Dua Hati Satu Cinta

Dua Hati Satu Cinta
Rasa Sakit


__ADS_3

Saat terbangun di pagi hari, yang pertama kali dirasakan oleh Olivia adalah rasa sakit pada bagian intinya. Dia sedikit meringis ketika menggerakkan tubuhnya ke samping menghadap suaminya yang masih terlelap. Rekaman adegan semalam kembali berputar seperti vidio panjang di kepala Olivia. Adegan demi adegan terus bermunculan tanpa bisa dia hentikan.


Hal paling tidak bisa Olivia lupakan adalah saat Vincent berhasil memasukinya untuk pertama kalinya. Itu adalah kenangan yang paling membahagiakan bagi dirinya karena pada saat itu dia sudah resmi menyerahkan seluruh hidupnya kepada orang yang paling dia cintai yaitu suaminya sendiri, Vincent Wijaya. Semalam Vincent benar-benar meluluhlantakkan tubuhnya hingga dia tidak memiliki tenaga lagi untuk sekedar bergerak saat ini.


Masih teringat jelas bagaimana gagahnya Vincent saat memacu tubuhnya hingga Olivia melupakan rasa sakit yang sempat menderanya. Wajah penuh peluh, tatapan dalam dan teduh Vincent membuat Olivia semakin jatuh ke dalam pesona pria tampan yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Tidak hanya itu, Olivia bahkan sampai lupa diri dan hanyut dalam permainan Vincent sampai akhirnya dia terkulai lemas dan tertidur setelah suaminya menyudahi pergulatan panas mereka.


Olivia pun tidak tahu kalau Vincent membawanya ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dan kembali membawanya ke ranjang setelahnya. Rasa lelah yang mendera Olivia tidak hanya karena aktifitas panas yang sudah mereka lakukan, tetapi karena seharian dia sudah mengeluarkan banyak tenaga dari pagi hingga malam hari. Mulai dari perjalanan menuju bandara Jakarta hingga menghabiskan waktu di beach club yang sangat terkenal di Bali.


Saat Olivia masih larut dalam lamunannya, tiba-tiba saja ponsel Vincent berbunyi. Olivia menoleh ke nakas, mencoba untuk meraih ponselnya, namun tidak sampai. Ketika Olivia berniat untuk bangun, rasa sakit kembali dia rasakan pada intinya. Karena suara ponsel suaminya tidak terdengar lagi, Olivia memutuskan untuk berbaring kembali menghadap suaminya, menatap penuh cinta pada Vincent sambil memegang wajah tampannya.


Melihat tidak ada gerakan apapun dari Vincent, dia memajukan wajahnya lalu mengecup singkat bibirnya dan tersenyum setelah itu. Detik selajutnya tubuh Olivia ditarik ke depan hingga tubuhnya menempel dengan suaminya dan itu membuat Olivia terkejut. Dia mendongakkan kepala untuk melihat apakah suaminya sudah bangun atau belum, nyatanya matanya masih terpejam.


"Ini masih pagi, Sayang. Tidurlah lagi."


Tidak adanya penghalang kain di antara mereka berdua membuat tubuh Olivia merasakan hawa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya ketika suaminya memeluknya dengan erat.


"Apa kau masih mengantuk?" tanya Olivia dengan suara seraknya.


"Iyaaa."


"Kalau begitu tidurlah lagi."


Olivia tidak berbicara lagi setelah itu, dia membiarkan suaminya untuk tidur kembali setelah itu, memutar tubuhnya menghadap langit-langit dengan tangan Vincent yang masih memeluk perutnya. Olivia tidak bisa tidur lagi, rasa sakit pada intinya membuatnya tidak nyaman. Dia hanya berbaring di samping suaminya hingga pukul 9 pagi.


Melihat matahari sudah bersinar terang di luar, Olivia memutuskan untuk turun dari ranjang. Dia baru menyadari kalau kamar yang ditempati saat ini adalah kamar yang berbeda dengan kamar yang kemarin mereka tempati. Tidak mau banyak berpikir, dia berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah pelan sambil meringis.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, dengan rambut setengah kering, Olivia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan bathrobe. Dia tidak memiliki baju ganti jadi untuk sementara waktu hanya itu yang bisa dia gunakan saat ini. Olivia berjalan ke arah ranjang dan duduk di tepi tempat tidur lalu membangun suaminya setelah memberikan kecupan singkat di pipinya.


"Selamat pagi, Sayang,” ucap Vincent setelah membuka matanya dan melihat wajah istrinya.


“Pagi juga,” jawab Olivia sambil tersenyum pada suaminya, “ayo, bangun. Ini sudah siang.”


“Morning kiss," pinta Vincent dengan manja.


Dengan patuh Olivia mendaratkan kecupan singkat di bibir suaminya.


"Kau sudah mandi?"


"Iyaaa."


Vincent bangun dari tidurnya lalu duduk setengah membungkuk. "Kenapa tidak menungguku? Kita bisa mandi bersama."


“Ini semua karena ulahmu, Sayang. Kau yang sudah membuatku lelah.”


Tidak terima disalahkan oleh suaminya, Olivia langsung berkata, "Itu salahmu sendiri. Aku sudah memintamu untuk berhenti."


"Bagaimana aku bisa berhenti kalau aku saja sudah menanti ini sejak lama, Sayang."


Selama ini dia selalu berusaha menahan diri agar tidak menyentuh Olivia sebelum waktunya. Dulu pengendalian dirinya sangat baik, tapi setelah mengenal Olivia, sangat sulit baginya untuk mengontrol dirinya. Vincent beberapa kali terpancing oleh Olivia dan itu membuatnya sangat tersiksa.


Ucapan Vincent tadi kembali memunculkan rona merah di wajah Olivia, kali ini wajahnya terlihat sangat memerah. “Cepat mandi. Ini sudah siang.” Olivia sengaja memalingkan wajahnya ke samping karena merasa malu dengan pembahasan mengenai kejadian semalam.

__ADS_1


“Baiklah.“ Vincent berdiri lalu berkata, “kita sarapan di kamar saja. Pesan apapun yag kau inginkan.” Dia mencium pipi kiri istrinya, setelah itu, berjalan menuju kamar mandi.


Selesai mandi, Vincent melihat sudah banyak makanan yang tersedia di atas meja. Karena semalam Olivia tidak makan banyak, dia merasa sangat lapar pagi ini. Apalagi tenaganya sudah terkuras habis akibat aktifitas yang semalam mereka lakukan.


Vincent terlihat memadangi istrinya yang sedang makan dengan lahap, dia tersenyum sambil mengunyah roti di dalam mulutnya. “Sayang, hari ini kita di kamar saja, tidak usah ke mana-mana,” ucap Vincent setelah mereka selesai sarapan.


Mendengar itu, Olivia merasa kecewa. Dia sudah merencanakan akan pergi ke beberapa tempat hari ini, tapi justru suaminya tidak ingin pergi. Padahal kemarin dia sudah berjanji mengajaknya untuk berkeliling mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Bali.


“Kenapa? Kau kan sudah janji mengajakku jalan-jalan hari ini.”


“Aku akan mengajakmu jalan-jalan besok, untuk hari ini kita di kamar saja, istirahat.” Melihat wajah kecewa istrinya, Vincent berkata lagi, “aku melakukan ini demi dirimu, Sayang. Kau pasti masih merasakan sakit, bukan?” ujar Vincent seraya menatap ke bagian bawah Olivia sebentar.


Vincent hanya tidak ingin istrinya merasakan sakit pada intinya saat mereka jalan-jalan nanti. Mereka pasti akan banyak berjalan kaki dan Vincent tidak mau membuat istrinya kesakitan karena itu.


“Tidak sakit lagi.” Olivia langsung berdiri dan mencoba untuk berjalan dengan cepat untuk menunjukkan pada suaminya kalau dirinya baik-baiknya, tapi baru tiga langkah dia terlihat meringis sambil memegang bagian intinya.


“Jangan dipaksakan, Sayang. Kita bisa pergi besok.”


Mendengar itu, Olivia langsung merubah ekspresi wajahnya dan melangkah dengan cepat sambil menahan sakit pada intinya. "Tidak sakit lagi." Olivia bahkan berlari kecil untuk meyakinkan suaminya, “lihat, kan? Aku baik-baik saja. Tadi itu hanya sedikit sakit karena aku terlalu lama duduk.”


Melihat istrinya berjalan mondar-mandir di depannya beberapa kali, Vincent berkata, “Sepertinya aku terlalu lembut semalam sampai kau masih bisa berlari.”


Perkataan Vincent langsung menghentikan langkah Olivia. Terlalu lembut? Bagaimana bisa itu dikatakan lembut? Jika memang Vincent melakukannya dengan lembut, nyatanya dia masih merasakan sakit luar biasa pada intinya setelah Vincent berhasil menembus lapisan terakhirnya. Olivia bahkan merasa seluruh tulangnya remuk setelah suaminya menyudahi pergulatan mereka.


“Lain kali, akan kubuat kau tidak bisa turun dari tempat tidur.”

__ADS_1


Wajah Olivia memucat dengan tubuh membeku setelah mendengar itu. Olivia yakin Vincent mampu melakukannya dan itu membuatnya takut. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau dirinya juga menikmati permainan Vincent semalam, tapi tetap saja dia masih merasakan sakit karena itu pertama kali baginya.


Bersambung….


__ADS_2