
“Silahkan, Nyonya Muda.” Edric membuka pintu belakang mobil untuk mempersilahkan Olivia keluar dari mobil.
“Terima kasih, Edric.”
Olivia turun dari mobil lalu melangkah dengan anggun memasuki loby kantor suaminya diikuti Edric dari belakang. Siang ini Vincent sengaja meminta Edric untuk menjemput istrinya di rumah karena ingin menemani istrinya ke kantornya yang dulu untuk berpamitan.
Saat Olivia akan melewati meja sekretaris, Janice menyapanya dengan sopan dan mempersilahkan Olivia untuk langsung masuk ke dalam ruangan Vincent karena dia sudah ditunggu sejak tadi.
“Terima kasih, Janice.”
Olivia kembali melangkah sendiri masuk ke dalam ruangan suaminya karena Edric hanya mengantarnya sampai depan pintu saja.
“Sayang, duduklah dulu di sofa. Aku mengecek berkas ini sebentar,” ucap Vincent saat melihat istrinya memasuki ruangannya.
“Apa kau sedang sibuk?” Olivia bukannya duduk di sofa, dia justru menghampiri suaminya yang terlihat sedang membaca kertas putih yang ada di atas meja.
“Aku hanya perlu mengecek beberapa berkas, Sayang.” Vincent akhirnya menutup berkas yang sedang dia baca saat istrinya duduk di tepi meja tepat di samping kanannya, “tunggu aku di sofa saja. Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku.”
Olivia menggeleng kuat lalu berkata, “Tidak mau. Aku ingin melihatmu bekerja.”
Vincent tidak memaksa lagi, dia melanjutkan membaca berkas penting yang kembali dia buka. Lima menit berlalu akhirnya Vincent kembali menghentikan pekerjaan dan mengangkat kepalanya menatap istrinya yang masih duduk di tepi meja kerjanya.
“Kemari.” Vincent menarik lembut tangan istrinya hingga terduduk di pangkuannya.
“Cent, jangan begini. Bagaimana kalau ada yang lihat?” Olivia mencoba bangun, tapi di tahan oleh Vincent.
“Biarkan saja. Aku tidak peduli. Siapa suruh dari tadi kau terus memandangiku. Aku tidak bisa berkonsentrasi jika kau terus menatapku, Sayang.”
Olivia tersenyum, menyerongkan poisisi duduknya ke kanan hingga bisa berhadapan dengan suaminya. “Memangnya tidak boleh kalau aku memandang wajah suamiku sendiri?”
Olivia tersenyum lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya, sementara tangan Vincent sudah berada di pinggang Olivia sejak tadi.
“Boleh. Tentu saja boleh. Jangankan memandang wajahku, apapun bisa kau lakukan karena tubuhku ini adalah milikmu.”
Dengan gerakan pelan namun pasti, Vincent menyatukan bibir mereka bedua. Tidak ada penolakan dari Olivia sehingga membuat Vincent semakin memperdalam pagutannya hingga akhirnya tautan mereka terlepas dengan napas terengah-engah.
“Kita harus berhenti, Sayang. Aku takut hilang kendali. Kita lanjutkan nanti malam lagi.”
Olivia menunduk dengan wajah memerah. Dia sudah tahu maksud dari perkataan suaminya. “Aku akan tunggu di sofa kalau begitu.” Olivia bangkit dari pangkuan suaminya lalu berjalan menuju sofa.
Pukul 2 siang, setelah makan siang, mereka menuju kantor Direktur Jerome. Vincent ikut mengantar istrinya menemui Direktur Jerome, dia sekalin ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada Direktur Jerome karena sudah memperlakukan Olivia dengan baik selama bekerja di sana. Selesai berpamitan pada semuanya, mereka kembali ke perusahaan Vincent.
“Sayang, sore nanti aku akan bertemu dengan Jesica.”
__ADS_1
Olivia yang sejak tadi sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya seketika menoleh pada suaminya yang sedang duduk di meja kerjanya. “Di mana?”
“Di restoran. Ikutlah denganku.”
Diam-diam Olivia bernapas lega. Dia pikir Vincent akan menemui mantan kekasihnya itu sendirian.
“Memangnya ada keperluan apa menemui Jesica?”
Vincent melangkah menuju sofa di mana istrinya berada lalu duduk di sampingnya. “Aku harus meminta maaf secara langsung padanya.”
Mengenai kejadian di pesta itu, Vincent baru mengucapkan permintaan maaf pada Jesica melalui telpon. Meskipun saat mereka berbulan madu ke Bali, ayahnya sudah menemui keluarga Jesica untuk meminta maaf, tapi Vincent merasa harus bertemu langsung dengan Jesica.
“Baiklah.” Olivia juga belum sempat meminta maaf serta berterima kasih pada mantan kekasih suaminya itu.
Sore hari mereka berdua menuju restoran yang sudah ditentukan Jesica. Ternyata Jesica sudah lebih dulu tiba di sana. Olivia dan Vincent pun segera menghampirinya. Mereka berbasa-basi sebentar sebelum masuk ke pembicaraan yang serius.
“Jes, maafkan aku atas kejadian waktu itu. Aku tidak bermaksud untuk mempermalukanmu di depan umum.”
Jesica tersenyum lalu berkata, “Ini bukan salahmu. Kau sudah menolakku sejak awal, aku sendiri yang memaksa untuk tetap melanjutkan rencana pernikahan itu, padahal kau sendiri bilang tidak akan hadir dalam pernikahan itu.”
Saat Vincent tidak hadir tepat saat mereka akan mengikat janji suci, Jesica langsung paham kalau Vincent menolak menikah dengannya. Dia langsung teringat dengan cincin yang tidak muat di jarinya dan justru sangat pas di tangan tangan Olivia.
Ingatannya pun melayang pada kejadian saat Vincent meminta Olivia untuk membantunya mempersiapkan pernikahan mereka. Seketika itu juga dia jadi mengerti bahwa Vincent berencana untuk menikahi Olivia dan bukan dirinya. Dia sudah menjadi kekasih Vincent selama lebih dari 3 tahun, tentu saja dia tahu apa yang dipikiran pria itu setelah menghubungkan semua yang terjadi sebelum hari pernikahan mereka tiba.
“Seharusnya aku tidak melibatkankmu dalam rencanaku. Aku sungguh minta maaf.”
Vincent kembali meminta maaf dengan wajah bersalah. Olivia pun ikut meminta maaf pada Jesica karena secara tidak langsung dia sudah menggagalkan rencana pernikahan yang diimpikan oleh Jesica selama ini.
“Kalian tidak perlu minta maaf lagi. Aku sungguh tidak apa-apa. Lagi pula, ini bukan sepenuhnya salah kalian, aku seharusnya sudah berhenti sejak Vincent menolak menikah denganku.”
Sebelum mereka pulang, Vincent berpesan pada Jesica untuk mencoba membuka hatinya untuk orang lain, terutama pada Alvin. Bagaimana pun pria itu sudah lama sekali menyukai Jesica, namun Jesica menolak. Dia bilang ingin sendiri dulu. Dia tidak mau menjadikan Alvin sebagai pelampiasan karena tidak jadi menikah dengan Vincent.
*****
Setelah selesai makan malam, Vincent segera mengajak istrinya kembali ke kamar. Olivia menyandarkan kepalanya di dada suaminya sambil memeluknya. “Cent, menurutmu, apa Jesica mau membuka hatinya untuk Alvin?”
Mendengar nama Alvin disebut, wajah Vincent berubah menjadi masam. Meskipun dia sudah berbaikan dengan Alvin, namun dia masih belum bisa menghilangkan kecemburuannya pada mantan kekasih istrinya itu.
“Kenapa? kau tidak rela kalau Alvin menjalin hubungan dengan Jesica?”
Olivia tersenyum sambil mendongakkan kepalanya ke atas untuk menatap wajah cemburu suaminya. “Bukan seperti itu suamiku. Aku hanya penasaran, apakah Jesica tidak memiliki perasaan apapun pada Alvin? Padahal, Alvin adalah pria yang sangat baik.”
Tiba-tiba saja Vincent membalik tubuhnya hingga istrinya berada di bawahnya. “Jangan sekali-kali memuji pria lain di hadapanku, apalagi Alvin. Kau tahu bukan kalau aku sangat cemburu padanya.”
__ADS_1
Olivia terdiam dengan wajah menegang di bawah tubuh suaminya. “Maafkan aku. Aku hanya….”
Mulut Olivia langsung dibungkam oleh Vincent detik itu juga. Olivia pun hanya bisa pasrah saat suaminya mulai melucuti pakainya satu persatu sambil terus melu-mat bibirnya hingga mereka kembali memadu kekasih malam itu.
*******
Sudah hampir sebulan Vincent dan Olivia tinggal kediaman Wijaya. Selama itu pula, Olivia hanya di rumah dan tidak melakukan apapun. Jika dia bosan, dia akan mengunjungi suaminya di kantor sambil membawakan makan siang untuk suaminya.
Vincent belum menginjinkan istrinya untuk mengelola yayasan keluarganya karena tidak mau istrinya kelelahan. Apalagi setelah menikah Vincent selalu meminta haknya setiap hari, bahkan terkadang mereka bisa melakukannya dua kali dalam sehari yaitu saat malam dan menjelang pagi hari.
Olivia pun tidak berani membantah suaminya dan hanya bisa menuruti semua perkataan Vincent untuk tidak bekerja dulu. Setiap hari yang dia lakukan hanya mengurus suaminya saja. Seperti pagi ini, Olivia sedang memasangkan dasi suaminya setelah selesai mengancingkan baju kemejanya.
Setiap pagi sudah menjadi rutintas Olivia untuk menyiapakan semua keperluan suaminya sebelum berangkat bekerja. Olivia pun selalu menyiapkan pakaian kantor suaminya, mengancingkan baju kemeja serta memakaikan dasinya setiap hari.
“Jadi kapan kau akan pulang?” tanya Olivia sambil memasang dasi suaminya.
Pagi ini rencana Vincent akan berangkat ke Singapura untuk urusan pekerjaan sekaligus untuk mengantar neneknya kembali ke negaranya.
“Hari Sabtu aku sudah kembali lagi ke sini,” jawab Vincent sambil menatap wajah sendu istrinya. Sejak semalam, Olivia terus merengek untuk ikut ke Singapura, tapi dilarang oleh Vincent karena sudah berapa hari ini istrinya kurang sehat.
“Kenapa lama sekali?” tanya Olivia dengan tatapan tidak rela. Dia merasa berat untuk melepas kepergian suaminya ke Singapura. Belakang ini dia selalu ingin berada di dekat suaminya. Bahkan dia tidak bisa tidur jika suaminya tidak di sampingnya.
Vincent meraih wajah istrinya lalu mengusap dengan lembut. “Aku akan mengusahakan pulang lebih cepat. Kita bisa melakukan panggilan video jika kau merindukanku.”
Olivia berjalan menuju tempat tidur setelah memasangkan dasi suaminya. Dia duduk di tempat tidur sambil menunduk. Terlihat sekali kalau dia kecewa karena tidak bisa ikut pergi bersama suaminya. Vincent pun menghampiri istrinya lalu berjongkok di depannya, memegang tangan istrinya lalu menatapnya dengan wajah bersalah.
“Maaf, Sayang. Aku tidak bisa membawamu. Tubuhmu masih lemas, aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu. Aku janji akan segera pulang jika urusan di sana sudah selesai.”
Mata Olivia terlihat berkaca-kaca. “Lalu aku tidur dengan siapa? Aku sudah terbiasa tidur sambil memelukmu.”
Vincent menghela panjang dengan wajah tidak berdaya. Dia bangkit lalu memeluk tubuh istrinya. “Hanya seminggu, Sayang. Aku janji akan selalu melakukan panggilan video setiap hari.”
“Kau pasti sudah tidak sayang padaku lagi, maka dari itu, kau melarangku untuk ikut.”
Vincent segera mengurai pelukannya lalu mengulum senyumnya setelah mendengar ucapan konyol dari istrinya. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti itu keluar dari mulut istri yang sangat dia cintai itu.
“Mana mungkin aku tidak sayang padamu, Sayang. Kau adalah wanita yang paling aku cintai. Aku melakukan ini karena kau sedang tidak sehat. Wajahmu saja masih pucat.”
Setelah membujuk istrinya agar mau ditinggal selama seminggu, Vincent segera keluar dari kamarnya. Dia sengaja meminta Olivia untuk beristirahat di kamar saja dan tidak mengantarnya sampai ke bawah. Tiba di dapur, Vincent berbicara dengan bibi Nani.
“Tolong lebih perhatikan istriku selama aku pergi. Belakangan ini dia tidak napsu makan, coba suruh koki untuk membuat makanan yang lebih bervariasi. Jika ada apa-apa, minta Nando langsung menghubungiku.”
“Baik, Tuan Muda.”
__ADS_1
Bersambung...