
“Tidak akan kubiarkan siapapun menggagalkan pernikahan kita. Kau tidak akan bisa lari lagi dariku Olivia. Saat ini juga aku akan menjadikanmu milikku selamanya.”
Pikiran Olivia mendadak kosong seketika setelah mendengar itu. Dia bahkan tidak sadar saat Vincent memanggil namanya. Baru setelah lengannya disentuh, kesadaran Olivia langsung kembali.
"Apa kau sudah siap? Kita akan mengucap janji suci sekarang."
"Tunggu dulu." Olivia menatap Vincent dengan wajah heran, "kenapa kau mau menikahiku? Apa kau ingin menyiksaku seumur hidupku?"
Vincent tertawa lalu mengusap pipi Olivia dengan lembut karena merasa gemas dengan pemikirannya.
"Aku menikahimu karena mencintaimu. Aku tidak mungkin menyiksamu, Sayang."
Tentu saja Olivia tidak percaya begitu saja dengan ucapan Vincent. Selama ini, sikap Vincent tidak mencerminkan kalau dia mencintainya.
"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu saat ini. Waktu kita terbatas. Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Yang harus kita lalukan saat ini adalah menikah terlebih dahulu."
Vincent hanya takut kalau ibunya akan menghentikan pernikahan mereka. Apalagi, selama ini ibunya tidak tahu apapun mengenai rencananya ini.
"Tapi bagaimana dengan Jesica?"
"Apa kau belum mengerti juga? Dengan mengirimmu ke sini sekarang, itu artinya Jesica sudah mundur dari pernikahan ini. Dia sudah memberikan kesempatan padamu untuk menikah denganku."
Olivia tertegun selama beberapa detik dengan wajah terkejut. "Tapi dia...."
"Liv, menikahlah dengan Vincent."
Tiba-tiba saja Jesica muncul dari arah samping kiri dan seketika itu juga semua perhatian tamu beralih pada Jesica. Semua orang nampak terkejut ketika melihat Jesica tidak memakai pakaian pengantin, melainkan hanya mengenakan dress hitam selutut. Wajahnya terlihat tersenyum, namun ada kesedihan di dalam sorot matanya. Matanya terlihat sembab dan hidung nampak memerah.
"Aku akan mendukung pernikahan kalian," tambah Jesica lagi sambil menghampiri Olivia dan Vincent.
"Tapi Jes, aku...."
"Liv, kita tidak punya waktu lagi. Jika gagal menikah hari ini, mungkin saja kita tidak akan menikah selamanya."
Setelah mengatakan itu, Vincent menoleh ke samping lalu berbicara dengan pria paruh baya yang sejak tadi berdiri di samping kanannya.
"Kalau begitu kita mulai sekarang," ucap Pria paruh baya itu.
"Tunggu dulu!"
Wajah Vincent menegang saat mendengar ibunya berteriak dengan nyaring. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menoleh pada Lucy Lu secara bersamaan.
"Ma, apa lagi yang akan kau lakukan?" Tuan Juan Wijaya berbicara pelan pada istrinya, "apa kau ingin menghentikan pernikahan mereka?"
Lucy Lu menoleh pada suaminya dengan wajah marah. "Tentu saja. Vincent sudah menipuku. Beraninya dia membohongi ibunya sendiri."
__ADS_1
Saat melihat Lucy Lu akan melangkah, Juan Wijaya langsung menghadanganya. "Aku tidak akan membiarkanmu menghentikan pernikahan mereka. Sudah cukup aku selama ini aku mentolerir semua sikap kejammu pada anak kita. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan kebahagiaan anak kita lagi."
Lucy Lu semakin geram melihat suaminya mendukung anaknya. "Minggir. Jangan menghalangiku."
"Lucy, jangan pernah berani menghentikan pernikahan cucuku." Kali ini Nenek Vincent yang berbicara.
"Bu, tapi Vincent sudah mempermalukan keluarga kita. Dia mencoreng nama baik keluarga kita di depan semua orang."
"Ini semua karena keegoisanmu. Kau membuat cucuku terluka dan hidup menderita. Jika waktu itu, aku tahu kau mengusirnya dari rumah, aku pasti akan membawanya pulang ke kediaman Morland. Tidak akan kubiarkan dia hidup menderita di rumah kecil bersama Olivia."
"Bu, aku melakukan itu demi kebaikannya."
"Itu bukan demi kebaikan cucuku, tapi demi keegoisan dan juga harga dirimu yang setinggi langit." Nenek Vincent menoleh pada pria paruh baya yang berdiri di samping cucunya lalu berkata, "Silahkan mulai acaranya. Jangan pedulikan apapun lagi."
"Buuuu....!"
"Diamlah!" Nenek Vincent menatap anaknya dengan tajam lalu berkata, "kalau kau masih ingin aku akui sebagai anakku, jangan berani menghentikan pernikahan mereka."
"Aku juga tidak akan tinggal diam kalau sampai kau menggagalkan pernikahan anak kita," ucap Juan Wijaya dengan pelan namun tegas.
Melihat semua tidak ada yang memihaknya dan justru menyerangnya secara bersamaan, Lucy Lu tidak berkutik lagi. Dia hanya bisa diam dan menyaksikan saat anaknya mengucapkan janji suci pernikahan di depan semua orang.
Setelah resmi sebagai sepasang suami-istri, mereka berdua saling memakaikan cincin pernikahan, setelah itu, Vincent mencium Olivia di depan semua tamu undangan. Mereka pun bersorak saat melihat itu hingga membuat Olivia merasa malu. Wajah memerah setelah Vincent mengakhiri ciuman singkatnya.
"Selamat datang di Keluarga Wijaya, Istriku," bisik Vincent dengan senyuman penuh makna. Dia sengaja menekan kata terakhir saat berbisik pada Olivia tadi untuk mengingatkan status barunya.
"Ma, cobalah untuk mulai menerima Olivia sebagai menantu di dalam keluarga kita."
"Sampai kapanpun aku tidak pernah menerimamya sebagai menantuku." Lucy Lu pergi dengan wajah kesal setelah mengatakan itu.
"Juan, biarkan saja dia. Istrimu itu memang sangat keras kepala. Aku tidak mengerti bagaimana bisa aku melahirkan anak yang memiliki hati sekeras batu seperti dia." Nenek Vincent menggelengkan kepala dengan wajah kecewa sambil menghela napas panjang.
"Bu, dia hanya butuh waktu saja. Lambat laun, dia pasti bisa menerima Olivia."
"Jika dia tidak bisa menerima Olivia, aku akan membawa cucu serta cucu menantuku ke Singapura. Tidak akan kubiarkan mereka menderita lagi."
"Jangan, Bu. Hanya Vincent yang aku miliki di dunia ini. Jika kau mengambilnya, aku sudah tidak memiliki siapapun lagi."
"Pastikan istrimu tidak menyakiti cucuku lagi, jika tidak, aku akan membawanya ke negaraku, tidak hanya itu, Morland Group juga akan aku ambil alih dan akan kuberikan langsung pada cucuku. Istrimu tidak akan memiliki apapun, selain harta yang kau miliki."
"Aku mengerti, Bu. Aku akan memberikan pengertian pada istriku agar mau dia mau menerima pernikahan Vincent dan Olivia."
Di lain tempat, tepatnya di altar pernikahan, Vincent nampak menggengam tangan Olivia dan menariknya dengan lembut menuju pintu belakang yang menghubungkan ballroom dengan hotel. Mereka akan berisitirahat sejenak di kamar sebelum acara resepsi dilaksanakan. Masih ada waktu tiga jam sebelum acara resepsi dimulai.
"Sampai sini saja." Vincent berhenti tepat di depan pintu kamarnya lalu menatap Sinta, "kami akan beristirahat selama dua jam. Kalian bisa ke sini satu jam sebelum resepsi dimulai untuk berganti baju dan juga merias wajahnya."
__ADS_1
"Tapi satu jam tidak akan cukup untuk semua itu, Tuan," protes Sinta.
"Kalau begitu kau bisa datang 1.5 jam setelahnya. Kalian bisa beristirahat di kamar yang sudah aku pesan. Asistenku akan mengantarkan kalian ke sana."
Edric mendekati Sinta dan mengajaknya beserta dengan rombongannya menuju kamar di lantai bawah.
"Masuklah. Kenapa kau berdiri di situ saja, Sayang? Apa kau tidak lelah?" tanya Vincent seraya menatap Olivia yang sejak tadi hanya berdiri di belakang pintu kamarnya setelah pintu tertutup, "kemarilah." Vincent menepuk tempat tidur di sampingnya setelah dia duduk bersandar di headboard.
"I-iyaa." Dengan wajah ragu, Olivia melangkah dengan pelan menuju tempat tidur.
"Jangan duduk di sana, Sayang. Berbaringlah di sampingku. Apa kau tidak lelah? Atau jangan-jangan kau takut padaku?" tanya Vincent dengan tatapan menyelidik.
Ditatap seperti itu oleh Vincent, tentu saja membuat Olivia menjadi salah tingkah. "Bukan, begitu, Cent. Aku hanya merasa tidak nyaman berbaring mengenakan gaun ini."
Tanpa menunggu lama, Vincent berdiri lalu menghampiri Olivia. "Kalau begitu, labih baik lepaskan gaunmu."
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Olivia ketika melihat Vincent memegang bagian belakangnya bajunya.
"Tentu saja membantumu melepas gaun ini, Sayang. Kau tidak mungkin bisa melepasnya sendiri."
Mendengar itu, wajah Olivia memerah.
"Berdirilah."
Olivia tidak membantah dan mengikuti perkataan Vincent dengan patuh. Setelah resleting gaunnya sampai bawah, Olivia segera meminta Vincent untuk berhenti.
"Aku akan melepasnya sendiri di kamar mandi."
Vincent tentu tidak mau melepaskan Olivia begitu saja. "Kenapa kau masih malu-malu, Sayang? Sekarang aku sudah resmi menjadi suamimu jadi jangan malu lagi."
"Aku belum terbiasa melepas pakaianku di depan orang lain."
"Aku bukan orang lain, aku suamimu, Olivia."
Meskipun benar Vincent sudah menjadi suaminya, tapi tetap saja dia merasa malu. Jika dia melepas gaunnya di depan Vincent, itu sama saja memperlihatkan hampir seluruh tubuhnya pada pria yang baru saja resmi menjadi suaminya itu. Akan terasa canggung jika Vincent menatap tubuhnya yang hampir polos, sementara dirinya berpakaian lengkap.
"Iyaaa, aku tahu. Tapi aku masih malu."
Melihat Olivia menundukkan kepalanya, Vincent akhirnya berkata, "Baiklah. Cepat ganti bajumu. Aku tunggu di sini."
Olivia bergegas ke kamar mandi dan kembali keluar 15 menit kemudian setelah memakai bathrobes dan membersihkan wajahnya dari sisa make-up.
"Kenapa kau duduk jauh sekali, Sayang?" tanya Vincent saat melihat Olivia duduk di ujung tempat tidur, "Aku tidak akan menggigitmu, Olivia. mendekatlah." Vincent memberikan kode pada Olivia untuk berbaring di sampingnya.
"Aku di sini saja, Cent," tolak Olivia dengan lembut, "kau bisa berbaring dan tidur jika kau lelah."
__ADS_1
"Olivia, cepatlah." Wajah Vincent terlihat mulai tidak sabar, "jangan sampai aku yang menarikmu ke sini. Jika sampai itu terjadi, ini akan berakhir dengan panjang nanti. Kau tahu bukan, aku bisa melakukan apa saja sekarang karena kau sudah resmi menjadi istriku."
Bersambung.