Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Teman Olivia


__ADS_3

Frans mendekati Alvin lalu berdiri di sampingnya saat melihatnya menatap ke arah pelaminan. Alvin sedang memandang ke arah Vincent dan Olivia tanpa berkedip dengan ekspresi tidak terbaca.


“Apa kau masih berat untuk melepasnya?” Frans bertanya setelah dia menyesap minuman yang ada di tangan kanannya seraya memandang ke arah Vincent dan Olivia.


“Aku sudah lama melepasnya, Frans.” Alvin menjawab tanpa menoleh pada Frans. Jawabannya terdengar datar sama seperti raut wajahnya saat ini.


“Lalu kenapa sejak tadi kau terus memandang ke arah Olivia?”


Alvin menyungging salah satu sudut bibirnya sambil menatap lurus pada Vincent lalu menyesap minumannya dan setelah itu menoleh pada Frans. “Apa Vincent yang memintamu mencari tahu, apakah aku masih memiliki perasaan pada Olivia? Apa dia masih takut kalau aku akan merebut Olivia darinya?”


Frans berdecak lidah lalu tersenyum tipis pada Alvin. Ini pertama kalinya mereka mengobrol begitu santai setelah bertahun-tahun lamanya. Semenjak Alvin dan Vincent berselisih, mereka berdua sudah tidak pernah berbicara dengan santai seperti saat ini.


“Vin, tidak bisakah kau berdamai dengan Vincent sekarang?”


Alvin menarik sudut bibir kirinya setelah mendengar itu. “Dengan merelakan Olivia menikah dengannya, itu sama saja aku sudah berdamai dengannya. Jika tidak, aku tidak akan membiarkannya menikah dengan Olivia.”


Frans menepuk pundak Alvin lalu berkata, “Aku tahu kalau kau sebenarnya masih mencintai Jesica jadi lebih baik kau mengejarnya kembali sebelum dia diambil oleh orang lain.”


******


“Olivia Atmaja.”


Mendengar namanya dipanggil, Olivia seketika menoleh dan dia nampak terkejut saat melihat sahabat terbaiknya sedang berjalan ke arahnya.


“Nesya...! Bagaimana bisa kau ada di sini?”


Nesya tersenyum lebar lalu berdiri di depan Olivia. Sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya, dia melirik sebentar pada Vincent. “Suamimu meminta seseorang untuk menjemputku.”


Mendengar itu, Olivia seketika menoleh pada Vincent dengan wajah bahagianya. “Benarkah itu?”


“Iyaa. Kau pasti ingin pernikahanmu dihadiri oleh sahabatmu, bukan?”


Setelah resmi menikahi Olivia, Vincent langsung meminta Edric menjemput Nesya.


“Terima kasih, Cent. Aku senang sekali.”


Olivia memang sempat merasa sedih tadi karena tidak ada satupun orang terdekatnya menyaksikan pernikahan dadakannya. Dia ingin menghubungi Nesya dan mengabarkan kabar bahagianya, tapi takut sahabatnya tidak disambut baik oleh keluarga Wijaya.


“Dia sudah banyak membantumu selama ini. Mana mungkin aku tidak mengundang di hari bahagia kita,” lanjut Vincent lagi.


“Terima kasih.”

__ADS_1


Setelah berbincang sebentar dengan Nesya, Olivia memintanya untuk menikmati hidangan bersama tamu yang lain.


Sebelum pergi, Nesya membisikkan sesuatu pada Olivia. “Aku sudah memberitahu Stacey dan Jimmy kalau kau menikah hari ini dan mereka langsung terbang ke sini setelah mendengar berita pernikahanmu. Mereka sangat terkejut, apalagi Jimmy, dia terdengar sangat kecewa padamu karena kau tidak memberitahunya mengenai pernikahanmu. Jimmy bilang dia akan menemuimu setibanya di sini."


“Hheeeemmm.” Vincent berdeham dengan sengaja setelah mendengar nama Jimmy disebut.


Melihat perubahan ekspresi pada wajah Vincent, Nesya segera menjauhkan diri dari Olivia lalu berkata, “Kalau begitu kita bicara lagi nanti.”


Setelah kepergian Nesya, Olivia melirik pada Vincent yang terlihat sedang menampilkan wajah masamnya. “Apa kau marah?” tanya Olivia dengan hati-hati. Dia yakin kalau Vincent pasti mendengar ucapan Nesya saat berbisik tadi.


Vincent menoleh pada Olivia lalu berkata, “Marah karena pria yang menyukai istriku akan datang menemuinya?”


Olivia menghela napas sangat pelan hingga tidak disadari oleh Vincent. “Dia temanku, Cent. Kami berteman sejak kecil. Kau juga tahu itu.”


“Iyaa, aku tahu. Maka dari itu, untuk apa kau bertanya lagi? Dia adalah temanmu, teman baikmu. Mana mungkin aku marah kalau dia datang jauh-jauh hanya untuk menemanimu.”


Dia marah. Aku tahu dia marah. Sudahlah, lebih diam saja. Ini akan menjadi pertengkaran pertama kami setelah resmi menikah jika sampai aku masih membahas Jimmy di depannya.


Setelah melakukan resepsi pernikahan selama 4 jam lamanya, akhirnya kedua mempelai kembali ke kamar. Kali ini mereka kembali ke kamar pengantin yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Olivia tidak menyangka kalau kamar yang dia dekorasi dua hari yang lalu akan menjadi kamar pengantinnya dengan Vincent.


Setelah masuk ke kamar, Olivia menghapus make-up di wajahnya lalu meminta bantuan Vincent untuk melepas gaun pengantinnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Olivia memutuskan untuk langsung membersihkan tubuhnya, begitu pun Vincent.


“Di mana kau letakkan bajumu?”


Olivia bangkit dari duduknya yang hanya mengenakan bathrobe. Setelah mandi, Olivia terpaksa mengenakan bathrobe dikarenakan dia tidak membawa baju ganti. Niat awalnya dia datang hanya untuk memenuhi janjinya pada Vincent untuk menghadiri pesta pernikahannya dengan Jesica, namun diluar dugaan, justru dia datang ke pernikahannya sendiri.


“Ada di koper itu.”


Vincent menunjuk koper kecil yang berada di dekat meja rias, setelah itu, duduk di tepi ranjang. Ketika kopernya sudah terbuka, Olivia melihat ada baju wanita di dalam koper tersebut dan saat dia bertanya pada Vincent baju siapa itu, ternyata baju itu adalah baju ganti yang sengaja Vincent siapkan untuk Olivia.


“Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kau sudah menyiapkan baju ganti untukku?”


Vincent mengulum senyumannya saat melihat wajah kesal Olivia. “Aku lupa, Sayang.” Padahal dia memang sengaja tidak mengatakan padan Olivia mengenai pakaian itu karena ingin mengerjainya. Tepatnya ingin melihat Olivia hanya memakai bathrobe saja.


Saat Olivia sedang berganti pakaian di kamar mandi, ponselnya berbunyi. Vincent meraih ponsel Olivia dan melihat nama Stacey yang terpampang di layar ponsel istrinya, kemudian meletakkan kembali ponsel istrinya.


“Sayang, ada yang menelponmu tadi,” ucap Vincent setelah melihat istrinya keluar dari kamar mandi.


Olivia bergegas maraih ponselnya lalu mengecek siapakah yang menelponnya. Setelah mengetahui kalau Stacey yang menelpon, dia bergegas menelpon balik. Olivia hanya berbicara selama satu menit lalu memutuskan panggilan telponnya, setelah itu menatap Vincent.


“Cent, bolehkah aku menemui temanku sebentar?”

__ADS_1


Vincent yang sedang duduk di tepi ranjang sambil mengetik sesuatu di layar ponselnya seketika mengangkat kepalanya dan bertanya dengan mata memicing. “Dengan siapa?”


“Stacey dan Nesya. Mereka sedang menunggu di restoran bawah.”


“Baiklah, tapi jangan lama-lama karena nanti kita akan menemui nenek.”


“Iyaa.” Olivia langsung tersenyum senang setelah mendapatkan ijin dari suaminya.


“Bawa ponselmu agar aku mudah menghubungimu.”


Olivia mengangguk, merapihkan penampilannya dan bergegas keluar dari kamar. “Sayang tunggu dulu.” Vincent menyusul Olivia ketika melihatnya akan menutup pintu.


“Ada apa?”


Saat melihat Vincent hanya mengenakan handuk, dia langsung menoleh kanan dan kiri dan segera mendorong suaminya masuk kembali ke kamar. “Kenapa kau tidak memakai bajumu? Bagaimana kalau ada yang melihat?”


Vincent mengulum senyumnya saat melihat kepanikan Olivia. Dia memang belum mengenakan bajunya dan hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya.


“Tidak ada orang di lantai ini, Sayang. Semua kamar di sini sudah aku pesan jadi tidak mungkin ada orang yang melihat.”


Vincent sengaja memesan semua kamar di lantai itu karena tidak mau terganggu dengan keberadaan orang lain. Sebenarnya selain dirinya, neneknya dan kedua orang tuanya juga menginap di lantai yang sama dengannya.


Mendengar itu, Olivia langsung merasa lega. “Kenapa kau memanggilku?”


“Aku hanya ingin bilang kalau aku akan bertemu dengan temanku juga. Jika kau sudah selesai bertemu dengan temanmu, langsung beritahu aku.”


“Iyaa. Aku pergi dulu.” Olivia berjinjit lalu memberikan kecupan pada pipi kiri suaminya hingga membuat Vincent terkejut.


“Sayaaang, kau sengaja memancingku, ya?” Vincent menahan tangan Olivia saat dia akan melangkah pergi.


“Tidak. Mana berani aku memancingmu. Itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengijinkanku bertemu dengan temanku.” Olivia tersenyum tersenyum manis setelah mengatakan itu, “aku pergi dulu ya, suamiku." Olivia kembali tersenyum lalu pergi meninggalkan Vincent yang masih berdiri sambil menatapnya.


Kau sengaja, Sayang, aku tahu itu. Lihat saja nanti malam, aku tidak akan melepaskanmu, meskipun kau memohon padaku.


Vincent berbalik lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin berganti pakaian karena ingin bertemu dengan teman-temannya yang sedang menunggu di bar hotel tersebut. Baru saja dia selesai berganti pakaian, bel kamarnya berbunyi. Dia segera membuka pintu dan terlihat terkejut saat melihat ibunya berdiri di depannya.


“Ada yang ingin mama bicarakan denganmu.”


Vincent menatap ibunya sesaat setelah itu membukan lebar pintunya. “Baiklah, kita bicara di dalam.”


Bersambung…..

__ADS_1


__ADS_2