
"Nona Olivia, kau dipanggil oleh Direktur Jerome," ucap Wanitayang baru saja masuk ke ruangan kerja Olivia.
Wanita itu adalah sekretaris Direktur di kantor Olivia yang baru. Lima bulan lalu setelah putus hubungan dengan Vincent, Olivia langsung mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja setelah tahu kalau itu adalah perusahaan keluarga Reno. Kini Olivia bekerja di perusahaan kecil dan berkat kemampuannya dia menempati posisi Manager di tempatnya yang baru.
Semua yang berhubungan dengan Vincent sengaja dia jauhi. Satu-satunya orang yang tidak memiliki hubungan dekat dengan Vincent hanyalah Alvin, itulah sebabnya dia tidak menjauhinya. Lagi pula, dia sudah mengkambing hitamkan Alvin ketika putus dengan Vincent, meskipun sebenarnya itu atas persetujuan Alvin, tapi bagaimana pun Olivia merasa bersalah karena sudah memanfaatkannya jadi dia tetap menjalin hubungan pertemanan dengan Alvin.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Nesya yang sedang berada di ruangan Olivia bertanya dengan wajah heran. Direktur Jerome adalah pria berumur 50 tahun. Perlakukannya terhadap bawahannya sangat baik, itulah sebabnya dia sukai dan dihormati oleh semua karyawannya.
Olivia hanya menjawab dengan mengelengkan kepalanya dengan pelan. "Aku temui Direktur Jerome dulu." Olivia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ruangan Direktur di lantai atas.
"Olivia, besok temani aku untuk pergi ke suatu tempat untuk membicarakan kerja sama. Ini sangat penting, mengingat perusahaan itu adalah perusahaan terbesar di negeri kita jadi aku membutuhkanmu untuk menemaniku ke sana."
Olivia mengerutkan kening secara tidak sadar mendengar itu. "Aku rasa kau yang paling cocok untuk menemaniku, mengingat dulunya kau sering membuat kesepakan kerja sama dengan perusahaan besar saat bekerja di perusahaan ayahmu."
Yaa, Olivia memang menjelaskan secara garis besar tentang pekerjaan yang dia lakukan ketika dia masih bekerja di perusahaan ayahnya saat interview terakhir dengan Direktur Jerome.
"Perusahaan mana yang Direktur maksud?"
"Perusahaan Wijaya Group."
Mata Olivia membesar seketika. Selama ini dia sudah berusaha menjauhi apapun yang berhubungan dengan Vincent, tapi kini justru atasannya sendiri yang memintanya. Ingin menolak, tapi tidak bisa. Direktur Jerome sangat baik padanya. Disaat banyak perusahaan menolak dirinya, hanya perusahaan milik Direktur Jerome yang mau menerimanya.
__ADS_1
"Direktur, apa tidak sebaiknya Anda datang bersama dengan sekertaris Anda? Aku tidak begitu mengerti tentang perusahaan Wijaya Group dan aku takut nantinya akan mengacaukannya."
Itu bukan alasan yang sengaja dibuat olehnya, tapi mungkin saja itu akan terjadi jika Vincent mengetahui kalau tempatnya bekerja ingin menjalin kerja sama dengan perusahaannya untuk menghindari kerugian yang semakin besar. Vincent membencinya, bisa saja nanti Vincent membalas dendam dengan dirinya melalui perusahaan tempatnya bekerja.
"Kau cukup temani aku ke sana nanti, lainnya biar aku yang urus. Bantu aku, Olivia. Perusahaan ini tidak tahu akan bertahan berapa lagi jika kita gagal mendapatkan kerja sama ini."
Olivia menatap ke bawah sebentar, berpikir sejenak lalu akhirnya mengangguk. Ini urusan pekerjaan, tidak seharusnya Vincent melibatkan urusan pribadi ke dalam urusan pekerjaan, bukan? Itu hanya pemikiran Olivia saja, tidak tahu bagaimana reaksi Vincent nantinya saat bertemu dengannya lagi.
Tiba hari di mana mereka datang ke perusahaan Wijaya, Olivia menapakkan kakinya untuk pertama kalinya di Wijaya Group dengan perasaan gugup. Jantungnya memacu dengan cepat ketika dia berdiri di depan loby bersama dengan Direktur Jerome. Setelah memberitahukan maksud kedatangan mereka pada receptionist di bawah, mereka di antarkan oleh seorang wanita cantik menuju ruangan tunggu di lantai atas dan meminta mereka untuk menunggu sejenak.
Setelah kepergian wanita itu, Olivia dan Direktur membahas beberapa hal sambil menunggu kedatangan Presdir Vincent dan sekretarisnya. Sepuluh menit berlalu dan tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka. Olivia menoleh dengan jantung yang berdebar kencang. Ketika melihat siapa yang masuk, pundak Olivia secara tidak sadar merosot ke bawah.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu." Seorang pria berumur 50 tahun masuk bersama dengan seorang wanita.
"Begini, Presdir kami tiba-tiba saja ada urusan mendadak jadi tidak bisa menemui kalian. Aku akan mewakilinya."
Ada perasaan lega di hati Olivia karena dia tidak harus bertemu dengan Vincent secara langsung. Mereka pun mulai membahas mengenai pengajuan kerja sama selama sekitar 30 menit.
"Aku akan membahasnya dengan Presdir Vincent dulu. Aku akan akan mengabari kalian lagi nanti."
Dua hari kemudian mereka mendapatkan kabar dari Wijaya Group. Direktur Jerome diminta untuk langsung datang ke perusahaan Wijaya dengan membawa surat perjanjian. Ketika mendapatkan kabar itu, Direktur Jerome merasa sangat senang. Kali ini, hanya Direktur Jerome yang datang ke sana tanpa ditemani Olivia.
Siang harinya, Direktur Jerome kembali dari perusahaan Wijaya Group dan langsung meminta Olivia untuk datang ke ruangannya. Ketika melihat wajah lesu Direktur Jerome, Olivia merasa heran dan dia tidak tahan untuk bertanya.
__ADS_1
"Presdir Vincent tidak mau melakukan kerja sama dengan perusahaan kita."
"Kenapa? Bukankah mereka sudah setuju untuk bekerja sama dengan kita?"
Wijaya Group sudah meminta mereka membawa surat pernjanjian kerja sama, bukankah itu artinya mereka sudah setuju dengan kerja sama itu.
"Dia langsung menolak saat aku mengatakan kalau kau yang akan menjadi penanggung jawab kerja sama ini."
Melihat wajah kecewa Direktur Jerome, Olivia seketika merasa bersalah. "Aku akan menemui dengan Presdir Vincent dan mengatakan kalau akan mundur. Dia pasti setuju bekerja sama jika bukan aku penanggung jawabnya."
Direktur Jerome menggeleng pelan dengan wajah lesunya. "Percuma, aku sudah mengatakan itu pada Presdir Vincent dan dia tetap menolak."
Hembusan napas panjang Direktur Jerome terdengar jelas di telinga Olivia. Bekerja sama dengan perusahaan Wijaya Group adalah cara terbaik untuk menyelamatkan perusahaan mereka jadi Olivia bisa mengerti kalau Direktur Jerome sangat kecewa karena kerja sama tersebut ditolak oleh Vincent.
"Apa tidak ada persyaratan lain darinya agar Presdir Vincent tetap menyetujui kerja sama ini?"
"Tidak ada, kecuali...." Direktur Jerome memandang Olivia dengan tatapan rumit.
"Kecuali apa?"
"Kecuali aku memecatmu dari perusahaan ini."
Bersambung....
__ADS_1