
“Kau sudah bangun?” Olivia segera berdiri dari duduknya ketika melihat Vincent membuka matanya perlahan.
"Ya." Vincent tersenyum saat melihat wajah Olivia. “Apa yang terjadi denganku?” Vincent bertanya dengan suara lemah.
“Kau mengalami kecelakaan mobil dan kau koma setelah operasi.”
Olivia segera menekan tombol untuk memangggil perawat agar datang. Sudah 4 hari Vincent mengalami koma dan selama itu, dia berada di ruangan ICU. Sementara Edric sudah berada di ruangan perawatan karena dia langsung bangun beberapa jam setelah selesai operasi jadi dia segera dipindahkan ke ruangan perawatan.
“Jangan bergerak. Aku sudah memanggil perawat untuk datang memeriksamu.” Olivia menahan tubuh Vincent ketika dia akan bangun.
“Sudah berapa lama aku koma?"
"Empat hari."
Vincent tersenyum tipis lalu berkata, "pantas saja aku sangat merindukanmu,” ucap Vincent sambil menatap sendu pada Olivia.
Mata Olivia tiba-tiba saja berkaca-kaca.
“Kenapa kau sedih? Apa aku membuatmu takut?”
Air mata Olivia seketika jatuh setelah mendengar ucapan Vincent. “Iyaa. Aku sangat takut. Aku pikir kau tidak akan bangun lagi.”
“Jangan menangis. Maafkan aku. Aku janji tidak akan membuatmu khawatir lagi.”
Vincent berusaha mengangkat tangan kanannya untuk menghapus air mata Olivia, tapi dihentikan olehnya.
“Jangan banyak bergerak. Biarkan Dokter memeriksamu dulu."
Tidak lama berselang, seorang Dokter dan perawat memasuki ruangan dan langsung melakukan pemeriksaan pada Vincent. Karena tidak ditemukan tanda-tanda bahaya lagi, Vincent akan dipindahkan ke ruangan perawatan setelah melakukan beberapa pemeriksaan lagi.
“Pasien sudah bisa dipindahkan ke ruangn perawatan,” ucap Perawat pada Olivia setelah menjalani beberapa pemeriksaan.
“Baik.”
Setelah Vincent dipindahkan ke ruangan Suite, Olivia menghubungi ibu Vincent dan mengatakan padanya kalau Vincent sudah sadarkan diri. Selama Vincent koma, Olivia memang yang selalu mendampinginya. Ibu dan ayahnya akan berkunjung di pagi dan sore hari untuk melihat keadaan anaknya.
“Sayang, kenapa kau memindahkanku ke ruangan ini?” tanya Vincent setelah semua perawat keluar, “kita tidak akan sanggup membayarnya jika aku tinggal selama beberapa hari di sini. Bagaimana kalau kita pindah ke ruangan biasa saja?”
Kamar yang ditempati Vincent adalah tipe suiter dan harganya sangat mahal karena itu tipe kamar tertinggi di rumah sakit itu. Vincent hanya tidak ingin membuang uang hanya demi dirinya.
“Tidak apa-apa. Kesembuhanmu lebih penting. Kau tidak perlu khawatir, aku memiliki tabungan yang cukup untuk membayar biaya rumah sakit.”
“Tapi tetap saja kita harus berhemat. Kita akan menikah dan pasti kita membutuhkan uang yang banyak nantinya.”
Air mata Olivia langsung menetes setelah mendengar ucapan Vincent.
“Kenapa kau menangis lagi, Sayang?”
Olivia segera mengusap bekas air matanya kemudian tersenyum pada Vincent. “Aku bahagia karena akhirnya kau sadar.”
“Oyaa, bagaimana keadaan Edric? Aku bersamanya saat kecelakaan itu terjadi.”
“Dia ada di ruangan sebelah. Dia sudah pindahkan 4 hari yang lalu.” Olivia kemudian memberitahukan pada Vincent mengenai keadaan Edric.
__ADS_1
“Apa orang tuaku tahu kalau aku mengalami kecelakaan?” tanya Vincent.
“Iyaa. Aku yang memberitahukan pada mereka dan mereka datang setiap hari untuk menjengukmu.”
Olivia juga memberitahukan pada Vincent bahwa bukannya hanya orang tuanya yang tahu, tetapi Axel, Reno, Frans, Alvin, dan juga Jesica mengetahui tentang kecelakaan yang menimpanya. Bahkan mereka menjenguknya ketika Vincent masih koma.
“Apa ibuku memarahimu atas apa yang sudah menimpaku?”
Olivia menggeleng sambil tersenyum. “Tidak sama sekali. Ibumu justru memintaku untuk menjagamu.”
“Benarkah?”
Vincent menatap Olivia penuh selidik. Ibunya mana mungkin tidak marah. Ketika dia ditusuk oleh orang suruhan Daren, ibunya sangat murka. Bahkan ibunya berencana untuk mendatangi Olivia, tapi dicegah oleh ayahnya.
“Iyaa,” jawab Olivia lembut, “ibumu bahkan meminta maaf padaku.”
“Jangan berbohong, Liv. Aku tahu bagaimana sifat ibuku.”
Ketika melihat Vincent tatapan keraguan Vincent, Olivia kembali menegaskan ucapannya. “Sungguh. Aku tidak berbohong.”
“Baiklah. Aku percaya padamu.”
Olivia tersenyum senang mendengar itu.
“Sepertinya pernikahan kita harus diundur, kondisiku belum pulih. Bagaimana kalau kita undur dua minggu lagi?” tanya Vincent dengan wajah bersalah.
“Kita lihat saja nanti, yang terpenting saat ini adalah kesembuhanmu.”
“Liv, kau dari mana saja? Kenapa kau baru datang? Aku sudah menunggumu sejak tadi.” Vincent langsung bertanya ketika melihat Olivia memasuki ruangannya.
“Aku lembur di kantor,” jawab Olivia dengan wajah lelah.
“Benarkah? Apa kau yakin lembur di kantor bukan pergi dengan seseorang?”
Sore tadi Vincent menelpon Olivia berkali-kali, tetapi tidak diangkat olehnya. Vincent akhirnya meminta Reno untuk menghubungi orang kepercayaannya untuk menanyakan keberadaan Olivia dan ternyata Olivia sudah pulang pukul 4 sore dan selama 5 hari ini dia tidak pernah lembur seperti yang selalu dikatakan Olivia selama ini.
Vincent sudah menjalami perawatan di rumah sakit selama selama 10 hari di rumah sakit semenjak dia sadar dan selama itu juga Olivia menginap di rumah sakit untuk menjaga dan merawat Vincent, namun belakangan ini Olivia selalu pulang pukul 10 malam dengan alasan lembur dan Vincent merasa ada yang aneh dengan sikap Olivia. Belakang ini Olivia selalu menjawab datar pertanyaannya. Olivia juga jarang sekali berbicara dengannya, bahkan terkesan mengabaikan dirinya.
“Kau mencurigaiku?” Olivia menatap kesal pada Vincent saat mendengar ucapannya.
“Bukan seperti itu. Aku tadi menelpon ke kantormu dan mereka bilang kau sudah pulang dan di jemput oleh seorang pria.”
Olivia menjadi semakin kesal setelah mengetahui Vincent menghubungi kantornya. “Tidak bisakah kau memberikan kepercayaan padaku? Kau selalu mencurigaiku dan selalu menelpon berkali-kali saat aku bekerja. Apa kau tidak tahu kalau itu menggangguku? Aku tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku jika kau terus menghubungiku.”
“Maaf Liv, aku hanya….”
“Cent, apa kau tahu aku bekerja keras hingga melakukan 3 pekerjaan sekaligus demi mencari uang untuk biaya rumah sakitmu, tapi kau malah mencurigaiku!” Mendengar nada bicara Olivia meninggi, Vincent sedikit terkejut karenanya. “Asal kau tahu, aku lelah Cent. Aku sudah bekerja seharian dan aku juga harus mengurusmu dan meladeni sekian banyak pertanyaan tidak penting darimu. Lama-lama kau membuatku lelah, Cent."
“Maafkan aku karena sudah merepotkanmu. Aku janji akan bekerja keras setelah aku sembuh nanti. Kau tidak perlu bekerja lagi setelah aku sembuh. Kau bisa beristirahat di rumah dan aku akan mencari uang."
“Tidak perlu,” tolak Olivia dengan wajah dinginnya, “kau tidak perlu bekerja keras untukku lagi.”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Aku ingin mengakhiri hubungan kita.”
Tubuh Vincent langsung membeku setelah mendengar ucapan Olivia. “Jangan bercanda, Sayang,” ucap Vincent dengan wajah terkejut.
“Aku tidak bercanda. Aku ingin kita putus,” ucap Olivia dengan tegas.
“Kenapa kau tiba-tiba meminta putus? Apa salahku? Apa kau marah karena aku terlalu posesif? Atau kau marah karena aku membebanimu dengan biaya rumah sakitku? Katakan padaku, apa alasannya kau ingin hubungan kita berakhir?” cecar Vincent tidak tidak sabar.
Olivia menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Vincent. “Aku tidak sanggup lagi bertahan denganmu. Dokter bilang kemungkinan dirimu bisa berjalan lagi membutuhkan waktu paling cepat 2 bulan dan aku tidak sanggup menunggu selama itu. Aku lelah Cent mengurusmu. Aku tidak mau direpotkan lagi olehmu.”
Rasa nyeri seketika menyebar di area dadanya ketika mendengar ucapan Olivia. “Aku tidak ingin putus. Sebentar lagi aku akan sembuh dan aku akan berusaha lebih keras lagi agar aku bisa segera berjalan seperti dulu lagi. Kau tidak perlu membayar biaya rumah sakitku, aku akan mencari cara untuk membayarnya sendiri dan kau juga tidak perlu menjagaku dan menginap di rumah sakit kalau kau lelah bekerja. Aku akan mengurus diriku sendiri. Aku janji tidak akan merepotkanmu lagi asalkan kau tidak meninggalkanku.”
Mata Vincent nampak berkaca-kaca, begitu pun Olivia.
“Aku sudah tidak memiliki siapapun Olivia. Aku bisa hancur kalau kau meninggalkan aku.”
Saat melihat tatapan Vincent yang terluka dengan wajah mengiba membuat Olivia merasa bersalah.
“Kau masih memiliki keluarga. Bagaimana bisa mengatakan kau tidak memiliki siapapun.”
Setiap hari ibu dan ayahnya akan datang ke rumah sakit untuk menjenguknya. Bahkan ibunya akan menjaganya hingga sore hari saat Olivia sedang bekerja.
“Ibuku sudah membuangku, Liv.” Dengan tatapan sendu, Vincent berkata lagi, “kenapa kau juga mau membuangku?”
“Aku tidak bisa hidup dengan pria miskin sepertimu, apalagi sampai menghabiskan sisa hidupku denganmu. Kau sudah tidak memiliki apapun dan tidak ada yang bisa dibanggakan darimu lagi. Aku tidak mau hidup susah dengan pria miskin dan tinggal di rumah jelek. Dari kecil aku sudah terbiasa tinggal di rumah besar dan hidup dalam kemewahan.”
“Bukankah kau bilang tidak masalah hidup susah asalkan bersamaku?”
Olivia tertawa mengejek mendengar itu. “Dan kau percaya itu?”
“Liv, aku tahu kau lelah dan merasa aku tidak berguna saat ini. Aku janji setelah aku sembuh, aku akan memperbaiki kehidupan kita dan memberikan kehidupan yang layak untukmu. Tolong bersabar sebentar.”
“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Asal kau tahu, aku mau menjadi kekasihmu karena dulu kau memiliki uang yang banyak, tapi sekarang kau hanya pria miskin dan tidak berguna. Kau tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuanku. Kau bukan lagi Vincent Wijaya yang memiliki kekayaan berlimpah.” Dengan tatapan mencemooh Olivia berkata lagi, “kau memang bodoh karena percaya denganku. Seharusnya kau mendengarkan perkataan ibumu yang mengatakan kalau aku hanya mengincar hartamu.”
Vincent merasa sangat terpukul setelah mendengar pengakuan Olivia yang mengejutkan dirinya.
“Jadi kau tidak tulus mencintaiku selama ini? Kau menerimaku hanya karena uangku?”
“Tentu saja,” jawab Olivia dengan angkuh, “Di dunia ini tidak ada wanita yang tidak suka dengan uang, begitu pun diriku. Aku sengaja mendekatimu dan berusaha menarik simpatimu agar kau jatuh hati padaku. Ternyata tidak sulit untuk membuatmu masuk dalam perangkapku.”
“Liv, apa ibuku yang menyuruhmu untuk menjauhiku, makanya kau melakukan ini?”
“Tidak. Aku memang mendekatimu karena uang.”
“Apa kau sungguh tidak mencintaiku dan hanya menginginkan uangku saja?” tanya Vincent dengan wajah kecewa.
“Iyaa, aku tidak mencintaimu. Orang yang aku cintai sebenarnya adalah Alvin. Bukan dirimu. Awalnya aku berniat untuk bersama Alvin selamanya, tapi ketika Alvin memberitahukan padaku kalau kau tertarik padaku, aku langsung memutuskannya dan mulai menyusun rencana untuk menarik perhatianmu. Aku melakukan itu karena aku pikir kau adalah penerus dari dua perusahaan besar, tapi sayangnya kau malah dibuang dan berakhir menjadi pria tidak berguna dan hanya bisa merepotkanku saja.”
”Jadi setelah aku miskin dan tidak berguna lagi untukmu, kau ingin kembali lagi dengan Alvin?”
“Jika Alvin masih menginginkan aku, tentu saja aku akan kembali padanya,” jawab Olivia dengan angkuh.
Bersambung…..
__ADS_1