Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Dekorasi Kamar Pengantin


__ADS_3

"Kenapa nama mempelai wanitanya bukan Jesica, melainkan Olivia Atmaja?" tanya Lucy Lu dengan ekspresi tidak suka.


Vincent terlihat masih diam sambil menatap undangan itu.


"Cent, kenapa kau diam saja? Mama tanya kenapa nama calon pengantin wanitanya Olibia dan bukan Jesica?" tanya Lucy dengan wajah tidak sabar.


Vincent meletakkan undangan di atas meja lalu menatap ibunya sembari membenahi posisi duduknya menjadi tegak. "Ma, ini adalah kesalahan dari percetakannya, bukan aku yang melakukannya."


"Benarkah?"


Melihat tatapan menyelidik dari ibunya, Vincent tahu kalau ibunya tidak percaya dengan ucapannya. "Ma, aku tidak mungkin melakukannya dengan sengaja. Ini murni kesalahan dari percetakan."


"Jangan coba-coba membohongi mama, Cent. Jangan-jangan kau masih mencintainya?" tanya Lucy Lu masih dengan tatapan menyelidik.


"Aku sungguh tidak berbohong, Ma. Untuk apa aku menikahi Jesica kalau aku masih mencintainya."


Setelah menatap anaknya selama dua detik, Lucy Lu lalu berkata, "Baiklah. Kali ini mama akan percaya padamu, tapi tidak untuk lain kali. Beruntung mama yang menerima undangan ini, bagaimana kalau Jesica melihatnya? Dia pasti akan merasa sakit hati."


Ketika undangan diantar ke kediaman Wijaya, sedang ada Jesica di sana. Beruntung orang tersebut langsung memberikannya pada Lucy Lu dan Jesica belum sempat melihat isi di dalamnya ketika Lucy Lu membuka isi dalam kotak tersebut.


"Maafkan aku, Ma. Aku akan menghubungi mereka dan meminta mereka untuk mengganti nama Olivia menjadi Jesica."


"Tapi pernikahanmu tinggal 6 hari lagi, apa masih sempat mencentak ulang undangannya?"


"Aku akan meminta mereka mencetak ulang hari ini agar lusa sudah bisa dibagikan. Untuk sementara ini kita kirimkan undangan digital lebih dulu."


"Baiklah. Pastikan undangan itu jadi maksimal besok malam agar kita bisa mengirimkan lusa."


Setelah ibunya pergi, Vincent meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Maaf, Tuan. Tidak ada kesalahan apapun dalam undangannya. Kami mencetak sesuai dengan yang tuan kirim padaku. Nama Olivia Atmajalah yang tuan kirim padaku waktu itu, bukan Jesica," ucap Seorang Pria di telpon ketika Vincent mengatakan mengenai kesalahan dalam pencetakan nama pada undangan yang mereka baru saja mereka kirim.


"Benarkah?" Seingatnya, setelah Jesica memberitahukan desain undangan yang diinginkannya, dia sendiri yang mengirimkan pada bagian percetakan beserta nama dirinya dan Jesica.


"Silahkan Tuan cek kembali pesan yang Tuan kirimkan padaku waktu itu."


Tanpa mematikan telpon, Vincent mengecek pesan di ponselnya dan setelah melihatnya, dia mengumpat pelan. Ternyata benar, kalau dialah yang salah mengirimkan nama. Bukan nama Jesica yang dikirimkan, melainkan nama Olivia.


"Kau benar, aku yang salah kirim. Kalau begitu aku akan mengirimkan ulang nama calon pengantin wanitanya. Tolong cetak ulang dengan nama yang baru."


"Tapi Tuan, waktunya sudah sangat dekat, sepertinya tidak mungkin...."

__ADS_1


"Cetak ulang semuanya dengan nama Jesica. Aku akan membayar 5 kali lipat dari kesepakatan awal, tapi harus selesai besok sore."


Tanpa pikir panjang, orang tersebut lamgsung menyanggupinya. "Baiklah."


Selesai menelpon, Vincent menghempaskan semua yang ada di atas meha hingga berhambur ke lantai dan meninggalkan suara gaduh.


"Sial, bagaimana bisa aku melakukan kesalahan ini? Kenapa bisa nama Olivia yang kukirimkan pada mereka?" monolog Vincent seraya mengusap kasar wajahnya.


********


Pernikahan Vincent semakin dekat, dua hari lagi pernikahannya akan segera digelar. Sudah beberapa hari ini dia selalu bertemu dengan Jesica setelah pulang bekerja. Karena persiapan pernikahan sudah mencapai 95% jadi hari ini sampai hari H, dia tidak perlu lagi bertemu dengan Jesica maupun Vincent. Bertemu mereka berdua hanya semakin menorehkan luka di hatinya.


Undangan sudah disebar, berita tentang pernikahan Vincent dan Jesica juga sudah tersebar di seluruh negeri. Semua nampak antusias dengan pernikahan mereka. Semua media berlomba-lomba untuk mencari tahu di mana pernikahan putra tunggal dari tuan Juan Wijaya akan digelar, tapi sayangnya, keluarga Wijaya merahasiakannya sehingga tidak ada yang mengetahui selain tamu undangan.


Sore ini setelah selesai bekerja, Olivia berencana untuk langsung pulang karena dia merasa lelah, tapi baru saja keluar dari loby, seseorang menghampirinya dan Nesya. Orang itu adalah Edric, dia datang untuk menjemput Olivia.


"Untuk apa kita ke sini?" tanya Olivia saat mobil Edric berhenti di depan loby hotel di mana pesta pernikahan Vincent agar di gelar.


"Tuan muda ada di atas. Dia ingin berbicara denganmu, Nona."


Edric membuka pintu lalu membimbing Olivia menuju lift. Tidak ada pertanyaan lagi sampai mereka tiba di depan sebuah kamar yang berada di lantai 48. Edric mengeluarkan kartu lalu menempelkan di bawah gagang pintu hingga lampu hijau berkedip.


"Kau tidak ikut masuk?" tanya Olivia dengan heran.


"Tidak, Nona. Saya akan menunggu di bawah."


Tidak ingin membuang waktu, Olivia akhirnya masuk ke dalam hingga tiba di ruangan keluarga. Di sana sudah ada Vincent yanh sejak tadi sudah menunggunya. Dia duduk dengan santai di sofa seraya memainkan ponselnya.


"Kenapa memintaku ke sini?" tanya Olivia tanpa basa-basi. Dari nada bicara terdengar kalau dia terpaksa datang ke sana.


"Apa kau lupa tugasmu apa?"


Olivia menghela napas pelan lalu menatap malas pada Vincent. "Semua persiapan pernikahanmu hampir selesai. Aku sudah menyelesaikan semua tugasku dan tidak ada yang perlu aku bantu lagi."


"Masih ada yang belum kau lakukan."


"Apa lagi? Jesica bilang aku tidak perlu membantu kalian lagi."


Vincent menarik senyuman miring, berdiri lalu menghampiri Olivia. "Masih ada satu hal lagi yang belum kau lakukan."


"Apa? Cepatkan katakan padaku, aku tidak memiliki banyak waktu."

__ADS_1


"Ikut aku." Vincent berjalan menuju kamar lalu membukanya. Dia masuk ke dalam diikuti oleh Olivia.


"Kenapa kita ke sini?


"Ini adalah kamar yang akan gunakan setelah resmi menikah dengan Jesica. Aku ingin kau mendekorasi kamar pengantin kami sebaik mungkin agar kami bisa melewati malam pertama kami dengan bahagia."


Olivia merasa ada batu besar yang menghantamnya setelah mendengar permintaan tidak masuk akal dari Vincent.


"Olivia, apa kau mendengar ucapanku?" Vincent bertanya pada Olivia saat melihatnya terdiam dengan tatapan kosong.


Setelah Vincent menyentuh bahunya, Olivia seketika tersadar dari keterkejutannya. Dengan mata berkaca-kaca dia menoleh pada Vincent yang sedang berdiri di sampingnya.


"Cent, bagaimana bisa kau setega ini padaku?"


Olivia tidak bisa menahan kesedihannya lagi, air matanya langsung luruh begiu saja setelah dia membuka suaranya.


"Bagaimana bisa kau memintaku untuk mendekorasi kamar pengantinmu?"


Selama ini sia masih bisa menerima kata-kata menyaktikan dari Vincent, dia tidak keberatan jika Vincent memperlakukannya dengan buruk, dia juga tidak masalah jika Vincent memintanya untuk membantu mempersiapkan pernikahannya, tapi dia tidak bisa melakukan pemintaan Vincent yang satu ini. Itu sama saja menghancurkan dirinya.


"Kenapa? Apa harga dirimu terluka karena aku memintamu untuk mendekorasi kamar pengantinku?"


"Cent, aku tahu kalau kesalahanku di masa lalu sangat besar, tapi tidakkah kau berpikir kalau kau sudah keterlaluan padaku?"


"Ini belum seberapa, selain mendekorasi kamar pengantinku, kau juga harus menghadiri pernikahanku dan menjadi pendamping Jesica saat menikah nanti. Kau harus menyaksikan langsung bagaimana aku menikahi wanita lain depan matamu sendiri."


"Sebenci itukah kau denganku sampai ingin menghancurkanku hingga ke titik terendah? Tidak bisakah kau berhenti sekarang?"


"Aku tidak akan berhenti sebelum kau menyadari kesalahanmu dan merasakan apa yang aku rasakan ketika kau meninggalkan aku waktu itu. Aku akan menghancurkan hidupmu, sama seperti kau menghancurkan hidupku."


Air mata Olivia kembali jatuh setelah mendengar itu. "Kenapa tidak sekalian ambil saja nyawaku? Dari pada kau menyisaksu terus-menerus."


"Nyawamu sama sekali tidak berharga untukku. Akan lebih menarik jika melihatmu hidup menderita."


Dengan mata yang sudah tertutup air mata, Olivia berkata, "Cent, jika waktu bisa diputar, aku akan memilih untuk tidak mengenalmu. Karena ini kesalahanku, maka aku akan menerima semua pembalasan dendammu, tapi setelah itu, jangan pernah muncul di hadapanku lagi."


"Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang, Olivia. Jika aku hancur, maka kau juga harus hancur."


"Aku membecimu, Cent. Aku sangat membencimu. Aku menyesal karena sudah mencintaimu."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2