Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Cucu untuk Lucy Lu


__ADS_3

“Baiklah. Karena anakku sangat tergila-gila padamu, aku akan mengalah kali ini. Aku tidak punya pilihan lain lagi, selain menerimamu sebagai menantuku. Akan kuberikan satu kali kesempatan padamu. Kau harus memberikanku cucu dalam waktu satu tahun, jika tidak, kau harus meninggalkan anakku jika dalam kurun waktu itu kau tidak bisa hamil.”


Olivia menelan salivanya setelah mendengar ucapan ibu mertuanya. Dia berpikir sebentar lalu berkata dengan yakin, “Baiklah, tapi Mama harus memperlakukanku dengan baik seperti menantu yang mama sukai, jika Mama bisa melakukan itu, maka aku akan berusaha memberikan Mama cucu secepatnya.”


Lucy Lu langsung mengangguk tanpa berpikir lebih lama lagi. “Baiklah. Aku setuju. Aku akan memenuhi syaratmu itu selama satu tahun ini. Jika kau bisa memberikanku cucu dalam waktu yang sudah aku tentukan, maka aku akan menerimamu selamanya menjadi menantuku, tapi ingat, kau harus memegang kata-katamu, jika kau tidak bisa hamil dalam waktu satu tahun, kau harus….”


Belum selesai Lucy Lu berbicara, pintu ruangan kerja suaminya sudah di buka dengan kasar. Vincent nampak berlari menghampiri istrinya dengan wajah panik. Baru saja Vincent mendapatkan infomasi dari salah satu pelayan kalau istrinya sedang berbicara dengan ibunya di ruangan kerja ayahnya saat dia sedang mencari istrinya di lantai bawah. Vincent bergegas menyusul karena dia takut ibunya berbuat sesuatu pada istrinya.


“Apa kau tidak apa-apa?”


Olivia tersenyum lembut pada Vincent sambil mendongakkan kepalanya. “Aku tidak apa-apa.”


“Apa Mama melakukan sesuatu padamu? Atau Mama menekanmu dan memintamu untuk meninggalkanku?” cecar Vincent sambil menunduk menatap istrinya yang sedang duduk di sofa.


“Cent, bagaimana bisa kau menuduh mama seperti itu? Mama hanya mengobrol dengannya.”


Vincent mengabaikan ucapan ibunya dan kembali mengajukan pertanyaan pada istrinya. “Apa saja yang sudah Mama lakukan padamu? Katakan padaku, jangan takut.”


Melihat kekhawatiran suaminya, Olivia tersenyum lembut lalu berkata, “Mama tidak melakukan apapun padaku.” Olivia memegang lengan suaminya yang terasa kaku untuk menenangkannya saat melihat wajah cemasnya, “Mama memanggilku ke sini untuk berbincang santai. Mama bilang sudah menerimaku menjadi menantunya.”


Vincent mengerutkan kening sesaat lalu berkata, “Benarkah? Kau tidak berbohong?” Vincent ingin memastikan dulu apa yang sudah dikatakan istrinya barusan. Dia masih belum percaya kalau ibunya sudah bisa menerima Oliva sebagai menantunya.


“Iyaaa.” Olivia mengangguk dengan yakin sambil tersenyum, "Mama bilang akan mulai menerimaku sebagai istrimu."


Karena teramat senang setelah mendengar itu, Vincent segera menghampiri ibunya dan memeluknya dengan erat. “Maafkan aku karena aku sudah sempat berpikiran buruk terhadap Mama. Aku sangat senang karena Mama akhirnya mau menerima Olivia menjadi menantu Mama. Terima kasih banyak, Ma.”

__ADS_1


Lucy Lu nampak terdiam dengan wajah terkejut. Dia tidak menduga kalau anaknya akan memeluknya tiba-tiba. “Iyaa, tapi kalian harus tinggal di sini mulai sekarang. Mama kesepian karena selama ini kau jarang sekali pulang.”


Vincent segera mengurai pelukannya lalu menoleh pada Olivia untuk meminta persetujuannya. “Sayang, apa kau keberatan kalau kita tinggal di sini?”


Olivia tidak perlu berpikir lama, dia langsung menggeleng sambil tersenyum. “Tidak. Aku tidak keberatan sama sekali. Aku mau tinggal di sini.”


Bagaimana pun dia juga harus mengalah. Lucy Lu sudah bilang akan menerimanya dan akan memperlakukannya dengan baik, meskipun ada syarat lain di dalamnya, namun dia sangat yakin kalau dia bisa memberikan cucu pada Lucy Lu dalam waktu satu tahun. Dia sudah pernah memeriksakan diri sebelumnya saat akan menikah dengan Vincent waktu itu dan Dokter mengatakan tidak ada masalah apapun pada dirinya .


*********


Selesai berbicara dengan ibunya, mereka semua makan malam bersama. Selama makan malam berlangsung Lena tidak hentinya menatap Olivia dengan tajam. Apalagi saat melihatnya mengambilkan makanan untuk Vincent, matanya terlihat menyala dan pegangan tangannya pada sendok dan garpu menguat.


“Kami sudah selesai makan, kami kembali ke kamar dulu,” pamit Vincent pada semua orang yang ada di meja makan.


“Iyaa, kalian istirahatlah. Kalian pasti lelah setelah melakukan perjalanan panjang,” ucap Tuan Juan Wijaya.


“Sudah malam, ayo kita tidur,” ajak Vincent sambil membelai wajah istrinya.


Olivia menolak ajakan suaminya dengan menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil menampilkan wajah manja. “Aku tidak ingin tidur.”


“Lalu kau mau apa? Ini sudah malam, Sayang.”


Olivia tersenyum, menarik tangannya dari leher Vincent lalu perlahan meraba dada suaminya yang masih mengenakan kaos berwarna hitam. “Aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu.”


“Sayang, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Vincent saat Olivia akan melepaskan bajunya.

__ADS_1


“Aku hanya ingin membantumu melepasnya. Bukankah kau selalu melepas bajumu jika ingin tidur?” Tanpa menunggu persetujuan dari suaminya, Olivia segera melepas baju Vincent hingga menampilkan dada bidang serta otot perutnya.


“Sayang, berhentilah. Ini tidak akan baik untukmu.” Vincent menatap istrinya dengan mata berkabut saat Olivia menjelajahi dadanya dengan jemari tangannya yang lembut, “kau seharusnya tahu kalau setelah kita menikah, aku sudah tidak bisa menahan diriku lagi.”


Olivia menatap suaminya sejenak sambil tersenyum menggoda lalu melanjutkan meraba dada bidangnya dan perlahan menuju ke otot perutnya. Sentuhan lembut jemari tangan Olivia membuat tubuh Vincent berdesir hingga dia memejamkan matanya sambil mendongakkan kepalanya ke atas, menikmati setiap sentuhan jemari tangan istrinya di tubuhnya. Geraman halus terdengar keluar dari mulut Vincent ketika Olivia justru bermain-main di area otot perutnya dan perlahan menuju bawah.


“Kau akan menyesal jika masih melanjutkannya, Sayang.”


Bukannya takut Olivia justru semakin berani, tangannya berhenti di dekat pengait celana suaminya. Olivia menelan salivanya diam-diam saat merasakan sesuatu mengganjal di bawah sana. “Aku tidak akan menyesal, karena aku menginginkannya malam ini.”


Vincent menautkan kedua alisnya lalu menatap heran pada istrinya. “Ada apa denganmu, Sayang? Kenapa kau agrresif sekali malam ini?” Suara Vincent terdengar parau dan berat, tatapannya pun sudah di penuhi kabut gairah. Itu membuktikan kalau dirinya sudah berhasil memancing gairah suaminya.


“Aku ingin segera mengandung anakmu.”


Vincent tersenyum lebar saat mendengar itu. Tidak bisa dipungkiri kalau dia sangat senang setelah mendengar keinginan istrinya. “Baiklah, kalau itu memang maumu. Aku tidak akan menahan diri lagi mulai sekarang.”


Sejak resmi menikahi Olivia, Vincent memang berencana membuat istrinya segera mengandung anaknya, tapi dia masih sedikit menahan diri karena takut membuat istrinya kelelahan.


“Iyaa, jangan menahan diri lagi. Lakukan apapun yang kau mau malam ini.”


“Baiklah, Nyonya Vincent. Bersiaplah kalau begitu. Malam ini aku tidak akan membiarkanmu tidur hingga pagi.”


Detik selanjutnya, Vincent bangkit sambil menggedong Olivia lalu membaringkannya ke tempat tidur dengan napas yang memburu. Bibir mereka berdua pun menyatu setelah Vincent melepas semua kain yang melekat pada dirinya dan istrinya.


Mereka berdua saling memagut penuh gairah hingga terdengar suara erangan halus dari keduanya setelah mereka menyatu. Selanjutnya suara lenguhan dan erangan semakin sering terdengar dari kamar pengantin baru tersebut, namun hanya mereka berdua yang bisa mendengar karena kamar itu kedap suara.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2