
“Bersiaplah. Aku akan menunggu di depan.”
Vincent bangkit dari duduknya setelah mengatakan itu. Siang ini Vincent akan mengajak istrinya untuk jalan-jalan. Tadinya dia tidak mau pergi karena ingin Olivia berisitirahat selama sehari, tapi saat melihat wajah kecewa istrinya, dia merasa tidak tega. Itu sebabnya setelah beristirahat selama 3 jam di kamar, Vincent memutuskan untuk mengajak istrinya untuk jalan-jalan.
Sebelum pergi Vincent sudah meminta Edric untuk mencari tahu tempat wisata yang bagus dan memiliki keindahan pantai yang indah. Karena Vincent tidak menyukai tempat keramaian, itu sebabnya hari ini dia akan mengajak istrinya ke tempat wisata tidak terlalu ramai tetapi memiliki keindahan alam bagus.
“Kita mau ke mana?” Olivia bertanya pada suaminya ketika mereka berdua sedang berjalan menuju helikopter yang sudah berada di landasan helipad.
“Kau bilang ingin jalan-jalan.” Vincent menghentikkan langkah lalu menoleh pada istrinya, “kita akan naek helikopter untuk jalan-jalan.”
Alasan kenapa Vincent memilih mengendarai helikopter dibandingkan dengan mobil, selain bisa mempersingkat waktu, itu juga demi kenyamanan istrinya. Berkeliling menggunakan helikopter adalah pilihan terbaik menurut Vincent.
“Benarkah?” tanya Olivia antusias.
Ini akan menjadi pengalaman pertama bagi Olivia menaiki helikopter jadi merasa sangat senang, meskipun ada sedikit ketakutan di hatinya karena naik helikpter tidak akan sama dengan naik pesawat komersial ataupun jet pribadi.
“Hhhmmm,” gumam Vincent sambil mengangguk, “dan aku yang akan menerbangkannya.”
Olivia nampak tercengang setelah mendengar ucapan suaminya. Bukan mengemudikan mobil, tapi menerbangkan helikopter. Tentu saja itu membuat Olivia sangat terkejut.
“Memangnya kau bisa menerbangkan helikopter?” tanya Olivia dengan ekspresi tidak percaya.
“Yaa. Dulu aku sering menerbangkannya.”
Olivia terdiam. Dia masih tidak menyangka suaminya bisa menerbangkan helikopter. Masalahnya dia saja tidak pernah melihat suaminya mengendarai mobilnya sendiri dan sekarang dia bilang bisa menerbangkan helikopter, itu adalah sebuah pernyataan yang sangat membuatnya terkejut.
“Apa kau memiliki lisensi pribadi untuk menerbangkan helikopter?”
“Hhhmmm.” Vincent menjawab dengan gumaman dan anggukan ringan.
Vincent sudah berlatih menerbangkan helikopter sejak umur 19 tahun dan dia sudah memiliki lisensi pribadi yang resmi untuk menerbangkan helikopter pada umur 20 tahun. Sebelum terjun ke perusahaan, Vincent sering menerbang helipkopter pribadi jika dia ingin berlibur ke daerah yang tidak terlalu jauh dari Jakarta.
Dulu Vincent pernah memiliki cita-cita untuk menjadi pilot. Setelah lulus dia ingin masuk ke sekolah penerbangan, tetapi ditentang keras oleh ibunya. Vincent diminta untuk mengambil jurusan binnis karena dirinya harus mengambil alih perusahaan keluarga mereka jika sudah lulus kuliah.
“Vincent Wijaya, apakah di dunia ini ada yang tidak bisa kau lakukan? Atau ada hal yang sulit kau taklukan hingga membuatmu iri pada orang lain?”
Olivia bertanya sambil menatap penuh ke kekaguman pada pria tampan yang sedang mengenakan kaca mata hitamnya di hadapannya itu. Bagaimana bisa dia memiliki banyak sekali keahlian tersembunyi yang tidak semua orang bisa kuasai.
Vincent menatap dalam pada istrinya lalu berkata, “Ada.”
“Apa?” tanya Olivia dengan antusias.
Vincent melepas kaca mata hitamnya lalu berkata, “Dirimu. Sangat sulit menaklukan dirimu. Aku iri dengan Alvin karena bisa menjadi pacar pertamamu.”
Olivia memalingkan wajahnya ke samping saat mendapatkan tatapan begitu lekat dari suaminya. Kalau Vincent tahu kalau dirinyalah yang sudah mendapatkan cintanya dari awal, mungkin dia akan merasa sangat senang dan tidak akan iri lagi dengan Alvin.
__ADS_1
“Dari dulu aku tidak mencintainya.” Olivia menunduk dengan wajah malu, “Kau pria pertama yang mendapatkan segalanya dariku.”
“Yaa, aku tahu. Itu sebabnya aku tidak akan pernah melepasmu.”
Mereka berdua saling memandang dengan tatapan lekat hingga Edric datang menghampiri Vincent dan mengatakan kalau semuanya sudah siap.
“Ayo, pergi.”
Vincent menarik tangan Olivia dengan lembut, mendekati beberapa orang yang sedang berdiri di samping helikopter. Vincent berbincang selama 10 menit dengan pria tinggi yang berdiri di samping Edric setelah itu mengajak Olivia untuk menaiki helikopter.
“Apa Edric tidak ikut dengan kita?” tanya Olivia setelah duduk di samping Vincent. Dia duduk di samping Vincent kiri sambil memperhatikan suaminya yang sedang memeriksa beberapa system mengudara.
Lain pesawat, lain helicopter. Tradisi kapten pilot duduk di sebelah kiri tak berlaku di helikopter. Justru sebaliknya, kapten pilot pada helikopter umumnya duduk di sebelah kanan untuk memegang kontrol penuh pada sensitive cyclic control stick pesawat.
“Tidak. Hanya kita berdua saja. Dia akan akan menyusul kita dengan helikopter lainnya.” Selain Vincent, Edric juga bisa mengendarai helikopter karena dulunya dia berlatih dengan Vincent.
“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”
“Apa?” tanya Vincent sambil menoleh pada istrinya.
“Kenapa tidak memberitahuku kalau kau bisa menerbangkan helikopter?”
“Kau tidak pernah bertanya," jawab Vincent dengan enteng, "selain aku, mantan kekasihmu juga bisa menerbangkan helikopter.”
Olivia mengerutkan keningnya sejenak, detik selajutnya kerutannya perlahan hilang saat tahu siapa yang dimaksud oleh Vincent. “Kenapa tiba-tiba membahasnya? Aku tidak suka kau membahasnya saat kita sedang berdua.” Olivia menampilkan wajah kesalnya karena Vincent kembali memasukkan Alvin ke dalam percakapan mereka.
“Maafkan aku. Aku masih belum bisa mengendalikan rasa cemburuku padanya.” Vincent memajukan tubuhnya ke arah Olivia untuk memeriksa sabuk perngamam istrinya lalu memasang headphone di telinganya, “apa kau sudah siap?” tanya Vincent setelah memakai kaca mata hitam yang semakin menambah ketampanannya.
“Iyaaa.”
Saat Vincent mulai menerbangkan helikopternya, Olivia terlihat sangat tegang. Ini pertama kalinya dia naik helikopter dan itu membuatnya sedikit takut. Dia terlihat meremas kuat tangannya dengan wajah tegang.
“Santai saja, Sayang. Jangan takut. Aku sudah ahli dalam menerbangkan helikopter.”
“Iyaaa."
Rasa takut yang semula dia rasakan perlahan menghilang saat melihat kepiawaian Vincent dalam menerbangkan helikopter. Urat-urat tegang di wajah serta leher Olivia perlahan mengendur dan dia pun bisa bernapas dengan teratur saat melihat pemandangan di bawah mereka.
“Kita akan ke mana?” tanya Olivia setelah mereka berada di udara selama 10 menit.
“Rahasia.”
Olivia mengerucutkan bibir ke depan karena tidak mendapati jawaban yang dia inginkan dari suaminya. Dia akhirnya memalingkan wajahnya ke depan dan melihat pemadangan menakjubkan di depannya. Pemandangan tebing karang, gunung, danau, laut serta pantai yang ada di bawah membuat Olivia terpana. Setelah mengudara selama dua jam lamanya, Olivia akhirnya mengalihkan pandangannya ke samping.
“Lihat ke depan, Sayang. Kau bisa membuyarkan konsentrasiku kalau kau terus menatapaku seperti itu,” ucap Vincent tanpa menoleh pada istrinya.
__ADS_1
“Aku hanya ingin melihat wajah suamiku saja.” Olivia tersenyum sambil terus menatap ke arah suaminya dengan tatapan kagum, “kenapa kau bisa setampan ini? Apa yang dimakan oleh ibumu ketika kau berada di dalam kandungannya?”
Ucapan Olivia membuat Vincent tergelitik dan Olivia baru menyadari kalau Itu adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah dia lontarkan selama ini kepada Vincent. Bagaimana tidak, sudah jelas dari mana ketampanan itu Vincent peroleh, tapi masih bertanya dengan bodohnya.
“Jangan menggodaku, Sayang. Kau bisa membahayakan kita. Aku bisa menjatuhkan helikopter ini jika sampai kau membuyarkan konsentrasiku.”
Olivia langsung membatu dan jantungnya langsung berdetak dengan kencang setelah mendengar itu. “Maaf.” Setelah mengatakan itu, Olivia tidak lagi membuka suaranya dan memilih untuk menikmati pemadangan yang ada.
“Sayang lihat ke sana.”
Vincent menunjukkan ke sebuah pantai dengan hamparan pasir berwarna pink. Pantai yang berada di Lombok itu merupakan salah satu dari tujuh pantai di dunia yang memiliki hamparan pasir berwarna pink.
“Waah indah sekali.” Matanya menatap kagum pada pantai yang berada di depan mereka.
“Lihat ke sebelah kiri.”
Olivia langsung memutar kepalanya ke kiri dan melihat ada tulisan “Welcome to Lombok Mrs. Vincent Wijaya” Itu adalah ucapan selamat datang untuk Olivia yang dibuat dengan menggunakan ratusan kelopak bunga mawar. Di bawah tulisan selamat datang, ada tulisan “I Love You My Wife” dan didekat tulisan itu terdapat sebuah tenda berwarna putih yang sudah di dekorasi sedemikian rupa hingga terlihat sangat indah.
“Cent ini….” Olivia menoleh sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Dia tidak bisa meneruskan kata-kata karena terlampau terkejut.
“Bagaimana? Apa kau suka dengan kejutannya” tanya Vincent dengan senyuman tipisnya.
“Ini indah sekali, Cent. Aku sangat menyukainya.”
Vincent tersenyum puas karena dia berhasil memberikan kejutan pada istrinya. “Kau lebih menyukai kejutan ini atau aku?”
“Tentu saja lebih menyukaimu. Di dunia ini kaulah yang paling aku sukai.” Kedua orang tuanya sudah tidak ada jadi saat ini Vincentlah orang paling dia cintai.
Jawaban Olivia membuat hati Vincent berbunga. “Kalau begitu, kita kembali ke vila sekarang.”
“Kenapa kembali?” tanya Olivia cepat, “bukankah ini sengaja kau persiapkan untukku? Aku ingin melihatnya dari dekat.”
“Bujuk aku dulu. Jika berhasil, aku akan mendaratkan helikopter ini di sana.”
“Suamiku, bisakah kita melihatnya dari dekat?"
Ucapan Olivia nampaknya belum cukup untuk membujuk Vincent. Helikopternya masih mengudara di sekitar pantai itu dan belum terlihat akan mendarat ke bawah.
“Sayaang, bisakah kita mendarat di pinggir pantai cantik itu? Aku akan menuruti semua permintaanmu asalkan kau mau membawaku ke sana.”
Ucapan Olivia kali ini mampu membuat Vincent memalingkan wajahnya sebentar pada istrinya. “Benarkah? Apapun yang aku minta akan kau kabulkan?” tanya Vincent antusias.
“Iyaaa.”
Vincent tersenyum penuh arti setelah itu menatap ke depan. “Baiklah. Aku akan mendaratkan helikopter ini di sana.”
__ADS_1
Bersambung....