
“Liv, kau mau ke mana?” Olivia menoleh dan tersenyum saat melihat ibu mertuanya berjalan ke arahnya setelah menuruni tangga.
“Mau ke rumah sakit, Ma, tapi aku akan mampir ke kantor Vincent dulu untuk menjemputnya.”
Hari ini rencana Olivia ingin memeriksakan kehamilannya yang sudah menginjak 5 bulan lebih tepatnya usia kandungannya sudah 23 minggu. Setiap bulannya Olivia rutin memeriksakan kehamilannya di rumah sakit tempatnya pertama kali di rawat setelah mengalami gejala hamil muda.
Tiga bulan pertama kehamilannya, Olivia selalu mengalami morning sickness di pagi hari dan menghilang setelah memasuki trimester kedua. Beruntung selama hamil, Olivia tidak mengalami ngidam yang aneh-aneh. Makanan yang diinginkan cenderung mudah didapat. Yang direpotkan selama kehamilannya bukalah Vincent, melainkan Edric.
Vincent selalu meminta Edric untuk mencari sesuatu yang diinginkan istrinya dan dia tinggal duduk manis menunggu Edric datang. Bahkan Edric sampai harus menginap di keluarga Wijaya untuk memudahkan jika Olivia membutuhkan sesuatu saat tengah malam atau dini hari.
Selama trimester awal, OIivia sedikit melankolis dan tidak pernah mau berjauhan dengan suaminya, alhasil, selama trimester pertama, Vincent selalu membawa istrinya ke kantor. Vincent bahkan menyiapkan sofabad khusus untuk Olivia di ruangannya agar istrinya bisa beristirahat dengan nyaman selama menunggunya selesai bekerja.
“Yaa sudah, hati-hati di jalan. Jangan pulang malam-malam.”
Olivia mengangguk lalu berpamitan pada ibu mertuanya. Selama kehamilannya, sikap Lucy berubah 180 derajad. Dia memperlakukan Olivia dengan sangat baik. Lucy Lu bahkan meminta Dokter Gizi khusus untuk mengatur pola makan menantunya. Tidak hanya itu, Lucy Lu pun selalu menemani Olivia untuk berolahraga ringan di pagi hari serta mengajaknya untuk jalan-jalan jika Vincent sedang sibuk di kantor.
Kehamilan Olivia merubah total sikap Lucy Lu. Lucy Lu bahkan sudah mengatakan pada Olivia kalau dirinya sudah bisa menerima kehadiannya dan tidak akan pernah memisahkan Olivia dan anaknya lagi. Lucy Lu berkata kalau Olivia selamanya akan menjadi menantu di keluarga Wijaya dan itu membuat Olivia sangat bahagia. Ternyata bayi dalam kandungannya mampu meluluhkan hati ibu mertuanya hingga bisa menerimanya sekarang.
“Janice, apa suamiku ada di dalam?” Olivia bertanya pada sekretaris sekaligus teman suaminya setelah berdiri di depan meja kerja wanita yang berwajah oriental itu.
“Iyaa.” Semenjak Olivia sering datang ke kantor suaminya, Olivia dan Janice menjadi dekat layaknya teman.
“Kalau begitu aku akan ke dalam.”
“Tungu dulu.” Janice segera menghentikan Olivia saat akan melangkah ke ruangan Vincent.
“Ada apa? Apa ada orang lain di dalam?” tanya Olivia sambil berbalik kembali ke arah Janice.
“Iya... sebenarnya dia sedang berbicara hal penting dengan….”
Melihat keraguan Janice, Olivia segera menebak. “Apa dia sedang bersama dengan wanita di dalam?”
Janice mengangguk pelan dengan penuh keraguan.
“Dengan siapa?”
“Dengan Carla.”
Olivia menghela kasar setelah mendengar nama itu. “Dia lagi?”
Janice hanya mengangguk ringan. Carla adalah wanita yang sejak dulu tergila-gila dengan Vincent. Olivia memang tidak pernah bertemu dengannya. Dia hanya tahu dari Janice kalau Carla adalah salah satu dari wanita yang menyukai Vincent dan selalu mencari-cari perhatian Vincent di setiap kesempatan yang ada.
Semenjak mereka dekat, Olivia meminta Janice untuk mengawasi suaminya. Dia takut kalau ada wanita yang akan menggoda suaminya selama dirinya tidak ada. Olivia tidak tahu kalau saja kalau suaminya itu tidak pernah tertarik dengan wanita lain selain dirinya.
“Aku akan masuk ke dalam.”
“Baiklah.”
Olivia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan itu membuat Vincent dan Carla yang berada di dalam menoleh. Saat melihat siapa yang datang, Carla nampak biasa saja dan cenderung tidak peduli.
“Apa kau sedang sibuk?” tanya Olivia sambil berjalan menuju suaminya.
“Tidak, duduklah.” Vincent menarik lembut tangan istrinya agar duduk di sampingnya, “kami hanya membicarakan kontrak kerja sama saja.”
Olivia melirik sebentar pada Carla lalu tersenyum pada suaminya. “Aku pikir kau sedang sibuk.”
“Kau ke sini di antar siapa?” tanya Vincent sambil merangkul pinggang istrinya dengan posesif, dia lupa kalau di ruangan itu masih ada orang lain yang sedang menatap tidak suka pada kemesraan mereka berdua.
__ADS_1
“Nando.”
Tiba-tiba saja telpon Vincent berbunyi saat dia akan berbicara. “Sayang, aku angkat telpon sebentar. Ini dari rekan bisnisku.”
Olivia mengangguk ringan. Vincent menjawab telpon seraya berjalan keluar dari ruangannya, meninggalkan Olivia dan Carla di dalam ruangannya.
“Nona Carla, kau pasti sudah tahu aku siapa, bukan?” Olivia bersidekap sambil menatap datar ke arah Carla yang terlihat tak acuh.
“Tentu saja aku tahu. Memangnya kenapa?”
Melihat sikap angkuh Carla, Olivia menarik senyuman sinis. Wanita sejenis Carla sudah sering dia temui sejak menikah dengan Vincent. Wanita tidak tahu malu yang masih mengejar pria, meskipun pria itu sudah memiliki istri.
“Nona Carla, jangan kau pikir aku tidak tahu kalau kau menyukai suamiku dan sering kali mencari perhatian serta beberapa kali mencoba menggoda suamiku.”
“Apa maksudmu? Kapan aku menggoda suamimu?” Carla bertanya dengan nada aorgan dan wajah angkuhnya. Tidak terlihat kalau dia takut dengan Olivia, meskipun dia sudah tahu kalau wanita di depannya itu adalah istri dari Vincent.
Olivia mendesis lalu menatap tajam pada Carla. “Kau lihat penampilanmu saat ini? Apa itu bukan sengaja menggoda suamiku?”
Olivia menatap tiga kancing kemeja bagian atas Carla yang sengaja dibuka lebar hingga gundukan dadanya menyembul keluar, bahkan Carla memakai rok ketat dengan belahan yang sangat tinggi hingga ketika dia duduk menyilang akan memperlihatkan paha putihnya hingga bagian atas.
“Aku tidak….”
Sebelum Carla menyelesaikan ucapannya, Olivia lebih dulu memotongnya dengan tegas. “Dengar baik-baik, Nona Carla. Kalau kau berani merayu suamiku ataupun mencari perhatiannya lagi, akan kubuat kau dipecat dari pekerjaanmu yang sekarang dan akan kupastikan kau tidak akan mendapatkan pekerjaan lain di manapun setelahnya. Kau pasti tidak mau hal itu terjadi, bukan?"
Wajah Carla seketika memucat. Rumor yang mengatakan kalau istrinya Vincent adalah wanita yang mudah ditindas, ternyata salah.
“Aku kenal baik dengan Tuan Venom. Aku tahu kinerjamu sebagai sekretaris Tuan Venom sangat bagus hingga kau bertahan sampai saat ini, tapi jangan sampai kau merusak karirmu sendiri dengan cara mencoba menggoda suamiku. Apa kau mengerti sampai sini?”
Carla menelan salivanya dengan wajah pucatnya. “Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Bersikap profesionallah mulai sekarang, jika kau tidak ingin terkena masalah.”
Vincent melangkah masuk setelah selesai menerima telpon. “Ada apa, Sayang?” Vincent bertanya pada istrinya saat melihat ketegangan di antara kedua wanita yang sedang duduk berhadapan itu.
Olivia melebarkan senyumannya saat melihat suaminya berjalan ke arahnya. “Tidak ada apa-apa. Kami hanya mengobrol.”
Vincent manggut-manggut lalu duduk di samping istrinya. “Nona Carla, aku akan mempelajari dulu proposal ini. Aku akan menghubungi Direktur Venom nanti.”
Carla tersenyum kaku lalu berkata, “Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Setelah pintu tertutup, Olivia langsung menampilkan wajah cemberutnya. “Apa sebelum menikah denganku, banyak wanita yang sering menggodamu seperti dia?”
Setelah menikah dengan Vincent, Olivia sudah berkali-kali bertemu dengan wanita yang menyukai suaminya dan rata-rata mereka memiliki wajah yang tebal. Sudah tahu Vincent memiliki istrinya, namun masih berusaha untuk mencari-cari perhatiannya. Walaupun selama ini mereka belum ada yang berani berbuat nekat karena takut dengan Vincent, namun tetap saja Olivia merasa kesal.
“Abaikan mereka Sayang. Aku tidak tertarik sama sekali dengan mereka.”
Vincent bukannya tidak tahu kalau banyak wanita yang berusaha menarik perhatiannya. Selagi mereka tidak menyentuhnya dan juga tidak melewati batas, Vincent memilih tidak memperdulikannya.
"Tapi kau pasti tahu kan kalau Carla itu sengaja ingin menggodamu?"
Vincent menarik senyaman tipis lalu berkata, "Bukankah kau bisa mengatasinya sendiri tadi?" Ya, Vincent melihat bagaimana istrinya menekan Carla dengan cara yang elegan, "aku tidak menyangka, istriku yang manis ini bisa berubah menjadi macam betina ketika merasa terancam."
Olivia melayangkan tatapan tajam pada Vincent setelah mendengar ucapannya. "Kau suka ya digoda oleh dia?"
Vincent terkekeh pelan lalu berkata, “Kemari.” Vincent mengangkat tubuh istrinya hingga terduduk di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan, “semakin hari kau semakin menggemaskan Sayang. Apalagi disaat cemburu seperti ini. Aku sangat menyukainya.”
Olivia mengerucutkan bibir masih dengan wajah kesal. Melihat itu Vincent langsung melu-mat istrinya selama beberapa saat. Setelah melepas tautannya, Vincent berkata, “Jangan marah-marah lagi. Aku hanya mencintaimu. Tidak ada satupun wanita yang mampu menarik perhatianku kecuali dirimu.”
__ADS_1
Pukul 3 sore, Vincent mengajak Olivia menuju rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya dan pulang ke rumah setelah mereka mampir ke restoran untuk makan malam. Setelah memasuki ruangan keluarga. Lucy Lu bergegas mendekati anak dan menantunya. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui jenis kela-min cucunya yang selama ini sengaja mereka minta rahasiakan dari Dokter.
“Bagaimana? Apa jenis kela-min cucu Mama?” tanya Lucy Lu antuasias.
“Biarkan Olivia duduk dulu, Ma."
Lucy Lu mengikuti langkah Olivia dan Vincent lalu duduk di samping kiri menantunya.
“Anak kami kembar, Ma.”
“Kembar?” Lucy Lu sangat terkejut setelah mendengar ucapan anaknya. Selama ini Vincent maupun Olivia belum mengatakan pada ibunya kalau mereka akan memiliki anak kembar, “mama akan memiliki dua cucu sekaligus maksudmu?”
Vincent mengangguk santai lalu menjawab, “Iyaa dan jenis kela-minnya perempuan dan laki-laki.”
Lucy Lu menutup mulutnya dengan wajah terkejut sekaligus senang. “Astagaaa. Tidak hanya mendapatkan dua cucu sekaligus, tetapi mama akan memiliki cucu perempuan dan laki-laki? Ini adalah berita yang sangat menggembirakan.”
Olivia dan Vincent tersenyum senang saat melihat reaksi Lucy Lu yang terlihat sangat gembira.
“Mama harus mengadakan perayaan besar.”
Mendengar itu, Vincent segera menghentikan ibunya. “Ma, sebaiknya jangan dulu.”
Wajah Lucy Lu terlihat kecewa setelah mendengar larangan anaknya. "Kenapa?"
“Usia kehamilan Olivia belum 7 bulan. Lebih baik kita tunggu 2 bulan lagi.”
Meskipun kecewa, namun Lucy Lu tidak bisa berbuat banyak. Ada beberapa mitos yang beredar di masyarakat kalau tidak boleh mengadakan perayaan jika usia kehamilan belum genap 7 bulan. Ditakutkan akan terjadi apa-apa nanti dan Lucy Lu tidak mau itu terjadi dengan calon cucunya. Meskipun sebenarnya dia juga tidak terlalu percaya dengan hal itu, namun ada baiknya dia menghindarinya.
“Baiklah, tapi setelah 7 bulan, mama akan membuat perayaan yang sangat besar.”
“Iyaa. Itu terserah Mama."
Selesai berbincang dengan Lucy Lu, Vincent dan Olivia kembali ke kamar. Selagi menunggu istrinya berganti pakaian, Vincent berbaring sambil memainkan ponselnya. Selesai berganti pakaian, Olivia berjalan menuju meja rias untuk menyisir rambutnya. Sejak tadi dia melihat suaminya nampak menatap serius layar ponselnya hingga mengabaikan dirinya yang baru saja keluar dari walk in closet.
"Cent?” panggil Olivia.
“Hmmmm.”
“Kau sedang apa?” tanya Olivia sambil menatap suaminya dari pantulan cermin di depannya.
“Membalas pesan.”
Olivia meletakkan sisir dengan kasar karena hanya mendapatkan tanggapan singkat dari suaminya. Dia berjalan ke arah tempat tidur lalu duduk di samping suaminya yang sedang duduk bersandar di headboard. “Kau sedang mengirim pesan pada siapa? Kenapa mengabaikan aku?” Olivia segera merebut ponsel suaminya dengan wajah kesal.
Vincent hanya tersenyum saat melihat istrinya memeriksa ponselnya. “Sudah memeriksanya?” tanya Vincent setelah Olivia meletakkan ponselnya di atas nakas.
“Kau tidak suka kalau aku memeriksa ponselmu?” Olivia mencebikkan bibirnya dengan tatapan curiga.
Vincent menarik istrinya dan mendudukkannya di atas pahanya. “Kenapa belakangan ini kau sering sekali cemburu, Sayang? Apa kau tidak tahu kalau aku sangat mencintaimu?”
Olivia memalingkan wajahnya ke samping dan menjawab dengan ketus. “Tidak. Aku tidak tahu.”
Vincent terkekeh melihat ekspresi mengemaskan istrinya. “Sudah ada darah dagingku di perutmu, kau masih meragukan aku?”
Olivia tidak menjawab dan masih memalingkan wajahnya ke samping kanan. Melihat itu, Vincent hanya bisa menghela napas. Mungkin sikap Olivia saat ini dipengaruhi oleh hormon ibu hamil.
“Lihat aku, Sayang.” Vincent mencubit dagu istrinya dengan lembut lalu memutarnya hingga mereka saling bertatapan, “Aku tidak tahu kenapa kau masih meragukan aku, tapi satu hal yang harus kau tahu, hanya kau yang paling aku cintai. Hanya kaulah yang berhak menjadi ibu dari anakku.”
__ADS_1
Usai mengatakan itu, bibir keduanya pun bertemu. Mereka kembali mengulang kegiatan yang menguras keringat seperti malam sebelumnya.
Bersambung….