Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Permintaan Lucy Lu


__ADS_3

Olivia melangkah dengan cepat setelah dia turun dari taksi di depan pintu loby rumah sakit. Sambil mengusap air matanya, Olivia menuju ruangan IGD. Tiba-tiba saja tadi dia mendapatkan telpon dari salah satu petugas rumah sakit bahwa Vincent dan Edric mengalami kecelakaan mobil.


Karena ponsel Vincent terkunci jadi petugas rumah sakit hanya bisa melakukan panggilan ke nomor darurat dan nomor darurat yang terdaftar di ponsel Vincent hanya nomor Olivia. Itulah sebabnya petugas rumah sakit menghubunginya dan bukan keluarganya.


Setibanya di ruangan IGD Olivia langsung bertanya pada pertugas yang berjaga di dekat pintu masuk ruangan IGD dan seorang perawat pun mengantarkan Olivia ke ranjang di mana Vincent berada. Air mata Olivia kembali mengalir deras ketika melihat kondisi Vincent.


"Nona, apa kau keluarga pasien?"


Seorang perawat mendekati Olivia setelah Dokter memintanya untuk menghubungi keluarga pasien.


"Bukan, aku calon istrinya."


"Begini Nona, kami harus melakukan operasi segera untuk menyelamatkan nyawa pasien dan kami butuh persetujuan tertulis dari keluarga pasien," jelas Perawat itu, "kami minta Nona tolong hubungi segera keluarganya."


Karena Edric yang mengemudi dan dia mengenakan sabuk pengaman jadi lukanya tidak terlalu parah, berbeda dengan Vincent yang duduk di belakang dan tidak mengenakan sabuk pengaman hingga membuatnya terluka parah.


"Bisakah aku saja yang menandatangi persetujuan itu?” tanya Olivia penuh harap, “aku akan langsung menghubungi keluarganya agar segera ke rumah sakit setelah ini.”


Jika menunggu orang tua Vincent datang kemungkinan akan membutuhkan waktu yang lama, sementara keadaannya sudah kritis dan membutuhkan penanganan yang cepat.


"Baiklah."


"Silahkan kau tanda tangani surat persetujuannya."


Olivia bergegas mengambil kertas yang di sodorkan oleh perawat wanita tadi lalu segera menandatanganinya. Tangannya sejak tadi terus gemetar karena merasa panik dan sangat cemas. Setelah menandatangani surat persetujuan, Olivia segera menghubungi ibu Vincent.


Karena Lucy Ly pernah menghubunginya jadi Olivia memiliki nomornya. Setelah telpon tersambung Olivia segera menjelaskan pada Lucy Lu mengenai yang terjadi pada Vincent. Hanya butuh satu menit dan telpon pun segera berakhir.


"Silahkan urus segera administrasinya."


Olivia bergegas ke bagian kasir untuk membayar sebagian biaya untuk operasi Edric dan juga Vincent. Keduanya harus masuk ke ruangan operasi bersamaan jadi Olivia juga harus membayar biaya operasi Edric juga. Beruntung masih ada sisa gaji Vincent waktu jadi dia bisa memakai uang itu. Sebenarnya uangnya hanya tersisa sedikit karena uangnya sudah dipakai untuk mempersiapkan pernikahan mereka berdua.


"Baik." Olivia bergegas menuju loket administrasi dengan berlari kecil.


Meskipun pikirannya sedang kalut, Olivia berusaha untuk tetap tenang. Setelah selesai mengisi data pasien serta membayar setengah biaya operasinya, Olivia kembali ke ruangan IGD dan ternyata Vincent dan Edric sudah dibawa ke ruangan operasi. Saat tiba di sana pintu ruangan operasi sudah tertutup.


Baru 10 menit operasi berjalan, seorang perawat keluar dan berbicara dengan Olivia. Karena Vincent banyak mengeluarkan darah sehingga dia membutuhkan transfusi darah segera, setelah mengecek persediaan darah ternyata rumah sakit tersebut hanya memiliki 1 stok kantong darah yang sama dengan golongan darah Vincent, padahal yang yang dibutuhkan Vincent lebih dari satu kantong.

__ADS_1


Karena Vincent memiliki golongan darah O rhesus negatif jadi dia hanya bisa menerima transfusi darah dari golongan darah O negatif saja, tidak bisa bisa menerima dari golongan darah O positif. Golongan darah O rhesus negatif memang sulit didapatkan dan tidak banyak yang memiliki golongan darah tersebut. Orang Asia cenderung memiliki rhesus positif.


“Aku memiliki golongan darah O negatif. Kau bisa mengambil darahku sebanyak apapun kau mau,” tawar Olivia dengan cepat.


“Baiklah. Nona bisa ikut denganku.” Perawat itu berjalan lebih dulu dan diikuti Olivia dari belakang.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, seorang petugas kesehatan memberitahu Olivia kalau dirinya tidak bisa mendonorkan darah karena tekanan darahnya rendah dan kadar hemoglobinnya kurang dari 12,5g/dL.


“Ambil saja darahku. Aku tidak bisa membiarkan calon suamiku dalam bahaya,” ucap Olivia memaksa.


“Tapi ini akan berbahaya juga bagimu jika kau tetap memaksa mendonorkan darahmu.”


“Tidak masalah. Nyawa calon suamiku lebih penting dariku.”


"Baiklah."


Setelah menandatangi surat persetujuan, pertugas kesehatan itu langsung memasukkan jarum ke pembuluh vena Olivia. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk pengambilan darah Olivia dan setelah selesai, dia diminta untuk berbaring di ranjang karena dia nyaris saja pingsan setelah pengambilan darah dimenit terakhir.


Setelah makan makanan yang disediakan petugas rumah sakit dan beristirahat selama dua jam lamanya, Olivia akhirnya berjalan menuju ruangan operasi dengan langkah pelan sambil memegang dinding agar dia tidak terjatuh. Dia merasa pusing dan penglihatannya terlihat berkunang-kunang saat sedang berjalan. Setibanya di depan ruangan operasi, Olivia melihat ibu Vincent dan beberapa pengawal berdiri di sana.


Ketika melihat Olivia mendekat, ibu Vincent segera berdiri dengan wajah garangnya. Baru saja Olivia ingin menyapanya dengan sopan, tanpa diduga sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya hingga membuatnya langsung terjatuh ke lantai.


Olivia memegang pipi kirinya yang teras kebas akibat tamparan Lucy Lu. Dia berusaha bangkit setelah mengumpulkan tenaganya yang masih tersisa. “Nyonya, ini musibah. Aku juga tidak ingin Vincent celaka,” ucap Olivia dengan suara lemah.


“Apa kau tidak sadar kalau semenjak mengenalmu, anakku selalu saja terkena masalah? Dulu dia ditusuk oleh orang yang memiliki dendam terhadapmu. Sekarang dia ditabrak oleh orang karena ayahmu.”


“Apa maksud, Nyonya?”


Lucy Lu mentap nyalang Olivia lalu berkata, “Asal kau tahu, kecelakaan yang menimpa putraku itu memang sudah direncanakan dan orang yang menabrak mobil anakku adalah orang suruhan dari keluarga orang yang sudah menipu ayahmu. Vincent mengusut kasus ayahmu dan menemukan orang tersebut kemudian menjebloskannya ke penjara setelah membuatnya cacat. Karena tidak terima, keluarga orang tersebut membalas dendam pada anakku setelah tau kalau keluarga Wijaya sudah tidak melindunginya.”


Setelah mendengar anaknya dan Edric mengalami kecelakaan mobil, Lucy Lu langsung menghubungi suaminya yang sedang berada di Singapura. Dia juga meminta pengawalnya untuk mencari tahu penyebab kecelakaan anaknya dan ternyata itu adalah kasus tabrak lari. Tidak butuh waktu lama, Lucy Lu mendapatkan orang yang sudah menabrak mobil anaknya. Dari sanalah dia tahu kalau itu sebenarnya kecelakaan itu sudah direncakan.


“Kalau sampai terjadi apa-apa dengan putraku, aku sendiri yang akan membu-nuhmu, Olivia." Mata Lucy Lu nampak memerah dan tatapannya dipenuhi oleh api kemarahan.


“Nyonya, aku tidak pernah meminta Vincent untuk mencari orang yang sudah menipu ayahku. Aku bahkan tidak tahu mengenai hal itu."


Ketika Lucy Lu ingin membalas ucapan Olivia, pintu ruangan operasi tiba-tiba terbuka. Dia segera menghampiri Dokter dan bertanya dengan wajah khawatir mengenai keadaan anaknya. Dokter menjelaskan pada Lucy kalau operasinya sukses dan berjalan lancar jadi tinggal menunggu Vincent melewati masa kritisnya setelah melakukan operasi.

__ADS_1


“Beruntung calon menantumu memiliki golongan darah yang sama dengan anakmu sehingga nyawanya bisa tertolong, jika tidak, mungkin anakmu tidak bisa selamat,” ucap Dokter itu sambil memandang Olivia, “anakmu mengalami pendarahan hebat dan dia yang sudah mendonorkan darahnya karena stok darah di rumah sakit kami sedang kosong untuk tipe golongan darah anakmu,” terang Doker pria yang sudah berumur tersebut, “kau beruntung sekali memiliki calon menantu yang baik seperti dia. Dia membahayakan dirinya demi menolong anakmu.”


“Apa maksud Dokter?”


“Sebenarnya Nona Olivia tidak disarankan untuk mendonorkan darah karena dia mengalami anemia dan tekanan darahnya juga rendah. Terlalu berisko baginya jika dia mendonorkan darah, tapi dia tidak mempedulikan dirinya sendiri dan memaksa untuk tetap mendonorkan darahnya.”


Lucy Lu memandang wajah Olivia yang terlihat pucat. Pantas saja Olivia langsung terjatuh saat dia menamparnya tadi. Ternyata tubuhnya lemah setelah mendonorkan darah untuk anaknya. Terbesit sedikit rasa bersalah dalam hatinya setelah mengetahui itu.


“Olivia, aku minta maaf karena sudah menamparmu tadi dan terima kasih karena sudah menyelamatkan anakku," ucap Lucy Lu setelah semua Dokter dan Perawat sudah pergi dari sana.


“Nyonya tidak perlu berterima kasih padaku. Sudah seharusnya aku melakukan itu.”


“Katakan padaku, imbalan apa yang kau inginkan karena sudah menyelamatkan anakku?”


“Aku tidak mengharapkan apapun, Nyonya. Aku menolong Vincent karena memang aku mencintainya.”


“Apa kau ingin mengikat anakku selamanya karena kau sudah menyelamatkan nyawanya?”


"Tidak. Aku melakukannya dengan tulus, aku sangat men...."


Sebelum Olivia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Lucy Lu berlutut di lantai hingga membuat Olivia terkejut. “Nyonya apa yang kau lakukan?”


Olivia ingin membantu Lucy Lu untuk bangun, tapi di tepis olehnya. Semua pengawal yang ada di sana sangat terkejut melihatnya. Ini pertama dalah hidupnya, Lucy Lu berlutut di depan orang lain.


“Tolong lepaskan anakku, Olivia. Anakku akan benar-benar mati jika kau masih memaksa untuk bertahan denganmu. Sudah 2 kali dia hampir kehilangan nyawanya dan itu disebabkan olehmu dan juga keluargamu. Jangan sampai nanti dia celaka lagi. Aku akan memberikan setengah saham Morland group padamu sebagai kompensasi karena kau sudah menyelamatkan anakku.”


Tatapan memohon serta wajah mengiba Lucy Lu membuat Olivia merasa bersalah.


“Aku hanya memiliki satu anak dan aku tidak sanggup kehilangan dirinya. Aku janji akan memperlakukukanmu dengan baik di masa depan jika kau mau melepas anakku. Aku mohon, tolong lepaskan anakku demi kebaikannya.”


Permintaan Lucy Lu membuat Olivia mematung. Ini adalah pilihan yang sulit baginya. “Nyonya, jangan begini, bangunlah.” Olivia merasa tidak enak hati ketika melihat Lucy Lu masih berlutut di depannya.


“Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kau mau melepas anakku?” Lucy Lu menolak untuk bangun dan tetap memilih berlutut, "haruskah aku berlutut hingga pagi di sini atau kau ingin aku mencium kakimu?”


Olivia langsung menghindar saat Lucy Lu akan meraih kakinya. “Nyonya, jangan pernah lakukan itu. Bangunlah.” Olivia merasa tidak tega saat melihat Lucy Lu berlutut memohon sambil mengeluarkan air matanya.


“Aku mohon Olivia, lepaskan anakku. Aku yakin kau pasti bisa menemukan pria baik di luar sana nantinya. Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya lagi, aku tidak akan bisa melanjutkan hidupku. Aku hanya memiliki Vincent seorang, tolong jangan renggut dia dariku.”

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2