melihat gayamu itu.”
Reno dan Frans hanya diam saat melihat kekesalan Axel. “Yang dikatakan Vincent memang benar, Axel. Lebih baik kau berhati-hati mulai sekarang.”
Axel tentu saja tidak terima dengan ucapan Reno. “Memangnya kau tidak sepertiku? Kau itu sama saja dengaku, Reno. Jangan berpura-pura lupa.”
“Setidaknya aku hanya melakukan dengan wanita yang aku cintai dan itu pun adalah kekasihku.”
“Kalian berdua memang sama saja jadi berhentilah saling menyudutkan,” sela Frans dengan acuh tak acuh.
Setelah keluar dari bar, Vincent menghubungi ponsel Olivia untuk menanyakan di mana keberadaannya dan ternyata istrinya itu masih berada di restoran yang ada di lantai 2 hotel tersebut. Vincent akhirnya memutuskan untuk menyusulnya tanpa memberitahu Olivia.
Saat dia akan mendekati meja istrinya, langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat ada pria yang duduk satu meja dengan istri dan kedua temannya. Wajahnya tertutupi oleh Nesya sehingga dia tidak bisa melihat wajahnya. Karena merasa penasaran, Vincent akhirnya melanjutkan langkahnya.
Setibanya di belakang istrinya, dia baru bisa melihat wajah pria itu. Dia mengenalinya, dia pernah bertemu dengan pria itu ketika dia berada di Singapura bersama dengan Olivia. Pria tu adalah Eugen, kakak dari Stacey. Saat mengetahui itu, Vincent langsung mewaspadai Eugen. Sejak bertemu pertama kali di Singapura, dia sudah tidak menyukainya.
“Sayang, sudah malam. Kita harus segera kembali ke kamar.” Vincent berkata seraya membungkuk dan memeluk bahu istrinya dari belakang.
Semua yang ada di sana pun seketika menatap ke arah Vincent dan Olivia, tidak terkecuali Eugen. Kedua pria itu pun saling menatap dengan sengit selama beberapa detik sebelum akhirnya Eugen memutuskan kontak mata mereka saat mendengar ucapan Olivia.
“Iyaaa.” Olivia menoleh pada suaminya setelah Vincent berdiri tegak di sampingnya, “kau sudah selesai bertemu dengan temanmu?”
“Sudah. Itu sebabnya aku menyusulmu ke sini.” Vincent menatap semua yang ada di sana lalu berkata, “maaf, kami harus pergi. Ini adalah malam pengantin kami jadi kamu harus kembali ke kamar. Aku harap kalian bisa mengerti.”
Kata-kata itu sebenarnya dia tujukan untuk Eugen. Dia sengaja mengatakan itu untuk memberitahunya kalau Olivia sudah menjadi miliknya dan dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendekati istrinya lagi.
__ADS_1
Stacey dan Nesya tersenyum canggung seraya mengangguk. “Iyaa, maaf karena sudah mengganggu malam pengantin kalian,” ucap Nesya.
Ketika pengantin baru itu akan melangkah, tiba-tiba saja Eugen menghentikan mereka. “Tunggu sebentar.” Eugen mendekati Olivia lalu merogoh sesuatu dalam saku jasnya, “Ini hadiah untuk untukmu. Hadiah ini aku memilih dengan terburu-buru karena harus mengejar persawat untuk ke sini jadi aku minta maaf kalau tidak sesuai dengan seleramu.”
Olivia menatap kotak yang ada di tangan Eugen lalu merlirik pada suaminya untuk meminta persetujuannya.
“Maaf, Tuan Eugen, kami tidak menerima hadiah apapun dari orang lain di hari pernikahan kami.”
Vincent memang melarang semua tamu untuk memberikan hadiah di pernikahan mereka. Dia tidak menerima hadiah baik dalam bentuk barang maupun uang.
“Hadiah ini aku berikan untuk Olivia sebagai kakak dari sahabatnya. Ini bukan hanya dariku, tapi dari Stacey juga.”
Ketika melihat kedua ya saling memadang dengan tatapan tajam, Olivia buru-buru mengambil hadiah itu lalu berterima kasih pada Eugen dan Stacey.
“Kami kembali ke kamar dulu.” Olivia segera menarik tangan Vincent untuk pergi dari sana.
“Kenapa tidak bilang padaku kalau ada Eugen di sana?” tanya Vincent setelah mereka berada di dalam lift.
Melihat wajah marah Vincent, Olivia menjadi takut. “Aku juga tidak tahu kalau Eugen datang bersama Stacey. Dia tidak mengatakan apapun saat menelponku tadi.”
Stacey memang tidak bilang kalau dia datang bersama kakaknya karena kakaknya yang memintanya untuk merahasiakan dari Olivia.
“Seharusnya kau bilang padaku setelah tahu dia datang bersama dengan temanmu,” ucap Vincent dengan wajah marah.
“Maaf Cent, ini memang salahku.”
“Pantas saja kau betah berlama-lama di sana, ternyata ada Eugen. Jika aku tidak menyusulmu, kau pasti tidak akan kembali ke kamar, kan?”
“Bukan begitu, Cent. Aku pikir kau belum kembali ke kamar jadi aku sengaja menunggumu sambil mengobrol dengan mereka. Maafkan aku.”
Dia tidak mau menunggu di kamar sendirian, maka dari itu, dia masih mengobrol dengan temannya, apalagi, dia sudah lama tidak bertemu dengan Stacey.
“Sepertinya kau lupa kalau kau sudah memiliki suami.” Dengan langkah cepat, Vincent keluar dari lift dan berjalan menuju kamarnya sambil menarik tangan Olivia, “kau harus diberi hukuman agar kau selalu ingat kalau kau itu sudah bersuami.”
"Cent, jangan cepat-cepat.”
Vincent menghentikan langkahnya lalu mengangkat tubuh Olivia dan membopongnya menuju kamar pengantin mereka. “Jangan memberontak, Sayang.” Setelah menurunkan tubuh Olivia di atas ranjang, Vincent langsung mengung-kung istrinya.
“Seharusnya kau tidak membuatku cemburu di malam pengantin kita. Aku tidak akan melepaskanmu malam ini. Ini hukuman untukmu karena sudah membuatku cemburu.”
Belum sempat berbicara, Vincent sudah mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya.
__ADS_1
Bersambung….