
“Apa yang kau bicarakan dengannya?”
Vincent langsung bertanya pada Olivia setibanya di apartemen Axel.
“Kami… kami sedang….”
“Kami?” ulang Vincent dengan dahi berkerut, “semenjak kapan kau dan dia menjadi kami?” Ekspresi tidak senang tergambar jelasn
di wajah Vincent saat mengatakan itu.
Olivia menelan salivanya dengan cepat lalu meralat ucapannya. “Maksudku, aku hanya dan Alvin sedang membicarakan sesuatu.”
“Membicarakan apa hingga dia menatapmu penuh cinta seperti itu?”
Di bawah, jari tangan Olivia saling bertautan dengan bola mata yang terus bergerak, menghidari tatapan mengintimidasi dari Vincent. “Aku bertanya pada Alvin apakah aku bisa mengajar Cloe lagi.”
Mereka membutuhkan uang lebih jadi Olivia berusaha untuk mencari pekerjaan lain. Selain bekerja di kantor, Olivia juga masih menjadi translator untuk acara-acara tertentu. Dia tidak mungkin berdiam diri saja saat melihat Vincent berjuang sendiri.
Mendengar itu, raut wajah Vincent menjadi kaku dan rahangnya mengeras. “Olivia, apa kau sengaja ingin mempermalukanku di depan Alvin?”
“Aku… aku tidak bermaksud seperti Cent.”
Olivia ingin bilang kalau dia melakukan itu untuk membantu meringankan beban Vincent, tapi dia tidak sanggup melanjutkan ucapannya karena takut Vincent akan marah karena sebelumnya, Vincent sudah mengatakan kalau Olivia tidak boleh bekerja di tempat lain lagi ketika dia mengetahui kalau Olivia masih menjadi translator.
“Kau tahu aku dan Alvin adalah musuh. Kau meminta bantuannya disaat kau menjadi kekasihku. Alvin akan menganggapku pria tidak berguna jika kau melakukan itu. Kau sama saja merendahkan harga diriku, Liv."
Melihat Vincent salah paham padanya, Olivia segera menjelaskan pada Vincent. “Cent, bukan seperti itu maksudku. Kita membutuhkan banyak uang untuk persiapan pernikahan kita dan juga untuk ke depannya jadi aku ingin mencari pekerjaan lain lagi. Aku hanya ingin membantumu.”
“Aku tidak butuh bantuan wanita, Liv. Aku bisa mengatasi semuanya sendiri. Kenapa kau tidak bisa percaya denganku?” Vincent menatap Olivia dengan wajah kecewa.
“Aku ingin berjuang bersama-sama denganmu, Cent. Aku tidak bisa berdiam diri saja melihatmu bekerja keras sendirian.”
“Ini tanggung jawabku, Liv. Aku pria. Tidak peduli betapa sulitnya untuk mendapatkan uang, aku pasti akan melakukan apapun yang aku bisa agar kau tidak hidup susah bersamaku.”
Olivia menundukkan kepalanya. Dia akui, dia memang salah karena tidak meminta ijin terlebih dahulu pada Vincent, tapi hanya Alvin yang saat ini ada di pikirannya yang bisa membantunya.
“Maafkan aku, Cent.”
“Jika kau tidak ingin aku marah, mulai sekarang jangan mencari pekerjaan lain lagi. Cukup bekerja di kantormu yang saat ini. Lainnya, aku yang akan mengurusnya.” Saat melihat Olivia mengangguk dengan wajah bersalah, "dan juga, mulai sekarang jangan pernah meminta atau menerima bantuan apapun dari Alvin."
__ADS_1
******
Hari ini Vincent pulang lebih awal dari kantor, pukul 3 sore dia sudah keluar dari ruangannya. Sore ini rencananya dia akan pindah ke rumah sewa yang ada di pinggir kota Jakarta. Kemarin mereka semua sudah mengemas barang mereka jadi sore ini mereka bisa langsung pindah. Rumah yang di sewa Vincent memiliki dua kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu dan ruang keluarga dan dapur kecil yang menyatu dengan ruangan makan.
Meskipun terlihat sederhana, tapi rumah itu terlihat bersih dan yang terpenting di rumah sewa itu sudah tersedia semua perabotannya. Sebelumnya rumah itu tinggali oleh pemiliknya bersama dengan keluarganya, namun satu bulan lalu mereka terpaksa pindah karena pemilik rumah itu dimutasi keluar daerah sehingga pemiliknya terpaksa menyewakan rumah tersebut.
Lokasi rumah itu yang tidak jauh dari jalan raya memudahkan mereka untuk jika ingin pergi ke mana-mana, selain itu, sewa rumah itu juga terjangkau sehingga Vincent langsung setuju setelah melihat langsung rumah tersebut kemarin.
"Letakkan saja di situ," ucap Vincent pada Edric sambil menunjuk sisi ranjang di kamar yang akan di tempati Olivia.
Setelah meletakkan dua koper di kamar, Vincent mengajak Edric untuk berbicara di ruangan tamu untuk membahas pekerjaan, sementara Olivia pergi ke dapur untuk memasak. Sebelum sampai rumah sewa Olivia meminta Edric berhenti di supermarket untuk membeli bahan makanan. Selesai memasak Olivia memanggil Vincent dan Edric untuk makan malam bersama.
“Edric, silahkan di makan. Maaf karena aku hanya memasak makanan sederhana.” Olivia menawari Edric dengan wajah sungkan. Dia sebenarnya merasa tidak enak hari karena hanya memasak sup ayam kampung untuk makan malam mereka.
“Tidak apa-apa, Nona. Maaf sudah merepotkanmu.“ Edric terlihat sangat sungkan ketika berbicara dengan Olivia saat melihat lirikan bosnya.
“Mana mungkin merepotkan. Justru kami yang sudah merepotkanmu selama ini.”
“Edric, kau tahu bukan kalau aku tidak suka berbagi dengan orang lain. Kau satu-satu pria yang aku perbolehkan merasakan masakan calon istriku jadi makanlah yang banyak. Lain kali, belum tentu kau bisa merasakannya lagi karena Olivia hanya boleh memasak untukku dan juga untuk anak-anakku nanti.”
Wajah Olivia memerah setelah mendengar ucapan Vincent. Perkataannya itu membuatnya malu.
“Terima kasih atas kebaikanmu, Tuan Muda.”
“Sakiiit Sayang, kenapa kau mencubitku?”
Vincent berpura-pura memegang perutnya sambil meringis, padahal sebenarnya cubitan Olivia tidak sakit sama sekali. Dia sengaja melakukan itu hanya untuk mencari perhatian Olivia saja.
“Maafkan aku.” Olivia mengusap perut Vincent dengan lembut, namun itu justru membuat tubuh Vincent berdesir.
“Cukup, Liv. Mari kita makan.”
Sedari tadi Edric diam –diam terus memperhatikan interaksi antara Olivia dan bosnya.
Tuan Muda. Aku tidak menyangka kalau kau bisa bersikap manja pada wanita, tapi aku bersyukur karena bisa melihatmu sering tersenyum sekarang. Aku harap kalian bisa segera bersatu.
******
“Liv, hari ini jangan pulang dulu. Divisi kita akan mengadakan perayaan makan bersama di restoran setelah ini.” Nesya baru saja menghampiri meja kerja Olivia setelah melihatnya sedang merapihkan meja kerjanya.
__ADS_1
“Tapi aku harus segera pulang. Vincent melarangku untuk pergi ke mana-mana setelah jam pulang bekerja.”
Nesya melirik sekilas ke sekitar lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik pada Olivia. “Ini perintah langsung dari Manager kita. Selain acara makan bersama, di sana juga akan ada pembahasan mengenai pekerjaan kita.”
Mendengar itu, Olivia hanya bisa menghela napas panjang. “Baiklah.” Mau tidak mau, Olivia harus meminta ijin dari Vincent.
Sudah seminggu berlalu semenjak mereka pindah ke rumah baru, Olivia selalu pulang tepat waktu. Dia tidak lagi mengambil pekerjaan sebagai translator karena larangan Vincent. Seminggu ini, Vincent sering kali pulang hingga pukul 2 dini hari bahkan sudah 2 kali dia pulang pukul 3 pagi dan itu membuat Olivia heran.
Saat Olivia bertanya pada Vincent, dia hanya mengatakan kalau dia memiliki pekerjaan di tempat lain yang mengharuskannya bekerja hingga dini hari. Vincent tidak menyebutkan di mana dia bekerja saat Olivia bertanya. Edric masih setia mengikuti Vincent ke mana pun dia pergi dan selalu mengantar jemputnya.
Pernah Olivia bertanya pada Edric mengenai tempat bekerja Vincent yang baru, tapi Edric tidak berani memberitahukan pada Olivia dan hanya bisa meminta maaf padanya. Akhirnya Olivia tidak lagi bertanya. Tiga hari yang lalu, Vincent baru saja menerima gajinya di perushaaan Wijaya Group.
Semua gajinya diserahkan pada Olivia dan memintanya untuk mengatur keuangannya. Awalnya Olivia menolak, tapi di paksa oleh Vincent. Karena jabatan yang dia duduki tinggi, terlebih lagi, perusahaan Wijaya adalah perusahaan terbesar di Indonesia sehingga gaji yang didapat Vincent sangat besar yaitu 300 juta perbulan.
“Liv, kau pulang naik apa?” Nesya berjalan bersama dengan Olivia menuju pintu keluar bersama dengan Nesya setelah mereka semua selesai makan malam.
“Naik taksi.” Olivia menoleh pada Nesya setelah mereka berada di depan restoran, "kau sendiri?"
“Naik bis saja. Terlalu mahal jika harus naik taksi.”
Neysa bukanlah orang yang boros. Sebagian gajinya dia simpan di bank untuk tabungan dirinya kelak. Jika dia naik taksi, maka dia harus mengeluarkan uang yang lumayan besar. Sebenarnya rumah sewa Olivia dari restoran itu juga jauh, hanya saja tadi Vincent sudah berpesan untuk naik taksi saja jika Olivia tidak berani membantah Vincent.
“Kalau begitu kita naik taksi bersama saja. Aku akan mengantarmu lebih dulu, setelah itu, baru mengantarku.”
Kebetulan tempat tinggal mereka searah jadi bisa naik taksi bersama.
“Tidak perlu. Aku naik bis saja.”
Setelah dibujuk oleh Olivia berkali-kali akhirnya Nesya setuju untuk naik taksi bersamanya. Ketika taksi mereka melewati sebuah bar, Olivia tidak sengaja melihat mobil Edric memasuki bar tersebut. Olivia bergegas meminta supir taksi untuk masuk ke dalam bar tersebut dan berhenti tidak jauh dari mobil Edric yang baru saja terparkir di depan pintu bar.
“Bukankah itu Vincent? Kenapa dia ada di sini?” tanya Nesya pada Olivia yang sedang menatap penuh tanya ke arah Vincent yang baru saja memasuki bar yang ada di depannya.
“Aku juga tidak tahu.”
Itu bukanlah club malam Reno, jadi Olivia juga tidak tahu apa yang Vincent lakukan di bar tersebut. Biasanya Vincent jika ingin bertemu dengan teman-temannya selalu di club Reno.
“Nes, maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku harus masuk ke dalam.” Olivia mengambil dua lembar uang lalu menyerahkan pada Olivia, “pakai ini untuk membayar taksinya.”
“Tapii….”
__ADS_1
Sebelum Nesya menyelesaikan ucapannya, Olivia sudah lebih dulu turun dan menutup pintu taksinya. Olivia memasuki bar tersebut sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Vincent, namun dia tidak menemukan keberadaannya.
Bersambung…