
Ketika tirai akan dibuka oleh Jesica, Olivia bergegas berteriak. "Jangan dibuka! Aku sedang tidak memakai apapun."
Setelah mendengar itu, Jesica pun langsung menghentikan jemari tangannya yang akan membuka tirai di depannya. "Maaf, aku tidak tahu." Jesica menarik tangannya lalu mundur dua langkah.
Setelah melihat tidak ada pergerakan di luar, Olivia membuka 3 kancing teratas bajunya dengan cepat, membuka lebar-lebar kemejanya hingga menampilkan bahu serta leher jenjang kemudian melongokkan kepalanya keluar melalui celah tirai yang dia buka sedikit. Kedua tangannya memegang kedua sisi tirai supaya tidak terbuka.
"Maaf Jes, aku sedang mencoba gaun juga. Bisakah kau tunggu aku sebentar? Aku akan memakai pakaianku baru keluar menyusulmu."
Jesica menatap Olivia selama beberapa saat lalu tersenyum. "Baiklah."
Setelah melihat Jesica berjalan ke arah tempat duduk, Olivia menarik kepalanya ke dalam, membenahi pakaiannya dengan wajah acuh tak acuh, mengabaikan pandangan aneh Vincent padanya. Dia sudah tidak memperdulikan apa yang dipikirkan oleh Vincent saat dirinya melepas kancing baju tadi.
Terserah dia mau berpikir apa tentangku. Lagi pula, dia sudah menilaiku dengan buruk jadi tidak masalah kalau menambah satu keburukan lagi.
Selesai membenahi bajunya, Olivia menatap Vincent dengan tajam. "Aku akan menemui Jesica. Jangan keluar sebelum Jesica masuk dan berganti pakaian lagi.” Olivia berbicara dengan sangat pelan agar Jesica tidak mendengar suaranya.
Vincent tersenyum miring, mendekati Olivia lalu berbisik padanya, "Bagaimana kalau aku tidak mau?"
Aroma cologne Vincent menyapa indra penciuman Olivia ketika Vincent membungkuk dan itu membuatnya terlena untuk sesaat.
"Kalau sampai Jesica tahu kita berdua ada di sini, kau sendiri yang akan rugi jadi bekerjasamalah denganku, Cent," ucap Olivia penuh penekanan.
Dia tahu kalau Vincent sengaja mempermainkannya untuk membuatnya kesal dan marah.
"Tidak ada untungnya aku bekerja sama denganmu, Olivia. Aku justru ingin Jesica melihat kita berdua ada di sini, dengan begitu, dia akan membencimu. Bukan cuma dia, Alvin pun akan membencimu jika aku bilang kalau kau berkali-kali menggodaku karena ingin kembali denganku lagi."
Wajah Olivia memerah karena marah setelah mendengar itu. Kenapa pria itu tidak hentinya mengganggu dirinya. "Alvin tidak akan percaya denganmu."
"Benarkah?" Vincent menyeringai lalu berkata, "bagaimana kalau dia melihat ini?"
Vincent memperlihatkan adegan di mana mereka sedang berciuman di apartemennya melalui layar ponselnya. Kejadian itu terjadi saat Olivia mendatangi apartemen Vincent untuk mengatakan mengenai keputusannya.
"Bukan hanya Alvin, tapi aku akan memperlihatkan ini pada keluarganya dan juga temanmu. Apa yang akan mereka pikirkan jika melihat ini?"
"Cent, kau gila...." Olivia berusaha untuk meredam emosinya dan menekan suaranya karena takut Jecisa akan mendengar suaranya, "kenapa kau melakukan ini padaku?"
"Ini baru permulaan Olivia, aku akan membuat hidupmu lebih menderita lagi setelah ini. Akan kubuat semua orang membencimu dan juga menjauhimu agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang, sama seperti yang pernah aku rasakan saat kau meninggalkan aku waktu itu."
Tangan Olivia gemetar dan tatapannya meredup dengan bulu mata yang terus bergerak naik-turun. Dia tidak menyangka kalau Vincent sebenci itu padanya hingga ingin membuatnya dibenci dan dijauhi oleh semua orang.
"Terserah kau mau lakukan apa. Silahkan saja perlihatkan pada orang lain. Aku tidak peduli." Selesai mengatakan itu, Olivia keluar dari ruangan ganti melalui celah tirai yang tadi dia buka sedikit.
Jesica tersenyum lebar saat melihat Olivia berjalan ke arahnya. "Di mana gaunnya? Katamu kau sedang mencoba gaun juga?"
"Masih ada di ruangan ganti, aku belum sempat memakainya, aku akan memakai gaunnya setelah melihatmu."
Jesica menatap ke arah tirai yang masih tertutup sejenak kemudian beralih menatap Olivia. "Jadi seperti itu." Jesica tersenyum lalu berkata, "kalau begitu, coba nilai bagaimana penampilanku?"
Olivia menatap Jesica sebentar lalu menarik senyuman paksa. "Cantik, sangat cocok denganmu." Jesica memang terlihat sangat cantik dengan gaun itu dan Olivia mengakui itu.
"Benarkah?" Jesica menampilkan wajah malu-malu setelah mendengar pujian Olivia.
"Iyaaa, tapi lebih baik kita mencari gaun yang lain di bawah. Tadi aku melihat ada yang lebih bagus dari gaun ini."
__ADS_1
"Baiklah. Aku berganti lebih dulu."
Saat akan memasuki ruang ganti, pegawai tadi yang mencari Olivia ke bawah, datang kembali. Dia sedikit terkejut saat melihat sudah ada Olivia di sana.
"Tolong bantu aku melepas gaun ini, aku ingin mencoba gaun lain."
Dengan sigap pegawai wanita itu menuntun Jesica menuju ruangan ganti. Setelah tirai tertutup, Olivia bergegas menghampiri Vincent. Beruntung tidak ada orang lain di lantai 2 jadi Olivia langsung membuka tirai tempat di mana Vincent berada.
"Pergilah, sebelum ada yang melihatmu."
Bukannya pergi, Vincent justru melangkah santai menuju sofa yang menghadap ke tirai di mana Jesica berada.
"Kenapa kau malah duduk di sini?" tanya Olivia dengan wajah kesal.
Setelah menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menumpukan kaki kanannya di atas kaki kiri yang tertekuk, Vincent berkata dengan santai. "Sudah aku bilang, aku datang ke sini untuk melihat calon pengantinku."
Karena tidak ingin berdebat dengan Vincent, Olivia membiarkan pria itu berada di sana dan memutuskan untuk berdiri tidak jauh dari ruangan ganti Jesica. Setelah tirai terbuka, Jesica menghampiri Vincent dengan wajah terkejut.
“Kau bilang tidak ada datang ke sini karena sibuk?” Nada Bicara Jesica terdengar manja dan penuh kelembutan.
“Aku ingin memberikan kejutan padamu,” jawab Vincent sambil tersenyum manis padanya.
“Aku sudah mencoba satu gaun tadi, aku akan mencoba gaun yang lain. Kau tunggu di sini. Aku akan melihat-lihat sebentar ke bawah.”
“Iyaa, Sayang.”
Olivia langsung memalingkan wajahnya ke samping saat melihat Vincent mengusap pipi Jesica dengan penuh kasih sayang.
“Olivia, ayo kita ke bawah.”
“Cent, bagaimana penampilanku?” Jesica bertanya setelah tirainya dibuka.
Vincent tersenyum lalu menjawab, “Cantik sekali. Aku tidak salah memilihmu sebagai calon pendampingku. Aku jadi tidak sabar untuk segera menikahimu.”
Rasa nyeri kembali menyerang dada Olivia ketika mendengar pujian Vincent yang ditujukan untuk Jesica. “Aku juga tidak sabar menanti hari pernikahan kita tiba.” Wajah Jesica nampak memerah. Dia tersenyum malu-malu pada Vincent.
Setelah memperlihatkan gaun itu pada Vincent, Jesica kembali masuk ke dalam ruangan ganti dan mencoba gaun lain. Tidak hanya 1 gaun, Jesica mencoba hingga 3 gaun.
“Menurutmu, gaun yang mana yang cocok untukku?” tanya Jesic a asetelah dia selesai mencoba 4 gaun pengantin.
“Semuanya terlihat bagus dan cocok untukmu. Terserah kau saja mau yang mana. Bagiku, tanpa gaun itu pun kau sudah terlihat cantik.”
Wajah Jesica kembali memerah mendengar pujian Vincent. Sebenarnya dia belum terbiasa mendengar pujian dari Vincent. Ketika berpacaran dulu, Vincent jarang sekali memujinya dan baru akhir-akhir ini dia memuji dirinya, apalagi dia melakukan itu di depan orang lain.
“Aku bingung memilih yang mana.”
“Kenapa tidak bertanya pada Olivia? Dia pasti bisa memberikan pilihan bagus untukmu.”
Jesica yang tadinya terlihat bingung, seketika menoleh pada Olivia dengan senyuman lebarnya. “Liv, bagaimana menurutmu, gaun mana yang paling cocok untukku?”
“Yang pertama,” jawab Olivia sambil mengepalkan kedua tangannya.
Jesica menoleh pada Vincent pada setelah mendapatkan jawaban dari Olivia. "Kalau begitu, aku akan memilih yang pertama. Sayang sekali kau tidak melihatku saat aku mengenakan gaun itu tadi.”
__ADS_1
Vincent merapihkan rambut depan Jesica lalu berkata, “Tidak masalah, Sayang. Itu justru akan menjadi kejutan untukku di hari pernikahan kita nanti.”
“Kau benar.” Jesica tiba-tiba saja teringat dengan sesuatu dan dengan cepat menoleh pada Olivia, “Liv, sekarang giliranmu untuk mencoba gaun.”
Olivia tertegun beberapa detik setelah mendengar ucapan Jesica.
“Gaun apa, Sayang?” Vincent berpura-pura bertanya pada Jesica padahal dia sudah tahu maksud dari perkataan Jesica.
“Tadi sebelum kau datang, Olivia mencoba gaun pengantin, tapi belum sempat memakainya karena aku sudah memanggilnya.” Jesica mendekatkan tubuhnya pada Vincent lalu berbisik padanya, “Sepertinya dia sedang mencari gaun pengantin yang akan dia pakai jika nanti menikah dengan Alvin.”
“Jadi seperti itu.” Mata Vincent bergerak ke atas dengan cepat hingga pandangannya tertuju pada Olivia. Terlihat sekali kalau Vincent sedang menatap tajam pada dirinya, “kalau begitu, aku juga ingin melihat, gaun seperti apa yang dipilih oleh Nona Olivia.”
Setelah terdiam selama beberapa detik, Olivia akhirnya menatap ke arah Vincent kemudian membalas ucapannya. “Baiklah, jika itu maumu.”
Olivia tidak punya pilihan lain, selain mencoba satu gaun. Itu adalah alasan yang sengaja dia buat agar Jesica tidak curiga padanya tadi, jadi setidaknya dia harus mencoba satu gaun. Olivia kemudian menunjuk asal gaun dan meminta pegawai butik untuk membantunya memakai gaun itu.
“Cent, bagaimana cincin pernikahan kita?” tanya Jesica setelah melihat tirai di depannya sudah tertutup.
“Aku sudah memesannya dan akan di antarkan 4 hari lagi.”
“Kau tidak lupa dengan ukuran jari tanganku, kan?” gurau Jesica.
“Tentu saja tidak,” jawab Vincent seraya menatap ponselnya, “aku juga sudah meminta undangan kita dicetak dengan cepat dan 2 hari lagi mereka akan mengantarkannya ke rumah.”
Karena hari pernikahan mereka sebentar lagi, semua persiapan dilakukan dengan cepat. Bahkan Vincent harus mengeluarkan biaya yang sangat besar agar semuanya bisa diselesaikan tepat waktu.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, tirai akhirnya dibuka. Baik Jesica maupun Vincent langsung mengarahkan pandangannya ke Olivia yang sedang berdiri sambil menunduk.
“Liv, kau cantik sekali.” Jesica berseru dengan wajah senang saat melihat penampilan Olivia, “Gaun itu seperti sengaja dibuat untukmu. Lihat saja sangat puas di tubuhmu.”
Bagaimana tidak pas, gaun yang ditunjuk Olivia adalah gaun pengantin yang pernah dicoba oleh Olivia ketika dia pertama kali datang ke butik Sandra saat mencari gaun pengantin untuk dipakai di hari pernikahannya dengan Vincent. Gaun itu sudah disesuaikan dengan bentuk tubuh Olivia, tapi tidak jadi diambil karena pernikahannya dengan Vincent batal. Olivia juga tidak menyangka kalau gaun yang dia tunjuk secara asal adalah gaun yang pernah dia pilih waktu itu.
“Cent, lihatlah, Olivia sangat cantik, bukan?”
Untuk beberapa saat Vincent terdiam seraya menatap Olivia dengan seksama. “Ya, lumayan.”
“Kalau begitu aku akan berganti lagi.” Olivia buru-buru meminta pegawai itu untuk menutup kembali tirainya dan meminta untuk membantunya berganti.
"Kenapa aku tidak melihat gaun itu tadi? Gaunnya sangat bagus. Aku menyukainya."
Selesai Olivia berganti, Vincent mengajak Jesica untuk ke bawah, baru saja mereka akan turun tangga, terlihat Sandra menghampiri mereka.
“Kenapa kau baru datang, Sandra? Aku sudah selesai memilih gaun.”
Sandra tidak menjawab pertanyaan Jesica dan justru berjalan menuju Olivia dan melayangkan tamparan keras ke wajahnya. “Plaaaaak.”
“Itu adalah pelajaran untuk wanita tidak tahu diri sepertimu. Aku sudah mengalah padamu, tapi kau justru menyia-nyiakannya.” Saat Sandra akan menampar Olivia untuk kedua kalinya, tangannya ditangkap oleh Vincent.
“Sandra, cukup! Jangan pernah berani menampar ataupun menyentuhnya lagi.” Tatapan Vincent sangat tajam dan itu membuat nyali Sandra menciut.
“Tapi dia sudah menyakitimu, Cent. Dia sudah….”
“Kalaupun ada yang harus memberinya pelajaran, itu hanya aku orangnya. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuhnya, apalagi menyakitinya tanpa seijinku.”
__ADS_1
Jesica nampak memandang Vincent dengan tatapan seksama setelah mendengar ucapannya.
Bersambung….