
Setelah sarapan pagi, mereka langsung menuju bandara setelah berpamitan dengan nenek dan ayah Vincent. Lucy Lu tidak turut mengantar anaknya hingga ke loby karena masih kecewa pada pilihan anaknya. Vincent memakai jet pribadinya menuju Bali, selain Edric, ada beberapa pengawal yang ikut serta dengan mereka.
Vincent menggandeng tangan istrinya ketika mereka berjalan menuju jet pribadinya. Beberapa orang terlihat menungu di dekat tangga jet pribadi Vincent. Ketika Vincent semakin dekat, orang-orang tersebut langsung menyapanya dengan hormat. Nampak pria memakai topi pet hitam dengan seragam putih-hitam yang dihiasi dengan strip pangkat di bahunya mendekati Vincent lalu menyalaminya sambil menyapanya.
Selesai berbincang sebentar, Vincent mengajak Olivia untuk naik ke dalam jet pribadinya. Di dalam pesawat mereka berdua langsung disambut dengan ramah oleh 2 orang pramugari, mereka pun mengikuti Vincent dan Olivia hingga ke tempat duduknya dan menanyakan apakah ada sesuatu yang mereka inginkan sebelum mereka take-off.
“Sayang, apa kau ingin memakan sesuatu?” tanya Vincent sambil menoleh pada istrinya.
“Air putih saja, aku haus.”
“Bawakan minuman untukku dan istriku. Bawakan juga makanan ringan atau buah.”
Setelah pramugari pergi, Vincent kembali menoleh pada istrinya. “Sayang, kita hanya akan menginap di Bali selama 2 dua lagi, setelah itu, kita langsung terbang ke Maldives.”
Dia tidak bisa mengambil cuti terlalu panjang karena banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan. Dia tidak bisa meninggalkan perusahaan lama-lama jadi dia hanya bisa mengambil libur selama seminggu.
Mereka tiba di penginapan yang ada di Bali sekitar pukul 11.20 WITA. Dari bandara menuju penginapan, mereka menggunakan helikopter yang sudah disewa oleh Vincent. Dia tidak ingin menghabiskan waktu banyak dalam perjalanan menuju hotel karena tidak ingin membuat istrinya lelah, itu sebabnya dia menyewa helikopter. Apalagi tersedia helipad di hotel tempatnya menginap jadi itu mempersingkat waktu mereka.
Setelah meletakkan barang mereka barang mereka di kamar, Vincent mengajak istrinya untuk makan siang terlebih dahulu. Meskipun di dalam pesawat tadi menyediakan berbagai makanan, tapi Olivia hanya memakan sedikit. Dia tidak terlalu suka makan berat saat dalam perjalanan udara.
“Sayang, kau ingin ke mana hari ini?” tanya Vincent setelah selesai menikmati makan siangnya di restoran hotel tempatnya menginap.
“Ke mana saja, terserah kau saja.”
“Baiklah, tapi kita istirahat sebentar, setelah itu, baru kita jalan-jalan.”
“Iyaaa," jawab Olivia sambil tersenyum senang.
Sejak mendarat di Bandara Ngurah Rai, Olivia sudah terlihat sangat antusias. Dia langsung meminta Vincent mengantarkan untuk berbelanja pakaian renang dan juga bikini untuk dia gunakan selama di Bali sebelum pergi ke pantai.
Setiba di dalam kamar mereka, Olivia membuka semua tirai jendelanya. Vincent memilih vila yang langsung menghadap ke laut. Pemandangannya sangat indah hingga membuat Olivia merasa senang. Olivia jarang sekali berlibur selama ini, meskipun dia terlahir dari keluarga kaya juga, tapi lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar pribadinya.
“Sayang, berbaringlah,” ucap Vincent saat melihat istrinya masih berdiri seraya menatap ke arah pemadangan laut di depannya.
“Iyaa, sebentar.”
“Cepat, Sayang. Aku ingin tidur.”
Olivia mengabaikan permintaan Vincent yang sudah lebih dulu berbaring di atas tempat tidur. “Tidur saja. Aku ingin melihat keluar sebentar.”
Melihat istrinya akan keluar, Vincent segera bangkit lalu secara tiba-tiba meraih tubuh istrinya dan membopongnya ke tempat tidur, mengabaikan teriakan Olivia yang minta di turunkan segera. Vincent memang menurunkan Olivia, tapi di atas tempat tidur.
“Aku tidak bisa tidur jika tidak bersamamu.”
Vincent ikut berbaring di samping istrinya, memeluknya dari depan agar dia tidak bisa turun dari tempat tidur.
“Tapi selama ini kau selalu tidur sendiri.” Olivia tahu itu hanya alasan suaminya saja agar dia menemaninya tidur.
“Itu dulu, sebelum kita resmi menikah, sekarang aku tidak bisa tidur jika tidak ada kau di sampingku.”
__ADS_1
“Ini masih siang, aku tidak mengantuk.”
“Menurutlah, Sayang. Jika tidak, aku akan menjadikan siang ini sebagai pengganti malam pertama kita yang gagal.”
Olivia langsung membatu ketika Vincent sudah berada di atasnya dan sedang menatapnya dengan lekat. “Ba-baiklah. Aku akan tidur.”
Vincent tersenyum tipis saat melihat wajah tegang Olivia. Dia merasa gemas sekali setiap melihat ekspresi takut dan juga panik setiap kali Vincent membahas mengenai malam pertama yang belum sempat mereka lakukan. Dia semakin bersemangat ingin segera menjadikan Olivia menjadi miliknya seutuhnya.
Pukul 3 sore, Vincent terbangun lebih dulu setelah tertidur selama satu jam. Olivia yang mengatakan tadi tidak mengantuk, justu masih tertidur pulas di tempat tidur. Dia bahkan tertidur dengan nyaman sambil memeluk suaminya. Dengan hati-hati, Vincent mengangkat tangan Olivia yang berada di pinggangnya lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi. Selesai mandi, dia menghubungi Edric dan berbicara dengannya sebentar di depan vilanya kemudian kembali masuk ke dalam dan membangun istrinya.
“Sayang, bangunlah. Kau bilang ingin jalan-jalan.” Vincent mengusap pipi istrinya dengan lembut setelah mendaratkan kecupan singkat di bibir istrinya.
“Sebentar lagi. Aku masih mengantuk,” ucap Olivia tanpa membuka matanya.
“Kau bilang ingin berjemur. Matahari akan terbenam sebentar lagi, kau tidak akan bisa melihat sunset jika itu terjadi.”
Mendengar itu, Olivia langsung membuka matanya dan menoleh ke arah ponselnya yang berada di atas nakas.
“Kau membohongiku?” Olivia memberikan tatapan menusuk pada Vincent saat tahu kalau waktu masih menunjukkan pukul 3 sore.
Vincent pun tersenyum melihat wajah kesal istrinya. “Mandilah, setelah ini kita langsung pergi. Edric sudah menunggu di luar.”
Seletelah Olivia selesai mandi, mereka un menuju parkiran mobil di mana Edric sudah menunggu. Butuh waktu setengah jam untuk tiba di tempat tujuan mereka. Sebenarnya, di tempat mereka menginap juga terdapat pantai di dalamnya, hanya saja Olivia juga ingin menikmati pantai lainnya.
“Sayang, kau pergi saja duluan. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Edric sebentar,” ucap Vincent setelah mereka masuk di kawasan pantai yang menjadi tujuan mereka hari ini.
“Iyaaa.”
Sebelum merebahkan diri di kursi pantai, Olivia menyapu sekitarnya untuk mencari Vincent. Karena tidak menemukannya, Olivia akhirnya melepaskan outer kimono bertema floral lalu merebahkan diri di kursi pantai. Tidak lupa dia mengenakan kaca mata hitam untuk menghalangi cahanya langsung masuk ke dalam matanya.
Di tempat lain, selesai berbicara dengan Edric, Vincent berjalan menuju bibir pantai untuk mencari keberadaan istrinya, setelah melihatnya sedang bersantai di kursi pantai, dia segera menghampirinya. Vincent nampak terkejut saat melihat apa yang dikenakan istrinya.
“Sayang, apa kau sengaja berpakaian seperti ini untuk membuatku marah?” Vincent berdiri tepat di sebelah Olivia sambil menatap tajam dirinya.
"Memangnya apa yang salah?" Melihat wajah marah suaminya, Olivia bangun lalu duduk dengan tegak.
“Kenapa kau berpakaian seperti ini?” Vincent menunjuk crop top tanpa lengan berwarna putih dan hot pants hitam yang sedang dipakai istrinya, “kau ingin menarik perhatian pria lain?”
Olivia menghela napas pelan lalu meminta suaminya duduk di sampingnya. “Cent, lihatlah di sekeliling kita,” ucap Olivia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya lalu kembali menatap suaminya, “semua orang di sini memakai pakaian terbuka. Rata-rata mereka mengenakan bikini seksi. Ini pantai Cent, jadi wajar saja kalau aku memakai ini."
Sebagian dari mereka bahkan hanya menutup bagian sensitif mereka dengan kain yang sangat tipis dan itu pun tidak menutup sempurna area sensitif mereka. Menurut Olivia pakaian yang dia kenakan masih termasuk sopan dibandingkan dengan orang lain yang berada di sana.
“Aku tidak peduli dengan orang lain. Aku tidak ingin tubuh istriku dilihat oleh orang lain.” Vincent melemparkan outer yang semula di lepas oleh Olivia, “cepat pakai ini.”
Olivia tidak langsung memakainya. Dia sedang berjemur untuk menikmati matahari sore, jika dia memakai kembali outer itu, bukan berjemur namanya.
“Jangan sampai aku mengatakan untuk kedua kalinya, Sayang."
Melihat sorot tajam mata suaminya, Olivia segera memakai outer itu dengan terpaksa lalu kembali berbaring dengan wajah cemberut. Vincent pun membenahi outernya hingga tubuh istrinya tertutupi dengan sempurna dan hanya menampilkan sedikit betisnya saja.
__ADS_1
“Kau itu milikku, Olivia. Tidak akan kubiarkan orang lain melihat tubuhmu.”
Olivia hanya diam dan tidak menanggapi suaminya. Melihat istrinya cemberut, Vincent pun mencoba membujuk istrinya itu untuk bermain jetski. Dia tahu kalau istrinya sedang kesal saat ini.
“Tapi ganti dulu bajumu dengan yang lebih tertutup.”
Olivia memajukan bibirnya setelah mendengar itu, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Vincent pun mengecup singkat bibir istrinya yang terlihat sangat menggemaskan di matanya.
“Cent, kenapa kau menciumku di sini? Dasar tidak tahu malu!"
Vincent hanya terkekeh pelan melihat tubuh istrinya. “Cepat ganti bajumu.” Vincent menarik pelan tangan istri agar segera bangkit.
Selesai berganti pakaian, Vincent mengajak Olivia untuk menuju tempat bermain jetski. “Pakai ini.” Vincent pun memakaikan pelampung pada istrinya.
“Cent, kenapa sejak tadi Edric terus mengikuti kita?”
Vincent menoleh ke belakang sebentar lalu kembali membenahi baju pelampung istrinya. “Itu memang sudah tugasnya untuk menjaga kita, terutama menjaga dirimu.”
“Kenapa tidak meliburkannya? Seharusnya biarkan saja dia istrirahat di hotel.” Olivia hanya merasa tidak bebas diikuti oleh Edric ke mana pun mereka pergi, apalagi mereka ke Bali untuk berbulan madu. Olivia ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan suaminya tanpa diikuti Edric.
“Ini demi keamanan kita, Sayang. Aku tidak merasa tenang jika tidak ada yang mengawasimu.”
Selesai memakai baju pelampung, mereka berdua menuju motor jetski yang sudah Vincent sewa. “Naiklah, Sayang.” Vincent mengulurkan tangannya agar istrinya bisa naik dan duduk di belakangnya.
“Apa kau bisa mengendarainya?”
“Tentu saja Kau jangan takut, yang terpenting adalah peluk aku dengan erat saat aku melajukan motor jetski ini.”
“Baiklah.”
Vincent memacu motor jetski dengan kecepatan sedang dan menjelajahi sekitar pantai selama 15 menit lamanya, setelah merasa Olivia tidak takut lagi, dia menambah kecepatanya. Olivia berteriak kencang dan memeluk suaminya dengan erat saat Vincent berbelok dan melakukan manuver-manuver ekstrem. Ternyata Vincent sangat handal ketika mengemudikan motor jetski tersebut seperti seorang prefesional.
“Bagaimana Sayang? Apa kau masih takut?” tanya Vincent setelah menurunkan kecepatannya. “Tidak. Ternyata ini menyenangkan.”
“Apa kau ingin mencoba mengemudikannya?” tanya Vincent setelah mematikan motor jetskinya ketika mereka sudah menepi.
“Tapi aku tidak bisa, Cent.”
“Aku akan mengajarimu.”
Mendengar itu, Olivia tersenyum lebar. “Baiklah.”
Olivia tadi sempat melihat ada wanita yang mengemudikan sendiri motor jetskinya dan itu terlihat sangat keren di matanya. Itu sebabnya dia juga ingin mencoba mengemudikannya. Ini pertama kalinya Olivia mencoba jetski dan ternyata dia menyukainya.
“Berikan bayaran dulu, baru akan aku ajari.”
Olivia mendengus saat melihat suaminya menunjuk bibirnya sendiri. “Baiklah, tapi kau harus mengajariku sampai bisa.”
“Tergantung seberapa banyak hadiah yang akan kau berikan padaku, Sayang.” Vincent tersenyum penuh arti pada istrinya dan Olivia sudah tahu apa maksud dari perkataan Vincent
__ADS_1
“Baiklah, suamiku. Mendekatlah.”
Bersambung....