Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Meracau


__ADS_3

Axel, Reno dan juga Frans saling melirik saat melihat Vincent sejak tadi terus menenggak minuman alkohol yang ada di gelasnya. Jika sudah kosong, dia akan mengisi gelasnya sendiri dan kembali menenggaknya hingga habis, begitu seterusnya.


Malam ini, tiba-tiba saja mereka dihubungi oleh Vincent dan meminta mereka semua untuk datang ke club Reno. Mereka pikir Vincent akan mengadakan pesta bujang karena dua hari lagi dia akan menikah, nyatanya dia hanya minta ditemani minum saja.


“Cent, ada apa denganmu? Kenapa kau minum seperti itu?” Axel akhirnya bertanya pada Vincent karena tidak tahan dengan keheningan yang sudah tercipta sejak dirinya masuk ke ruangan itu.


“Apa terjadi sesuatu denganmu dan Jesica?” timpal Reno dengan wajah prihatin.


Vincent meletakkan gelas di atas meja lalu menatap mereka berdua secara bergantian. “Kalau kalian bosan, kalian bisa pulang.”


Axel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Reno menghela napas. Mereka berdua tidak mau bicara lagi dan memilih untuk membiarkan Vincent minum sepuasnya. Setelah melihat Vincent mulai mabuk, Frans akhirnya bertanya pada Edric.


“Ada apa dengannya?”


“Saya juga tidak tahu, Tuan. Suasana hati tuan muda menjadi buruk setelah bertemu dengan nona Olivia.”


Setelah mendengar itu, mereka bertiga menghela napas bersamaan. Selama ini mereka memang tahu kalau hanya Olivia yang mampu menjungkir-balikkan dunia Vincent dengan mudah, tapi mereka pikir, setelah berpisah selama setengah tahun, Olivia sudah tidak memiliki pengaruh apapun pada Vincent karena setelah kembali dari Amerika, Vincent tidak pernah membahas Olivia lagi, tapi ternyata dugaan mereka salah. Pengaruh Olivia masih sangat besar pada kehidupan sahabat mereka.


“Lebih baik kau hubungi Olivia sekarang. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka,” saran Reno pada Edric.


“Apa kau gila? Dua hari dia akan menikah dengan Jesica. Bagaimana kalau Jesica tahu? Pernikahan mereka bisa hancur karena itu.”


“Yang dikatakan Axel ada benarnya. Kita bisa saja membuat masalah baru jika kita menghubungi Olivia.”


Pukul 12 malam, mereka semua berencana untuk pulang, tapi Vincent masih tetap ingin di sana. Dia meminta mereka semua untuk pulang lebih dulu.


“Edric, jaga Vincent baik-baik. Kami pulang dulu," ucap Frans sebelum keluar dari ruangan itu.


Sebenarnya mereka masih ingin menemani Vincent di sana, tapi karena besok mereka semua harus bekerja jadi mau tidak mau mereka harus pulang lebih dulu.


*****


Olivia tiba-tiba terbangun ketika mendengar ponselnya berbunyi. Ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya, dia mengerutkan keninganya secara tidak sadar. Dengan wajah ragu, Olivia mengangkat telpon tersebut setelah berdering cukup lama. Ketika telponnya tersambung, Olivia semakin mengerutkan keningnya ketika mendengar orang tersebut meracau tidak jelas.


“Apa kau mabuk?”


“Aku tidak mabuk,” jawab Orang yang menelpon Olivia, “aku merindukanmu.”


Olivia menghela napas panjang setelah mendengar ucapan terakhir orang itu. Sudah dipastikan kalau orang itu mabuk, jika tidak, dia tidak mungkin mengatakan itu padanya.


“Kau di mana, aku akan menemuimu.”


“Aku?” ulang Orang tersebut.


“Ya, kau di mana?”

__ADS_1


“Aku tidak tahu.”


Mendengar orang tersebut tertawa, Olivia akhirnya mematikan telponnya lalu menghubungi orang lain. “Edric, apa Vincent bersamamu?”


Setelah mendapatkan jawaban dari Edric, Olivia kembali bertanya, “Di mana kalian berada?”


“Baiklah. Aku akan segera ke sana, tunggu aku.”


Olivia bergegas mengganti pakaiannya lalu keluar dari apartemen. Dia memesan taksi dan menunggu selama sepuluh menit. Dalam perjalanan, dia mencoba menghubungi Jesica, tapi tidak diangkat olehnya, sepertinya dia sudah tidur. Setelah mencoba menghubungi Jesica dua kali, tapi tidak diangkat, Olivia akhirnya menyimpan ponselnya di saku.


Satu jam kemudian dia tiba di depan club malam Reno, tempat di mana dulunya dia bekerja. Olivia segera menuju ruangan yang sudah di beri tahu oleh Edric. Setibanya di sana, dia melihat Vincent sedang duduk dengan kepala tertunduk ke bawah.


“Kenapa kau tidak membawanya pulang?” tanya Olivia pada Edric setelah dia menutup pintunya.


“Tuan muda tidak mau.”


Olivia duduk di samping Vincent dan mencoba menyadarkannya. “Cent, ayo kita pulang. Kau sudah mabuk.”


Vincent pun langsung mengangkat kepalanya setelah mendengar suara Olivia. Dia tersenyum dengan bodoh lalu berkata, “Olivia, kau ke mana saja selama ini? Kenapa tidak pernah mendatangiku sejak kita berpisah?”


“Ayo kita pulang.” Olivia mengabaikan pertanyaan Vincent dan memilih meraih tangannya, tapi ditepis olehnya.


“Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja setelah kita berpisah?” tanya Vincent setengah sadar.


“Apa saja yang kau lakukan selama ini? Apa kau tahu kalau aku sangat merindukanmu?”


Olivia menatap Vincent dengan sendu saat melihat tatapan penuh kerinduan dalam sorot matanya. “Kau tidak mungkin merindukanku. Kau membenciku, Cent.”


Vincent tertawa mendengar itu. “Apa kau tahu kalau aku sangat cemburu dengan Alvin? Melihatmu sangat dekatnya, ingin rasanya aku menghajarnya hingga babak belur.”


Olivia hanya diam dan tidak membalas ucapan Vincent. Dia tahu kalau Vincent sedang mabuk jadi dia berbicara dengan sembarangan.


“Melihatmu baik-baik saja tanpaku, aku merasa marah, Olivia. Seharusnya kau sama sepertiku, menderita karena tidak bisa melihatmu. Aku tidak baik-baik saja saat kau tidak ada, Olivia.”


Tiba-tiba saja mata Olivia berkaca-kaca. Dia mendongakkan kepalanya ke atas agar air matanya tidak jatuh.


“Kenapa kau kejam sekali? Setelah meninggalkan aku, kau bahkan tidak pernah mencari tau tentang aku. Seharusnya kau mencari tahu, apakah hidupku baik-baik saja setelah kepergianmu? Kau memang tidak pernah peduli padaku,” racau Vincent seraya menatap sendu Olivia, “asal kau tahu, aku sangat menderita setelah kau pergi meninggalkanku. Kau menghancurkan hidupku, Liv. Kau adalah wanita paling kejam yang pernah aku kenal.”


Ketika melihat mata Vincent memerah, pelupuk mata Olivia sudah dipenuhi oleh cairan bening. “Aku memang wanita yang kejam, maka dari itu, lupakan aku, Cent.”


Olivia mulai terisak. Dia tidak sanggup lagi menahan tangisnya saat melihat tatapan terluka di dalam sorot mata Vincent, “Hiduplah dengan bahagia setelah ini. Jangan pernah mengingatku lagi.”


“Bagaimana bisa aku melupakanmu kalau kau saja sudah menjadi bagian dari diriku? Semenjak kau mendonorkan darahmu untukku, seluruh hidupku sudah menjadi milikmu, Liv. Kita sudah menjadi satu. Kau hidup dalam diriku.”


Olivia sedikit terkejut mendengar itu. Dia pikir selama ini Vincent tidak tahu kalau dirinya pernah mendonorkan darah untuknya. Olivia tidak menyangka kalau Vincent sudah tahu hal itu.

__ADS_1


“Aku tidak akan bisa bahagia jika tidak bersamamu, Liv. Kau segalanya bagiku, apa kau tidak tahu itu?”


Buliran bening yang awalnya menggenang di pelupuk mata Vincent, akhirnya jatuh juga ke pipinya. Ini pertama kalinya Olivia melihat Vincent menangis.


“Kau pasti bisa bahagia, Cent. Sebentar lagi kau akan menikah dengan Jesica.”


Vincent menggeleng lemah lalu berkata, “Aku tidak akan bahagia bersama Jesica. Aku tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu. Tidak bisakah kau melihat seberapa besar cintaku?”


Air mata Olivia semakin deras setelah mendengar ucapan Vincent. Entah dia sadar atau tidak saat mengatakannya, tapi yang pasti hati Olivia sakit ketika mendengar itu. “Aku tidak pantas kau cintai, Cent.”


“Kau memang egois. Selalu memikirkan dirimu sendiri. Kau meninggalkan aku tanpa tahu bagaimana terpuruknya aku.”


Olivia menunduk dengan wajah bersalah saat ditatap begitu dalam oleh Vicent. “Maafkan aku, Cent. Aku memang bukan wanita yang baik.”


Vincent memajukan tubuhnya lalu meraih tangan Olivia. “Menikahlah denganku. Kita kabur saja dari sini, bagaimana? Kita pergi ke tempat yang jauh.”


Olivia menggeleng lemah seraya melepaskan genggaman Vincent. “Maaf, Cent. Aku tidak bisa.”


“Kenapa tidak bisa? Aku mohon, menikahlah denganku, Olivia. Aku akan memaafkan semua kesalahanmu asalkan kau mau menikah denganku.”


Hati Olivia seperti digores benda tajam saat melihat Vincent memohon dengan wajah mengiba. “Aku tidak bisa menikah denganmu. Sudah aku bilang aku tidak mencintaimu.”


“Kau pasti berbohong. Aku tahu kalau kau mencintaiku.”


“Kau salah, Cent. Orang yang aku cintai adalah Alvin dan orang akan aku nikahi nanti adalah Alvin. Dari dulu aku tidak pernah mencintaimu.”


Tatapan Vincent yang awalnya meredup, seketika berubah menjadi tatapan dingin. “Kau melukaiku lagi, Liv. Apa kau tidak takut mendapatkan karma suatu saat nanti karena menyakiti berkali-kali?”


“Jika memang semua salahku, aku persilahkan karma mendatangiku.”


“Kau memang sombong dan angkuh. Aku sudah memohon padamu untuk menikah denganku, tapi kau dengan tega menolakku. Bahkan kau menyakitiku dengan kata-katamu," ujar Vincent dengan wajah marah, "kalau begitu, tunggu dan lihat saja, bagaimana aku menikahi Jesica dan kupastikan kau merasakan sakit yang lebih dari apa yang aku rasakan selama ini.”


Vincent mencoba bangun, tapi dia hampir saja jatuh jika tidak dipegang oleh Olivia. “Lepaskan aku! Aku tidak mau disentuh oleh wanita sepertimu.”


Setelah Vincent menepis tangan Olivia dan mencoba untuk bangkit, tapi tubuhnya tiba-tiba saja ambruk dan dia pun tidak sadarkan diri.


“Edric, bantu aku bawa dia.”


Dengan sikap Edric membantu Olivia kemudian memapah Vincent menuju pintu keluar. Olivia mengantar Vincent hingga ke apartemennya. Setelah dibaringkan di ranjang, Edric berpamitan keluar pada Olivia.


“Cent, besok ketika kau bangun, kau pasti akan melupakan semua yang aku katakan tadi. Aku harap kau bisa hidup bahagia setelah ini. Aku tulus mendoakanmu.”


Ketika Olivia akan berbalik, tangannya diraih oleh Vincent. Tubuh Olivia lansung menimpa Vincent saat tangannya tiba-tiba saja ditarik dengan kuat. “Jangan pergi.” Vincent menggulingkan tubuh Olivia ke samping lalu memeluk erat tubuhnya hingga Olivia tidak bisa bergerak. “Aku sangat merindukanmu, Liv.”


Bersambung…..

__ADS_1


__ADS_2