Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Bulan Madu di Maldives


__ADS_3

Setelah berbulan madu di Bali, Vincent akhirnya terbang ke Maldives untuk melanjutkan bulan madunya yang masih tersisa 3 hari sebelum dia kembali ke Indonesia. Meskipun mereka ke sana dalam rangka berbulan madu, tetap saja Vincent membawa Edric dan juga dua pengawal lainnya, tapi tetap mereka hanya mengawasi dari jarak yang jauh agar Olivia merasa tidak sedang diikuti.


Selama di Maldives, mereka menginap di sebuah pulau kecil yang indah. Penginapan tersebut berada di atas laut dan memiliki faslitas lengkap serta kolam renang pribadi terbuka serta seluncuran langsung dari dek atas ke laguna di bawah. Kamar tidur utama pun memiliki atap yang bisa dibuka dengan hanya menekan tombol sehingga bisa berbaring sambil menatap bintang di atas langit pada malam hari.


Vincent sengaja memilih penginapan tersebut karena sangat terjaga privasinya dan juga letak antara satu vila dengan yang lainnya sangat jauh jadi tidak akan terganggu oleh orang lain. Vincent memilih vila yang paling ujung agar tidak ada orang akan melewati vila mereka, selain dirinya dan Olivia. Biaya yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit untuk menginap di sana, meskipun begitu, itu sebandingan dengan apa yang di dapat.


“Apa kau pernah ke sini sebelumnya?” tanya Olivia ketika mereka baru selesai mengelilingi vila dan sedang duduk di dekat kolam renang.


“Pernah, satu kali.”


Olivia menoleh dengan mata memicing pada suaminya yang terlihat sedang berbaring di kursi santai. “Dengan siapa? Jesica juga?” tebak Olivia.


Vincent menarik sudut bibir kirinya mendengar itu. Tiba-tiba saja dia terpikir untuk mengejai istrinya saat melihatnya tatapan curiga darinya. “Rahasia.”


Mendengar jawaban itu dari suaminya, Olivia seketika merasa kesal. “Aku tahu, kau pasti ke sini dengan Jesica. Dia akan wanita yang paling kau cintai dulu.”


Vincent mengulum senyumannya saat melihat kecemburuan istrinya. “Kita belum menikah saat itu, jadi aku bebas mengajak siapapun untuk berlibur ke sini.”


Jawaban Vincent semakin membuat Olivia kesal. “Kalau begitu ajak saja dia berlibur ke sini agar kalian bisa bernostalgia dengannya.”


Olivia lalu berdiri dan hendak berjalan masuk ke dalam vila, tapi langsung dihentikan oleh Vincent dengan menahan pergelangan tangannya.


“Kau mau ke mana, Sayang?”


“Pulang. Aku tidak mau menginap di sini.” Olivia menghempaskan tangan Vincent lalu melangkah dengan cepat.


Melihat istrinya sudah memasuki vila dan sedang berjalan menuju pintu, Vincent segera menyusulnya. “Aku hanya bercanda tadi, Sayang. Aku tidak pernah mengajaknya ke sini.”


“Aku tidak percaya denganmu.”


Saat melihat Olivia meraih gagang pintu, Vincent segera mengangkat tubuh Olivia dan meletakkannya di bahunya. “Turunkan aku, Cent! Aku tidak mau menginap di tempat yang sama dengan mantan kekasihmu.”


Vincent mengabaikan pukul istrinya pada punggungnya dan melangkah menuju kamar tidur. Olivia terus berteriak meminta di turunkan, namun diabaikan oleh Vincent, dia terus berjalan hingga mereka tiba di dalam kamar.


“Dengarkan aku dulu, Sayang.” Vincent memegang kedua tangan Olivia ketika dia memberontak setelah di turunkan di atas ranjang. Vincent mengungkung istrinya agar dia tidak lari.


“Aku tidak mau," tolak Olivia dengan tegas. Olivia berusaha untuk meloloskan diri dari suaminya.


“Diamlah Sayang, jika tidak, aku akan memakanmu saat ini juga,” ancam Vincent sukses membuat gerakan Olivia terhenti, “aku tidak pernah mengajak wanita manapun ke sini.”


Melihat Olivia diam saja, Vincent kembali menjelaskan. “Aku ke sini dengan orang tuaku ketika aku masih kecil.”


Vincent dan keluarga ke sana dalam rangka liburan keluarga dan itupun hanya satu kali.


"Aku sungguh tidak pernah mengajak wanita manapun ke sini selain dirimu. Aku hanya ingin mengerjaimu tadi.”

__ADS_1


Olivia yang sejak tadi mengalihkan pandanganya ke samping akhirnya beralih menatap suaminya. “Dasar jahat!” Olivia memukul dada suaminya hingga memerah, padahal dia memukulnya tidak terlalu keras, tapi karena kulit suaminya putih sehingga akan cepat memerah, meskipun dipukul dengan sedikit tenaga.


“Maafkan aku, Sayang.” Vincent menangkap tangan Olivia lalu menatapnya dengan lekat, “aku hanya ingin tahu, seberapa besar rasa cemburu pada Jesica, Sayang. Kau mau, kan, memaafkan aku?”


Olivia menatap suaminya sejenak lalu mengangguk ringan saat melihat permintaan maafnya yang tulus. Vincent pun tersenyum saat melihat istrinya sudah tidak marah lagi.


“Sayang, bagaimana kalau kita….”


“Tidak. Ini masih sore. Aku ingin berenang dulu.”


Olivia seolah tahu apa yang ingin dikatakan suaminya. Dia baru saja pulih hari ini akibat kelakukan Vincent dihari sebelumnya. Vincent membuatnya tidak bisa berjalan dan akhirnya mereka menambah sehari lagi di Bali.


“Baiklah. Kita lakukan nanti malam saja.”


Setelah suaminya turun dari tempat tidur, Olivia membuka koper lalu mengambil bikini yang sudah dia beli saat di Bali untuk dia pakai selama di Maldives. Vincent sudah lebih dulu berjalan menuju kolam renang dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek .


Setelah mengenakan bikin two piece berwarna merah, Olivia segera menyusul suaminya. Dia tidak langsung berenang, melainkan duduk santai bersebelahan dengan suaminya di kursi pantai. Kali ini Vincent tidak berkomentar apapun saat melihat istrinya hanya mengenakan bikini saja karena tidak ada yang akan melihat, selain dirinya.


Dia justru merasa senang melihat penampilan istrinya yang terlihat sangat seksi di matanya. Dia bahkan tersenyum bangga saat melihat mahakaryanya yang terpampang jelas di tubuh istrinya. Beberapa jejak merah itu baru saja dia buat kemarin sebelum mereka terbang ke Maldives.


“Cent, apa kau tidak mau berenang?” Olivia sedang menikmati potongan buah sambil menatap ke arah suaminya yang masih berbaring di kursi santai.


“Kau saja duluan.”


“Temani aku. Aku ingin berenang di bawah.”


“Baiklah, ayo.” Vincent bangkit lalu berjalan bersama dengan istrinya menuju selucuran. Vincent memposisikan diri duduk di belakang istrinya sambil memeluknya dari belakang sebelum meluncur ke bawah.


“Apa kau sudah siap?”


Olivia mengangguk sambil menjawab pertanyaan Vincent, detik kemudian mereka meluncur ke bawah dan langsung terjun bebas ke dalam air.


“Menyenangkan sekali.”


Olivia berenang ke sana ke mari sambil sesekali menyipratkan air ke wajah suaminya. Mereka berdua bercanda sambil sesekali tertawa saat Olivia menaiki punggung suaminya. Olivia pun terlihat mengapungkan diri di sebelah suaminya sambil menatap matahari sore kemudian kembali berenang.


“Jangan berenang terlalu jauh, Sayang.”


“Iyaaa.”


Olivia berbalik dan kembali berenang mendekati suaminya lalu mengalungkan tangan leher Vincent, “aku rasanya tidak ingin cepat-cepat pulang. Aku sangat suka di sini.”


Vincent tersenyum setelah mendengar penuturan istrinya. “Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bisa cuti terlalu lama. Kita akan ke sini jika aku memiliki waktu luang nanti.”


“Janji?”

__ADS_1


“Iyaa, Sayang.”


Mereka pun kembali berenang selama 20 menit di bawah dan kembali naek ke atas dengan menaiki tangga yang berada di sebelah kanan. Setelah naik, Olivia memakan buah kembali bersama suaminya lalu dilanjutkan berenang di kolam renang yang berada dia sebelah kiri seluncuran yang menghadap ke laut. Hanya Olivia yang berenang, Vincent terlihat sedang duduk santai sambil menatap istrinya yang sedang memandangi laut di depannya.


“Sayang, naiklah. Jangan terlalu lama berada di dalam air.”


Olivia menoleh sebentar pada suaminya lalu berkata, “Iyaa sebentar lagi.” Dia kembali menatap ke arah lautan sambil memakan buah yang dia letakkan di pinggir kolam. Setelah menunggu selama 5 menit, OIivia tidak kunjung naik juga, Vincent akhirnya menyusulnya.


“Kau terlihat sangat seksi, Sayang. Aku suka melihatmu memakai ini,” bisik Vincent sambil memeluk istrinya dari belakang.


“Kalau begitu, aku akan memakainya terus selama kita di sini,” balas Olivia tanpa menoleh suaminya.


Orang bilang harus pintar menyenangkan suami jika tidak ingin dia mencari kesenangan di luar, maka dari itu, Olivia berusaha membuat suaminya senang. Apalagi, banyak sekali yang mengincar suaminya, tentu saja dia tidak akan membiarkan wanita lain merebut suami tampannya.


“Jangan hanya di sini. Saat berada di rumah kita pun, kau boleh mengenakannya.” Vincent mulai membenamkan wajahnya di ceruk istrinya dan memberikan kecupan ringan di leher Olivia.


“Cent, berhenti.” Olivia merasakan tubuhnya meremang saat bibir suaminya mulai menjelajahi leher serta pundaknya, “geli Cent.”


Karena Vincent tidak juga menghentikan kegiatannya. Olivia akhir membalik tubuhnya menghadap suaminya. Melihat mata suaminya sudah tertutup api gairah, Olivia langsung memperingatkannya. “Jangan sekarang. Aku masih ingin berenang sambil menikmati matahari sore. Kau boleh melakukannya nanti malam.”


Bukannya menuruti perkataan istrinya Vincent justru mengalungkan tangan ke leher istrinya lalu perlahan membuka tali simpul penutup dada istrinya sambil tersenyum dengan tatapan menggoda.


“Cent, jangan dilepas!”


Seolah tahu apa yang ada di benak istrinya, Vincent segera berkata, “tidak ada yang akan melihat, Sayang.” Setelah itu, kain penutup bagian atas istrinya pun terlepas dan Olivia pun langsung menutupnya dengan menggunakan kedua tangannya karena merasa malu.


“Singkirkan tanganmu, Sayang. Aku ini suamimu, kau tidak boleh menyembunyikannya dariku.”


“Tapi aku malu.”


“Tidak ada seorang pun di sini, hanya aku yang akan melihatnya.”


Setelah melihat istrinya menyingkirkan tangannya, Vincent menangkup wajah istrinya, mempertemukan bibir mereka berdua dan merapatkan tubuhnya dengan istrinya, setelah itu, menyudutkannya hingga ke tepi kolam. Luma-tan yang awalnya lembut berubah menjadi penuh gairah. Ciuman panas mereka mengobarkan api yang ada dalam diri Vincent.


Salah satu tangan yang tadi melingkari pinggang istrinya pun mulai menjelajahi tubuh istrinya. Terdengar erangan pelan dari Olivia saat bibir Vincent mulai menjelajahi tubuh bagian depan istrinya.


Karena sudah tidak bisa lagi membendung hasratnya, Vincent akhirnya menyudahi kegiatannya lalu berkata, “Kita pindah ke dalam.”


Olivia tidak menolak, dia hanya diam ketika suaminya membopong menuju kamar tidur. Dia bahkan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya karena merasa malu. Dengan hati-hati Vincent pun meletakkan tubuh istrinya di atas tempat tidur lalu menghimpitnya.


“Kau cantik sekali, Sayang.” Wajah Olivia merona mendengar pujian suaminya.


“Maaf, karena aku tidak bisa menunggu sampai malam."


Setelah itu bibir keduanya kembali menyatu dan tangan Vincent pun bergerak melepaskan satu-satunya kain yang menutupi area pribadi istrinya. Lengu-han pelan terdengar dari mulut keduanya saat tubuh mereka menyatu. Erangan lembut pun mulai terdengar dari kamar tersebut hingga perlahan mulai berubah menjadi lenguhan panjang yang terdengar memenuhi kamar pengantin baru itu.

__ADS_1


Kayaknya udah cukup bulan madunya yaa? Soalnya di kediaman Wijaya sudah menanti ibu mertua yang baik hati.


Bersambung…..


__ADS_2